Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Pesona Kembang Desa.


__ADS_3

“Cantik, iya kak?” tanya Ega yang berdiri di samping Beni. Saat ini mereka sedang berada di Rumah panggung yang berada di tengah sawah. Disana ada mata air, oleh Masyarakat di namai Gumbang. Mata air itulah yang mengaliri persawahan milik penduduk Desa Lobe-lobe. Airnya begitu jernih sehingga dasarnya terlihat berbentuk pasir. Di ujung Danau, ada pancuran yang airnya keluar dari sela-sela bebatuan dan juga akar. Letak Desa Lobe-lobe berjarak kira-kira 2 km dari Desa Madayin, tempat kediaman orang tua Ega.


“Iya.” Tanpa sadar Beni menjawab dengan pandangan tak lepas dari objek penglihatannya. Di depan sana berjalan seorang Gadis yang baru saja selesai mandi di Pancuran. Rambut panjangnya tergerai indah, apalagi masih basah tentu menambah sisi sensual yang dimiliki Gadis itu. Kaki jenjangnya melangkah dengan landai, mengayun menjejakkan diri di tanah. Gadis itu menggunakan Kain selutut dengan Kaos lengan pendek. Tentu saja terlihat Kaki jenjangnya yang mulus berwarna putih. Dia menunduk saat melewati Ega dan Beni.


Ega menyapa Gadis itu dengan menawarkan makanan dan minuman hanya sekedar berbasa-basi. Itulah bentuk ramah tamah di Daerah ini. Ketika ada orang yang kita kenal melintas di depan rumah, pasti kita akan menyapa dengan mempersilahkan untuk mampir dengan menawarkan makanan ataupun minuman.


"Terima kasih, Mbak. Saya permisi dulu," jawab Gadis itu berhenti sejenak di hadapan Ega. Saat berbicara, Gadis itu masih saja menunduk membuat Beni bingung. Setelah berkata, dia berlalu begitu saja, sebelumnya sempat melirik dengan ujung mata ke arah Beni.


“Jaga pandangan, sebelum tertusuk oleh bara Api,” ucap Ega dingin setelah Gadis itu hilang dalam pandangan. Dia kesal dengan jawaban Suaminya yang spontan. Dia mengakui, Gadis itu memang cantik kalah jauh dengan dirinya yang biasa. Dialah Kembang Desa yang diperebutkan oleh para Pria disini.


“Cemburu ya sayang?” tanya Beni mengalihkan pandangan ke wajah Ega. Dia tersenyum sambil menjawir hidung mancung itu selanjutnya membelai pipi mulusnya dengan lembut.


Ega tak menjawab, dia memasang wajah cemberutnya.


“Jangan marah, aku hanya berkata jujur kalau dia cantik. Tapi tetap saja kecantikan yang dia miliki tidak berhasil memikat hatiku. Tetap saja kamu yang menang dan berhasil menguasainya.” Beni menenangkan Isterinya. Tak menyangka Isterinya ternyata bisa juga dilanda cemburu. Selama ini, Ega tidak pernah menampakkan kecemburuan. Tentu saja hal ini membuat Beni lega. Iya, dia lega karena Ega mencintainya dan memiliki hati sama dengan dirinya yang takut kehilangan.


“Benarkah? Kak Beni tidak lagi berbohong? Buktinya pandangan Kak Beni tidak lepas dari Gadis itu,” sahut Ega jutek. Dia melangkah pergi menjauh dari Suaminya. Ega menyusuri pematang sawah, saat bertemu sesuatu dia membungkuk lalu mengambil. Dia mengumpulkan Siput yang di temukan di pinggiran Sawah.


“Apa kamu cemburu sayang?”


“Tidak,” jawab Ega dengan tegas. Dia tidak menghiraukan keberadaan Beni, Wanita itu lebih fokus mencari Siput.


Beni menghembuskan nafasnya, dia tersenyum lalu dalam pikirannya muncul ide untuk menjahili Isterinya itu.


