Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 11. Gadis Di Pagi Hari.


__ADS_3

Terdengar pagar besi rumah Ega di gedor. Suara kerasnya membuat Ega berlari mendekat ke arah pintu masuk. Ega sedang membersihkan Kebunnya seorang diri karena Saik Aminah hari ini sedang berkunjung ke Kerabatnya sedangkan Nina masih asyik dengan mimpi indahnya. Nina sedang kedatangan tamu bulanan sehingga tidak bangun Subuh untuk Shalat. Nina bermalas-malasan semumpung dia libur.


Mendengar suara pintu pagar di gedor membuat kenyamanan Nina terganggu. Nina berjalan keluar sambil menggerutu mengutuk orang yang sudah menggangu istirahatnya. “Siapa sih pagi buta sudah bikin rusuh, enggak punya etika banget.”


Nina melihat Ega yang sudah menghampiri Pintu Pagar.


“Siapa Ga?”


Ega menggelengkan kepalanya, dia membuka gembok pintu pagarnya kemudian mendorongnya ke sisi kanan. Begitu pagar besinya terbuka, terlihatlah seorang Gadis nongol dari balik pagar.


“Cari siapa Mbak?" tanya Ega penasaran dengan kedatangan seorang Gadis.


“Rian ada? panggilin," ucap Gadis itu terdengar memerintah.


Ega dan Nina saling pandang mendengarkan perintah dari Gadis yang tidak dikenal.


“Mas Rian tidak ada disini mbak," jawab Ega memberitahu.


“Jangan umpetin, cepetan suruh dia keluar." Gadis itu masih saja memerintah Ega dan Nina yang masih terbengong dengan apa yang terjadi.


“ Beneran mbak, Mas Rian tidak ada disini, ini bukan Rumahnya. Bagaimana saya mau umpetin orangnya segede gitu," jawab Ega heran. Dia tidak mengerti kenapa dengan Gadis yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya mencari Rian di Rumahnya.


“ Aku serius nih, panggilin Rian," ucap Gadis itu terdengar ketus.


“Riaaaan, keluar kamu.” Gadis itu berteriak memanggil nama Rian tanpa menghiraukan halangan dari kedua Gadis di hadapannya.


“Mbak, sudah dibilangin sama yang punya rumah, Riannya tidak ada disini, cari sana di rumahnya kenapa malah mencari disini. Apa kamu budek ya, dibilangin Rian tidak ada disini eh malah teriak enggak jelas. Sekenceng apapun kamu berteriak, orang yang nama Rian itu enggak bakalan muncul. Kamu mengerti enggak bahasa Manusia, Rian itu enggak ada disini.” Nina mengomeli Gadis yang tidak jelas asal usulnya. Dia sangat kesal kepada tamu tak di harapkan karena sudah mengganggu kenyamanannya apalagi dibarengi teriakan yang tidak jelas.


Gadis itu tidak menghiraukan omelan Nina. Dia malah berteriak sekerasnya dan langsung saja nyelonong masuk ke dalam rumah Ega sambil memanggil nama Rian.


“Astaghfirullah, apa Gadis ini korban dari gombalan Rian ya?” tanya Ega kepada Nina.


“Mungkin saja, Rian benar-benar dah, bikin kita repot saja. Masak iya kita harus ngurus korbannya Mas Rian lagi, sih?” gerutu Nina sembari berjalan menyusulnya yang berjalan cepat mencari keberadaan Rian.  Ega hanya tersenyum menanggapi omelan Nina. Ega segera bergegas mengejar tamunya yang sudah melanang buana masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


“Mbak, disini tidak ada Mas Rian, ini bukan rumahnya, ini rumah saya. Silahkan duduk dulu, mari kita bicarakan ada apa sebenarnya?” ucap Ega bertanya dengan sabarnya.


Gadis itu melihat Ega dengan pandangan mulai melunak, dia kemudian duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu milik Ega.


Ega bergegas ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih. Setelah menuangkan air putih Ega segera kembali sambil menyodorkannya kepada tamunya.


