
Beni dan Ega masih saja dalam posisi ternyaman mereka. Pengantin itu tidak peduli dengan celotehan teman-temannya.
"Astaghfirullah Beni, apa kamu tidak kasian sama Ega terlindas sama body kamu yang berat itu." Omel Dipta sembari menarik tangan Beni.
"Mengganggu saja macam Tokek yang di ternak Ega. Kamu enggak lihat apa saya lagi ngapaen?" Sahut Beni pura-pura kesal karena dia ingin menyiksa sahabatnya itu dengan kemesraannya bersama Ega yang sudah sah menjadi Isterinya. Beni tersenyum membayangkan kenikmatan yang segera ingin diraihnya.
Tanpa tahu malu Beni ******* bibir sexy milik Isterinya yang terasa begitu manis, fresh dan harumnya. Seakan candu, Beni ketagihan ingin menikmatinya kembali sehingga beberapa kali ia ******* bibir ranum milik Gadis bernama Ega itu membuat bibir itu membengkak.
"Haneh kok malah ciuman sih? enggak tahu apa ada anak kecil dan jomblo akut disini." Komentar Juna langsung menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan dengan tidak rapatnya.
"Woww amazing, adegan ini saya harus kirim ke emak-emak rempong agar di tindak lanjutin terus digiring ke Budi Rini untuk dilakukan pembinaan." Seru Evan mulai meng on kameranya.
"Mata ane jadi rabun, mentang-mentang sudah sah tak lihat tempat. Apa kalian kira kita tidak kepingin apa?" Timpal Rian dengan muka penginnya.
Beni tak menghiraukan itu, bibir Isterinya terlalu segar untuk dia berhentikan ditengah jalan. Setelah sampai tujuannya baru Beni menyudahi.
"Kamu suka, apa aku tidak ditabok lagi?" Tanya laki-laki yang sekarang sedang diliputi kegembiraan. Bagaimana tidak gembira pasalnya dia berhasil meraih impiannya ingin bersama Gadis manis bermata indah milik Ega Fajrina.
Coba saja malam itu dia tidak mengadukan nasibnya kepada Juna mungkin sampai hari ini dan seterusnya dia tidak akan pernah bisa meraih hati dan tubuh Wanita dicintainya. Beni benar-benar berterima kasih dengan ide gila Juna menyuruh dia menculik Ega dalam keadaan tidur. Biasanya menculik itu dalam keadaan sadar hanya saja dengan taktik agar korban tidak menyadari itu.
Ega hanya mengangguk dengan rona malu pada kedua pipinya.
"Ngegemesin deh." Ucap Beni mencubit pipi Isterinya.
"Haneh, suka sekali mencubit pipi saya lama-lama terkikis lo!"
"Asal jangan cinta kamu sayang yang terkikis." Timpal Beni sembari mengerlingkan matanya.
"Malam ini kita belah duren ya? kamu siap enggak? aroma sedapnya sudah tercium? aku enggak nahan lagi karena terlalu menusuk penciumanku." Goda Beni mulai mesum pada Isterinya.
"Ingin rasanya menjitak Kak Beni tapi karena kau sudah menjadi Suami jadi mana boleh itu." Sahut Ega sedikit sedih karena tidak bisa lagi menjitak kepala yang menggoda tangan itu dengan ditumbuhi rambut tebal dan hitam bergelombang.
"Jitak pakai bibir saja sayang. lebih mengenakkan, bagaimana?" Tawar Beni sudah mulai menampakkan kemesumannya.
"Maunya Kak Beni saja, oh ya sampai kapan bertengger di Bodyku? berat ini lama-lama beneran gepeng lo akunya." Ega mulai menggerutu dan sudah mulai merubah panggilannya.
"Ops keenakan aku habisnya empuk banget. pingin bermalas-malasan terus...."
"Obrolan sepasang Suami Isteri itu ternyata bising ya? ini telinga sepertinya sudah iritasi mendengarkan kata-kata yang tak berfaedah sama sekali." Keluh Dipta memotong pembicaraan Pengantin Baru itu.
"Kalau orang sudah dimabuk cinta. Dunia memang milik mereka berdua yang lain ngekost dengan status sebagai makhluk astral dianggap enggak kelihatan." Sahut Juna seolah sedang menyindir sepasang Pengantin itu.
"Sayang kamu dengar Tokek enggak? ternyata dia bisa berbicara juga. Aku pikir hanya bisa berbunyi Tekek, Tekek, Tekek." Komentar Beni menanggapi ocehan Dipta dan Juna.
