
Nara sudah terbangun dari tidurnya. ia sudah menetapkan hati untuk tetap tabah dan sabar menghadapi Rayhan.
haahh.. entah seberapa jauh rasa sabarnya kini. kata sabar bahkan sudah tak ada lagi batasnya.
Nara mulai beranjak dari ranjangnya untuk bergegas membersihkan dirinya.. setelah bersiap dengan pakaian kasual nya, Nara membuka pintu kamar. ingin rasanya segera bebas dari rumah ini. kali ini Nara sudah siap untuk memberitahukan keluarganya apa yang terjadi selama ini,selama pernikahan ini. Nara berharap ayahnya baik baik saja mendengarnya nanti.. semoga saja begitu.. mengingat kondisi ayah Burhan yang slalu drop kalau sedang syok.
grep.. ceklek... ceklek.. tunggu dulu!!! kenapa pintunya tidak bisa dibuka? apa pintunya rusak? apa jangan jangan ini ulah Rayhan yang menguncinya dari luar??! yasalam..
"ya! pak tua, bukaaa!! buka!! dasar keterlaluan. kamu pikir aku hewan peliharaan yang harus dikurung, hah?! ". teriak Nara dari bilik pintu. " aduh bagaimana ini.. dasar orang tua sialan!. "
"siapapun, tolong buka pintunya". sambung Nara terus berteriak sambil menggedor gedorkan pintunya. berharap ada seseorang yang akan membukanya. dan semoga itu bukan Rayhan. tapi kalau bukan Rayhan siapa lagi. bahkan bik narsih sudah tidak ada di rumah ini lagi. pak joko juga pasti ada di pos. mana bisa mendenger suara Nara.
harapan satu satunya adalah Anin. tapi apa anin mau membukanya?. entahlah..
" Anin, tolong buka pintunya.! mbak,,mbak Anin. bisakah kau mendengarku? ".
mendengar teriakan Nara. membuat Anin menghampiri kamar Nara.
" haish, anak itu berisik sekali ". gumam Anin
" ya!! bisa diem gak? ".
" emh.. mbak Anin. kaukah itu? bisakah kamu membukakan pintunya untukku?sepertinya pak Rayhan menguncinya ".
mendengar ocehan Nara membuat Anin merasa geli. bagaimana tidak? sejak kapan Nara memanggilnya 'mbak' dan berbicara formal seperti itu. bukankah mereka selalu bertengkar jika ada kesempatan?
"hey bocah. kamu sedang menggoda ku apa bagaimana? lucu sekali. aku tidak mau! ". tolak Anin mentah mentah. untuk apa menolong Nara yang secara ia adalah musuhnya. sukurlah Rayhan mengeramnya dikamar. Anin jadi tidak perlu melihatnya bukan?.
tapiii....
bukankah ini kesempatannya untuk mengusir Nara dari rumah ini. mumpung Rayhan tidak ada dirumah kan. haish bodoh .kenapa tidak kepikiran sedari tadi.
__ADS_1
"mbak tolong bukain".pinta Nara lagi dengan sangat memohon yang sudah tak peduli lagi harga dirinya jatuh di hadapan Anin.
" baiklah. tunggu dulu ".kata Anin lalu mencari cari kunci pintu di laci depan kamar.
" ketemu!! ". seru girang Anin. dan langsung membuka pintu kamar Nara.
jeglek...
" terimakasih,".
"jangan ucapkan itu. kamu pikir aku membantumu? cih..yang benar saja. asal kamu tau,aku lakukan ini karena aku membencimu. aku harap kamu cepat keluar sekarang dan tinggalkan rumah ini. kebetulan sekarang Rayhan sudah pergi".ketus Anin langsung pergi tak peduli lagi dengan Nara.
" astaga. dasar betina ini. mulutnya pedas sekali ". gumam Nara dalam hati.
"Anin? tunggu dulu! ". Nara mengejar langkah Anin yang hendak masuk ke kamarnya. Anin pun menghentikan langkahnya dan langsung membalikan tubuhnya.
" apa? apa? apa? ada apa lagi! mengganggu saja ". kata Anin kesal, melihat Nara saja sudah membuatnya enek. ini malah sedari tadi melihat wajahnya terus. sampai membantunya pula.
