
Melihat Rayhan membantu Nara berdiri semakin membuat emosi Anin memuncak seketika. kedua kupingnya serasa mengeluarkan asap tebal dan wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus karena menahan amarah.
"sayang! kenapa kamu membantunya?! ".teriak Anin marah.
" aku hanya membantunya berdiri saja. apa salahku? ".
" kamu menyentuhnya. tentu saja salah ".
" kalo tidak menyentuhnya bagaimana q bisa membantunya berdiri. lagipula aku hanya menyentuh lengannya saja, bukan itunya. kenapa kamu harus marah". kata Rayhan melirik benda sintal Nara.
"Ya.apa maksudmu!! ".marah Nara tak terima yang langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. bisa bisanya suaminya itu berbicara mesum didepannya disaat seperti ini
" ihh.. dasar kamu ini. apa kamu senang sudah menyentuhnya tadi, ha! ".
Anin memukul mukul lengan Rayhan gemas. menumpahkan kekesalan yang tak bisa di bendung nya lagi.
sedangkan Nara yang didepannya hanya bisa membulatkan mulutnya tidak bisa berkata apa apa. begitu juga narsih yang hanya berdiri jauh dipojokan menyaksikan keributan majikannya. ia juga bingung harus bagaimana saat ini.
" aw aw Anin dengarkan aku dulu. bukan begitu maksudku!".
"lalu apa maksudmu? kamu menyukainya kan? ".
" iya".jawab sepontan ray tiba-tiba.
__ADS_1
"apa!! ".
" ahh maksudku tidak ".
"astaga, apa yang ku katakan. haish dasar mulutku".batin ray mengrutugi kesalahannya sendiri.
didetik itu juga Anin sudah tau perasaan Rayhan terhadap Nara yang sebenarnya. feeling Anin sudah merasakan bahwa Rayhan telah jatuh cinta pada Nara meskipun dia belum mengakuinya. cinta Rayhan sudah terbagi kini.
namun Anin tidak mau menyerah begitu saja. dirinya tidak mau berbagi Rayhan pada siapapun termasuk Nara. apalagi menurut Anin bukan dirinya lah yang merebut Rayhan.
kini tangannya tak lagi memukul Rayhan. matanya menatap mata ray penuh kekecewaan membendung air mata yang tertahan.
" ceraikan dia ". kata Anin menunjuk wajah Nara.
Nara serasa bagaikan tersangka di tengah-tengah mereka. ini bukanlah kesalahannya. ia juga korban orang tuanya yang sama sama egois.
" Anin ".
" Rayhan Wijaya!! ceraikan Nara!. "
permintaan Anin membuat Rayhan diam tidak bisa berkata-kata lagi. perasaannya rumit yang tak bisa digambarkan lagi bentuknya. dia tidak bisa menceraikan Nara dan memilih satu diantara mereka.
tumpah sudah air matanya kini melihat ray diam saja tidak berniat menjawabnya. Anin memundurkan langkahnya tak percaya lalu berbalik dan berlari meninggalkan mereka.
__ADS_1
Rayhan pun ikut berlari untuk mengejar Anin keluar rumah yang diikuti Nara yang ikut mengejarnya.
"Anin, berhenti aku mohon! ".teriak Rayhan memanggil Anin. namun Anin terus berlari tanpa menghiraukan Rayhan yang memanggilnya.
hingga Anin berlari keluar komplek menuju jalan raya.
Anin menyebrangi jalanan yang kala itu padat kendaraan begitu juga rayhan. mereka berhasil menyebrang jalanan dengan selamat meskipun banyak kendaraan yang berisik membunyikan klaksonnya.
Rayhan berhasil menangkap Anin dengan memegang tangannya.
" Anin. maafkan aku".kata pertama Rayhan dengan napas yang masih tersengal.
"aku salah. maafkan aku.. aku tidak bisa menceraikan Nara".
"lalu apa gunanya aku jika kau tak menceraikannya".tangis Anin pecah.
Rayhan sadar telah menyakiti dua wanitanya ini. tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak bisa menceraikan Nara maupun Anin. persetan dengan kata serakah untuk saat ini. dia menginginkan keduanya.
"maafkan aku".rayhan memeluk tubuh Anin yang terguncang karena menangis.
brakk..
terdengar hantaman mobil menabrak sesuatu. dan ternyata itu Nara. ketika Nara menyebrang jalanan dengan terburu Nara tertabrak mobil yang melintas. Anin maupun Rayhan lantas menengok arah belakang dan sudah mendapati tubuh Nara yang tergeletak di aspal dengan darah yang sudah bercucuran ditubuhnya.
__ADS_1
" NARA! ".teriak Rayhan