
Para Cowok yang tadi berisik mendadak gagu. Mereka mengakui kalau Beni memang paling keren dan tampan tapi kalau tajir tentu saja tanda tanya besar dalam benak masing-masing. Mereka tidak tahu kalau Beni adalah Putra tunggal dari Pemilik Perusahaan tempat dia bekerja. Mereka memang sangat mengenal kedua orang tua Beni tapi tidak tahu menahu kalau Perusahaan Otomotif itu milik keluarga Hardian. Mereka hanya tahu tentang Uminya Beni, Pengusaha Wanita yang memiliki Toko Perhiasan Mutiara terbesar dengan produk terbaik dengan kualitas Eksport.
Selama ini Beni tidak pernah menunjukkan kekayaannya. Kendaraan yang dia punya hanya Sepeda motor. Terus barang-barang yang melekat dalam badannya terlihat sederhana.
Rumah yang Beni tempati juga sederhana dan minimalis tidak seperti Rian dan Juna sudah pasti semua orang tahu kalau mereka memang tajir. Barang-barang yang mereka punya bermerk semua. Kendaraan yang Rian dan Juna pakai jangan tanya lagi yaitu Mobil Sport sedangkan yang lainnya hanya kendaraan roda dua.
"Hai hai hai kenapa malah pada diam sih? bagaimana ini tebakan saya, apa sudah tahu jawabannya?" tanya Ega mencairkan suasana.
"Nyerah saya kalau dibandingkan sama Beni mah," komentar Evan dengan wajah mendungnya. Dia tidak menghiraukan pertanyaan Ega malah lebih penasaran dengan pernyataan Nina.
"Jangan rendah diri Van tapi rendah hati baru iya karena kalau tinggi hati itu sombong. Kamu unik kok Van malah Beni dan lainnya tidak memilikinya. Suara cemprengmu itu lo?" ujar Ega menenangkan hati Evan.
"Masak Youtober tidak punya kepercayaan diri sih? Setiap manusia itu punya keunikan dan keindahan masing-masing. Seperti angka tiga. Dari sisi lain orang akan melihat itu tiga dari arah berbeda orang akan melihat itu huruf M bukan lagi tiga dan arah lainpun mereka akan mengatakan itu W jadi tetaplah jadi diri kita sendiri dengan keunikan diri kita masing dan tentu saja dengan menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik." Ega melanjutkan kata-katanya panjang lebar untuk meningkatkan kepercayaan diri Sahabatnya itu.
Prok Prok Prok
Terdengar tepuk tangan dari mereka semua.
Ega hanya tersenyum dengan senyuman tulus yang nampak dari matanya yang ikut tersenyum.
"Cantik," batin seseorang dari mereka. Kenapa hatinya bergetar mendengarkan tutur kata Ega dan juga kenapa dia deg-deg kan begitu melirik mata Ega yang nampak ikut tersenyum.
"Amazing, kamu benar-benar motivator Ga, kamu benar Ga," ucap Evan terlihat bahagia.
"Lantas tebakan saya apa jawabannya?" tanya Ega lagi kembali ke pertanyaan semula.
Mereka semua menggelengkan kepala tanda belum menemukan jawabannya.
"Baiklah kalian belum bisa jawab, saya akan jawab tapi waktunya Cinderella pulang karena waktu sudah mau beranjak kearah pukul sembilan," ucap Ega sambil siap-siap pulang.
Mereka sudah faham dengan jam malamnya Ega. Dia hanya pulang sekitar jam sembilan kurang agar sampai rumah tepat waktu.
Ega sudah selesai makan begitupun yang lainnya. Sehingga mereka melanjutkan kebersamaan dengan obrolan ringan penuh dengan canda tawa.
"Iya dah saya pulang duluan, ayo Nina kita moleh," ucap Ega mengajak Nina.
Nina menggelengkan kepala tanda tidak mau ikut pulang bersama Ega.
"Pulang duluan saja, nanti saya ikut sama Beni," Sahut Nina.