"Enggak tahan, tangan ane gatal." Rian gregetan dengan apa yang diperlihatkan oleh Beni dan Ega. Laki-laki dengan kulit hitam manis itu beranjak menghampiri Pengantin baru yang merupakan sahabatnya dan begitu dekat dengan gerakan cepat Rian menjitak kepala Beni dan Ega secara bergiliran yang pada saat itu sudah berada dalam posisi duduk.
"Awww, sakit. Kira-kira dong Mas Rian. Masak pernikahan saya hadiahnya jitakan sih?" Gerutu Beni mengelus kepala Isterinya dengan lembutnya. Sekarang tidak lagi memberikan perhatian kepada Ega secara samar-samar seperti waktu dulu karena takut para sahabat mengetahuinya.
"Apa perut kalian tidak memberontak? kalau tidak biar saya saja yang menghabiskan Ikan Bakar ini?" Evan memecahkan senda gurau diantara mereka.
Ega bergegas membantu Evan yang sedang sibuk membakar Ikan Laut. Gara-gara insiden tadi membuatnya lupa dengan tugasnya menyediakan hidangan untuk dinikmati bersama.
Tujuh Sekawan itu menikmati hidangan yang dibuat bersama dengan penuh canda tawa. Sayangnya personil mereka kurang satu sehingga terasa tidak lengkapnya. Biasanya ada Nina, objek godaan Rian dan teman berantem Dipta tapi sekarang ketidak hadiran Nina membuat suasana itu sedikit berbeda. Tidak ada godaan dan rayuan dari Rian untuk Nina dan tidak ada celaan dari Dipta untuk Gadis cantik itu.
Selesai makan mereka berlanjut dengan permainan kartu. Ega sudah mulai mengantuk menemani mereka bermain kartu. Melihat Isterinya mengantuk Beni menyudahi permainannya.
"Sayang, kamu sudah ngantuk. Kita tidur saja yuk? Biarkan mereka yang bergadang." Ajak Beni sembari menuntun Ega berjalan menuju kamar Pengantin mereka.
__ADS_1
"Siapa yang suruh kamu tidur, kita lanjut main kartunya kamu belum menang Beni." Tahan Evan mencekal tangan Beni.
"Ega sudah kantuk itu, kasian." Sahut Beni melihat Isterinya sudah beberapa kali menguap.
"Biar Ega yang tidur duluan, kamu harus nemenin kita disini bermain kartu. Bukan begitu teman-teman." Dipta mendukung Evan.
"Iya sudah kalian jangan berantem. Kak Beni temani mereka saja. Hoaaaam... Aku mau tidur dulu." Pamit Ega beberapa kali menutup mulutnya karena tidak bisa lagi menahan kantuknya.
Beni dengan hati dongkol mengikuti kemauan Sahabat-sahabatnya itu. Hampir tengah malam belum juga selesai permainan mereka membuat Beni menahan kekesalan karena tidak bisa menikmati malam pertamanya.
"Sudah jangan mukanya ditekuk dan bibirnya dimanyunin. Ini minum dulu haus kan?" Dipta datang menyodorkan Jus Orange pada semuanya. Tidak butuh hitungan banyak Jus segar itu sudah beralih ke perut meluncur dari tenggorokan yang terasa segarnya begitu Jus itu mengairinya.
Beni juga meminum jusnya hingga tandas. Sedangkan Dipta melakukan hitungan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima.... " Dipta belum selesai berhitung namun hasilnya sudah terlihat dengan tingkah Beni yang sudah mulai tidak nyaman dengan menggerak-gerakkan tubuhnya.
Beni menggeliat seperti cacing yang tersiram air bercampur garam.
Juna, Dipta, Rian dan Evan lantas memegang tubuh Beni lalu mengikatnya pada sebuah pohon.
"Apa-apaan kalian? Kenapa saya diikat terus kenapa badan saya jadi panas gini? benda pusaka saya mulai bereaksi dan mengeras. Apa yang terjadi dengan tubuh ini?" Racau Beni tidak jelas dan tidak beraturan. Tubuhnya merasakan hawa panas, benda pusaka sudah menegang apalagi butir-butir keringat sudah bermunculan dari pori-pori.
"Kenapa tubuh saya jadi panas begini? Dipta kamu kasik apa pada minuman saya?" Tanya Beni terbata-bata berusaha mengendalikan tubuhnya yang menggeliat kesana kemari.
"Obat perangsang." Jawab Dipta dengan santainya.
"Apa? kalau kamu memasukkan obat perangsang pada minuman saya kenapa saya malah diikat. Akan berbahaya kalau saya tidak menyalurkannya ke tubuh Ega." Ucap Beni sudah terlihat begitu memprihatinkan. Wajahnya yang memutih terlihat memerah dan tubuhnya masih bergerak-gerak meminta penawarnya segera.
Beni terlihat merengek-rengek sedangkan keempat sahabatnya itu tidak bergeming sengaja mempermainkan Beni.