“Mbak, Aku Beni boleh kita kenalan? Apa boleh juga berkunjung ke rumah kamu nanti malam, midang gitu.” Beni berteriak. Pandangannya di arahkan ke sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari Rumah Panggung yang kini sedang mereka tempati.


Ega segera mengangkat wajahnya lalu menatap Beni yang masih memusatkan perhatian yang jelas tertuju di hadapannya. Sejurus kemudian Ega juga mengalihkan pandangannya menuju yang sama dengan Suaminya.


Tak terlihat siapapun disana, hanya ada hamparan sawah dan juga belakang rumah penduduk.


“Satu kosong,” ucap Beni tersenyum simpul selanjutnya memperdengarkan tawanya.


“Kak Beni sedang mengerjain aku, ya?” tanya Ega kesal.


“Iya, iyalah, habisnya Isteri ayuku ini sangat cuek dan mengabaikan Suaminya.” Beni meraih pinggang Isterinya lalu merangkul dengan erat, sejurus kemudian menggelitiknya membuat Ega kegelian.


“Cukup Kak, jahil banget sih?”


“Kalau enggak jahil, kita tidak akan seperti ini,” ucap Beni hangat.


Mereka berdua saling menggelitik dan menggunakan lumpur sebagai Senjata untuk mendukung tingkah konyol itu. Tawa menggema, saat Beni terperosok di Kebun Kangkung yang berair. Tak ingin sendiri, Beni menarik Ega dan pada akhirnya mereka berdua bermain lumpur. Sepasang Suami Isteri itu menikmati kebahagian yang sangat sederhana penuh dengan cinta yang bertahta di hati masing-masing.


Kata orang, mereka layak mendapatkan pernyataan "Masa kecil kurang bahagia." Karena itulah saat dewasa mereka ingin mengulang lagi tingkah laku masa kecil yang penuh dengan tawa kebahagiaan dan tidak ada beban yang terpikirkan.


Tanpa disadari oleh mereka, Kembang menatap Sepasang Suami Isteri itu dengan tatapan iri. Dia ingin merasakan kebahagiaan itu bersama Pria yang kini menikmati bahagia dengan Isterinya. Kembang Desa itu tersenyum misterius, dia meyakini dalam hati bahwa Pria tampan itu telah terpikat oleh pesonanya. Tinggal langkah selanjutnya untuk merampas Pria tampan itu dari genggaman Isterinya.


***


“Aku memperhatikan Gadis itu bukan karena terpikat tapi karena ada sesuatu yang lain pada dirinya,” ucap Beni disaat dia menyantap makan siangnya. Saat ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah panggung yang berada ditepi sawah.


Ega menghentikan suapannya, dia memandang wajah Beni selekat mungkin. Ada kekhawatiran yang dia tunjukkan.


“Berhati-hatilah dengan Kembang,” ucap Ega kemudian.


‘Jadi namanya Kembang? Memang ada apa dengannya? Apa dia bunga Desa dan banyak orang yang berusaha mendapatkannya karena itulah kamu memintaku untuk berhati-hati?” tanya Beni penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Ega. Dia melihat Ega menghela nafas dengan gusar.


"Tenang saja, Suamimu tidak tertarik dengan Kembang Desa itu," lanjutnya untuk meyakinkan Isterinya. Beni melihat Ega menghela nafas berat menunjukkan kegusarannya. Seperti ada bebang berat yang sedang menghimpitnya.

__ADS_1


“Hanya ingat Tuhan agar bisa terlepas dari jeratnya,” sahut Ega kemudian setelah beberapa menit terdiam.


Dari nada suara ada kekhawatiran lebih tepatnya ketakutan jika Kembang akan mengincar Beni. Tidak mungkin Kembang Desa tidak tertarik dengan ketampanan Beni, apalagi jika tahu dia Pria mapan dan kaya. Pastilah saat ini, Kembang akan mengincarnya. Itu yang ada dalam insting seorang Isteri.


