
ting.. ting....
Nara mengerjapkan mata beberapa kali. perkataan Richo barusan bagaikan djavu baginya. tapi siapa sangka kata kata yang diungkapkan Richo barusan ternyata langsung ampuh menghentikan tangisan Nara. dan kini malah berganti dengan gelak tawa yang terdengar.
"bst.. hahaha... ya! jangan konyol.bercandamu terlewat lucu..". tawa geli Nara terdengar menggelegar dengan menabok nabok Richo gemas.
Nara tidak bisa membayangkan jika dirinya menerima tawaran Richo..waah... pasti akan sangat menyenangkan bukan jika mempunyai dua lelaki sekaligus. hidupnya pasti akan terjamin secara materialis. tapi itu sungguh konyol, bukan?. lagi pula memang dibolehkan seorang wanita punya dua lelaki sekaligus??.. setahu Nara hanya lelaki saja yang diperbolehkan punya lebih dari satu pasangan.
"hey,, siapa yang bercanda. aku tidak bercanda. aku serius. lagian apanya yang lucu, hem?. "
"Nara! biar ku ulangi lagi. menikahlah denganku?! ". ucap Richo dengan wajah yang dibuat seserius mungkin agar Nara percaya dengan apa yang dikatakannya.
Nara langsung terdiam begitu mendengar pernyataan Richo, menyelisik bola mata Richo dalam mencari kebenaran atau kebohongan dalam bola matanya seolah sedang bertanya apa benar apa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan semata untuk menghiburnya. sayangnya Nara tidak menemukan kebohongan didalam sana. mungkin benar apa yang dikatakan Richo bukanlah candaan semata.
***
Rayhan beranjak setelah merasa Anin sudah terlelap dari dekapannya. menyelimuti tubuh Anin dengan perasaan yang berkecamuk didalam dadanya. dirinya tidak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan seperti ini.
pernikahannya dengan Nara yang dikiranya tidak pernah akan ada ujung kata cinta kini telah berubah.. justru Rayhan ingin selalu dekat dengan istri sahnya dan mulai terbiasa dengan adanya istri kecilnya. mulai merasa ada perasaan yang mungkin dinamakan cinta. sedangkan Rayhan juga masih sangat mencintai orang yang kini berada disampingnya..
Rayhan memungut kembali pakaiannya dan segera mengenakannya. lalu duduk ditepi ranjang dengan memandangi wajah Anin yang terlelap.
"haahh,, aku tidak menyangka hidupku akan serumit ini".terdengar helaan napas Rayhan berat.
hingga dipersekian detik kemudian Rayhan baru menyadari sesuatu.
" astaga!! Nara masih didalam mobil!! ".
Rayhan langsung berlari turun kebawah setelah mengingat bahwa tadi ia datang ke rumah tidaklah sendirian. melainkan mengajak istrinya yang tengah mengandung anaknya itu juga.
setelah sampai di mobil. Rayhan membuka pintu mobilnya dengan terburu-buru. untungnya hujan sudah berhenti. dan betapa terkejutnya Rayhan saat mengetahui Nara sudah tidak ada lagi di mobil.
__ADS_1
"Nara! "
"ya Tuhan dimana anak itu. apa dia didalam? ". Rayhan bertanya tanya pada dirinya sendiri.
tanpa membuang waktu Rayhan masuk kembali mengecek isi rumah.mencarinya di setiap ruangan berharap istrinya berada di dalam rumah. tapi sialnya orang yang dicarinya tidak ada dimanapun. sekelebat bayangan mengerikan tentang Nara yang akan melenyapkan anaknya lagi lagi membuatnya bergidik ngeri. sungguh saat ini Rayhan benar-benar ketakutan kalau kalau istrinya akan nekat kali ini. meskipun Rayhan tahu Nara pasti tidak akan melakukannya.
" sial. dia pergi ke mana! ". Rayhan lantas turun lagi kebawah, masuk ke mobilnya dengan terus menekan nomor ponsel Nara, berharap Nara akan segera mengangkat teleponnya dan mengatakan keberadaannya. sayangnya Nara tidak mengangkat satupun panggilan Rayhan.
Rayhan terus melajukan mobilnya menyelusuri jalanan berharap Nara nya pergi belum terlalu jauh.