“Minum dulu agar pikiran tenang,” ucap Ega menyodorkan gelas berisi air putih. Dia duduk di hadapan Gadis yang terlihat nampak menyedihkan. Dia meminum air putih yang diberikan Ega sampai tandas.


“Jadi ini bukan rumah Mas Rian?” Tanyanya terlihat mulai tenang setelah menghabiskan air putih yang diberikan oleh Pemilik Rumah.


“Dari tadi kita sudah bilang, Mas Rian tidak ada disini dan ini bukan rumahnya, situnya saja masih ngeyel." Nina menggerutu dengan menampilkan wajah kesalnya. Dia benar-benar kehilangan kesabaran karena ulah Gadis yang tidak dikenalnya berteriak tidak jelas.


Ega menatap Nina agar terdiam dan mau bersikap tenang. Melihat tatapan itu, Nina terdiam dan mengarahkan langkah kakinya memasuki kamar Ega ingin melanjutkan istirahatnya. Nampaknya Nina malas mengurusi permasalahan Gadis yang menjadi korbannya Rian. Dia sudah jenuh. Sebelum meninggalkan mereka berdua Nina sempat berkata, "Urus dah tuh cewek."


Ega hanya menggelengkan kepala melihat sikap Nina yang tak ramah. Gadis manis itu menduga mood Nina mungkin saja lagi tidak baik karena kedatangan tamu bulanannya mengakibatkan Nina sedikit emosi. Biasanya Nina tidak seperti ini, sikapnya selalu hangat menyambut permasalahan dari sahabatnya itu dan berusaha mencari penyelesaian meskipun berposisi sebagai pengembira.


“Aku mengira ini rumahnya Rian, aku pernah membututi Rian dan dia masuk ke rumah ini makanya aku langsung buat kesimpulan kalau ini rumahnya Rian.” Gadis itu menjelaskan asumsinya yang beralasan itu. Dia menampakkan rasa malu dan juga bersalah karena telah lancang menganggu Penghuni rumah yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Saya Ega dan cewek tadi namanya Nina,” ucap Ega berkenalan sekaligus menyebut nama Nina. Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut Teman yang baru. Gadis itu terlihat ragu membalas uluran tangan dari Ega di hadapannya, dia menatap Ega dengan penuh tanda tanya dalam Otaknya.


“Aku Tika," sebut Gadis itu pada akhirnya menyambut uluran tangan Ega.


“Kamu juga pacarnya Rian,” tanya Tika dengan nada sedikit lesu. Dia memperhatikan Gadis di hadapannya yang memiliki senyum manis dan tulus. Tika akui Gadis di hadapannya tidak cantik namun ada sesuatu yang menarik dalam diri Gadis itu seperti magnet yang membuat siapapun yang melihatnya seperti terpana sesaat lalu menempel ke arahnya. Mata indah itu memancarkan ketulusan yang membuat siapapun merasa nyaman menatapnya. Teduh, satu kata penilaian yang berhasil diungkapkan kata hati dari seorang Gadis bernama Tika.


“Tidak, saya sahabatnya dan cewek tadi juga sahabat Mas Rian,” jawab Ega memberitahu tentang hubungan dirinya dan Nina sehingga menghapus paradigma tidak baik yang mungkin saja muncul dalam benak Gadis bernama Tika.


“Aku pikir kamu atau cewek tadi pacarnya Rian kalau memang ini bukan rumahnya,” ujar Tika mulai terlihat bersahabat.


“Bukan, Mas Rian memang sering ke rumah ini bersama sahabat yang lain. Mungkin pada waktu itu Tika melihat Mas Rian kesini jadi beranggapan kalau disini rumahnya, iya kan?”


