Rumitnya Cinta

Rumitnya Cinta
eps 91


__ADS_3

waktu semakin berlalu.. dimana hari Nara rusak akibat kedatangan Rayhan di acara wisudanya.


dan hari ini sejak pagi sampai malam hingga pagi menjelang siang lagi Nara terus memikirkan akan hidupnya. masih mau bertahan seperti inikah pada pernikahannya?.. entahlah.


sebenarnya Nara tidak mau mengorbankan perasaan orang tuanya pada keadaannya dengan mengatakan perceraian. kata itu seolah aib baginya apalagi kini Nara sedang mengandung.. Nara takut orang tuanya akan dicemooh orang orang.


pikirkan masa depan juga apa ada lagi laki laki yang mau dengannya setelah tau apa yang terjadi. meskipun saat ini Nara tidak memikirkan tentang laki laki..


haish...


memikirkan semua itu membuat pikiran Nara jadi tidak mood.


membuat perut Nara menjadi keroncongan karena banyak memikirkan masa depan.. dan hal yang diinginkan sekarang ini adalah makan.


tidak nyambung memang. antara masa depan dan makan.tapi memang itulah yang diinginkannya..


"ayah, bolehkah Nara keluar sebentar? ".izin Nara pada Burhan.


Burhan yang sedang membaca koran menghentikan aktivitas nya dan menatap sang putri. " kemana? ".


" ada sesuatu yang Nara inginkan ". ucap Nara riang dengan menampakan jurus poppy eyes-nya. berharap ayahnya akan mengizinkan nya pergi.


" ohh, y udah ayok. ayah dan ibumu temenin. kebetulan hari ini ayah cuti ngantor ".


" tidak ayah,, Nara sudah memberi tahu Dinda untuk menemaniku". tolak Nara


"begini saja. biar ibu saja yah yang ikut nemenin kamu.. ". sela Mariska membujuk. karena sebenarnya Mariska khawatir Nara nya pergi tanpa didampingi mereka.


" ibu aku bukan anak kecil. jadi ibu sama ayah dirumah saja.. Nara tidak akan lama perginya, okey". rayu Nara pada Burhan dan Mariska.


tidak seperti dulu, sekarang orang tuanya lebih protektif terhadapnya.


"baiklah kamu hati hati yah".

__ADS_1


akhirnya Burhan dan Mariska mengizinkan Nara untuk keluar. walaupun mereka sebenarnya agak mengkhawatirkan putrinya tapi mereka tidak tega jika harus terus menerus mengurung Nara dirumah.


*


*


*


" pesan apa, beb?". tanya Dinda saat mereka sudah berada di dalam restauran.


Nara tidak menggubris pertanyaan Dinda. Nara malah menamakan senyum penuh arti.


hingga pesanan mereka pun sampai dimeja mereka.


"Nara! lo yakin mau makan semua ini? ". pekik Dinda yang tidak habis pikir dengan apa yang dipesan Nara. yah, Nara memesan banyak makanan yang kini sudah berjejer diatas meja. membuat Dinda sudah merasa kenyang duluan melihatnya.


" hehe... Dinda aku sangat lapar"


" hey hey hey.. ya udah kita makan yah. kenyangin tuh beby lo biar gak mikirin ayahnya mulu, okey".


mereka pun memakan makanan yang sudah tersaji.


melihat cara makannya Nara Dinda sangat bersyukur, karena sahabatnya itu bukan tipikal orang yang mogok makan kalau sedang banyak pikiran. Nara selalu berusaha menampilkan keadaan yang terlihat baik baik saja didepan orang terdekatnya.


tapi hal itu yang terkadang juga membuat Dinda merasa khawatir. Nara nya memang terlihat baik baik saja dari luar, tapi siapa yang tahu akan hatinya.


kesedihan berlarut memang tidak baik.tetapi bukankah menyembunyikan kesedihan sendiri juga tidak baik?. kata orang Jawa hal itu akan menyebabkan 'kamisesegen' atau bahasa kerennya adalah sesak dada. dan hal itu sangat tidak baik untuk kesehatan hatinya. apalagi Nara sedang mengandung. Dinda takut akan berpengaruh pada pertumbuhan janinnya.


dari arah yang tidak jauh dari Nara duduk ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati mereka.


siapa lagi kalau bukan Rayhan Wijaya. orang yang sekarang berprofesi sebagai penguntit.


sebenarnya kali ini Rayhan tidaklah sedang menguntit. melainkan sedang ada rapat dengan klien direstoran. karena rapatnya diperkirakan sampai nanti datangnya makan siang.

__ADS_1


dan sangat kebetulan. orang suruhannya mengabari dan mengatakan bahwa ternyata istrinya itu sedang makan diresto yang sama. dimana kini ia juga sadang berada di resto ini.


"sayang bukankah ini takdir".gumam Rayhan tercetak senyum merekah dibibirnya.


sungguh Rayhan sangat merindukan istri kecilnya itu yang tengah mengandut anaknya.


setelah menghabiskan begitu banyak makanan Nara berpamitan meminta izin ke toilet pada Dinda.


"Din, izin ke toilet yah". kata Nara beranjak dari duduknya.


" ish, lo kayak anak SD aja, ke toilet musti izin dulu".kata Dinda terkekeh. "mau gue temenin? ".


" yee, ntar kalau gak izin lo nyariin lagi. lo tunggu disini ". Nara berjalan ke arah dimana toilet resto berada. melewati ruangan VIP yang Rayhan tempati. Rayhan begitu jelas melihat istrinya. berbanding terbalik Nara justru tidak melihat Rayhan. karena ruang VIP yang Rayhan tempati berbatas kaca hitam yang memang hanya bisa dilihat dari dalam dan tidak terlihat dari luar.


melihat Nara yang melewatinya membuat Rayhan berinisiatif untuk mengikutinya. bangkit dari tempatnya duduk dan langsung keluar tanpa berpamitan pada klien yang ada didepannya.


membuat sang asisten alias Doni sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan majikannya. bayangkan saja. mereka sedang rapat. dan seenaknya Rayhan meninggalkan klien mereka tanpa sekatah patah pun. tidak sopan!. bagaimana kalau tender mereka gagal gara-gara sikap CEO nya yang bar bar.


" tuan Rayhan.. tuan?.. pak Ray..!! ". Doni berusaha untuk memanggil Rayhan. tapi justru Rayhan tidak menggubris nya.


" ma-maaf pak mungkin pak Rayhan mau ke toilet ". jelas Doni dengan rasa malunya. menampilkan senyum terbaiknya yang terpaksa.


kalau saja Doni berani dengan atasannya. sudah dipastikan Doni akan menelan hidup hidup tu Rayhan. dasar!


*


setelah selesa menuntaskan hajat kecilnya. Nara mencuci tangannya didepan wastafel yang ada di kamar toilet. merapikan rambutnya didepan cermin.


" perfect. kamu cantik sayang".


**


jangan lupa untuk selalu like, comment, dan vote.. apalah artinya author tanpa readers.. love you all,😘

__ADS_1


__ADS_2