Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Mengerjain Beni


__ADS_3

Subuh menjelang kedua Insan itu membuka mata. Beni menyampingkan tubuh, mengarahkan pandangan kepada Ega yang berada di sampingnya.


“Pagi sayang, tidurmu nyenyak?”


“Iya, karena ada Suami di sampingku,” sahut Ega membentuk senyum menawannya. Semalam Ega menginap di rumah sakit untuk menemani Beni. Pagi ini dia sangat bahagia mendapatkan Suaminya berada di sisinya ketika membuka mata.


Beni memeluk Ega dengan erat hingga Wanita itu kesulitan bernafas. Setelahnya mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


“Kak Beni ke kamar mandi, kamu mau ikut?” tanya Beni serius. Senyum jahilnya terlihat pada bibirnya yang berisi.


“Untuk apa?”


“Iya untuk mandi bersama,” jawab Beni terkekeh.


“Enggak ah, entar aku dikerjain lagipula ini rumah sakit. Nanti kalau Dokter dan Perawat tiba-tiba menciduk kita, bagaimana? Itu juga selang infuse masih menancap di lengan,” ucap Ega menunjuk Lengan Beni.


“Bilang saja, kebelet mandi,” jawab Beni santai sambil berlalu dari hadapan Ega yang bengong. Langkah itu diiringi tawa yang terdengar riang. Ega sangat menikmati kebersamaan Subuh ini. Dia mengucapkan rasa syukur atas apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Wajah cerah itu seakan membuktikan kebahagiaannya.


Beberapa menit kemudian, Beni kembali dengan wajah segarnya. Dia sebisa mungkin mengambil air wudhu meskipun dia bisa melakukan dengan tayamun. Karena menganggapnya bisa, akhirnya memilih tetap berwudhu.


“Kak Beni bisa?”


“Iya, Shalatnya duduk aja kali ya? Ini selang infuse masih nancap gini,” ucap Beni mendudukan diri pada Hospital Bed.


“Tidak apa-apa, kondisi Kak Beni lagi sakit, yang penting Shalat toh!” sahut Ega. Dia kemudian berpamitan untuk menjalankan Shalat subuhnya di Musholla karena tidak memiliki Mukena. Sedangkan Beni melakukan Shalat Subuh di kamar Inap dengan semampu yang dia bisa. Misalnya melakukan Shalat dengan duduk.


Beberapa menit kemudian Ega kembali saat ada Dokter dan Perawat sedang memeriksa keadaan Beni.


“Bagaimana keadaan Suami saya Dokter?” tanya Ega.


“Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Efek dari obat yang di suntikkan kepada Tubuh Pasien bisa diminimalisir. Insyaa Allah secepatnya akan pulih kembali. Sekarang Pasien butuh istirahat untuk memulihkan kembali staminanya.” Dokter yang merawat Beni menjelaskan secara detail.


“Terima kasih Dokter,” ucap Ega.


“Sama-sama.” Setelah berucap, Dokter yang mengontrol kesehatan Beni berpamitan untuk melanjutkan pemeriksaan kepada Pasien lainnya.


“Kak Beni sarapan, ya?” Dia kemudian meraih Nasi yang sudah berada di atas Nakas. Dengan sabar penuh kasih sayang Ega menyendokkan makanan lalu mengarahkan ke mulut Beni.


“Aaaa, banyak-banyak makan jangan ada sisa biar cepat sembuh.”


Beni membuka mulut lalu menyambut suapan dari tangan Isterinya. Dia menikmati makanan dari Rumah Sakit meskipun tidak menyukai itu.


‘Pesawat siap mendaraaat,” ucap Ega memainkan Sendok yang berisi Nasi dan lauk pauk dibuat seolah terbang menuju ke landasan.


“Aum, nyam nyam nyam,” lanjutnya tatkala Nasi itu masuk ke dalam mulut Beni. Beni mengunyah dengan mata berbinar-binar. Tidak menyangka Ega sangat memperhatikannya. Dia juga bahagia, meskipun diperlakukan seperti anak kecil.


Selang beberapa menit, tidak sadar sepiring nasi beserta lauknya berhasil pindah ke dalam Perut Beni untuk dicerna kemudian menjadi energy bagi tubuh Pria itu.