"Jun, bukain ikatan ini saya sudah tidak tahan. Benda Pusaka saya sudah mau meluncur nih!" Rengek Beni sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang sudah mulai menegang.
"Ya Allah Dipta, kamu tega banget. Saya sudah tidak tahan ini." Rintih Beni sudah mulai tersiksa dengan efek dari obat perangsang itu.
Evan tidak tega melihat keadaan Beni yang sudah terlihat kacaunya. Laki-laki kerempeng itu melepaskan ikatan Beni dan membebaskannya dari penderitaan yang mungkin saja sangat menyiksanya.
"Terima kasih Van, kamu memang sahabat yang selalu siap membantu kapanpun itu tidak seperti ketiga orang itu menyebalkan." Gerutu Beni sembari ikut melepaskan ikatan kakinya begitu tangannya sudah terbebas.
"Hahahaha." Dipta malah menanggapi kekesalan Beni dengan suara keras terdengar begitu mengerikan ditengah malam indah ini.
"Puas kalian, apa kalian senang sekarang?" Beni benar-benar kesal terlihat matanya memancarkan hawa horor akibat dari obat perangsang itu. Dia tidak mau meladeni sahabat-sahabatnya yang sedang menertawakannya. Dengan langkah cepat Beni menuju kamar Pengantin untuk melampiaskan nafsunya yang sudah sampai di Ubun. Dibalik langkahnya yang cepat telinganya masih menangkap teriakan Dipta.
"Setelah ini kamu akan berterima kasih sama saya."
Beni tidak peduli dia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai kamar tempat keberadaan Isterinya.
Laki-laki itu sudah sampai di ambang pintu tanpa mengetuk dia langsung membuka dan menemukan Isterinya nampak terlelap.
Beni langsung menubruk tubuh yang terbaring. Dia tidak sabar lagi untuk meluncurkan benda pusakanya yang sudah hidup. Namun dia tidak lupa membaca doa agar Setan tidak mengambil bagian dalam pertempuran mereka.
Tentu saja membuat Ega terkaget merasakan tubuhnya tertimpa beban berat.
"Kak Beni?" Ucap Ega serak khas bangun tidur. Matanya sulit terbuka karena dirinya belum puas tidur.
"Aku ngantuk, besok saja." Sambung Ega dengan mata terpejam.
"Sayang, aku butuh penawar dan penawarnya hanya tubuh kamu. Aku tidak tahan dengan benda pusaka keramat ini yang sudah mulai bergerak-gerak mencari Sarungnya. karena akan terasa sakit jika tidak tersalurkan." Ucap Beni terdengar parau. Tangannya sudah bergerak membuka kancing baju Isterinya. Tidak butuh lama Beni sudah menyelesaikan pekerjaan yang mengasikkan itu. Beni begitu terpesona dengan tubuh Indah dan molek milik Isterinya bahkan lebih indah dari milik Wanita yang menurut orang Wanita paling terseksi dan tercantik di Nusantara ini yang bergelar Nona. Keindahan tubuh yang seharusnya ditutupi tapi dengan sengaja di dipertontonkan dengan pakaian minim dan ketat sehingga dinikmati oleh banyak orang. Tidak dengan Isterinya walaupun dia tidak cantik seperti Nona itu tapi ternyata memiliki keindahan yang tersembunyi dibalik Gamis Longgar dan hijab lebarnya . Lihatlah Gunung kembar itu terlihat begitu menggoda dengan bentuk sempurna dan ukuran yang besar.
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi?" Ega bertanya dengan matanya masih terpejam karena belum mampu untuk membuka matanya seakan mata itu di lem dengan lem yang memiliki kualitas terbaik.
"Minuman yang aku minum dikasih obat peransang oleh Dipta." Beni menjawab dengan tangannya mulai meramas gundukan yang dia temukan saat bergelilya.
"Aaaaaargh." Tubuh Ega mulai merasakan sensasi yang berbeda. Dia merasakan tubuhkan seperti disetrum oleh aliran-aliran muatan listrik yang dihantarkan oleh tangan Suaminya. Ega tersadar sepenuhnya ketika tangan itu menjamahnya.
"Kak Beni." Ega terkejut begitu menyadari keadaannya sudah polos tidak selehelai benang menutupi tubuhnya.
"Astaghfirullah kemana Daster saya Kak Beni? Kenapa bisa lenyap." Tanya Ega diliputi kebingungan. Bagaimana bisa dia tertidur dalam keadaan telanjang terus Beni melihat seluruh auratnya yang dia tutupi selama ini. Ega benar-benar malu mendapati Beni memandang tubuhnya dengan pandangan mesum yang siap menerkamnya.