__ADS_1
"Iya sudahlah kalau seperti itu maunya. Kak Beni nanti anter Nina ya?" ucap Ega sambil siap-siap sebelumnya dia mengambil uang untuk membayar makanannya kemudian memberikannya ke Juna.
"Tunggu Ga, kita samaan pulangnya. Kita searah aku mau nginep di tempatnya Juna lagipula rasanya capek banget kalau balek lagi ke Jeneper," kata Evan sambil mengeluarkan uangnya kemudian memberikan kepada Juna sebagai bendahara pengeluaran yang akan membayar tagihan mereka kalau kurang maka akan di talangi oleh Juna sendiri.
"Nasip jadi tukang tambal ban," celoteh Juna miris.
"Tenang saja Jun, nanti saya tambahin tapi tetap banyaan kamu, iyo?," seloroh Beni.
" Nasip ya nasip kenapa begini, baru saja gajian sudah menderita. Kenapa kamu tega hanya numpang lewat tak menetap di kantungku. Hoooo Teganya teganya teganya pada diriku." Juna mengekspresikan kepiluannya dengan mendendangkan sebuah lirik lagu yang tak jelas.
"Hahahahaha." Tawa mereka meledak mendengarkan nyanyian pilu Juna.
"Sungguh terlalu."
"Itu saya banget Bang Jun. Masuk ke Rekening hanya numpang lewat setelah itu bye. Nominal-nominal itu pergi menuju akun-akun tempat yang sebenarnya dan tertinggal selembar doang, sungguh pilu," kata Ega tersenyum. Setelah puas menambahkan derita masing-masing. Setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan mereka.
"Ega," panggil Beni.
"Iya Kak Beni kenapa?" tanya Ega membalikkan tumbuhnya kembali ke arah mereka. Ega berdiri mematung untuk
mendengarkan apa yang akan Beni ucapkan.
"Ada yang ketinggalan, tebakan tadi apa jawabannya?" tanya Beni dengan raut penasaran.
"Oh tebakan tadi, nanti saya jawab kalau sudah sampai rumah tapi jangan lupa kalian ingetin. Saya akan Share di group," jawab Ega tersenyum sengaja membuat mereka penasaran.
"Iyah Ega bagaimana, sih?" celoteh Dipta merasa digantung dengan tebakan Ega.
Ega melambaikan tangannya berlalu meninggalkan teman-temannya bersama Evan di sisinya.
"Curiga ane sama Evan, jangan-jangan ada sesuatu antara Ega dan Evan," ucap Rian membuat teman-teman yang lain terheran.
"Perasaan kamu saja kali Rian, aku lihat sih biasa-biasa aja. Mungkin memang benar Evan kecapean mau istirahat. Kalian tahu sendiri kalau Evan gampang capek," jawab Dipta menghancurkan pikiran negatifnya Rian.
"Benar juga sih."
"Kamu cemburu? " tanya Juna.
"Iya enggaklah, ngapain cemburu toh juga tidak ada hubungannya sama ane, hanya heran saja dengan sikap Evan gitu loh? Kalau Nina yang di deketin Evan baru ane cemburu." Rian menjelaskan takut salah paham. Bagaimanapun juga dia tidak mau melanggar komitmen yang sudah terlanjur terucap.
__ADS_1
"Jadinya kapan giliran kita berkencan Nina?" Rian mulai menggoda Nina yang tengah asyik dengan gawainya. Saat ini dia mulai melancarkan aksi Play Boynya.
"Kok malah nanya saya, kapan situ memasukkan Nama saya pada buku agenda kencan. jangan-jangan Nama saya belum terdaftar. Mana bisa saya masuk kalau belum janjian dulu terus dimasukkan pada agendanya Tuan Rian entar saya diusir karena tidak ada kepentingannya karena sudah mengacaukan agendanya yang sudah tersusun rapi," sahut Nina panjang lebar bak rel Kereta Api dengan santainya.
"Hahahahaha, rasain lo, kena dah tuh," ucap Dipta merasa senang.
