Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 2. Hari Yang Cerah.


__ADS_3

Adzan subuh terdengar dari masjid terdekat membangunkan umat Nabi Muhammad Shallallahualaihi Wassalam yang terlelap dalam mimpi Indah. Bagi yang lalai tidak menghiraukan panggilan tersebut, mereka akan tetap terlelap dalam Tidur, sedangkan bagi yang taat suara Adzan tersebut memberikan semangat untuk segera memenuhi panggilan sholat, bersujud kapada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Salah satu yang bersemangat itu adalah Ega Fajrina. Gadis manis itu terbangun dari tidur indahnya. Dia duduk diatas kasur mengumpulkan sebagian kesadarannya, setelah keadaan normal kembali, ia segera ke kamar mandi membersihkan diri, setelah bersih kemudian mengambil air Wudu dengan tertib. Ega segera ke Musholla kecil yang ada di halaman depan rumahnya. Dilihatnya Saik Aminah yang sudah ada disana.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,” salam Ega.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab saik Aminah dari dalam Musholla.


Saik Aminah seorang Janda ditinggal meninggal oleh suaminya. Saik Aminah sebatang kara, beliau tidak memiliki anak dan tidak mengetahui keberadaan keluarganya. Saik Aminah menempati tanah kosong seluas dua are dan mengelola tanah kosong tersebut menjadi kebun sayur-sayuran atas persetujuan Pemilik Tanah. Semenjak tanah tersebut dibeli oleh Ega dan membangun hunian yang ditempati Ega, Saik Aminah tetap diizinkan oleh Ega menetap disana agar ada yang menemaninya berhubung Gadis itu tidak tinggal bersama kedua orang tuanya.


"Udah sholat subuh?” tanya Ega.


Saik Aminah menggelengkan kapala sebagai jawaban.


“Kalau begitu saya Sholat Sunnah dulu, kita berjamaah," ucap Ega sembari menggelar Shajadah setelah tak terdengar suara lagi, dia khusuk melaksanakan Shalat Sunnahnya.


Setelah Ega melaksanakan Sholat Sunnah selanjutnya mereka berdua dengan khusuknya melaksanakan Sholat Subuh secara berjamaah.


Selesai Sholat dan merapikan kembali Mukenah. Saik Aminah bersiap-siap ke Pasar untuk memasarkan hasil Kebun berupa Sayur-sayuran dan juga buah Pisang hasil dari kebunnya itu.


"Saik, Ega ikut ke pasar nggih,” ucap Ega menghampiri Saik Aminah yang ada di halaman rumah. Dia sudah selesai menata sayur-sayuran dan buah Pisang pada Kendaraan Roda Tiga.


"Boleh, ayok kita berangkat nanti keburu Matahari terbit. Kalau sudah Matahari terbit, rezekinya dipatok ayam,” Seloroh Saik Aminah memperdengarkan suara tawanya.


"Saik Aminah nih ada ada saja. Ayam itu tidak doyan sama uang, jadi jangan khawatir, tidak bakalan berebutan sama ayam. Doyan sama uang cuma manusia bukan ayam, ayam mah tidak mau dikasik uang berapapun nilainya tapi kalau yang dikasik empunya ayam tidak bakalan nolak, Ega mau kok,“ sahut Ega bergurau.


"Kasihan banget kau ayam jadi topik pembicaraan, jadinya gigit lidah sendiri dipagi hari, maaf ya ayam!" Lanjutnya, Dia cengengesan mengingat kata-katanya yang ngelantur tidak jelas. Sementara itu Saik Aminah geleng-geleng kapala melihat gadis di depannya yang ngoceh sambil sibuk membantunya.


“Saya yang jadi sopir, Saik Aminah duduk di belakang saja,” tawar Ega bersiap-siap menstater Sepeda Motor Roda tiganya. Dia merasa bahagia karena bisa mengendarai Motor roda tiga yang membawa hasil panennya pagi ini.


Beberapa menit kemudian Mereka sampai ke Pasar. Saik Aminah dan Ega segera membawa sayur sayuran ke lapak. Ega dan Saik Aminah menata dagangannya dengan semenarik mungkin. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari libur diakhir pekan dia membantu Saik Aminah berjualan di Pasar.