"Indah dan menggoda." Pujian yang terlontar dari bibir Beni disertai senyuman smirk.
Sementara itu keempat sahabatnya mulai bergerilya juga. Mereka melangkah menuju keberadaan kamar Pengantin dan Dipta sudah mempersiapkan sebuah tangga untuk memudahkan mereka memanjat ke Lantai dua. Emang Dipta niat banget ingin menyaksikan pertempuran Beni.
"Yakin kita bakalan menyaksikan adegan live Beni dan Ega?" Tanya Juna ragu melakukan itu karena tidak sopan melihat adegan ranjang orang yang merupakan sahabatnya.
"Tidak apa-apa sekali ini saja, biasanya juga kalian suka menonton film yang ada adegan mantap-mantapnya kan?" Ucap Dipta menarik teman-temannya agar ikut tindakan gilanya. Empat laki-laki lajang itu mengendap-endap menyusuri jalan menuju letak kamar Beni.
Setelah yakin menemukan posisi kamar Beni yang berada di lantai dua yang ada Balkonnya. keempat Sahabat itu langsung menjejakkan kakinya pada tangga yang menghubungkan ke Lantai atas.
Dengan langkah yang senyap tanpa diketahui oleh kedua pasangan itu mereka sudah sampai di Balkon kamar Beni namun apesnya mereka tidak mendapatkan apa-apa karena tirai terlalu tebal dan dikamar Beni juga keadaan gelap.
"Iyah tidak lihat apa-apa. Ini mah Gagal total, niatnya sudah buruk pasti digagalkan oleh semesta. Semesta tidak mendukung tindakan mesum kita." Gerutu Dipta nampak kesal tidak bisa menyaksikan tontonan gratis.
"Lasingan kamu Dipta, ada-ada saja. Mendingan kita turun yuk." Ajak Juna mengakhiri petualangan tidak senonoh ini.
Saat mereka hendak meninggalkan Balkon tiba-tiba terdengar pekikan kesakitan dari Ega membuat Empat sekawan itu mengurungkan niatnya.
"Nampaknya Beni berhasil, itu Ega kesakitan." Celoteh Evan.
"Berarti Ega masih perawan dong." Sahut Juna.
"Iya pasti itu, memangnya ante meragukan kevirginan dari sahabat sendiri." Timpal Rian.
"Tidak, saya percaya Ega mampu menjaganya walaupun saya terkadang ingin menjamah bibir yang begitu menggoda miliknya. Ega laksanakan berlian yang sulit tersentuh walaupun berada pada Laki-laki yang setiap saat ingin menerkamkan. Beni beruntung memperistri Gadis manis itu." Ucap Juna tanpa sadar memberikan penilaian kepada Gadis itu.
"Apa Ante sebenarnya menyukai Ega yang sekarang menjadi Isteri Beni?" Tanya Rian mendengarkan perkataan Juna yang terkesan menyimpan rasa.
"Tidak kok, saya hanya memberikan penilaian. Mendingan kita turun yuk? enggak sopan mengintip orang yang lagi menikmati malam pertama mereka." Juna malah mengajak teman-temannya untuk keluar dari zona terlarang ini. Didalam terdengar desahan manja nan syahdu keluar begitu saja dari bibir Ega yang begitu menikmati sentuhan Suaminya.
Juna lebih dulu turun disusul Dipta, Evan lalu terakhir Rian. Namun pada saat Rian hendak menapaki tanah tiba-tiba tangga oleng dan tentu saja tubuh berisinya menubruk tubuh Evan yang sudah menginjakkan kakinya di tanah.
Bruuuukz.
Tubuh Rian menimpa tubuh Evan yang kurus mengakibatkan Evan mengerang kesakitan.
"Riaaaaan, singkirkan tubuh kamu, beraaaat." Pekik Evan berusaha menyingkirkan tubuh Laki-laki itu namun dia tidak kuasa membuatnya bergerak sehingga dia pasrah saja menunggu Rian bangkit.
Sedangkan Juna dan Dipta sibuk menertawakan penderitaan Evan yang terlihat begitu memprihatinkan.
"Memang seperti ini akibat kita berniat jelek bakalan dibalas kejelekan pula. Bukannya menikmati keindahan malah menikmati penderitaan. Ini sama artinya sengsara membawa kesengsaraan." Kata Evan seakan mewakilkan suara hatinya yang tidak enak sama sekali.
Bersambung.
Hai Sahabat Pembaca Cinta itu Sahabat. Maaf ya saya baru bisa UP kembali. Semoga suka dengan cerita Beni dan Ega yang sedang menikmati malam indah mereka.
Masih dalam suasana lebaran, saya mengucapkan Mohon Maaf lahir dan batin.
__ADS_1
Terima kasih.