
ingat pepatah benci jadi cinta, cinta jadi benci?.
nah sekarang Nara sedang mengalami pepatah tersebut. awalnya Nara membenci Rayhan .tapi lambat waktu Nara menyadari adanya getaran gempa bumi. ets salah. getaran cinta maksudnya. namun siapa sangka jika getaran itu berubah lagi menjadi benci dan sebal setelah kejadian sore itu.
Nara serasa di lecekan oleh suaminya sendiri. haruskah Nara keluar dari rumah terkutuk ini? dan kembali pada orang tuanya. tapi bagaimana jadinya jika ia kembali kerumahnya dengan mengatakan hal yang sebenarnya. apa keluarganya akan baik baik saja mendengar berita menyakitkan ini. mau berbohong tapi Nara tidak bisa. rasanya Nara masih tidak yakin dengan hal itu.
memikirkan hal itu membuat Nara mengurungkan niatnya untuk tidak kabur dari rumah Rayhan..
seminggu ini Nara berusaha menghindari Rayhan si suami kampretnya itu. Nara agak takut dan malu jika harus berhadapan muka langsung dengan Rayhan. dan sialnya mengapa Rayhan tidak kembali lagi ke apartemen Anin. tidak taukah Rayhan kalau perasaan Nara sangat sakit sampai air matanya saja terasa kering dan habis.
dan seminggu ini lamanya Nara akan keluar kamar dan berangkat ke kampus kalau Rayhan sudah berangkat ke kantor. mereka juga sudah pisah kamar lagi seperti biasa.
"bik, apa Nara belum juga turun dari kamarnya". tanya Rayhan disela sela sarapannya. Rayhan agak merindukan kecrewetan istrinya itu.
" belum tuan".
"jam berapa dia keluar dari pertapanya? ".
" pertapa?. narsih mengulang perkataan Rayhan dengan bingung.
"maksudnya keluar kamarnya".
" ohh, biasanya nona akan keluar kalau tuan sudah berangkat ".kata narsih.
Rayhan berangkat ke kantor dengan menelan kekecewaan. lagi lagi dia tidak bisa melihat istrinya itu dipagi hari.
sesampainya dikantor Rayhan dikejutkan dengan kedatangan Anin yang sudah terduduk di sofa ruangannya.
" sayang ".sapa Anin beranjak dari duduknya menghampiri Rayhan yang hanya diam ditempatnya berdiri.
haahh ... lagi lagi Anin nemplok di tubuh kekar ray kayak cicak seperti biasanya. mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Rayhan. namun belum juga bibir itu mendarat Rayhan sudah menahan Anin.
" apa yang kamu lakukan disini? ".tanya Rayhan dengan suara beratnya.
" menemuimu lah masa menemui doni".
ceklek... pintu terbuka
__ADS_1
panjang umur, yang membuka pintunya adalah doni. seketika mata Rayhan maupun Anin menatap orang yang baru datang itu.
"kenapa mereka menatapku seperti itu".batin doni menyengir. Doni merasa bingung dengan orang yang ada dihadapannya.
" permisi tuan, ada berkas yang harus ditanda tangani".ucap Doni.
"bawa sini". Rayhan melangkah menuju kursi kebesarannya. mengabaikan wanita cantik yang nampak mengerang kesal.
" sayang.. ".anin duduk di pangkuan Rayhan melingkarkan tangannya di leher ray. reflek tangan Rayhan memegang pinggang ramping Anin.
tolong siapapun bawa si Doni dari hadapan majikannya itu. kasihan mata sucinya harus melihat adegan intim didepannya.
" Anin.. ".
" sayang, kenapa kamu mengabaikanku. lalu kenapa kamu tidak pulang ke apartemen ku. jangan bilang kamu pulang kerumah yah".cicit Anin kesal.
"Anin.aku sedang bekerja! ".bentak Rayhan sampai anin terlonjak kaget.
" Don".panggil Rayhan. doni yang tau arti tatapan tuannya lantas mempersilahkan anin untuk keluar.