“Maksud kamu?” tanya Beni bingung.


“Mulai sekarang, Kak Beni harus ingat kalau sudah mempunyai Isteri dan banyak-banyak membaca ayat-ayat Alquran agar terhindar dari Pesonanya.” Ega menjelaskan, dia tidak menceritakan dengan lugas mengapa Ega mengingatkan Suaminya. Dia berdoa dalam hati agar dilindungi dari kejahatan Manusia dan juga dari kejahatan Jin yang tanpa kita sadari sedang mengincar setiap Insan.


Beni mengangguk meskipun saat ini masih diliputi tanda tanya. Dia menatap wajah Ega, nampak sekali ketakutan itu tercetak jelas pada wajah. Isterinya itu pasti tahu sesuatu tapi tidak mengungkapkannya. Mungkin saja ini menyangkut privasi seseorang.


Beni juga merasakan hawa negative yang  terpancar dari raut cantik itu, milik Kembang.


Tadi dia sempat beradu pandang sebentar, namun seketika itu terlihat ketakutan yang berhasil ditangkap oleh netranya. Karena penasaran, Beni memberanikan diri untuk terus memandang Gadis itu. Namun tak kunjung mendapatkan balasan, bahkan Gadis itu semakin menunduk seolah di tanah tersimpan Emas. Ketampanan seorang Beni tak berarti bagi Gadis Desa itu. Ini sungguh aneh menurut Beni, baru kali ini dia memusatkan pandangannya kepada seorang Gadis selain Ega. Bukan tertarik tapi ingin mencari sesuatu yang tiba-tiba hinggap dibenaknya. Gadis itu aneh!


“Apa Kak Beni sedang memikirkan Kembang?” tanya Ega seolah tahu.


Beni menggelengkan Kepala, dia tersenyum kemudian melanjutkan menyantap makan siannya.


Ega tak mengatakan apa-apa, dia memilih menyuap makanan tak ingin di ganggu dengan pikiran buruknya. Dia mempercayai Suaminya, tidak semudah itu tergoda oleh Gadis lain meskipun dengan siasat apapun. Dia hanya memanjatkan doa berharap Tuhan melindungi mereka dari sesuatu yang buruk.


Ega memilih mengalihkan pembicaraan dengan mempertanyakan hasil penyelidikan Para Sahabatnya. Setelah keadaan Ega membaik, mereka memutuskan untuk mempercepat bulan madu. Meskipun menit-menit yang mereka jalani terasa manis tapi rasa tidak aman itu terasa juga. Dan kini mereka harus menghadapi pesona kembang Desa.


***


Malamnya Beni berpamitan hendak mencari Obat nyamuk di Warung yang tidak jauh dari rumah panggung tempat dia menginap. Dia membawa Senter dan juga Handphone tidak lupa dia genggam. Jika terjadi sesuatu misalnya tersesat, maka dengan segera bisa menghubungi Ega. Dia belum hapal jalanan Desa ini sehingga benda itu harus berada dalam genggamannya.


“Hati-hati Kak, jika melihat sesuatu berusahalah bersikap setenang mungkin dan jangan memperlihatkan ketakutannya.” Ega berpesan yang dianggukkan oleh Beni. Beni masih tetap bingung dengan pesan Ega yang mengarah pada sesuatu yang tak lazim.


Jujur saja dia bingung dengan perubahan sikap Ega. Berawal dari melintasnya seorang Gadis yang baru selesai mandi di Pancuran yang tidak jauh dari kediamanannya. Gadis itu yang diketahuinya bernama Kembang. Gadis tercantik disini dan menjadi incaran para Lelaki.


Beni melangkah dengan pelan sembari bershalawat.


Saat dia melintasi sebuah rumah, dia merasa diawasi dari dalam, namun dia memilih tak menghiraukannya. Mungkin saja itu orang rumah yang hendak mengetahui siapa yang sedang berjalan malam-malam. Siapa tahu mereka sedang meningkatkan kewaspadaan dengan adanya orang asing yang akan menjadi tamu tak di undang.