“Sekarang giliran kamu sayang,” ucap Beni setelah menghabiskan segelas air putih yang disodorkan Isterinya.


“Iya sayang, ini aku sudah membelinya,’ sahut Ega sembari menunjukkan sebungkus Nasi dan beberapa buah untuk bekal Beni.


Ega menaruh alat makan pada tempat yang disediakan oleh Rumah Sakit agar nanti bisa di ambil oleh Petugas bagian Dapur. Selanjutnya, dia mengambil bungkusan Nasi itu lalu mulai melahapnya.


“Kak Beni, tidak apa-apa aku tinggal sendirian disini?” Tanya Ega setelah dia selesai menikmati sarapannya.


“Kamu hendak kembali ke rumah? Disana ada Beni palsu, aku mengkhawatirkan kamu. Terus kalau diapa-apain sama dia bagaimana?” sahut Beni dengan pertanyaan. Dia sangat berat melepaskan Isterinya untuk melanjutkan rencana.


“Kak Beni tenang saja, aku bisa menjaga diri. Aku juga pintar berkelit, lagi pula hari ini aku sudah mulai kerja terus Kak Beni juga cutinya sudah berakhir. Tentu Beni akan pergi ke Kantor hari ini.” Ega berusaha menenangkan Suaminya. Dia juga meyakinkan Beni bahwa rencana mereka pasti bisa dijalankan dengan baik.


“Baiklah, semoga saja Beni palsu itu tidak berbuat hal aneh-aneh yang akan merusak citraku.” Beni terlihat cemas dengan kata-katanya sendiri. Tidak mungkin Beni palsu itu tidak akan bertingkah. Jika itu yang terjadi, bisa-bisa hal buruk akan menimpanya dan itu akan berimbas dengan perusahaan. Jangan sampai Beni palsu itu membuat kesalahan fatal yang akan merugikan dirinya sebagai Beni yang sebenarnya.


“Kita berdoa saja, semoga Beni itu tidak macam-macam. Kak Beni percaya, Tuhan pasti akan menolong kita,” ucap Ega sekali lagi menenangkan Suaminya.


Beni mengangguk, dia tersenyum penuh semangat lalu berkata, “Kata Dokter, siang ini aku sudah boleh pulang. Aku akan langsung bergerak masuk ke Perusahaan.”

__ADS_1


“Iya, semangat,” sahut Ega sembari mengepalkan tangannya. Dia meraih tangan Beni lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut. Seusai itu, dia mendaratkan kecupan pada bibir berwarna merah yang terlihat segar.


“Terima kasih sayang.”


Ega mengangguk, dia mengucapkan salam lalu meninggalkan rumah sakit dengan rencana yang siap dijalankannya.


***


Ega menginjakkan Kaki di rumahnya. Dia mengetuk Pintu, beberapa menit menunggu terdengar langkah mendekat lalu Pintu terbuka dengan sempurna.


“Dek, kamu sudah pulang?” tanya Beni. Dia melihat Beni masih menggunakan Piyama. Sepertinya dia baru bangun terlihat dari penampilannya yang kusut.


“Baru bangun ya?” Tidak menjawab, Ega memilih untuk mempertanyakan penampilan Pria itu.


Beni cengengesan sembari menggaruk tengkuknya.


“Iya, semalam saya begadang,” jawabnya polos.


“Tumben? Tidak biasanya Kak Beni begadang?” tanya Ega berpura-pura ingin tahu.


“Anu, ini saya keasyikan mendesain kembali desain Mobil Sport yang hilang itu,” jawab Beni. Ega bisa menebak itu jawaban sekenanya saja yang mampir di Otak Pria itu.


“Ooooh, iya sudah. Aku siap-siap dulu hari ini aku sudah mulai bekerja.”


Ega melangkah ke kamarnya dengan di buntuti oleh Beni yang berusaha mensejajarkan langkahnya.


“Saya lapar belum sarapan, bisa kah membuatkanku sarapan?” pinta Beni dengan wajah memelas.


“Bukankah Kak Beni terbiasa tidak sarapan sepagi ini? biasanya sarapan agak siangan terus sarapan di Kantor,” ucap Ega memperhatikan perubahan raut wajah Beni. Wajah itu terlihat terkejut. Untuk mengelabui keterkejutannya, Beni menggaruk tengkuknya sembari tersenyum malu.


