
tanpa terasa Nara beristirahat terlalu lama. sampai tidak menyadari bahwa hari sudah sore. kalau saja ibu Mariska tidak membangunkannya sudah dipastikan Nara masih asik berkelun di atas kasurnya.
"Ra? bangun sayang. ini sudah sore. kamu nggak pulang? nanti suamimu nyariin loh.. kamu juga belum makan kan".
" ra?! ish,, tidur kok kayak ****** sih, susah banget dibangunin ".
" biar Dinda aja tante yang bangunin ".kata Dinda. yah,sekarang Dinda ada di rumah Nara. karena tadi pagi Mariska memberitahukan pada Dinda bahwa Nara ada dirumah. dan sedari pagi Dinda sudah bolak balik kerumah Nara untuk menemuinya, tapi Nara tetap saja masih tertidur sampai sekarang.
" Nara!!!!! ada 'Bangtan boys' didepan rumah!! ". teriak Dinda yang langsung membuat Nara terbangun dari tidurnya dan langsung melompat dari ranjang hendak keluar kamar.
" mana?? jimin-ah, tae oppa, cooky.. chagiya???!! "
"eeethh...mau kemana?". Dinda menarik baju Nara yang berlari keluar. "ngapain sih lu? gue boong kali.. lagian ngapain mereka dirumah lo coba". kata Dinda cekikikan. Dinda merasa bahagia bisa mengerjai sahabatnya itu. ternyata candaannya itu sukses membuat Nara terbangun. dan lihatlah wajah Nara sekarang, membuat Dinda tidak bisa menahan tawanya.
" diem lo! kok lo bisa tau si gue ada disini? ".
" tau lah, ibu yang kasih tau ". cengir Dinda menatap Mariska.
" ya udah ibu kebawah dulu yah. cepetan mandi dan makan. dari tadi pagi kesini kamu belum makan ". kata Mariska berlalu meninggalkan Nara dan Dinda.
" lo kesini gak bareng pak Rayhan? ".tanya Dinda setelah Mariska pergi. dan dijawab gelengan oleh Nara.
" gue kabur ".
plakk... Dinda menabok keras lengan Nara.
" aduh sakit, markonah!! lo tega banget sih ama gue".
"eh, sorry. gue terlalu kaget dengernya. kok lo bisa kabur sih? yang dimaksud kabur lo ini yang bagemana nih? kalo lo kaburnya kesini namanya bukan kabur pe'a tapi pulang.! gak bisa bedain apah ".
akhirnya Nara menceritakan semua kejadian yang dialaminya pada Dinda. bagaimana Rayhan mengurungnya dikamar dan dibebaskan oleh Anin. dan tidak lupa pula Nara menceritakan bahwa ia juga meminta saku pada Anin.
" lo gila ya! kok lo ampe ngemis gitu ama si nenek lampir".
"ya!! gue juga terpaksa kali. gue gak pegang uang. ponsel gue ama si rayhan ,dompet beserta tas gue ada di apartemen Richo". ucap Nara manyun. namun tidak lama Nara baru teringat sesuatu.
" astaga, Dinda.! gue baru inget kalo ATM dan uang gue waktu itu gue tinggal di kamar. ya ampun Dinda, napa gue ampe pertaruhin harga diri gue tadi pagi buat minta ongkos ". nyesel Nara berguling-guling di atas kasurnya frustasi, mengrutugi kebodohannya sendiri mengingat betapa malunya Nara saat meminta saku pada Anin. sedangkan sebenarnya dompetnya ada dikamar. Dinda yang melihat Nara hanya bisa menghembuskan napasnya kasar dan menatap Nara jengah. bagaimana Nara bisa se ceroboh itu..
setelah lama bercerita dan saling curhat, Dinda akhirnya berpamitan pulang karena hari sudah mulai petang.
waktunya makan malam Nara membantu ibunya dan bik nani membuat makan malam.
" bu, ayah belum pulang juga? ". tanya Nara disela sela masaknya.
" paling sebentar lagi.. Nara? kamu kesini pamitan sama suamimu kan? takutnya suamimu nyariin kamu ".
__ADS_1
Nara yang ditanya hanya tersenyum kaku. bingung harus jawab bagaimana.
dan benar, tak lama Burhan pulang dan langsung disambut oleh Nara.
" loh nak, kamu disini? ".
" iya ayah, anakmu ini sangat merindukan ayah". kata Nara tersenyum manis memeluk ayahnya. Burhan pun membalas pelukan dari putri satu satunya itu tak lupa pula mengusak rambut Nara gemas.
"ahh,, dimana suamimu? " kesini bareng Rayhan kan? ". tanya Burhan.
Nara menggeleng lemah dengan tersenyum kaku dibibirnya.
sedangkan ditempat lain, Rayhan yang sudah pulang dari kantor langsung disambut oleh Anin. dipeluk nya mesra tubuh Rayhan. Anin juga mendarati ciuman pada bibir Rayhan.
" kau menungguku? ". tanya Rayhan
" tentu saja aku menunggumu ". senyum Anin.
