
sorenya Rayhan menepati perkataannya untuk menjemput Nara. dengan berat hati akhirnya Nara mengikuti Rayhan walaupun entah apa yang akan terjadi nanti.
Rayhan membukakan pintu mobil untuk Nara duduk, lalu dirinya mengitari mobil membuka pintu satunya lagi untuk masuk dan duduk di sebelah Nara. tanpa menunggu waktu lagi Rayhan langsung mengijakan pedal gas mobilnya.
"boleh aku meminta ponselku? aku butuh ponselku". kata Nara memecah keheningan didalam mobil.
tanpa disangka Rayhan langsung mengambil sebuah kotak di dasbor mobil dan menyerahkannya pada Nara.
" ini apa? ".tanya nara menerima uluran kotak dari Rayhan. yang bisa dipastikan isinya pasti ponsel ,karena itu adalah kotak ponsel.
" itu batu....!. udah tau box ponsel pasti isinya ponsel lah. masih nanya! ".
Nara langsung memutar bola matanya malas. sebenarnya disini yang bodoh itu siapa?!
" ya aku tau ini ponsel. maksudnya buat apa? aku meminta ponselku bukan ponsel ini".
"ponselmu sudah kubuang dan itu gantinya". kata Rayhan dengan santainya tanpa rasa berdosa. membuat Nara membulatkan matanya lebar lebar.. bagaimana Rayhan melakukan hal seenaknya sendiri.
" ponselku?! kenapa bapak membuangnya?!!!! ".
Rayhan tidak menjawab pertanyaan Nara. rasanya malas sekali lagi lagi harus berdebat dengan istrinya. mendapati Rayhan yang diam saja akhirnya Nara menjadi kesal sendiri dan ikut terdiam mengalah. lebih baik Nara menghadap jalanan dari jendela mobil saja yang sudah menampakkan gerlap gerlip lampu jalanan yang sudah nampak menyala karena hari mulai petang, daripada harus berdebat dengan Rayhan.
agak lama terdiam Nara baru menyadari bahwa jalanan yang mereka lalui bukanlah jalanan menuju arah rumah Rayhan maupun rumah mertuanya. Nara mengrenyitkan jidatnya bingung dengan perlakuan Rayhan. hingga membuat pikirannya melantur hal-hal buruk apa lagi yang akan dilakukan Rayhan terhadapnya.
" bapak mau membawaku kemana?! ". tanya Nara khawatir mencondongkan badannya kedepan dengan arah mata yang melirik takut pada Rayhan.
" pulang ". dengan santainya Rayhan menjawab dengan tatapan matanya masih fokus menghadap kedepan.
" bapak Rayhan yang terhormat, anda salah jalan!! apa bapak amnesia hingga rumah sendiri tidak tahu?! ". sindir Nara
" kamu itu.. mulutmu bisa diam tidak, berisik sekali! ".protes rayhan menoleh Nara sebentar lalu fokus kedepan lagi. "dan stop memanggilku 'bapak'. dan apa tadi? 'anda'? berhenti menyebutku seperti itu!!! mengerti?? ".
__ADS_1
" cih... orang tua ini". gumam Nara komat kamit sendiri. membuat Rayhan menggelengkan kepalanya pelan. tak habis pikir mengapa dirinya bisa jatuh cinta pada gadis disebelahnya ini.
di otaknya terselip sekelebat pikiran untuk menggoda Nara. lalu teringat hukuman yang pernah diberikan pada Nara agar tidak melanggar aturan yang Rayhan buat untuk tidak memanggilnya 'bapak' lagi. dan itu akan digunakannya lagi kali ini dan seterusnya jika Nara melanggarnya
"Nara? kamu ingatkan hukuman yang pernah aku berikan padamu kalau kamu memanggilku seperti itu? kalau kamu suka hukuman yang pernah aku lakukan aku tidak masalah. dengan senang hati aku akan menghukummu. lakukan semaumu untuk memanggilku apa, dengan begitu aku akan semauku menghukummu". ucap Rayhan dengan seringai dibibirnya.