"Ente ya hep, sepertinya senang banget melihat ane ditolak," kesal Rian.
"Hahahahaha." Tawa Dipta kembali membahana.
Rian terlihat cemberut menikmati tawa Dipta yang terdengar menang. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat raut Rian yang kesal dengan terselip rasa malu.
Sedangkan Nina masa bodoh. Dia tidak ambil pusing karena incarannya adalah Beni karena Nina tahu kalau Beni lebih tajir dari Rian. "Kalau aku mendapatkan Beni, hidup aku akan tercukupi dengan sendirinya. Aku bisa beli barang bermerk yang aku inginkan tanpa harus mengejar om om. Beni pasti bisa aku taklukkan dengan kecantikanku." Nina membatin. Dia merasa senang karena ada senjata jitu yang akan dia gunakan untuk menggaet Beni.
Seseorang dari mereka diam-diam mengirim pesan kepada Ega hanya menanyakan apakah dia sudah sampai sekaligus menanyakan jawaban dari tebakan tadi.
📱Alhamdulillah saya sudah sampai rumah. Saya siap-sia mau tidur sedangkan jawaban dari tebakan itu adalah 😴."
"Apaan sih Ega ini, kita nanya jawaban tebakan tadi eh malah dia tidur," guman Juna melihat pesan Ega di Group.
Semuanya membuka group dan membaca Pesan Ega.
"Benar kali Jun, jawabannya memang Orang lagi tidur," ucap Beni begitu tahu arti pesan dari Ega.
"Wualaaah benar juga sih, orang lagi tidur. Kalau kita tidur bulu mata atas dan bawah ketemu terus lupa dah sama apa yang terjadi," celoteh Dipta menganalisis.
"Pinter, dapat seratus entar ambil payung cantiknya di Toko Toko terdekat pilihan anda," sahut Juna.
Mereka serempak tertawa karena menyadari pikiran ngeres mencemari Otak Dipta dan Rian sedangkan Juna dan Beni hanya menggelengkan Kepala karena mereka tak sampai mengotori Otaknya dengan pikiran ngeresnya.
Setelah mereka puas bercengkerama dan ketawa ketiwi pada akhirnya mereka bubar juga menuju kediaman masing-masing.
Rian dan Juna dengan kendaraan roda empatnya sedangkan Dipta dan Beni dengan kendaraan roda duanya terlihat meninggalkan cafe tempat mereka kumpul untuk pulang ke rumah masing-masing.
Beni dengan wajah dinginnya terpaksa mengantar Nina pulang karena dia hanya tidak tega dengan Gadis itu. bagaimanapun juga Nina itu adalah sahabatnya.
Beni, tidak memahami apa yang dia rasakan sekarang. Gadis yang di boncengi ini sangat cantik, semua orang mengakui itu tapi mengapa dia tidak tertarik sama sekali. Kecantikan paras dari Gadis ini tidak mampu menghangatkan dinginnya sikapnya bahkan tidak mampu menggetarkan hatinya. Nina, nama Gadis itu tidak berhasil menggeser seorang Gadis yang tak di kenalnya dan Gadis itu sudah terlanjur masuk kedalam hatinya dan menetap disana.
"Dimana kamu berada Gadis? hanya tak mengenalmu tapi mengapa sangat dekat denganku bahkan aku merasa kamu berada di sampingku, menemani hati ini tapi aku belum tahu seperti apa rupamu. Siapa kamu sebenarnya? Entah kenapa kamu berhasil mengikatku. Aku hanya ingat kamu memiliki mata yang sangatlah indah dan mata itu aku melihatnya pada diri seorang Gadis yang dekat denganku. Apakah kamu adalah Gadis itu? Mamsa, yang di akui oleh Anisa sebagai Mamanya." Beni bermonolog sembari melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Angin malam seakan menambah dinginnya sikap Pemuda tampan itu. Bahkan tangan Nina yang memeluk Pinggangnya tidak mampu menghangatkan salju pada dirinya.
Bersambung.