Beni tetap berjalan, pada akhirnya sampailah dia di sebuah warung yang masih buka. Dia segera mengambil apa yang dibutuhkannya.


Ternyata warung ini lengkap dengan segala kebutuhan pokok Masyarakat. Maklum saja di Desa, karena itulah Pemiliknya melengkapi dengan segala apa yang diperlukan Masyarakat agar tidak kesulitan mencari.


Beni juga mengambil beberapa Snack dan minuman. Setelah merasa tak ada lagi yang dibutuhkan, dia segera membayar pada Pemilik Warung tersebut.


Saat Pemilik Warung itu sedang menghitung belanjaan, tiba-tiba terdengar suara seorang Gadis menanyakan sesuatu. Beni menoleh, dengan cepat Gadis itu menunduk. Dia tersenyum hanya sebagai bentuk ramah tamah.


Pemilik warung mengambil barang yang dibutuhkan Gadis itu lalu memberikannya. Dengan cepat Gadis tersebut mengambil barang yang diinginkannya lalu membayar dengan uang pas sesuai harga yang di hapalnya.


“Kok buru-buru Kembang?” tanya Pemilik Warung.


“Iya Saik, sedang ditunggu sama Inaq,” ucap Kembang datar. Dengan cepat dia berlalu dari hadapan Beni dan Pemilik Warung.


“Orang baru ya Mas?" tanya Pemilik Warung kini mengalihkan perhatiannya kepada Beni yang sedang berdiri di hadapannya. Beni sempat melihat punggung Kembang hingga menghilang di telan kegelapan malam.


“Iya, saya tinggal di rumah panggung milik Mamiq Angga,” jawab Beni datar. Dia kembali tersenyum dengan mengganggukkan kepalanya.


“Mas ini siapanya Mamiq Angga?” tanyanya lagi.


“Menantunya Mamiq Angga,” jawab Beni ramah.


Pemilik Warung itu menghentikan aktivitasnya, dia sedang berpikir sebentar, lalu bertanya. “Apa Mas ini Suaminya Lani atau Ega?”

__ADS_1


“Ega, Saik,” jawab Beni singkat.


“Wuaalaaaah, Gadis buluk itu. Enggak menyangka mendapatkan Suami setampan ini,” ucap Pemilik Warung diakhiri dengan kekehan.


Mendengarkan perkataan Pemilik Warung itu membuat Beni menelan air liurnya yang terasa pahit. Dia tak menyangka, Pemilik Warung ini mengolok Isterinya.


“Memang, sih Isteriku buluk, tapi itu dulu waktu masih kecil. Tidak dengan sekarang, dia menjelma menjadi Wanita cantik, buktinya aku terpikat dan sangat mencintainya,” batin Beni.


“Maaf, walaupun buluk dia gadis manis dan baik,” lanjut Pemilik Warung itu seakan menenangkan Beni yang terlihat bingung.


“Tidak apa-apa, Ega memang buluk saat dia masih kecil tapi sekarang dia cantik banget,” sahut Beni membentuk sebuah senyum ramahnya.


Pemilik itu tertegun dengan pujian yang dilontarkan oleh Pemuda yang ada di hadapannya. Ada binar cinta yang jelas terlihat tatkala menyebut nama Ega.


“Alhamdulillah, semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. Saik harap jangan sampai terpikat oleh Wanita lain apalagi Gadis tadi,” ucap Pemilik Warung itu sedikit berbisik.


Beni penasaran, dia membulatkan mata tanda tertarik dengan pesan yang disampaikan Pemilik Warung itu, seorang Wanita paruh baya.


“Maksudnya?”


Wanita itu tidak menjawab, dia hanya memperingatkan saja. Dia kemudian memberitahu berapa harga yang harus dibayar oleh Beni. Beni kemudian membayar sesuai dengan nomimal yang disebutkan Pemilik Warung itu. Dia berpamitan dengan membawa rasa penasaran di hatinya.


