Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Rahasia Banu


__ADS_3

Juna tersenyum dengan menahan rasa kebas pada wajahnya. Dia menyerang balik yang berhasil ditangkis oleh Ega.


Tidak hanya dirinya yang bertarung tapi yang lainnya masih berjuang melumpuhkan lawannya yang tidak pernah mereka anggap remeh.


Beberapa menit berlalu dalam waktu cukup lama akhirnya mereka berhasil melumpuhkan anak buah Juna.


Sedangkan Ega masih melakukan perlawanan.


Dia memukul, menendang, meninju dan menangkis. Serangan bertubi-tubi terjadi di antara mereka berdua membuat tenaga Ega terkuras. Ega tidak ingin menyerah. Dengan gigih dia berjuang untuk melumpuhkan lawannya.


Beni merambat hendak membantu isteri untuk melumpuhkan Juna. Namun langkahnya harus terhenti saat mendengarkan teriakan dari seseorang.


"Berhenti, kalau tidak Pisau ini akan menggores wajah mulus Wanita ini," ucap seorang Pria yang dipastikan anak buah Juna.


"Umiiii."


Ega, Beni dan Banu Hardian berbarengan memanggil nama Umi. Mereka bertiga sungguh syock mengetahui kenyataan kalau Citra Hardian di jadikan sandera.


Seketika itu mereka menghentikan perlawanan. Bukan hanya itu saja, anak buah Juna sudah tumbang. Tidak ada satupun yang mampu berdiri untuk melakukan serangan lagi.


"Kamu memang patut dibanggakan. Tidak sia-sia saya membayarmu mahal," ucap Juna senang. Dia melemaskan otot-ototnya yang terasa sakit akibat serangan Ega.


"Kamu memang tangguh, Ega. Seranganmu berhasil mengenai sasarannya. Saya pikir, pukulanmu itu hanya menggapai angin. Baru terasa sekarang," ucap Juna selanjutnya dengan senyum tipis yang sulit dimengerti.


"Lepaskan Isteri saya, berani-beraninya kamu menyanderanya," ucap Banu menggelegar. Suara itu berhasil menghantam gendang telinga yang mendengarkannya.


"Tidak, turuti dulu kemajuan Tuan kami, Juna," sahut Pria itu tidak kalah lantang.


Citra yang berada dalam tekanan berusaha untuk bersikap tenang meskipun keringat dingin bermunculan.


"Juna, lepaskan Umi?" pinta Ega memohon.


"Hahahahaha."


"Apa imbalannya?" tanya Juna diawali dengan tawa.


"Apa keinginan kamu?" Ega berbalik bertanya.


"Inginku kita bermain-main sejenak. Apa kamu setuju Ega?"


"Langsung katakan jangan bertele-tele," ucap Ega gusar.


Juna mengambil sesuatu dari balik Kantong Celananya. Sebuah Pisau yang masih terbungkus sarungnya.


"Bagaimana kalau saya meminta kamu untuk menusuk Abi atau Pelayan tak beruntung itu dengan Pisau ini, maka Ibu Mertua kamu akan saya lepaskan."


Juna mengajukan penawaran yang membuat semuanya terbelalak tak percaya.


"Biad*ap kamu Juna," ucap Beni tidak bisa lagi mengendalikan kemarahannya. Tangannya mengepal kuat ingin sekali menghantam mulut tak berakhlak itu.

__ADS_1


"Itu salahmu ikut campur dalam masalah ini, bisa jadi kamu akan dikorbankan," sahut Juna dingin. Dia tersenyum mengejek lalu tertawa bahagia melihat wajah Ega yang memucat.


"Ante benar-benar jahat Juna. Tidak menyangka kita berteman dengan Manusia yang tidak memiliki hati macam ante," ucap Rian tak tahan dengan kelakuan jahat Sahabatnya.


"Tenang dong Mas Rian. Ane tahu tampang saya ini Ganteng sehingga membuat Mas Rian iri, kan!" ucap Juna menyombongkan diri.


"Jangan sombong ante Juna. Setiap perbuatan jahat pasti balasannya lebih menyakitkan. Tunggu saja Juna, kita pasti mampu melumpuhkanmu," sahut Rian sengit.