“Iya, iya kenapa bisa laper? tumben kayaknya saya pingin sarapan sepagi ini,” sahutnya beralasan.


“Serius pingin sarapan sekarang? Entar sakit perut lo! Perut Kak Beni agak sensitive, belum bisa mencerna makanan sepagi ini.” Ega kembali mengingatkan. Dia berusaha menahan tawanya melihat wajah Beni yang berubah pucat. Mungkin saja dia sedang berusaha menahan lapar.


‘Hah!”


“Kapok!” ucap Ega sembari menahan tawanya. Tak ingin berlarut-larut dalam kebahagiaan karena mengerjain Beni palsu, Ega bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh lama dengan ritual mandinya, Wanita itu segera menggunakan pakaian kerjanya. Selanjutnya berdandan sekedarnya agar terlihat lebih segar. Dia tidak memperdulikan Beni yang menggedor-gedor Pintu kamar.


Sudah siap, Ega membuka Pintu dan menemukan Beni masih berdiri di ambang Pintu.


‘Kak Beni masih disini?”


“Iya, kenapa Pintunya di kunci? Bukankah saya Suami kamu,” ucap Beni cemberut. Dia masuk ke kamar dengan mendengus kesal.


“Maaf, tadi aku mandi dan siap-siap mau ke Kantor,” sahut Ega dengan memamerkan senyum menawannya.


Beni tertegun, dia memandang wajah Ega tak berkedip.


“Cantik,” gumannya pelan. Tak teralihkan, dia sangat menikmati wajah manis Wanita di hadapannya yang terlihat berseri-seri. Wajah itu terlihat menunduk untuk menjaga pandangannya. Sedangkan Beni menganggap Ega sedang tersipu malu-malu.


“Terima kasih, aku siap-siap dulu,” ucap Ega bergegas meninggalkan Beni yang masih terbengong. Mendengar langkah Ega, barulah Beni tersadar dan dengan cepat memanggilnya.


“Egaaaa!”


“Maaf Kak Beni, saya buru-buru,” sahut Ega sedikit memberikan senyum perpisahan.


***


Siang harinya terlihat Beni sedang menikmati makan siangnya di sebuah Café mewah.


“Beni! Tumben sendirian? Ega mana?” tanya seorang Wanita yang tiba-tiba saja menegur Beni. Wanita itu kemudian duduk tepat di hadapan Pria itu.


Mendengarkan ada seseorang yang menegurnya, Beni menghentikan suapannya. Dia mendongak melihat wajah siapa dibalik suara itu. Beni berpikir sebentar, mencoba mengingat sesuatu dan memikirkan jawaban yang akan diucapkannya.


“Ega lagi sibuk,” jawabnya singkat. Dia kembali menyuap makanannya dengan acuh.

__ADS_1


“Ooooh gitu." Wanita itu berohria sambil tetap memperhatikan Beni yang tampak sibuk dengan makanannya.


“Punya Isteri tapi masih saja makan di luar. Apa fungsi Isterinya kalau makan saja tidak bisa dilayaninya.” Wanita itu tiba-tiba menyerang Beni dengan kalimat-kalimat provokator. Dia sengaja mengatakan itu untuk membuat Beni berpikir sehingga bisa meninjau ulang keputusannya menikahi Ega.


“Iya juga Nin, Ega terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan semalam aku dicuekin. Dia lebih mementingkan kesehatan Saik Aminah dari Suaminya sendiri.” Beni berkeluh kesah kepada Wanita di hadapannya yang ternyata Nina.


“Dari kata-kata yang kamu ucapkan, kamu menyesal ya? Menikah dengan Ega?” tanya Nina memancing perasaan Beni.


Beni terdiam, dia mempertimbangkan apa yang akan dikatakannya. Dia memperhatikan raut Nina yang cantik.


“Mungkin, coba saya menikah dengan kamu pastinya kamu akan menemani saya setiap waktu seperti ini,” sahut Beni berterus terang. Dia tersenyum dengan sedikit mengedipkan mata menggoda Nina yang terpaku.


Nina tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Dia mengerjapkan kedua matanya memastikan apa yang di lihatnya barusan. Dia memajukan tubuh agar wangi tubuhnya menguar menyentuh penciuman Lelaki di hadapannya.


