
"Rena kita putus yah..?"
"Hey.. bercanda jangan keterlaluan" Rena sambil tertawa seakan tidak percaya dengan kata-kata yang Toga lontarkan ditelingannya.
"Maaf Rena. kita harus putus maafkan aku" mematikan panggilan telepon dengan Rena. Sesak dalam dada Toga tidak bisa menahannya seakan tidak rela kehilangan Rena namun semua harus dia lakukan dengan terpaksa demi keluarga yang memiliki hutang budi kepada keluarga Luna calon istrinya sekarang.
Rena terdiam seribu bahasa. (Tidak... tidak mungkin Toga setega ini ke aku.. tidak mungkin..). Rena menghubungi kembali nomor telepon Toga namun sayangnya nomor sudah tidak aktif. Berkali-kali Rena menghubungi namun tetap sama. Rena pun mencoba melalui SMS.
Toga sayang kenapa tiba-tiba meminta putus dengan hubungan kita apa alasannya??
Lama Rena menunggu balasan SMS nya namun tidak ada jawaban..
Rena frustasi bagaimana mungkin sebelum dia pulang kampung hubungannya baik-baik saja kenapa sekarang meminta untuk mengakhirinya. Pasti ada alasannya tidak mungkin tidak memiliki alasan yang jelas mengakhirinya.
Keesokan harinya Rena tetap mencoba menghubungi nomor Toga namun tetap sama. Mencoba membuka sosial media Rena merasa lega saat akun Toga online. Rena mencoba mengirim chat pribadi dengannya
"Toga maaf apa aku ada salah kenapa Tiba-tiba menghindari aku seperti ini."
Rena berharap ada balasan, naas Toga hanya membacanya saja tidak merespon sama sekali.
Kecewa dengan perlakuan Toga akhirnya dia mulai bertanya kepada Tian via telepon..
"Halo.." Rena
"Halo Rena.."Tian
"Tian maaf mengganggu waktu pagi-pagi begini"
"iya tak apa-apa, ada apa tumben pagi-pagi telepon?"
"emm.. gini kemarin Toga pulang kampung tapi tiba-tiba nomor nya tidak aktif apa kamu bisa hubungi dia.?"
"ouh kirain ada apaan. oke nanti aku coba telepon ke Toga"
"nomor nya tidak aktif Tian makannya aku menanyakannya ke kamu"
"yaudah nanti aku coba telepon"
"oke terimakasih Tian, tapi aku minta tolong ya sama kamu, jangan bilang ya aku menanyakannya, seolah-olah memang kamu yang sedang ada keperluan gitu"
"memang ada masalah apa sih sampai segitunya?"
"tidak apa-apa hanya masalah kecil saja"
"hmmm yaudah jika tidak mau bercerita"
__ADS_1
"mau membantu apa tidak?"
"iya nanti aku coba"
"oke terimakasih Tian"
Setelah sambungan telepon ditutup. Tian langsung menghubungi Toga melalui chat pribadi.
"Bro kapan pulang kampung?? tidak mengabariku sama sekali teman macam apa kau ini huh"
Toga membaca chat dari Tian, dan Toga langsung telepon ke Tian..
"Halo" Toga
"Masih punya nyali telepon nih diam-diam pulang kampung huh"Tian
"Sorry bro. . aku benar-benar buru-buru kemarin tuh"
"Buru-buru kenapa kebelet kawin ya haha"
"Sembarang kalo ngomong"
"Terus kenapa balik.?"
"Entahlah mungkin sebulan dua bulan baru pulang, ada apa bro.?”
“Ouh Rena”
“Eh jangan macam-macam ya Rena itu sahabatku jika dia kenapa-kenapa kamu harus berurusan denganku juga”
“Bagaimana ya menceritakannya.?”
“Kenapa memangnya seberat apa kamu tidak mau menceritakannya, nanti jika Rena bertanya lagi kepadaku aku harus jawab apa? Tidak mungkin juga harus berbohong kan?”
“Ya udah aku cerita sekalian minta tolong ya supaya Rena melupakanku”
“Loh kok bisa coba ceritakan kenapa aku harus membantumu?”
