
saat Rayhan menyeret tangan Nara paksa menuju kamar, Anin masih terpaku ditempatnya berdiri. ada rasa senang yang menjalar dihatinya melihat Nara diseret dengan kasarnya oleh Rayhan. pertengkaran mereka lah yang Anin mau. namun selebihnya ada rasa tidak terima juga melihat Rayhan yang nampak cemburu dan menyentuh Nara didepannya meskipun itu bukan sentuhan halus. tapi tetap saja hatinya merasa tercubit melihat semua itu, terlebih Rayhan membawa Nara menuju kamar. Anin sampai memegang dadanya yang terasa terbakar api cemburu.
"kenapa kamu seperti itu sekarang? aku harus bagaimana? ".lirih Anin menatap punggung Rayhan.
lagi lagi Anin egois seperti Rayhan. apa Anin tak menyadari siapa orang yang sebenarnya lebih tersakiti disini?.
ketika sedang meratapi nasibnya, Anin dikejutkan dengan suara bel pintu yang memecahkan lamunannya. karena sudah tidak ada lagi bik narsih di rumah ini maka Anin sendiri lah yang membuka pintunya.
" siapa sih pagi pagi dah mertamu aja. gak usah kesini aja napa sih? ganggu ajah". grutu Anin kesal karena pagi pagi udah ada tamu disaat hatinya sedang gundah.
cekleek.. "ya cari si...? ". ucap Anin tercekat setelah membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang pagi ini hingga membuatnya kesal. tidak lupa pula mata yang sudah di dandaninya dengan bulu mata cantik nan lentik itu membulatkan matanya melihat seseorang di depannya. bola matanya terasa mau menggelinding saja ke lantai saking terkejutnya. dan mulutnya menganga lebar. untung saja rumah Rayhan higenis tidak ada lalat yang lewat. coba saja kalau ada lalat yang lewat dan hinggap masuk ke mulutnya. sudah dipastikan lalat itu mati naas karena ketelen.
namun tidak hanya Anin yang terkejut. seseorang itu tak kalah terkejutnya. terbukti dari expresi wajahnya yang entahlah menggambarkan raut yang bagaimana.
" kenapa wanita ini ada di sini? ". batin seseorang itu.
" dimana Rayhan? ".
" Rr-Ra-Rayhan a-ada di atas pah". gagap Anin yang ketakutan dengan kedatangan Bagas..
__ADS_1
ia, yang datang kerumah Rayhan adalah Bagas si papahnya Rayhan suaminya Nara.
banyak sekali pertanyaan yang melintas dipikiran laki-laki paruh baya itu. banyak kekhawatiran yang melanda dibenak orang tua itu. pikiran buruk tentang putranya membuat ia semakin teringin menginterogasi wanita yang ada dihadapannya. namun ia urungkan.. Bagas tidak mau menginterogasi wanita itu tanpa Rayhan. Bagas harus cepat bertemu Rayhan.
Bagas melangkah menuju anak tangga untuk sampai dikamar Nara setelah Anin memberitahu nya.. tentu saja dengan Anin yang dibelakangnya terus mengikuti.
Bagas menghadap pintu kamar yang Anin sebutkan. diam sejenak karena terdengar suara dari bilik kamar, tapi entahlah itu suara mereka membicarakan apa.
tok.. tok...
tok.. tok.. tok. ketuknya lagi dengan lebih kencang. dan saat itu ada pergerakan gagang pintu yang bertanda ada seseorang yang membukanya. dan yah ternyata pas banget yang membuka pintunya adalah Rayhan.
"astaga papah, kenapa papah ada disini? ".batin ray khawatir.
" pa-papah? kenapa Papa ada disini? ". tanya Rayhan kelabakan. bagaimana kalau rahasianya terbongkar.. apa yang harus dijelaskan nya.. ray bahkan tidak tau harus berkata apa karena tidak ada persiapan kalimat untuk masalah ini karena Bagas tidak memberitahunya bahwa beliau akan datang.
" hey putraku. kenapa kamu segugup itu? apa orang tua ini tidak diperbolehkan untuk menjenguk anaknya? ". tanya Bagas dengan expresi datar diwajahnya. membuat Rayhan merasa agak takut melihatnya.
" bu-bukan begitu pah. tentu saja papa boleh kesini ". jawab ray menggaruk tengkuknya karena gugup..
__ADS_1
hey Rayhan kemana wibawamu saat ini.? mana Rayhan yang angkuh egois dingin dan berwibawa?
melihat kegugupan putranya Bagas hendak melayangkan pertanyaan yang membuatnya bingung terlebih pada wanita dibelakangnya. pikirnya mengapa wanita itu di rumah ini?. tapi ia urungkan setelah iris matanya menangkap sosok gadis mungil yang terduduk di ranjang dengan mata sembab dan hidup yang memerah dan pandangan matanya kosong entah menatap apa.
ohh benar-benar gadis yang malang.. ehh tunggu dulu, ralat. bukankah Nara sekarang bukan lagi seorang gadis.? sebutan apa yang pantas untuk Nara. gadis bukan, janda bukan, perawatan pun bukan. lalu apa??
Bagas lantas menggeser kasar tubuh Rayhan yang seolah menghalangi pintu untuknya masuk.
" nak Nara? ". panggilnya membuat Nara langsung tersadar dari lamunannya. secepat mungkin Nara langsung menghapus jejak air matanya yang masih menggantung di pelupuk.
" papah?.. ". sapa Nara kaget langsung mencium punggung tangan Bagas.
"nak? apa kamu baik baik saja? ". tanya Bagas khawatir karena melihat Nara yang sepertinya tidak baik baik saja.
pertanyaan mertuanya itu sukses membuat Nara bingung.. apa ia harus jujur sekarang? mengadu nasibnya yang hanya sebagai istri kontrak putranya saja? dan ia benar-benar merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini. atau ia harus menutupi segala kesalahan putranya?
Nara harus mengambil sikap yang mana??
bersambung...
__ADS_1