
Nara kebingungan harus melangkahkan kakinya kemana. tidak ada tujuan setelah pergi dari rumah Rayhan. mau pulang ke rumah Burhan dan Mariska alias orang tuanya tapi nyali Nara tak seberani itu. alasan apa yang harus dilontarkannya kalau dia pulang ke rumah orang tuanya.
disinilah Nara berada, duduk di bangku taman membawa koper didepannya dan rangsel di gendongannya dengan air mata yang tidak bisa di sembunyikan nya.
sekarang Nara terlihat seperti orang perantauan yang hendak pulang kampung. ah tidak tidak,, sekarang malah terlihat seperti orang jalanan yang kelaparan.
lihatlah betapa ngenesnya seorang Nara Atmadja anak keturunan horang kaya, suaminya juga kaya tengah menatap bocah cilik didepannya yang tengah menyantap cup mi instan bersama keluarganya.
Nara sangat kelaparan saat ini. dia belum makan apapun. bahkan makanan yang tadi di masaknya belum sesendok pun ia cicipi. Nara tidak membawa uang sepeserpun karena dengan bodohnya meninggalkan ATM dan uang cash pemberian Rayhan.
"astaga! kenapa bocah itu makan seperti itu. apa dia sedang menggodaku". gumam Nara sesegukan akibat menangis.
dilihat terus bocah yang sedang makan itu dari tadi. Nara yang melihatnya seperti adegan slow motion yang membuatnya merasa tambah semakin lapar hingga mulutnya serasa ikut menganga. menelan ludahnya sendiri beberapa kali.
tanpa terasa Nara berdiri dari duduknya.
" ya!!! dasar bocah tengik. kau sengaja menggodaku Ha?!. teriak Nara lantang hingga membuat keluarga bocah itu yang sepertinya mungkin sedang berpiknik menengok arah Nara dengan tatapan tajam.
"astoge.apa yang mulutku katakan. haish, matilah aku".batin Nara mengrutugi kebodohannya sendiri dengan menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
" hey, apa yang kamu katakan!! ". kata ayah anak itu yang hendak berdiri dari duduknya.
sekilat mungkin Nara langsung lari, menarik kopernya menjauh dari tempat itu.
Nara berjalan mengitari taman entah tau kemana tujuannya.
" haish. semua ini gara gara suami kampret itu. ya Tuhan kau tau harusnya si kampret itu kau hilangkan saja uler kedutnya itu. biar tau rasa! hergh,, dasar lapuk kampret ".grutu Nara kesal, lalu mengambil batu krikil dan melemparnya asal dengan sangat kencang.
" aww..".pekik seseorang yang sukses membuat Nara menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"ya Tuhan apa kau menjawab permintaanku?. tapi aw itu maksudnya apa? ". kata Nara menatap langit tanpa menghiraukan sekelilingnya.
" kau sedang apa disini? ". kata seseorang muncul dihadapan Nara yang membuatnya terlonjat kaget.
" astaga. kau mengagetkanku. ya ampun, kenapa ada selai di jidatmu? ". kata Nara pada Richo. ya, seseorang itu adalah Richo. kebetulan Richo berada di taman karena merasa stress akan permintaan orang tuanya untuk memegang kantor padahal dirinya baru akan lulus kuliah. makannya Richo lebih memilih ketaman untuk merilekskan stresnya. dan karena itulah dia di pertemukan dengan sang mantan kekasihnya disini.
" ah.. kukira ini bukan selai. tadi sepertinya ada seseorang yang melempar batu kearahku, dan mengenai jidatku". kata Richo mengusap darah yang mengalir di jidatnya.
karena lapar Nara mengira kalau darah itu selai.
"what!! bukankah tadi aku yang melemparnya". batin Nara.
" ya ampun ric, kasihan banget sih kamu. dasar ya orang kurang kerjaan. ngapain lempar batu sembarangan. gue gebeng lama lama ya tu orang ".elak Nara berbohong tak mengakuinya. menggaruk tengkuknya yang tak gatal. sedangkan Richo hanya menanggapi senyuman manis dibibirnya.
mantan kekasihnya itu sungguh menggemaskan. bisa bisanya dia berbohong. padahal Richo sangat tau siapa yang melempar batu krikil itu. saat Nara menggerutu kesal saja Richo tau bahwa itu adalah mantan kekasihnya.
" ra, ngapain kamu disini? ".tanya Richo heran karena Nara berada di taman dengan membawa koper.
"jalan jalan kok bawa koper sih".
" emh.. ak.. ".
" kamu kabur dari rumah ra?! ". tebak Richo dan diangguki oleh Nara karena bingung harus jawab apa.
" astaga Nara. yuk aku anter kamu pulang. kamu gak boleh kabur kabur kayak gini". Richo menarik tangan Nara menuju mobilnya berniat mengantar Nara pulang.
"ric, aku gak mau pulang".
" kenapa? kamu ada masalah dengan suamimu? ". tanya Richo menyelisik. jangan lupa tatapan tajamnya yang mengintimidasi. membuat Nara yang ditatap nya menjadi gugup dan salah tingkah. haruskah Nara menceritakan semua pada Richo?
__ADS_1
" ti-tidak.. tidak ada masalah apapun. aku hanya.. "
"jangan bohong ra, aku tau pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku.. sekarang tujuanmu kemana? ".
pertanyaan Richo membuatnya bingung. dia sendiri tidak tahu tujuannya mau kemana.
" ah Dinda. aku mau kerumah Dinda, yah".
kenapa Nara tidak kepikiran dari tadi untuk kabur kerumah Dinda saja. Nara mengrutugi kesalahannya karena melupakan sahabatnya itu. tidak mungkinkan Dinda tidak mau menolongnya.
Nara langsung mengambil ponsel di sakunya untuk segera menghubungi nomor ponsel Dinda.
namun sayang berulang kali Nara menekan nomor ponsel Dinda tapi tidak terhubung. nomornya sedang tidak aktif.
hari ini benar-benar kesialan Nara.
Richo yang mengetahui reaksi Nara yang gelisah menatapnya dengan pandangan yang entahlah bisa dijabarkan. bolehkah ia memeluknya sekarang juga? rasanya Richo sangat merindukan gadisnya.
"tidurlah bersamaku".
" a-apa?!
"ish.apa maksudnya. dasar mesum. dari dulu gak berubah! ".grutu Nara membatin.
" haha.. maksudku pulanglah ke apartemenku ". kata Richo tertawa canggung menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" astaga. aku pasti sudah gila sampai mengatakan hal itu ".batin Richo.
" ooh.. haha. kau membuatku kaget saja".
__ADS_1
karena tidak ada pilihan lain, Nara terpaksa menerima tawaran Richo untuk mengikuti Richo pulang ke apartemennya.