Ega dan Pemilik Warung itu mewanti-wantinya agar berhati-hati dengan Gadis bernama Kembang. Ini sungguh aneh dan ambigu, memangnya siapa dia? Pernyataan yang sangat sulit mendapatkan jawaban karena baik Ega maupun Pemilik Warung itu enggan menjelaskan.


Saat Beni menyusuri jalan setapak, matanya menangkap cahaya yang berkedip dari kejauhan. Dia penasaran, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu cahaya apa itu. Dia mengubah haluan, tidak lagi berjalan menuju arah rumah. Beni seakan tertarik dengan cahaya yang terlihat indah. Baru saja mendekati cahaya itu, terdengar deringan yang menyadarkannya dari rasa penasarannya.


"Astaghfirullah." Beni beristighfar setelah tersadar dari sesuatu yang mungkin saja menyesatkannya. Dia membaca doa, lalu berbalik arah melewati jalan setapak yang menuju ke rumahnya.


Saat di tengah jalan, lagi dia menemui hal yang aneh. Dia melihat Pohon sedang bergoyang dengan kerasnya. Kalau dirasakan, tidak ada hembusan angin yang sangat kencang, kenapa tiba-tiba dahan yang berukuran besar bisa bergerak-gerak sangat kencang. Logikanya, meskipun angin sangat kencang, hanya daun dan ranting kecil yang berhasil di gerakkan, nah ini?


Beni sedikit merinding melihat apa yang nampak di hadapannya itu, dia teringat apa yang dikatakan oleh Ega agar tidak menunjukkan ketakutan. Dia membaca doa dan setenang mungkin melangkahkan Kaki seolah-olah tidak merasakan apapun.


"Tabek, saya numpang lewat."


Beni berlalu dengan masih menyimpan rasa takut dan juga rasa penasaran. Baru saja, dia meninggalkan Pohon yang bergerak itu, tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di rumah. Entah dari arah mana, tiba-tiba terdengar suara Kucing mengeong sedang berusaha menghampiri.


Beni membalikkan tubuhnya, dia melihat seekor Kucing berwarna Putih. Kucing itu menatapnya, seolah meminta sesuatu. Dia tersenyum, lalu membungkuk meraih Kucing itu kemudian menggendongnya.


"Lucu sekali, ikut sama saya, yaa!" ucap Beni sembari berjalan menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Beni disambut oleh Ega dengan balasan salam.


"Kucing siapa, Kak Beni?" tanya Ega. Dia memperhatikan Kucing itu dengan seksama. Kucing itu mengeong sembari memperelat diri di gendongan Beni tak ingin dilepas.


"Nemu di jalan tadi, mungkin Kucing milik salah satu warga sini. Tadi dia mengikuti Kak Beni," jawab Beni datar. Dia menyerahkan Kantong Kresek berisi barang-barang yang dibelinya tadi.


Ega mengambilnya dan tak lepas pandangannya ke arah Kucing itu. Kucing itu seolah tak menyukai Ega, dia mengeong ribut dengan tatapan tajam yang hanya Ega melihatnya.


"Oh gitu, kalau begitu saya ambilkan Kandangnya, kebetulan Mamiq memiliki kandang." Ega berucap lalu berjalan menuju samping rumah tempat keberadaan Kandang.


"Iya, agar lebih aman dan tak terlepas," sahut Beni menyetujui. Kucing itu kembali mengeong ribut, seolah menolak apa yang ingin dilakukan oleh Ega.


Tidak menunggu terlalu lama, Ega kembali dengan membawa Kandang di tangannya. Dia menaruh kandang itu di Lantai lalu membukanya. Saat Beni hendak menaruh Kucing itu di dalam kandang, tiba-tiba Kucing itu loncat dari gendongan Beni dan berlari menjauh dengan memperdengarkan suara mengeongnya.


"Kembang." Tanpa sadar Ega lirih berucap.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2