Rumitnya Cinta

Rumitnya Cinta
eps 85


__ADS_3

Nara pingsan.


rasa dingin yang sudah terlalu menusuk tulangnya ditambah lagi dengan hati dan perasaannya yang sudah lebur tak karuan membuat tubuhnya limbung. kakinya serasa gemetar tak bisa lagi menapak sempurna di atas tanah.dan berakhirlah kini nara tidak sadarkan diri.


Richo yang sedari tadi memperhatikan Nara langsung berlari mendekatinya begitu melihat wanita yang dicintainya terlihat limbung. untung saja Richo cepat meraih tubuh Nara yang terjatuh, hingga tubuh Nara tidak sampai menyentuh pafing didepan rumahnya.


"ya Tuhan Nara! hey,,Nara bangun!! ".


Richo menepuk-nepuk pelan pipi Nara berharap Nara langsung membuka matanya.


melihat Nara yang tidak juga bangun, Richo langsung mengangkat tubuh kecil Nara masuk ke gendongannya menuju rumah..


dengan susah payah Richo mengetuk pintu rumah Nara dengan masih menggendong tubuh Nara yang lemas tak sadarkan diri.


" tante, om.. tolong buka pintunya. !! ". teriak Richo panik.. tapi tak kunjung juga pintu dibuka..


hingga disebrang jalan Dinda yang kebetulan berada di balkon rumahnya melihat aksi Richo yang tengah kesusahan menggendong Nara.


" Richo oo!! kau apakan Nara, hah?!!! ".pekik Dinda dari arah balkon rumahnya dengan suara dibuat sekeras mungkin.


Richo yang mendengar Dinda berteriak lantas menoleh kearahnya "hey.. tolong bantu aku! ".


secepat kilat Dinda langsung berlari turun untuk menemui mereka.


bik Nani yang baru membuka pintunya langsung terkejut begitu melihat majikannya digendong oleh seorang pria yang sudah tak asing baginya dengan tubuh nonanya yang terlihat lemas tak berdaya.


"ya ampun Nona kenapa. silahkan den masuk". bik Nani mempersilahkan Richo masuk. menunjukkan kamar yang biasa Nara tempati.


Richo pun langsung mengikuti langkah bik Nani menuju kamar Nara.


setelah sampai dikamarnya, Richo meletakkan pelan tubuh Nara diatas kasurnya yang empuk.


Dinda yang sudah sampai dirumah Nara tepatnya dikamar Nara langsung menyambar tubuh sahabatnya itu.


" Nara kamu kenapa?! astaga, ada apa denganmu".Dinda memegang tubuh Nara yang masih terdiam lemah.


"ya ampun kenapa bajumu basah! ". Dinda lantas melirik tajam Richo. satu pukulan keras sukses mendarat dilengan Richo yang tengah berdiri ditepi ranjang dengan matanya yang terus menatap intens Nara.

__ADS_1


" aww". ringik Richo.


"apa yang sudah kamu lakukan, hah! "


"hah? aku? ". Richo menunjuk dirinya sendiri.


" iya lah, siapa lagi. kamu yang membawanya kesini dalam keadaan basah kuyup seperti ini, pingsan pula. pasti kamu sudah melakukan sesuatu terhadapnya ". tuduh Dinda sembarangan yang langsung mendapat tatapan tajam Richo.


" ya! gadis gila. kau kira aku orang yang akan melakukan sesuatu yang jahat seperti apa yang ada difikiran kotormu itu, hah! aku tidak melakukan apapun padanya ". marah Richo tidak terima.


" lagi pula aku belum melakukan sesuatu apapun padanya dia sudah melakukannya dengan si brengsek itu ". umpat Richo kesal.


" aish, apa maksudmu ".


"... "


"sudah sudah non, den. ini non Nara nya kasihan. tuan dan nyonya juga sedang tidak ada dirumah. bagaimana ini?! ". panik bik Nani menengahi perdebatan Richo dan Dinda


" ya udah bik, biar saya ganti bajunya dulu. bibik tolong siapkan pakaian dan minyak kayu putih. saya sudah menghubungi dokter keluarga saya". ucap Richo yang sudah naik ke ranjang tempat tidur Nara.


Richo yang baru menyadari apa yang sudah dipikirkannya lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. saking khawatir dan paniknya membuat Richo asal bicara saja tadi.


" oke oke aku keluar ". ucap Richo malu keluar kamar Nara meninggalkan mereka para wanita untuk menggantikan pakaiannya sembari menunggu dokter keluarga Richo datang.