Nara yang mendengar itu langsung memutar memori otaknya sewaktu Rayhan menghukumnya dengan ciuman. reflek kedua tangan Nara langsung menutupi bibirnya. tanpa terasa godaan Rayhan membuat pipi Nara menjadi memerah.
"me-memangnya siapa yang suka hukuman seperti itu!? ".
" kamu".
fix Nara benar-benar dibuat kesal sekaligus malu oleh Rayhan. jika Nara tidak mengalah dari orang tua ini maka perdebatannya tidak akan pernah selesai. lebih baik Nara kembali diam saja.
kini mereka telah sampai didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Nara masih kebingungan dengan maksud Rayhan yang membawanya ke gedung yang nampak seperti apartemen. padahal hari sudah gelap dan Nara sudah merasa kelelahan.
"turun". Nara memerintah Nara sambil membuka seatbelt nya dan langsung turun dari mobil tanpa menunggu Nara.
Nara terus mengikuti langkah Rayhan tanpa banyak bicara lagi. langkahnya yang terlalu lebar membuat nafas Nara terengah hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk membuka suaranya.
" dia ini jalan apa melompat sih. ya Tuhan aku capee ngikutin ini orang "
dukk... "aww"..
karena tidak memperhatikan langkahnya Nara menabrak punggung lebar Rayhan yang tiba-tiba berhenti.
" ssh.. kamu ini! ". kaget Rayhan.
" maaf. kamunya tiba-tiba berhenti".lirih Nara menatap lantai.lalu tiba-tiba menatap Rayhan "kenapa kita berhenti? ".
" kita sudah sampai. malam ini kita menginap disini ".
__ADS_1
" disini?? maksudmu di lorong ini?! ". pekik Nara tidak percaya.
Rayhan menghela napasnya panjang. kenapa istrinya tiba-tiba menjadi bodoh seperti ini.
" hey. suamimu ini kaya. kenapa harus tidur dilorong. maksudnya di apartemen kita ini. dan ini aku akan membukanya". kesal Rayhan menenjuk pintu dan langsung menekan pin masuk apartemennya..
ya memang Rayhan membeli apartemen baru untuknya dan Nara tempati. Rayhan tidak memungkinkan membawa Nara kembali pada rumahnya yang sudah berisi Anin disana. dan menurutnya membeli apartemen baru adalah pilihan pas untuk membawa Nara. karena Rayhan tidak mau menyakiti hati Anin dengan adanya Nara dan sebaliknya.
setelah membuka pintu mereka memasuki apartemen yang nampak mewah. Rayhan menunjukkan bagian isi rumah termasuk kamar yang akan mereka tempati.
"ini kamar kita". ucap ray
" kita?!! pak Rayhan.. aku tidak mau tidur denganmu. aku tidur dikamar lain saja". protes Nara.
cup.. tanpa aba aba Rayhan mencium bibir Nara kilas.
"ya!!! kenapa menciumku!! ".
" karena kamu melanggar aturan ku".rayhan langsung pergi begitu saja dan mendudukan dirinya di sofa.
sejujurnya jantung Nara hampir saja melompat dengan perlakuan Rayhan yang seperti itu. tapi ia juga kesal karena sudah seenak jidat. Nara sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Nara mendekati Rayhan yang sedang memejamkan matanya di sofa.
"aku tidak membawa pakaianku".
" sudah kusiapkan semua keperluanmu dikamar". Nara langsung menuju kamar dan benar saja dikamar itu sudah nampak beberapa alat make-up berjajar di meja rias dan banyak pakaian dilemari beserta **********..
"ada pakaian dalamnya juga? ish dasar tidak tahu malu. bagaimana bisa lelaki menyiapkan pakaian dalam wanita".
Nara pun mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya dan lekas tidur...
__ADS_1