"Oh ya, buktikan! saya yakin kamu tidak akan berhasil mengalahkanku. Jadi diamlah jika tidak ingin saya mendatangi Fiza dan mengatakan I Love You Fiza. Dia pasti akan klepek-klepek, deh! Habis itu di hadapanmu saya akan menodainya. Setelah puas baru saya campakkan. Saya dengan senang hati mempersilahkan Mas Rian untuk memungutnya."


Kata-kata Juna sangat menyakitkan yang membuat Rian seketika menggerutukkan giginya. Dia mengepalkan tangan ingin segera menghantam mulut kotor itu. Namun niatnya urung mengingat Citra dalam genggaman mereka.


"Baji**an kamu Juna," teriak Rian murka.


"Hahahaha."


Juna kembali memperdengarkan tawanya.


Dipta dan Evan tak berkomentar apa-apa. Mereka berdua lebih fokus untuk mengatur siasat agar keberuntungan berpihak kepada mereka.


Tentunya mereka ingin keluar dari situasi pelik ini.


"Sampaikan dengan jelas apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Ega meredakan suara tawa Pria itu. Dia menyadari antara Rian dan Juna suasananya sudah mulai memanas. Rian sangat murka dengan ketidak sopanan Pria itu.


"Apa kamu ingin tahu?" tanya Juna serius.


Juna memandang Ega dengan kekaguman yang terlihat nyata. Wanita ini sungguh tegas dan tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Setelah puas baru tersenyum, dia sengaja tak menjawab langsung hanya ingin membuat Ega kian gusar.


"Ketiga karena dendam. Seharusnya saya yang menjadi Putra dari Banu Hardian tapi malah tidak mau mengakui keberadaanku. Lelaki ini dengan tega membuang seorang Wanita saat sedang mengandung anaknya. Dia menghamili seorang Gadis tapi tidak mau menikahinya. Dia lebih memilih menikahi Gadis lain dari pada harus bertanggung jawab. Gadis itu adalah Ibuku dan saya adalah anaknya itu. Lelaki ini bak Malaikat tapi ternyata seorang Iblis. Asal kalian tahu kebenarannya, sekarang Ibuku menjadi gila dan harus menerima penderitaan bertahun-tahun. Apa Kalian ingin tahu laki-laki itu? Dia adalah Banu Hardian."


Pada akhirnya Juna menceritakan kisah pilunya. Terlihat matanya nanar penuh dengan luka yang dipendamnya selama ini. Perubahan itu begitu cepat terjadi padahal sedari tadi Juna menunjukkan wajah datarnya.


Semua orang-orang yang mendengarkan lagi-lagi terkejut terlebih Banu Hardian.


"jangan mengarang cerita. Saya tidak pernah menodai seorang Gadis dan membuatnya mengandung lalu melahirkanmu?" Banu membantah pernyataan yang di lontarkan oleh Sahabat anaknya. Dia tidak pernah melakukan hubungan haram apalagi tidak bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya seperti yang dituduhkan oleh Pemuda ini.


"Lihatlah masih saja mengelak. Apa Ega, Menantu kesayangan Abi harus merobek pita suara Abi dulu baru Abi akan mengakuinya?" ucap Juna lantang.


Sementara Beni, dia sangat bingung dengan situasi ini. Dia benar-benar belum mengerti apa yang terjadi. Ada rahasia apa yang hendak ditunjukkan oleh Juna.


"Siapa Ibu kamu?" tanya Citra.


"Baiq Ranum Kalisa," sahut Juna. Saat menyebut nama Ibunya terlihat matanya berkaca-kaca. Ada kepedihan yang dia simpan dalam hatinya serapi mungkin. Dan kini kepedihan itu dia tumpahkan di hadapan dua orang yang menjadi tujuan amarahnya.


"Ranum? jadi kamu anaknya Ranum?" tanya Citra memperjelas.


Juna menggangguk.


"Sudah bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu Ranum. Ibumu Sahabat baik Abi Banu dan berkuliah pada kampus yang sama. Sedangkan Umi berkuliah pada tempat yang berbeda." Citra mulai bercerita.