Saat keadaan sudah ramai, mereka berdua sibuk melayani Pembeli. Rata rata yang membeli yaitu pelanggan setia mereka dan juga Pelanggan baru. Setelah beberapa jam berjualan pada akhirnya jualan mereka habis terjual.


"Alhamdulillah sudah habis, laris manis Tanjung Aan,” komentar Ega bahagia.


"Alhamdulillah,” sambut Saik Aminah penuh syukur.


"Apa setiap hari, sayurannya habis?” tanya Ega.

__ADS_1


"Tidak juga Baiq, kadang-kadang masih ada sisa, sisanya Saik kasik ke orang yang butuh,” jawab Saik Aminah tersenyum.


“ooooo gitu,” ujar Ega ber-oh ria.


“Hari ini tumben sayurannya cepat habis terjual, mungkin karena yang jual cewek manis jadinya manis juga rezekinya.” Saik Aminah terlihat bahagia karena jualannya habis dan yang lebih membahagiakan karena Ega, Gadis manis itu ikut membantunya. Gadis itu sama sekali tidak malu meskipun harus berbaur dengan emak-emak di Pasar Tradisional. Tidak risih dengan aroma sedap yang berasal dari Ikan, Terasi dan berbagai jenis aroma khas dari barang-barang yang dijual.


"Ha ha ha, bisa jadi itu Saik. Alhamdulillah, kalau begitu kita pulang saja entar takut kesiangan. Rezekinya dipatok ayam gara-gara ngambek telat dikasik makan,” Canda Ega.


"Loh! kita kan tidak punya Ayam.” Saik Aminah mengomentari pernyataan Ega.


"Emang kita tidak punya tapi Ayam tetangga banyak. Takutnya entar jatah sarapan saya dipatok juga sama ayam Tetangga. Buruan yok Saik,” ajak Ega agar segera meninggalkan Pasar.


Mereka berdua bergegas pulang sebelumnya membersihkan dan merapikan kembali barang barang yang ada kemudian menyimpannya. Selang beberapa menit mereka sampai juga di rumah.


Ega maupun Saik Aminah bergegas masuk kemudian sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ega sibuk membersihkan rumah, setelah bersih dilanjutkan mencuci pakaian dan menjemurnya. Karena sudah menjadi jadwalnya setiap hari Sabtu Gadis itu bersih-bersih.


"Alhamdulillah sudah bersih juga nih rumah, kinclong,” guman Ega bahagia sambil duduk santai di Berugak yang ada di halaman depan rumahnya.


(Berugak itu seperti Gazebo dibuat dari Bambu beratap Ilalang dan ada juga menggunakan daun kelapa sebagai atapnya ).


Ega begitu menikmati waktu rehatnya sejenak. Setelah merasa cukup kemudian Ega masuk ke dalam rumah menuju arah Dapur. Sesampainya di Dapur, Ega mengambil air mineral yang ada di dalam Kulkas.


Setelah makanan tersaji, mereka berdua kemudian menikmati sarapan masing-masing tanpa ada pembicaraan, bahkan suara sendok yang beradu sama garpupun tak terdengar karena mereka makan menggunakan tangan.


****


Baiq Ega Fajrina.


Nama itu diberikan Oleh kedua orang tuanya. Dia lahir menjelang Fajar sedangkan nama Baiq dia dapatkan dari Bapaknya yang bermarga Lalu. Lalu merupakan nama Marga dari Pulau yang cantik ini, Lomboq. Nama Lalu untuk laki laki sedangkan untuk perempuan bernama Baiq, ada sebagian juga untuk perempuan diberikan nama dengan nama Lale. Sementara itu di bagian Utara dari Pulau cantik ini nama marganya yaitu Raden untuk laki-laki dan Denda ( dibaca Dende ) untuk perempuan. Ega, nama panggilannya merupakan gadis berhijab yang memiliki paras yang menurut orang tidak cantik tapi manis. Gadis berkulit sawo matang ini memiliki mata yang indah berhias bulu mata yang tebal dan lentik. Setiap dia tersenyum maka matanya ikut tersenyum terlihat berseri-seri itu menurut pandangan Dipta, cowok yang menjadi sahabatnya semenjak SMA. Ega merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Lalu Fahri Hadiyurahman dan Baiq Lani Arianti. Keduanya sudah menikah dan masing-masing sudah memiliki anak.


