
Nara tidak tahu bahwa dikamar Rayhan terpasang CCTV yang tersambung ponselnya. Rayhan sangat geram dengan kedatangan Richo. dia juga sangat kesal pada Nara dan Dinda karena sudah berani beraninya menggunjingnya, terlebih saat Nara berkata mau mencekiknya. tapi hal itu membuatnya tersenyum geli. istrinya itu sungguh pandai sekali bicara. lebih mengejutkan lagi ketika melihat tubuh polos Nara dilayar ponselnya.
"ish bocah ini".kata Rayhan langsung menutup ponselnya. istrinya itu sungguh menggodanya. ingin rasanya Rayhan pulang ke rumahnya saat itu juga, tapi ia urungkan. pasti akan terjadi sesuatu jika Rayhan pulang sekarang. terlebih juga pasti anin tidak akan mengijinkannya pulang sekarang.
***
seminggu ini Rayhan tidak menginap di rumahnya sendiri. Rayhan selalu berangkat ke kantor dari apartemen anin dan pulangnya juga ke apartemen anin. Rayhan hanya pulang ke rumah ketika orang tuanya berkunjung ke rumah. Rayhan seperti orang yang sedang menghindari Nara. namun Rayhan masih tetap menjadi orang pertama yang memegang mendali aktor paling terbaik. Rayhan selalu mengutamakan perannya sebagai suami yang mencintai dan menyayangi serta setia pada istrinya di depan orang tuanya.
tidak ada yang mengira jika menjadi suami yang mencintai istrinya akan berubah 180° ketika orang tuanya sudah pulang dari rumahnya.
pagi ini Nara sudah bersiap siap untuk berangkat ke kampus. cidera yang dialaminya sudah sembuh. meskipun cidera dihatinya masih membentuk luka basah.
" Oke Nara kita ngampus aja. lupakan masalah rumah tangga lo. fighting".gumam Nara menyemangati dirinya sendiri.
Nara disambut Dinda yang sudah stanby di dapan kampus. tujuan mereka saat ini adalah perpustakaan. sudah tidak ada aktivitas penting lagi di kampusnya.
Nara duduk di bangku panjang dengan Dinda didepannya. mengeluarkan buku novel kesukaannya yang dia bawa dari rumah.
Dinda merasa heran dengan Nara yang dari tadi diam tidak banyak bicara seperti biasanya. Dinda sangat yakin itu pasti gara gara kelakuan suami kampret Nara si Rayhan Wijaya.
"ra..? ".
" hem? ".jawab Nara berdehem.
" Nara!! ".
" ya! apa? apa? apa? ".
" ish biasa aja kali jawabnya! ".
" iya sayang ". Nara mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca dan beralih menatap Dinda dengan mencondongkan tubuhnya kedepan.
" suami lo belum pulang? ".
pertanyaan Dinda membuat Nara langsung menyandarkan punggungnya lemas ke kursi yang ia duduki.
__ADS_1
" dia masih betah ama istrinya ".
" dasar kampret!! ".seru Dinda menggebrak meja. membuat manusia yang ada disekitarnya menengok arah mereka. Nara celingukan dengan tersenyum malu.
plak... " bisa diem gak sih. kebiasaan deh! ". omel Nara menggetok kepala Dinda.
sorenya Nara berniat pulang dengan Dinda. mereka berjalan beriringan keluar dari kampus. tiba-tiba datang mobil mewah berwarna hitam berhenti didepannya.
" Hi ra, pulang bareng yuk".
"h-hai. thankyou ric tapi gue pulang ama Dinda aja".jawab Nara terbata. entah mengapa kalau bertemu Richo Nara selalu merasa malu dan canggung. padahal Nara sudah tidak ada lagi perasaan terhadapnya.
" ayolah ra, bareng Dinda juga kok".
Dinda berfikir sejenak
"ok".kata Dinda langsung membuka pintu belakang.
" din". tegur Nara. masa iya sahabatnya itu gak ngerti situasi canggung yang dialami Nara.
"itung itung ngirit ongkos ra.hehe".senyum Dinda langsung mendorong tubuh Nara masuk ke mobil. terpaksa sudah Nara diantar pulang Richo. Richo mengantar Dinda terlebih dulu dari pada Nara.
"gue sini aja ric".
" emh. gue jadi kayak supir lo nih".kata Richo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"ah, bukan gitu maksud gue. ya udah gue pindah depan". akhirnya Nara pindah kursi depan bersebelahan dengan Richo. posisi ini benar-benar membuat Nara merasa tidak nyaman. namun lain halnya dengan Richo yang merasa senang bisa dekat dengan Nara.
dalam perjalanan mereka saling mengobrol layaknya teman akrab walaupun tidak bisa dipungkiri Nara agak risih dengan situasinya.
tadinya Nara tidak mau Richo mengantarnya sampai rumah tapi Richo memaksanya. malah sekarang Richo masuk ke pelataran rumahnya setelah satpam membuka pintu gerbang.
"aduh ric, lo gak usah repot repot ngantar gue sampai sini".
" udah gak papa. gue cuma mau mastiin lo sampai rumah dengan selamat ".
__ADS_1
" terimakasih ya. lo ati ati ".
Nara keluar dari mobil Richo dan melambaikan tangannya. dan disaat itu juga Nara dikejutkan oleh sosok orang didepan sana.
Rayhan tengah menatapnya tajam di depan pintu rumah.
kenapa Rayhan tiba-tiba ada di rumah. sejak kapan dia berdiri di sana. apa Rayhan juga melihat Richo tadi? aduh Rayhan tentu jelas melihatnya tadi, buktinya dia tengah menatapnya tajam seperti itu.
Nara meremas tangannya ketakutan. bagaimana kalau Rayhan memarahinya. Nara melangkah mendekati Rayhan.
" mas".sapa Nara. kali ini dia memanggilnya mas untuk antisipasi agar Rayhan tidak naik pitam nantinya. taukan, dia selalu marah marah gak jelas kalau dipanggil bapak oleh Nara.
Rayhan yang disapanya tidak menjawab sepatah katapun. ia malah berbalik masuk ke rumah. Nara pun berjalan mengikuti langkah Rayhan dibelakangnya dengan kepala tertunduk.
dukk..
"aw". Nara menabrak punggung lebar Rayhan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
" seneng ya pacaran! ".tegur Rayhan tegas.
" si-siapa yang pacaran. dia hanya mengantarku".
"cih.. kau tau kan perjanjian kontrak kita. kau tidak boleh menghianatiku! ".
" tapi aku memang tidak pacaran. tadi ada Dinda juga kok".
"sudah ku katakan kau tidak boleh dekat dekat dengan laki-laki lain. apalagi itu si mantanmu ! ".
" tadi dia hanya mengantarku. aku juga tidak pernah dekat dekat dengan laki-laki lain".
"dasar ja*ang! ".
jederr... tumpah sudah air mata Nara. bagaimana mungkin Rayhan bisa mengatakan kata jahat seperti itu. tak taukah perasaan istrinya ini.
***
__ADS_1
dukung author dengan like dan vote kamu... mau comment juga boleh kok.. 😊
thankyou 😘