
Hai Hai Haiii...👋
apa para readers menungguku??!
. aku harap kalian rindu denganku dan ceritaku.😁 karena aku juga merindukan comment kalian meskipun gak seberapa yang mampir di comment 😭..maafkan aku yang jarang up ya. selalu jadikan karyaku sebagai cerita favorit di rakmu. jangan lupa untuk selalu dukung aku dengan like dan vote kalian.
. thankyou..😘 happy Reading..
★★★
"ceraikan Nara". kata Bagas tegas membuat semua mata menghadapnya. tak terkecuali Nara yang seketika membuat air matanya meluncur deras tanpa permisi.
harusnya Nara senang dan wajib berbahagia bukan? mendengar pernyataan Bagas agar Rayhan menceraikannya?. tapi entahlah, ia malah merasa patah hati sekarang. nyatanya ada rasa sakit dan kecewa yang memenuhi hatinya.
" pah! ". Rayhan meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya "Rayhan tidak bisa menceraikan Nara! ".
" kenapa? Rayhan, lepaskan nak Nara jika memang kamu mencintai nak Anin. maafkan papah yang sudah membuat kalian menderita ".bagas menundukan kepalanya merasa bersalah.
lalu Bagas menghadapkan pandangannya menatap Nara yang sedari tadi hanya diam sambil meremas jarinya sendiri. terlihat sesekali ia mengelap matanya yang terlihat sembab.
" nak Nara, Maafkan papah. Papa sudah membuatmu menderita dengan pernikahan ini. papa kira lambat laun kalian akan saling mencintai, tapi nyatanya papa salah. maafkan papah nak Nara". ucap Bagas meminta maaf. membuat Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah. rasanya ia tak bisa menjawab apapun dari pernyataan Bagas.
"papa akan membicarakan masalah ini pada keluargamu". sambungnya dengan tangan yang bergerak untuk menepuk pundak Nara. mengisyaratkan menantunya itu agar tetap tegar.
__ADS_1
Bagas beranjak dari duduknya
" jangan sakiti putriku. aku akan mengurus surat perceraianmu! ". tegas Bagas menunjuk Rayhan lalu melangkah pergi.
" pah. tunggu dulu, pah.. pah..! ". teriak Rayhan namun tidak membuat seorang Bagas Wijaya menghentikan langkahnya maupun menolehkan wajahnya. Bagas benar-benar dalam mode marah sekarang. ia sangat kecewa dengan sikap putranya itu.
" Rayhan mencintai Nara pah.! Ray tidak akan menceraikan Nara ". seru Rayhan yang langsung bisa menghentikan langkah papah Bagas.
Bagas merasa kaget, senang, dan bingung secara bersamaan. bagaimana bisa istrinya itu melahirkan putra yang bodoh seperti Rayhan. kenapa putranya itu tidak menuruni sifat karismatik dirinya. putranya malah terlihat seperti seorang pecundang dimatanya. haiss.. Bagas sangat geram dengan Rayhan. bolehkah ia menggetok kepala putranya sekarang?!
Bagas mendekat kembali pada Rayhan dan..
plakk... "aww".getokan keras sukses mendarat di kepala belakang Rayhan. Bagas sudah tidak tahan lagi untuk tidak memukul putranya itu
disini Anin lah yang merasa menang. ia tah harus lagi repot repot mengotori tangannya untuk memisahkan hubungan Rayhan dan Nara.
" kau dengar? papah Bagas menginginkan Rayhan menceraikanmu. kau tidak perlu terlalu berharap dengan pernikahan kontrak mu itu ". ceplos Anin dengan senyuman sinisnya.
" cih,, memangnya siapa yang berharap dengan pernikahan ini? aku sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. tapi Anin. kau dengar tadi? Rayhan mencintaiku juga! ". bisik Nara diakhir kalimatnya, dan itu sukses membuat Anin terlihat kesal dengan mengepalkan tangannya. niat awal ingin membuat Nara kesal tapi malah Anin sendiri yang kesal.
disaat itu Rayhan muncul dengan aura yang menyeramkan. mungkin Rayhan tengah marah dengan pernyataan Bagas tadi. atau marah pada Nara yang sudah membongkar rahasianya. jika dulu, pasti Rayhan akan langsung menceraikan bocah ingusan itu. tapi tidak dengan sekarang dan sesaat yang lalu setelah ia merasa adanya perasaan terhadap bocah ingusan ini.
"Nara! apa yang kamu lakukan? sadarkah kamu dengan perkataanmu tadi, hah?!". marah Rayhan mencengkram kuat pundak Nara, hingga membuatnya meringis kesakitan.
__ADS_1
" ya! aku sadar sepenuhnya " jawab Nara menyentak kasar tangan Rayhan yang ada di pundaknya.
"harusnya aku lakukan ini sedari dulu! ". Nara mengusap cepat air mata yang sudah menggenang di ujung matanya.
" ckck.. dasar bocah bo*oh! jika kamu lakukan hal ini sedari dulu sudah dipastikan ayahmu juga sudah lama berada di rumah sakit! ". Rayhan melangkah pergi meninggalkan Nara yang tercengang dengan menggandeng tangan Anin menuju kamarnya. niat kekantor diurungkan nya karena sudah tidak ada lagi mood sedikitpun.
disisi lain...
Richo yang berada dikampus dengan Dinda hanya saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. orang yang ditunggu nya sejak tadi tidak muncul hingga detik ini. sebenarnya Richo merasa khawatir dengan keadaan Nara. begitupun dengan Dinda yang notabenya sudah sama-sama tau tentang status Nara.
" Ric, gue agak khawatir dengan keadaan Nara ".
" hem, gue juga ".
" gimana kalau kita paranin aja! ".kata Dinda semangat yang langsung disetujui Richo.
mereka lamgsung menuju rumah Rayhan menggunakan mobil Richo. namun dipertengahan jalan, Dinda mendapat telefon dari ibunya.
" haish ..dasar emak gue ada ada aja. gak tau apa kalo anaknya juga punya urusan juga! ". kesal Dinda setelah mendapatkan telepon.
" lo kenapa din? ".
" emh, Ric. sorry yah kayaknya gue gak bisa ikut kerumah pak ray deh. gue disuruh pulang emak gue. lo gak papa kan? biar gue turun disini aja ".
__ADS_1
" yakin lo? ". tanya Richo yang diangguki kepala oleh Dinda. dan akhirnya kini hanya Richo sendiri menuju rumah Rayhan untuk menemui Nara.