Tika mengganggukkan Kepalanya tanda memahami setelah mendengarkan penjelasan dari Ega. Dia sedikit bingung lalu mempertanyakan kebingungannya kepada Gadis bernama Ega yang mengaku sebagai Sahabatnya. Apa mereka berdua tidak terkena rayuan gombal dari Laki-laki bernama Rian itu? Apa mungkin keduanya pengecualian sehingga tidak mendapatkan rayuan dari Rian. Tika terlihat mengkerutkan keningnya berpikir. Sejurus kemudian ia berkata, “Kok kamu betah berteman dengan Rian, padahal Rian bukan cowok bertanggung jawab kerjaannya hanya membuat para Gadis patah hati?"


“Saya hanya bersahabat saja jadi tidak akan pernah merasakan patah hati gara-gara ulah Mas Rian," ucap Ega sambil tersenyum. Dia mengingat saat pertama kali berkenalan dengan Rian. Tanpa sengaja, dia bertemu di Kantor KPKLN. Saat itu Ega sedang mengurus Revaluasi Aset Tetap milik Pusat yang tercatat pada Inventaris milik Kantornya. Mereka berdua melakukan hal sama, sehingga terhanyut dalam obrolan yang sejurus tentang pekerjaan mereka.


“Apa Rian tidak tertarik dengan kamu dan Cewek tadi, padahal kalau diperhatikan Cewek tadi itu sangatlah cantik dan kamu juga terlihat manis kenapa Mas Rian malah menganggap kalian hanya sahabatnya saja," tanya Tika penasaran.


“Karena kami maunya seperti itu, Rian juga merasa nyaman dengan hubungan kita yang sudah lama sekali terjalin. Dengan hubungan seperti ini jadinya tidak ada yang tersakiti dan harus merasakan patah hati karena ulah dari Mas Rian." Ega menjelaskan komitmen mereka saat mereka pertama kali bertemu. Tentu saja pada saat itu dia sudah memiliki tambatan hati sehingga tidak memberikan kesempatan kepada Rian untuk menebarkan pesonanya.


Mendengarkan itu Tika tersenyum getir. Dia merutuki dirinya karena telah termakan oleh rayuan gombal Rian. Kenapa juga dia menggunakan perasaannya bukan otaknya. Seharusnya dia cerdas memaknai kebersamaannya dengan Laki-laki itu. Se cinta apapun kita seharusnya memberikan sedikit ruang pada hati bahwa disana tidak ada rasa dan menempatkan keikhlasan untuk membentengi diri dari kemungkinan yang akan terjadi agar hati benar-benar tidak hancur semuanya. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, bisakah seperti itu?


“Kamu pasti di empaskan oleh Mas Rian di hari ke-enam, kan? Ega bertanya seolah hafal dengan kelakuan sahabatnya.


Tika menganggukkan Kepalanya menjawab. Kemudian pecah air matanya, dia menangis tersedu-sedu menumpahkan segala kekesalan dan kebodohannya sendiri. Semua itu bercampur pada air matanya yang mengalir deras. Melihat itu Ega dengan cepat mengambil Tissue kemudian memberikan kepada Tika. Tika menggambil Tissue tersebut lalu menghapus air mata yang mengalir semakin deras saja. Tika sesenggukkan, terdengar suara tanggisannya semakin besar menggema disekelilingnya.


Ega hanya berusaha menepuk bahunya pelan, menyemangatinya. Rupanya Tika menggunakan hatinya sehingga terlihat begitu rapuh di tinggal Rian yang berlari menjauh dari Tika dan mendekat kepada Gadis lain yang menjadi incarannya. “Entah kapan Mas Rian kejedut cinta sehingga dia merasakan bagaimana rasanya patah hati dan terluka." Ega membatin menyaksikan kesedihan dari Gadis yang sedang rapuh ini.


Tika mengungkap keluh kesahnya. Apapun yang ada dalam pikirannya ditumpahkan semuanya. Meskipun kata-katanya terdengar dramatis, Gadis itu seakan tidak perduli. Ega yang menjadi pelampiasan keluhan Tika hanya terdiam menyimak sembari tangannya menepuk bahu Gadis di sampingnya. Saat ini dia memindahkan tubuhnya untuk mendampingi Tika agar bisa menghiburnya, karena dia pernah merasakan lebih parah dari apa yang dialami Tika.