"mari nona".
Rayhan melanjutkan dengan berkas berkas yang ada didepannya. namun pikirannya terpusat pada istri sahnya yang sudah seminggu ini tak menampakan batang hidungnya.
" haish bocah ini ". Rayhan bangkit dari duduknya. rasanya ray sudah tidak tahan lagi ingin bertemu Nara. Rayhan berjalan cepat menemui sekertaris nya.
" batalkan semua jadwal ku hari ini, saya mau pulang ".
tanpa membuang waktu Rayhan keluar gedung kantornya tancap gas menuju rumahnya.
dirumah Nara sudah terlihat segar dan cantik setelah menyelesaikan ritual mandinya. kini waktunya Nara bersiap untuk sarapan walaupun agak siangan. karena menghindari Rayhan Nara jadi melewatkan sarapan paginya.
persetan dengan melayani suaminya. mendengar namanya saja Nara jadi gedeg.
Nara menuju dapur bersiap berkutat dengan bahan bahan yang akan di masaknya. tadinya bik narsih menawarkan untuk narsih saja yang menyiapkan sarapan nonanya itu. tapi Nara menolaknya.
dua puluh menit Rayhan sudah sampai dirumahnya. ia langsung masuk ke rumahnya. dan seketika bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman ketika melihat orang yang sedari kemarin mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Nara yang sudah berkutat dengan peralatan masaknya tidak menyadari kedatangan Rayhan dibelakangnya.
grep..
Rayhan memeluk tubuh Nara dari belakang membuat Nara terkejut kaget langsung menggetokan spatula yang dipegangnya ke jidat Rayhan.
" aw aw.. ".rintih Rayhan.
" apa yang bapak lakukan?! ".pekik Nara.
" harusnya aku yang bertanya. apa yang kau lakukan?! kenapa kau menggetokku? ".kata Rayhan menatap Nara.
" ah ya benar harusnya aku mencekikmu sekalian tidak hanya menggetokmu. lalu mencubitmu seperti ini ". Nara mencubit keras perut sixpack ray gemas. membayangkan kelakuannya pada Nara membuatnya marah.
" aww,, sayang! ".
" a-pa? ".
" ah maaf mulutku kepleset ".
" ish dasar orang tua kampret.. berani beraninya kamu memperlakukanku seperti ini. kamu pikir aku tidak senang, hah!! ". rancau Nara kembali memukuli Rayhan. kemarahan yang sedari kemarin ditahannya membuncah sekarang begitu saja. namun Rayhan tersenyum mendengar perkataan Nara yang terakhir.
" kamu pikir aku tidak senang.? berarti kamu senang.? tadi kamu mengatakan begitu bukan? ". kata ray tersenyum.
Nara langsung terdiam. benarkah Nara mengatakan seperti itu.
" hey bapak Rayhan yang terhormat. aku tidak mengatakan begitu. kau salah dengar!! ".kata Nara menyangkalnya.
kakinya bersiap melangkah meninggalkan ray. namun Rayhan mencekal tangan Nara dan menariknya, alhasil tubuh Nara menabrak dada bidang Rayhan.
mata mereka bersikobok saling menatap satu sama lain.
" Nara apa kamu masih marah padaku? ".kata Rayhan dengan wajah yang sangat dekat dengan Nara bahkan hembusan napas ray menerpa wajahnya. membuat Nara merasakan debaran keras pada jantungnya. dengan reflek Nara malah menggelengkan kepalanya. padahal jelas jelas Nara masih kesal pada Rayhan. raganya benar-benar menghianati Nara.
Rayhan merasa senang dengan jawaban Nara yang menggelengkan kepalanya. ternyata istrinya itu tidak semarah yang ia kira.
" sedang apa kalian!!? ".
__ADS_1
Rayhan dan Nara dikejutkan dengan suara lantang seseorang. dengan reflek Rayhan mendorong tubuh Nara hingga punggungnya membentur meja dapur.