Anin agak tercengang mendengar ucapan Nara. Anin pikir Nara sudah mulai menyukai Rayhan seperti dirinya bukan? djavu apa ini? apa sekarang Nara sudah menyerah? ahh.. tapi bukankan ini kabar bagus?
melihat Anin yang diam saja membuat Nara menggaruk kepalanya bingung. Nara tidak bisa menggambarkan expresi Anin saat ini.. entah apa yang dipikirkannya Nara tidak tau.
karena anin diam saja. akhirnya Nara memutuskan untuk pergi saat ini juga
"baiklah Anin. aku pergi.. terimakasih.dan,,,,sungguh maafkan aku".kata Nara tulus. jangan katakan Nara tidak gemetar.. itu karena dia menahannya.. betapa sulitnya Nara untuk menahan air matanya agar tidak jatuh saat ini juga dan menahan suaranya agar tidak gemetar. hatinya sangat sakit mengucapkan kata itu.tapi inilah yang terbaik. nyatanya bukan Anin lah yang merebut Rayhan tapi bukan pula Nara merebut Rayhan dari Anin. ini semua gegara perjodohan konyol ini.. dan Nara sadar.. meskipun hatinya mulai menerima kehadiran Rayhan sebagai suaminya tapi hubungan rumit ini tidak baik untuk dilanjutkan walau Nara juga bingung cara menjelaskan pada ayahnya bagaimana. lebih tepatnya nara takut ayahnya syok dan jatuh sakit.
Nara membalikkan badannya. namun baru satu langkah Nara melangkah, ia teringat sesuatu.
" ah, Anin? emh,, aku.. aku tidak punya ongkos untuk pulang. Dompetku masih ada di tas yang ketinggalan di apartemen Richo. Nara menyengir merasa malu.. harga diri Nara benar-benar sudah berada dititik terendah..
mendengar itu membuat Anin menghela napasnya kasar. hari ini dia terlalu baik atau bagaimana. harus menolong orang yang dibencinya. luar biasa...
__ADS_1
tanpa sepatah katapun Anin memberikan saku yang cukup untuk Nara pulang. dan Nara sangat berterimakasih untuk itu..
***
kini Nara sudah berada di depan rumahnya sendiri.. ia takut.. sungguh takut.. sampai ragu ragu untuk memasuki rumahnya sendiri.
"ya Tuhan, haruskah aku masuk? ".gumam Nara bimbang. tapi tidak mungkin kan harus kembali lagi ke rumah terkutuk itu.
Nara memasuki rumahnya yang nampak sepi.. entah mengapa air matanya tiba-tiba menetes. suasana hatinya jadi melo seperti ini. Nara terlalu rindu pada orang tuanya..
terdengar suara Mariska yang tengah mengobrol dengan seseorang di ruang dapur. mungkin itu bik nani
dan benar saja, belum Nara menyapanya.. nani yang melihat Nara duluan terlihat kaget.
" lho, non Nara?? ".
" mana??, ya ampun sayang. kapan kamu datang nak? ". Mariska langsung menghampiri Nara dan memeluknya yang tiba-tiba saja menangis.. Mariska juga bingung kenapa putrinya datang tiba-tiba dan langsung menangis seperti ini.
" aduh, anak ibu kok nangis sih?. lho nak Rayhan mana? ".
deg...
haruskah Nara memberitahukannya sekarang? sungguh Nara tidak bahagia dengan perjodohan ini..
tidak ada jawaban dari mulut Nara. entah kenapa mulutnya serasa terkunci untuk mengatakan semua hal pada ibunya. sesulit inikah?
hanya air matanya saja yang menjawab pertanyaan mariska. membuat Mariska tambah kebingungan dengan putrinya.
"ya udah sayang, kamu istirahat dulu ya". Mariska membawa Nara kekamar yang dulu pernah ditempatinya. keadaan Nara saat ini membuat Mariska khawatir..
sedangkan bik nani yang tidak mengetahui apa apa pada masalah apa yang terjadi pada majikannya hanya bisa memandang kasihan.bingung dan juga ikut khawatir
__ADS_1