“Beberapa bulan yang lalu aku dan Rena sempet jadian kita resmi menjadi sepasang kekasih”
“Hebat yah aku kalian anggap apa teman macam apa tidak memberikan kabar baik ini kepdaku haha mau main pentak umpet ceritanya?” Tian ada rasa cemburu
“Dengar dulu baru juga mulai cerita udah dipotong, lebih baik tidak akan ku ceritakan” memutuskan sambungan telepon
Tian sangat kesal (Tuh orang sudah seperti wanita saja suka ngambek huh) Tian menghubungi Toga
__ADS_1
“Ada apa bukannya tadi tidak mau mendengarkan aku bercerita kenapa telepon balik?”
“Oke maaf kali ini aku dengarkan sampai akhir, cepet ceritakan!!”
“Hah sudah tidak ada nafsu bercerita”
“Teman macam apa hah? Segitu saja sudah merajuk marah kesel seperti wanita saja haha”
“Sembarangan yah.. Oke aku ceritakan lanjutan dari ceritaku yang tadi. Hmmm tadi sampai mana ya ceritanya lupa haha”
“Huh lpura-pura lupa, tadi kalian jadian beberapa bulan yang lau terus apa lagi?”
“O iya betul kami berdua sudah menjadi sepasang kekasih beberapa bulan yang lalu, dan 4 Hari yang lalu aku dihubungi keluargaku disini katanya ibuku sakit jadi aku harus pulang makan secara dadakan makanya aku tidak sempat mengabarimu bahkan lupa haha”
“Sialan..!!! Yaudah lanjut”Tian
“Okeh, pada saat aku pulang aku diantar oleh Rena. Aku sudah janji akan memberikan kejutan untuknya setelah sampai disini aku mau minta restu orang tuaku, namun sayangnya niatku tidak sesuai dengan niat kedua orang tuaku. Aku bahkan dibohongi oleh bapakku sendiri katanya ibu sakit ternyata sesampainya disini ibuku sehat-sehat saja”
“Ouh oke sampai sini aku paham terus bagaimana dengan restumu?”
“Haaaah itu tidak akan terjadi karena bapakku menjodohkanku dengan Luna, keluarga yang selalu membantu keluargaku dalam segala perekonomian. Bapak akan tau jika aku pulang dengan alasan ibuku sakit jika tidak begitu mana mungkin aku pulang begitu saja aku sangat sayang kepada ibu. Restu bapak hanya buat Luna aku sudah berusaha mengelak agar tidak menjohkanku dengannya namun bagaimana lagi aku sebagai anak menolak tapi bapak tetap kekeh menjodohkanku dengan Luna dan tidak merestuiku dengan Rena”
“Jadi seperti itu terus apa rencanamu?”
“Aku semalam berkomunikasi dengan Rena dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan aku dengan Rena”
“Apa kamu gila..!!!!”
“Haha bagaimana lagi apa yang harus aku lakukan disisi lain aku sangat sayang kepada Rena tapi di satusisi aku harus memberikan kehidupan yang terbaik untuk keluargaku”
“Jadi dengan istilah lain keluargamu menjualmu gitu,, haha kasian sekali sahabatku ini. Kamu dibandrol harga berapa hah.??”
“Huuush kamu ini ada ada saja aku bukan laki-laki bayaran tau..!!”
“Haha aku hanya bercanda, bagaimana dengan Rena apa kamu pikir dia akan diam saja seharian kemarin menanyakan kamu terus loh, bahkan pagi-pagi buta sudah menelponku”
“Aku akan mencoba melupakan Rena walaupun dalam hatiku susah untuk melupakannya”
“Pengecut kamu sebagai lelaki tidak mau memperjuangkan cinta”
“Lantas aku harus apa.??”
“Pikir sendiri lah aku tidak mau berurusan dengan masalahmu”
“Waaah parah. Tapi aku bisa minta tolong ke kamu yah untuk memberikan Rena perhatian supaya tidak bersedih”
__ADS_1
“Itu sudah kewajibanku sebagai sahabat yang bertanggung jawab tidak sepertimu sudah mendapatkan cintanya tapi kamu malah mencampakannya hebat yah. Udah yah males aku ngobrol dengan teman semacam kamu” Tian memutuskan sambungan telepon dan langsung memblokir nomor Toga.
Marah dan marah bagaimana dia seenaknya sendiri meninggalkan Rena yang begitu mencintainya. Sebagai teman sejujurnya Tian juga memiliki perasaan terhadap Rena namun dia tahan karena statusnya sebagai teman tidak mau berakhir begitu saja.