“Kamu sabar saja ya? laki-laki bukan Rian saja masih banyak stock cowok ganteng, tajir plus baik. Insyaa Allah suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu dan menyambutmu kemudian membawamu ke Penghulu. Laki-laki yang berani mengajak menikah barulah Laki-laki yang baik bukan hanya mengajak Pacaran. Laki-laki seperti Rian belum ada tujuan hidupnya dan mereka belum berani berkomitmen atau mungkin malah takut berkomitmen, kalau sudah seperti itu tinggalkan saja.”


Ega memberikan gambaran kepada Tika seperti apa harus bersikap dengan lawan jenis. Sebagai Wanita harus punya prinsip dan tegas pada diri sendiri agar tidak mudah terpedaya. Ega menarik nafasnya berat, apakah selama ini dia telah terpedaya oleh seorang Pria? Gadis itu membatah dengan tegas. Apa yang pernah dialaminya merupakan takdir yang tidak bisa dihindarinya. Bukan suatu kesengajaan hal itu terjadi melainkan sudah jalan yang harus dilewati. Itu sudah menjadi ketetapan-Nya.


“Kamu tidak tahu rasanya patah hati, jadi hanya bisa berbicara. Kalau berbicara mah gampang," sahut Tika berusaha menyeka air matanya yang mulai menipis.


Ega menghela nafasnya, ucapan Tika membuka kembali lembaran hidupnya yang telah usang. Ada kepedihan pada lembar itu dan ingin rasanya dia membakarnya sampai hanya tersisa abu kemudian angin membawanya terbang hingga menghilang dalam ingatannya.


Hal itu mustahil, karena kisah cinta yang gagal itu pernah terjadi tentu saja cerita itu akan selalu mengikuti di sepanjang hidup, mana mungkin bisa lupa kecuali dia hilang ingatan. Ega hanya berusaha berdamai dengan kenyataan dan menikmati lukanya.


Ega tersenyum menatap Tika yang sedang sibuk dengan air matanya. Mungkin satu kotak Tissuenya sudah habis terlahap oleh air mata Tika.


“Aku tahu rasanya patah hati, malah lebih parah dari pada kamu. Aku gagal menikah, padahal hari akad nikah tinggal menunggu dua hari lagi," Kata Ega mengakhiri sangkaan tak beralasan. Dia membuka pikiran dari Gadis bernama Tika itu bahwa bukan dirinya saja yang pernah mengalaminya melainkan ada orang yang mengalami lebih parah dari itu, tapi mereka tidak memperlihatkannya bahkan bersikap seolah mampu menelan Duri, perih. Jadi mengapa harus memperburuk diri dengan rengekan. Air mata cukup untuk meluapkan amarah itu tapi tidak harus meratapi.


Mendengar pengakuan itu, Tika tersentak kaget. Tika tidak menyangka Gadis Manis yang terlihat tenang-tenang saja dan begitu ceriannya pernah merasakan lebih parah darinya. Tika mulai berhenti menangis, dia berusaha menghapus air matanya yang tersisa kemudian menerbitkan senyum manisnya.


“Sorry aku telah membuka kembali luka lamamu. Aku sungguh bodoh mengira akulah orang paling terluka hanya gara-gara diputusin oleh Rian padahal statusnya juga belum jelas. Sungguh aku benar-benar bodoh.” Tika merutuki dirinya sendiri.


Ega tersenyum lalu berkata “ Baiklah untuk menghilangkan kebodohanmu saya ada sesuatu untukmu. Duduk santailah disini.”


Selesai berkata Ega beranjak ke arah dapur meninggalkan Tika untuk mengambil sesuatu yang dijanjikannya.

__ADS_1


Sepeninggalan Ega, Tika hanya sendiri, dia sibuk menata hatinya dan mulai menyadari tidak ada gunanya meratapi nasibnya.