Rayhan melangkahkan kakinya menuju kamar yang diikuti Anin dibelakangnya. namun kakinya berhenti diambang pintu karena teringat pada istrinya si Nara.
" Anin kamu tidak lupa memberi Nara makan kan?". tanya Rayhan lalu mendekati kamar Nara.
ceklek... "Anin kamu tidak menguncinya lagi? ". tanya Ray membuat Anin kebingungan untuk menjawabnya.
" Nara? ..Nara?... ".panggil Rayhan, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari orang yang dicarinya. dikamar tidak ada. dikamar mandi juga tidak ada. bahkan dibalkon juga tidak ada.
" Anin, dimana Nara? dia tidak ada dikamarnya ".
" emh,, na-Nara sudah pergi sayang. dia sudah pulang kerumahnya. dia memaksaku. jadi aku terpaksa membiarkannya pergi ". ucap Anin takut takut.
" Anin!!! ". geram Rayhan meraup wajahnya kasar.. tanpa kata lagi Rayhan langsung menyusul Nara tak peduli dengan Anin yang terus mencegahnya.
....
setelah sampai dirumah Nara. Rayhan langsung memencet bel pintu rumah Nara dengan napas yang terengah-engah seperti sehabis lari maraton. Rayhan sangat cemas, ia harap Nara belum mengatakan masalah pernikahannya pada orang tuanya. semoga Nara belum menceritakan apa apa.
tak berselang lama bik nani membuka pintunya dan mempersilahkan Rayhan masuk. kebetulan semua sudah berkumpul dimeja makan.
" siapa bik? " tanya Mariska.
"tuan muda Rayhan bu.. "
deg....
jantung Nara serasa mau berhenti mendengar nama Rayhan disebutkan.
__ADS_1
"ohh nak Rayhan. silahkan nak. kebetulan kita sedang makan malam bersama". kata Burhan mempersilahkan menantunya untuk segera mendekat.
" selamat malam ayah, ibu ". sapa Rayhan sopan lalu ikut bergabung duduk di samping Nara. membuat Nara terpaku ditempat.ia merasa agak canggung dan ketakutan secara bersamaan.
" saya mau menjemput Nara pulang ayah".
"tidak mau!! ". tolak Nara mentah mentah dengan nada yang keras hingga Burhan dan Mariska terkaget dan bingung dengan sikap putrinya.
" Nara? kamu kenapa? ".. tanya Mariska.
" ibu, ayah... Nara tidak mau pulang kerumah terkutuk itu... Nara mau berc... ".
" Nara!". sela Rayhan memotong ucapan Nara. "sayang kita pulang yah. katamu kamu tidak bisa tidur tanpa aku. iya kan? ". sambung Rayhan.
" apa?! "." ya!! yang benar saja! kapan aku mengatakan itu? ". marah Nara tak habis pikir dengan Rayhan.
" nak, suamimu menjemputmu pulang. pulanglah tapi sehabis makan malam dulu yah". kata Burhan tersenyum. beliau masih tidak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya..
"aku ingin bercerai dengan pak Rayhan! ". kata Nara tiba-tiba.
" apa? ". kaget Mariska dan Burhan barsamaan.. mereka tidak mengerti apa maksud dari ucapan putrinya itu yang tiba-tiba..
" Nara.. ayo pulang! ". tegas Rayhan sebelum Nara mengucapkan kata katanya lagi. tangannya mengepal menahan amarahnya.andai saja tidak ada orang tua Nara sudah dipastikan Rayhan akan mencium bibir Nara untuk membungkamnya agar tidak banyak bicara ..
" ayah maafkan aku. aku sungguh tidak bahagia dengan pernikahan ini ". kata Nara lirih memegang tangan ayahnya. berharap semoga ayahnya akan baik baik saja mendengarnya.
" a-apa maksudmu nak? ". tanya Burhan.
" Nara?!! sudah ku katakan. ayo pulang!! ".bentak Rayhan menyeret tangan Nara..
" tunggu nak Rayhan.. ayah dan ibu masih tidak mengerti apa yang Nara katakan.kalian ada masalah apa? ayo kita selesaikan dengan baik baik". sela Mariska khawatir.
"ayah,,, aku tidak mau pulang. Nara tidak bahagia".. ucap Nara dengan tangis yang sudah tidak bisa dibendungnya..
sungguh Rayhan yang mendengarnya sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya.. istrinya itu sungguh keras kepala. bisakah istrinya itu diam manis dan tidak mengatakan apa apa.
sesegera mungkin Rayhan langsung menarik tangan Nara untuk mengajaknya pulang. tak peduli lagi dengan perasaan mertuanya yang masih kebingungan dengan kejadian ini. .
Mariska dan Burhan yang masih kebingungan berusaha mengejar Nara dan Rayhan tapi tiba-tiba Burhan terjatuh lemah dilantai..
" ya Tuhan ayah".. jerit Mariska.
"ayah....! ".teriak Nara langsung menepis kuat cekalan Rayhan pada tangannya dan langsung menghampiri Burhan.
bersambung....
__ADS_1