Richo duduk diruang tamu menunggu. sebenarnya dirinya juga sudah merasa kedinginan sedari tadi. tapi mau bagaimana lagi, Richo tidak tega jika harus meninggalkan Nara dalam keadaan seperti itu.


Richo merogoh ponselnya untuk menghubungi dokter keluarganya yang sudah diundang nya tadi. untung saja ponselnya canggih. jadi tidak masalah dengan keadaannya yang sedari tadi basah terkena air hujan.


"bibi Je, kenapa kau lama sekali?! ". cerca Richo yang sudah tidak sabar menunggu lagi setelah bibi Je mengangkat panggilannya.


yah, dokter keluarga yang sudah diundangnya tadi adalah bibinya Richo sendiri. namanya dokter Jesica.


" kamu tidak sabaran sekali.. biasanya kamu sangat membenciku bila datang sebagai dokter. lalu kenapa kau tidak sabaran seperti ini untuk menjadi doktermu. ini lagi alamat rumah siapa pula??! ". kesal bibi Jesica panjang lebar.. " rumahnya yang sebelah mana?! ".


" cari saja rumah yang ada mobilku ".


" oh itu aku melihat mobilmu ". kata dokter Jesica yang sudah melihat mobil Richo yang bertengger disalah satu perumahan mewah. " tunggu aku didepan rumah ya".

__ADS_1


bibi Richo alias dokter Jesica telah sampai dirumah Nara. ternyata bibi nya tidak datang sendirian, melainkan dengan suaminya yang ikut serta menemani istrinya karena hari sudah gelap. matahari saja sudah tidak lagi menampakkan sinarnya lagi.


"bibi kau lama sekali. Hai paman. kau juga ikut?". tanya Richo menyapa.


" tentu saja aku ikut aku tidak akan membiarkan bibimu sendirian karena perintah mu yang mendadak dan terkesan terburu-buru ini". jawab paman David terkekeh.


"hey,, sayang kenapa bajumu basah? kau bisa masuk angin ". bibi Je yang menyadari keadaan Richo langsung bertanya.


" ah.. ini. aku.. ah sudahlah bibi Je jangan khawatirkan aku. lebih baik bibi cepat masuk. gadisku membutuhkanmu sekarang!! ".


Richo mendorong pelan bibinya yang seorang dokter itu untuk segera memeriksanya.


dengan perasaan kebingungan dan penuh tanda tanya dokter Jesica masuk ke kamar Nara dan memeriksa tubuh Nara yang lemas seperti tak bertulang. memasangkan slang infus untuk mengembalikan cairannya yang berkurang.


" siapa wali gadis ini? ". tanya dokter Jesica setelah memeriksa Nara.


"tentu saja aku! ".. ucap cepat Richo.


" haish. kau tau apa tentang gadis ini?! ". dokter Jesica mencubit Richo.


" dia gadisku tentu saja aku tau banyak tentang nya". ucap Richo datar.


"ya! jangan ngaku ngaku. dia istri orang dan juga gadis orang. jangan seenak jidat mengaku sebagai walinya.dasar!". Serkas Dinda membuat Richo memutar matanya jengah. "katakan saja padaku dokter. aku sahabatnya dan juga bisa dibilang saudaranya".


" lalu dimana orang tuanya? ". tanya dokter Jesica yang sedari tadi tidak melihat orang yang terlihat seperti orang tua dari gadis yang diperiksa nya.


" nyonya dan tuan sedang tidak ada dirumah dok". jawab bik Nani.


"bik, apa bibik sudah memberitahu om dan tante?". tanya Dinda menyelisik.


" ya ampun non, bibik lupa! ". Nani menepuk jidatnya sendiri.


" kalau begitu saya katakan pada kalian saja. dia pingsan dikarenakan dehidrasi dan kurang gizi. dan kemungkinan juga dia belum makan ditambah lagi sepertinya dia sedang mengandung. dan satu lagi dia mengalami stress yang berlebihan makannya membuat tubuhnya tidak stabil. saya minta kalian untuk menjaga kesehatannya terutama pola makanya karena dia sedang hamil. dan minta padanya untuk jangan terlalu stress karena itu akan berpengaruh pada kondisi janin yang ia kandung". jelas dokter Jesica panjang kali lebar.


"dan untukmu Richo". bibi je alias dokter Jesica menatap tajam Richo lantas menarik tangannya kasar membawanya keluar kamar.


" kamu menghamili seorang gadis istri orang??!! ya!!kamu gila?! apa kata ayahmu nanti jika dia tahu, hah!! ". bentak Jesica marah setelah mereka keluar dari kamar Nara.

__ADS_1


__ADS_2