Nina keluar dari kamar Ega, dia mendapati Tika sendiri. Nina melemparkan senyum manisnya ke arah Tika. Nina terlihat lebih bersahabat daripada tadi ketika awal mereka bertemu.


“Ega mana mbak," tanya Nina menyapa tamunya.


“Pergi ke arah belakang, katanya mau mengambil sesuatu," sahut Tika datar sambil menyunggingkan senyum manisnya.


“Oh gitu? maaf tadi penyambutan kurang berkenan," ucap Nina meminta maaf atas kekesalan yang di alamatkan kepada tamunya itu. Tidak seharusnya berkata kasar seperti itu, bagaimanapun juga tamu harus diperlakukan baik seburuk apapun sikapnya.


Tika terpesona dengan senyum Nina yang terlihat indah di dukung wajah cantik yang nyaris sempurna. Namun wajah itu tidak seteduh wajah manis Ega. "Mbak Nina benar-benar cantik mustahil kalau Rian tidak jatuh cinta," batin Tika merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gadis cantik yang ada di hadapannya.


“Tidak apa-apa mbak, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menganggu kenyamanan penghuni rumah ini, malah teriak-teriak tidak jelas," sahut Tika terlihat malu.


“Enggak masalah, santai saja lagi. Oya aku mau mandi dulu, tunggu saja Ega di sini," ujar Nina ramah, setelah mendapatkan anggukan baru Nina meninggalkan Tika menuju kamar mandi.


Selang beberapa menit ketika Nina meninggalkan Tika. Ega muncul dari arah Dapur sambil membawa satu Gelas berisi air berwarna hijau.


“Minun ini," ucap Ega menyodorkan minuman berwarna hijau yang dibawanya.


“Minuman apa ini, kok terlihat aneh banget warnanya," guman Tika ragu-ragu meminumnya. Dia mencium baunya yang beraroma aneh namun segar pada penciumannya.


“Anggap saja minuman ini kisah cinta kamu dengan Mas Rian," ucap Ega terlihat serius.


Tika kemudian meminumnya dengan pelan. Begitu menegukkan sedikit terasa tidak nyaman di Lidahnya.


“Huek, kenapa pahit banget. Minuman apa ini?" tanya Tika melepek Minuman itu yang terasa begitu pahit di lidahnya.


“Hahahaha.” Ega tertawa melihat tingkah Tika.


“Itu Juz pare," sahut Ega menahan tawanya.


“Kamu ngerjain aku ya," Komentar Tika sedikit kesal.


“Tidak, saya sengaja memberikan kamu Juz Pare untuk memberikan pembelajaran kepada kamu. Anggap saja itu Kisah Cinta kamu dengan Mas Rian. Pare ini terasa begitu pahit sehingga kamu tidak mau menimunnya dan memilih untuk meninggalkannya. Begitu juga seharusnya yang kamu lakukan mengenai hubunganmu dengan Mas Rian." Ega menjelaskan alasannya mengapa dia memberikan Gadis itu Jus Pare.


“Kamu memang benar, empaskan cowok bernama Rian," ucap Tika terlihat mulai ceria lagi.


Gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun dengan riasan sederhana.


“Mas Rian mau cari seperti apalagi? padahal Gadis ini sangat cantik dan terlihat baik," batin Ega. Dia menggelengkan kepala tak mengerti jalan pikiran dari Sahabatnya itu.


“Kamu mau, kan menerima aku sebagai sahabat kamu," ujar Tika kemudian setelah merasa tenang dan ceria lagi.


“Tentu saja akan tetapi apa tidak jadi masalah karena setiap saat kamu bakalan sering bertemu dengan Rian.”


“Enggak masalah, Rian itu Pare dan aku tidak menyukai Pare," ucap Tika sambil tertawa.


"Baiklah, kita berteman," kata Ega menyambut kedatangan sahabat barunya.


Ega tidak pernah memilih siapapun yang akan menjadi sahabatnya. Siapa saja yang mau menjadi temannya akan dia sambut dengan tangan terbuka dan senyum mengembang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2