
Dinda mengantarkan Nara pulang kerumah Rayhan. disepanjang jalan Nara terdiam membisu tidak membuka mulutnya sedikitpun. rasa lapar yang tadi menerjang pun seketika menghilang begitu saja, jangankan makan minum pun rasanya ia tak napsu.
Dinda yang melihatnya juga ikut terdiam, tak tau harus berbuat apa untuk menghibur Sahabatnya itu. jujur saja dirinya juga terkejut apa lagi Nara.
"kenapa Richo melakukan itu. bukankah dia selalu mengatakan cinta untuk ku?! tapi kenapa dia berpaling dariku? tunggu dulu,, apa karena aku menolak ciumannya!! haha.. dasar kampret".lamun Nara menertawakan dirinya sendiri.
entah mengapa bayangan Rayhan dan kekasihnya ikut berterbangan di pikirannya.
***
mereka telah sampai didepan gerbang dan sudah ada security yang membukakan pintu gerbang. mobil dinda masuk ke pelataran Nara.
Nara keluar mobil dengan menghembuskan napasnya kasar,
"haaahhh,,, sungguh malang nasibku".gumam Nara namun Masih didengar Dinda.
" apa lo gak papa ra? ".tanya Dinda ikut keluar mobil dan menatap Nara intens.
"gue gak papa din. hanya saja rasanya gue kelelahan".jawab Nara Lesu.
" apa perlu gue temenin lo ra? ".
"gak usah din, gue gak apapa kok, lo tenang aja. lo pulang dan istirahat yah. thanks buat hari ini, bye dinda".nara melangkah masuk kerumahnya, namun dinda mencekat tangan sahabatnya itu membalik badannya dan menatap matanya. membuat Nara nampak kebingungan dengan apa yang Dinda lakukan.hingga raut muka Nara mengisaratkan pertanyaan tak mengerti .
__ADS_1
" menangislah ra, gue tau hati lo sakit ".dinda memeluk Nara erat. Dinda merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
Nara hanya menggeleng tak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Dinda. Nara melepaskan pelukannya dan melangkah masuk rumah meninggalkan Dinda yang masih mematung ditempat ikut meratapi takdir Nara.
sesampainya dirumah,bik narsih menyambut kedatangan nya.
"non sudah pulang? ".
" iya bik, Nara langsung ke kamar ya bik".pamit Nara tersenyum yang diangguki oleh bik narsih.
didalam kamar Nara meletakkan tasnya di atas nakas, lalu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. setelah itu di rebahkan nya tubuh nya yang lelah itu di ranjang. Nara mengambil ponsel nya di atas nakas. dilihatnya foto keluarganya di wallpaper layar ponsel nya. tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja dipipi mulusnya.
dia sangat merasa kecewa ketika melihat Rayhan dan richo dengan para wanitanya secara bersamaan. sungguh tidak berharganya dirinya. Nara merasa hidup dan takdirnya tidak adil. dia dinikahkan dengan orang yang tidak dia cintai. dan orang yang telah sah menjadi suaminya itu sedang bersama wanitanya, begitu pun orang yang dia cintai malah sedang bersama wanita lain.
"hahaha, apa ini! tidak adakah yang adil buatku".kata Nara tertawa dalam sedihnya,mengusap air matanya.untuk menghibur diri akhirnya Nara menghubungi ibunya via video call.
"halo nak, wah tumben kamu menghubungi Ibu? ".
" huaaa, hiks hiks,,, apa ibu tak merindukan Nara? ".seru Nara menangis kencang.
" lo nak, kok malah nangis sih, bukan begitu maksud ibu".
"Nara merindukan ibu, tapi ibu malah begitu,,,, huaaa". tangis Nara tambah kenceng.
__ADS_1
"cup cup... issshh Nara kamu ini tidak berubah sama sekali manjanya. sana manjaan sama suamimu.! ehh suamimu mana? ".tanya Mariska.
tanpa Nara sadari ternyata Rayhan sedang mengintip nya dibalik pintu
" cih, dasar bocah ".gumam Rayhan melangkah masuk mendekati Nara dan tersenyum.
" Rayhan disini bu".sapa ray merangkul Nara dan merebut ponsel yang dipegang nya. sungguh akting Rayhan benar-benar mirip artis. namun kedatangan Rayhan membuat tangisannya semakin pecah.
akhirnya mereka berbincang di video tanpa Nara karena masih menangis. sampai ray dan Mariska sama-sama mengakhiri panggilannya di video.
"kamu cengeng sekali, hanya Kangen dengan ibumu saja kamu menangis seperti itu".
Nara hanya diam melirik ke arah rayhan tanpa berniat menjawabnya.
" lap tu ingus mu".kata Rayhan jijik namun tiba-tiba Nara mendekati Rayhan dan mengelap ingusnya di lengan Rayhan.
"haiissh,,, kamu jorok sekali, apa tidak ada tisu!!!? ".marah ray.
" maaf Pak mas, tadi katanya suruh di lap".
"iya, tapi bukan lap aku.. haiss dasar bocah".rayhan berdiri hendak meninggalkan Nara di kamarnya namun sebelumnya Nara memegang tangan ray menghentikan langkah nya.
" terimakasih mas, ".
__ADS_1
rayhan tercengang dengan panggilan nara, biasanya mereka berdebat hanya gara-gara panggilan saja..
ditatap nya tangan Nara yang menempel di tangannya. tanpa menjawab ray melepaskan tautan tangan mereka dan melangkah pergi.