"haish dimana anak itu. apa dia pulang ke apartemen? ". gumam Rayhan benar-benar khawatir. akhirnya Rayhan mengingat sesuatu bahwa dirinya punya telepaty.. yah, kenapa dirinya tidak menggunakan alat pelacak yang dipasangkan di ponsel Nara yang biasa Ray sebut tekepaty.. itu jauh lebih gampang untuk mencari istrinya itu tanpa susah susah.. secerik senyuman langsung menghiasi wajah Rayhan yang tadi panik dan khawatir. dengan segera Rayhan langsung mengecek pelacak lewat ponselnya. dan keberadaan Nara saat ini terlihat jelas bahwa itu adalah alamat apartemennya.
dengan cepat Rayhan melajukan mobilnya menuju apartemen..
***
" Nara!! "
"ya! bocah kamu dimana?! "
teriak Rayhan di semua ruangan setelah ia sampai di apartemen.. tapi sayangnya sekeras dan sebanyak apapun Rayhan memanggilnya istrinya tidak nongol juga.. Rayhan lantas merogoh sakunya mengambil ponsel miliknya dan menekan nomor Nara.
kening Rayhan berkerut tatkala rada rada mendengar suara ponsel berdering. dan suara deringan itu terdengar berasal dari dapur.
dengan langkah besar Rayhan pun mendekati arah dapur. dan betapa terkejutnya Rayhan saat menemukan tas Nara yang tergeletak di atas meja dengan masih terdengar suara deringan didalamnya. yah ponsel Nara ternyata tidak dibawanya.
Rayhan pun mulai mengingat bahwa Nara memang tidak membawa apapun karena sewaktu sehabis makan rujak dan perutnya sakit Rayhan langsung membawanya ke rumah sakit tanpa membawa barang apapun milik Nara.
Rayhan meraup wajahnya frustasi dengan pikiran pikiran yang berterbangan hingga membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
dengan segera Rayhan menghubungi orang tuanya. siapa tau Nara dibawa oleh orang tuanya.
__ADS_1
"hallo mah, apa Nara ada disitu? ".tanya Rayhan to the poin setelah Mariska sang mamhanya mengangkat panggilannya.
" tidak sayang. istrimu tidak disini. kenapa? memangnya Nara kemana? ". tanya Mariska bingung.
" ya udah mah". tut..
Rayhan mematikan sambungan teleponnya sepihak. membuat Mariska tambah mengerutkan dahinya bingung disebrang sana.
"yaish, dasar anak kurang ajar. tidak sopan sekali". grutu Mariska kesal.
" siapa mah? ". tanya Bagas sang papa.
" ini anakmu telepon menanyakan apakah Nara ada disini. dan aku jawab tidak. ehh,, anak kurang ajar itu langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menjawab pertanyaanku dulu."
"Rayhan menanyakan istrinya disini? " hahhh.... Bagas menghela napasnya berat. "apa lagi yang dilakukannya".
***
sedangkan ditempat lain Richo akhirnya menuruti apa yang diinginkan Nara. pulang ke rumah orang tuanya tanpa lagi banyak bertanya meskipun ada banyak pertanyaan yang ingin Richo pertanyakan. begitupun dengan Nara yang tak lagi banyak bicara. rasanya mereka juga sama-sama canggung dengan situasi saat ini. hingga mobilnya tiba di pelataran rumah Burhan.
" terimakasih sudah mengantarku". suara gemetar Nara jelas terdengar. begitupun dengan wajah putihnya yang sudah terlihat pucat pasi menandakan keadaan Nara saat ini menujukan sedang tidak baik baik saja.
Nara lantas membuka pintu mobilnya tanpa melihat kearah Richo lagi.
"Nara"
tak peduli panggilan Richo Nara terus berjalan dengan langkah gontai. pikirannya terus terbayang akan apa yang sedang dilakukan suaminya tadi.
yah, sekeras apapun Nara berusaha menyangkal perasaannya tetap saja rasanya dadanya terasa seperti hampir meledak. kepalanya serasa berdenyut tak karuan.. hingga akhirnya pandangan matanya menjadi berkunang kunang dan gelap...
***
__ADS_1
ingat pesan author: "jangan lupa like, vote, dan comment"