Mereka sekeluarga tinggal di bagian Ujung Timur Pulau Lomboq. Bapaknya yang berstatus Guru memilih mengabdikan diri di Sekolah Dasar yang ada di Desa bernama Desa Madayin sedangkan Ega memilih hidup di Kota dan bekerja disalah satu Instansi Pemerintah.


Pagi ini setelah sarapan bersama Saik Aminah, Ega segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket. Sedari Subuh dia sudah sibuk dengan aktivitasnya sehingga butuh menyegarkan kembali Badannya. Baru saja dia masuk ke kamar mandi tiba-tiba dikejutkan oleh suara handphone yang berbunyi nyaring, Ega ingat kalau gawainya di taruh di meja yang ada di Ruang tamunya.


"Saik, minta tolong diangka,” teriak Ega agar Saik Aminah mendengarnya.


Saik Aminah yang ada di Dapur bergegas ke ruang tamu dan mengangkat panggilan tersebut.


[Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”] Terdengar suara salam dari salah satu nama yang tersimpan di kontak Handphone.

__ADS_1


Saik Aminah : "Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Nak Rian apa khabar?”


[Rian : "Alhamdulillah baik-baik aja Saik Aminah, Saik Aminah bagaimana sehat, kah?”]


[Saik Aminah : "Alhamdulillah, sehat. Nak Rian mau bicara sama Baiq ya? Baiq sedang mandi.”]


[Rian : "Iya Saik, nanti dikasik tahu aja sama Ega agar menelpon saya balek, bilang urgent.”]


[Saik Aminah : "Apa Nak Rian? Organ? Saik Aminah enggak mudeng.”]


[Rian : "hahahaha, bukan Saik, Urgent, urgent.”]


[Saik Aminah : "Bingung saik, jangan pake bahasa gaul napa! emangnya Saik Aminah Kids Zaman Now.”]


[Rian : "Hahaha. Iya dah Saik, Rian minta maaf udah bikin bingung tapi jangan lupa Sampein ke Ega agar telpon balek, pesan ini tidak membingungkan?”]


[Saik Aminah : "Siap Nak Rian, pasti Saik Aminah sampaikan pesan Nak Rian dengan komposisi yang pas antara gula dan kopi.”]


[Rian : "Iya udah, saya tutup dulu.”]


["Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”]


["Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”]


Saik Aminah mengakhiri pembicaraannya, Handphone milik Ega di kembalikan ke tempat semula. Baru saja Saik Aminah hendak kembali ke arah Dapur, tiba-tiba dikagetkan oleh suara Ega yang bertanya.


"Siapa yang nelpon?” tanya Ega penasaran.


"Mas Rian, tadi dia meminta Baiq untuk menghubunginya, kata Mas Rian Organ,” jawab Saik Aminah mencoba mengingat apa yang disampaikan oleh Rian.


"Organ? Organ apaan saik? Organ tubuh atau organ batang pohon?” tanya Ega bingung.


"Saik juga tidak mengerti, tidak bisa nyebut sepertinya itu bukan bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo, Bahasa Indonesia juga bukan, mungkin bahasa aliens kali Ya?" jawab Saik Aminah terlihat bingung.


"Ada-ada aja Saik, nih? Emangnya tahu bahasa Aliens?” tanya Ega heran.


"Tidak tahu, justru karena Saik tidak tahu itu bahasa apa jadinya Saik bilang Aliens. Kan sama-sama tidak tahu,” sahut Saik Aminah polos.


"Hahahaha.” Ega tidak bisa menahan tawanya, baginya Saik Aminah lucu tapi tidak tahu bagi orang lain. Setelah reda tawanya, Ega mengambil handphone yang ada di Meja kemudian menekan nomer kontak Mas Rian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2