“Serius? Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bukankah kamu sangat mencintai Ega?” tanya Nina memastikan.


“Iya, itu dulu tapi semakin kesini Ega ternyata membosankan, tidak hebat seperti yang saya perkirakan,” sahut Beni santai.


“Ah ha, kesempatan untuk menggaet Beni lagi. Sudah ku duga dia ternyata menyesal menikah dengan Ega. Siapa suruh menikah dengan perempuan jelek. Nyesel, kan sekarang.” Nina sibuk dengan batinnya dan juga rencananya untuk merebut Beni dari tangan Sahabatnya sendiri.


“Jadi kamu menyesal?”


“Bisa di bilang begitu,” jawab Beni singkat.


“Beni, kamu tahu aku cinta banget sama kamu sampai sekarang pun masih memiliki perasaan itu. Sayang sekali kamu dulu pernah menolakku dan lebih memilih Ega.” Nina mulai melancarkan rayuannya.


“Itu kebodohan yang saya perbuat,” jawab Beni jujur.


“Lantas?”


‘Kita bisa memulainya kembali," jawab Beni memberikan peluang untuk memiliki hatinya.


“Kamu tidak becanda, kan?”


‘Memangnya kamu mengenal saya berapa lama? Tentu kamu tahu luar dalam saya, kan?” ucap Beni datar. Dia memandang Nina dengan intens memberikan Wanita itu harapan.


Nina tentu saja tersenyum mendapatkan angin menyejukkan ini. Tidak menyangka pertemuannya di siang ini dengan Beni membawa keberuntungan untuknya.


Dia segera meraih Handphone, berpindah ke sisi Beni. Memepet tubuh itu lalu mulai melakukan aksinya mengabadikan bukti.


[Lihatlah, Suamimu ternyata cepat sekali bosan. Belum saja pernikahan kamu seumur Jagung eh hatinya berpindah ke lain hati. Sudah aku katakan, bukan? kalau Beni hanya khilaf memilih kamu. Lihat sekarang, kenyataannya dia memilih menikmati makan siang bersamaku. Kasihan banget deh kamu dicampakkan saat masih suasana Pengantin]


Send


Kalimat panjang itu dikirim ke nomor Ega, beserta fhoto mesra yang baru saja diambilnya.


Mereka berdua tidak menyangka, dua pasang mata sedang memperhatikan mereka dengan senyum mengembang.


"Kita lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya," guman Ega ingin meledakkan tawanya.  Bagaimana mungkin Nina mengira bahwa Pria yang sedang merayunya adalah Beni. Sementara Suaminya kini tengah bersamanya.


"Sayang, sepertinya kamu senang melihat pemandangan yang menggelikan," ucap Beni berbisik di telinga Isterinya. Sengaja ingin mencuri pipi mulus itu agar bisa disentuhnya.


"Kak Beni ini, mencuri kesempatan di saat bahagia," sahut Ega terkekeh kecil. Beni menyambut kekehan kecil Ega dengan kekehan juga.


"Pelanin dikit, entar kita terciduk lagi," ucap Beni mengingatkan Ega.


"Ah ya, kita lagi menyamar," sahut Ega. Saat Ega sibuk mengobrol dengan Beni, terdengar notifikasi masuk ke Handphonenya. Pesan itu membuat Ega seketika membulatkan matanya. Beni yang melihat perubahan Isterinya, dengan cepat mengambil alih Handphone itu karena rasa ingin tahunya.


"Apa-apaan mereka? apa sengaja ingin mencemarkan nama baikku," sahut Beni marah sekaligus gusar.


Sejenak Ega terdiam, dia memutar Otak memikirkan langkah selanjutnya apa yang harus dilakukannya.


"Kita gagalkan saja," ucap Ega sambil tersenyum memandang Beni dengan antusias.


Beni melihat raut wajah Ega yang bersemangat membuat dia juga ikut bersemangat.

__ADS_1


"Aku tahu, mari kita kerjain mereka," sahut Beni. Ide briliyannya sudah memenuhi Otaknya. Tinggal mereka jalankan nanti malam saat pertemuan Beni Palsu dengan Nina yang terjebak dalam khalayan semu.


Bersambung.


__ADS_2