__ADS_1


Flash back


"Banu, Citra aku hamil."


"Apa? Siapa yang melakukannya, Ranum?" tanya Banu terkejut. Bukan hanya Banu yang terkejut tapi seorang Gadis yang bersama mereka pun ikut terkejut. Mereka saat ini sedang berkumpul seperti biasanya untuk menikmati waktu rehat setelah disibukkan oleh segala aktivitas sebagai Mahasiswa.


"Mandala, dia yang memaksaku untuk melakukan perbuatan hina itu. Dia menjebak dan melecehkanku," jawab Ranum dengan terbata-bata. Seusai bercerita dia menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan segala kesakitan yang dirasakannya.


"Astaghfirullah." Banu dan Citra beristighfar dalam waktu bersamaan.


Citra meraih tubuh rapuh Gadis itu kemudian membawanya dalam pelukan. Ranum menangis dalam pelukan teman baiknya.


"Kamu tenang ya, saya akan membuat Mandala bertanggung jawab. Dia harus merasakan pukulan ini dulu baru memintanya menikahimu," ucap Banu berusaha menenangkan meskipun dalam hatinya di liputi amarah.


"Tidak, aku tidak mau menikah dengan Mandala." Ranum menolak. Tangisnya semakin pecah terdengar sangat pilu tak ingin hidup bersama Lelaki itu.


"Terus kamu mau menikah dengan siapa? Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apa kamu mau anak ini tidak memiliki Bapak meskipun tidak bernasab pada Ayah biologisnya?" tanya Banu. Dia cukup heran dengan penolakan dari Sahabatnya itu.


"Aku ingin menikah dengan kamu, Banu. Aku mohon nikahi aku dan berikan status untukku dan anak ini. Aku mohon, hanya kamu yang aku percaya bisa melindungi dan membahagiakanku." Ranum memohon dengan wajah memelas. Dia meminta kesediaan Banu untuk menikahinya karena hanya Lelaki itu yang dia inginkan bukan orang lain.


Permintaan Ranum mengagetkannya. Dia tidak mungkin bisa mewujudkan itu karena rasa itu tidak ada untuknya. Banu hanya menganggap Ranum sebagai Sahabat tidak lebih dari itu.


"Ranum, saya menghargai perasaan kamu. Namun saya tidak bisa menumbuhkan rasa ini untuk kamu karena ada Gadis lain yang saya sayangi. Lagipula Mandala sangat mencintai kamu jadi menikahlah dengannya. Mungkin saja dia melakukan ini semua sebagai cara untuk memiliki kamu. Kamu tahu sendiri dia berusaha untuk menyentuh hatimu dan mendapatkan perhatianmu, namun kamu selalu menolaknya. Sebab itulah dia nekat melakukan ini semua." Banu berusaha untuk memberikan pengertian kepada Ranum. Dia mengenal tabiat Gadis ini. Segala keinginan harus didapatkan kalau tidak dia tidak akan bisa menerimanya dengan ikhlas.


"Jadi kamu membenarkan apa yang dilakukan Mandala? tidak menyangka kamu sama buruknya dengannya," sahut Ranum sedih. Dia tidak terima dengan keputusan Banu. Ada keinginan yang selama ini di pendam. Dia ingin hidup bersama Banu dan hidup bahagia bersamanya. Namun kenyataannya Pria lain telah mengambil Mahkotanya, itu artinya dia telah menghancurkan harapan pada masa depannya. Tentu hal ini sebagai alasan Banu menolaknya. Itu asumsinya tapi sebenarnya bukan itu yang membuat Lelaki itu menolaknya. Mengetahui kenyataan ini menumbuhkan rasa benci di hati Ranum.


"Bukan begitu, saya juga tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh Mandala,jangan salah faham." Banu menjelaskan. Dia tidak bermaksud mendukung tindakan yang dilakukan oleh Lelaki bernama Mandala. Banu hanya mengingatkan betapa besar cinta Mandala kepada Ranum sehingga nekat memiliki Ranum dengan cara hina itu.


"Jadi kamu tidak mau menikahiku? sementara aku mencintaimu dan impian terbesarku saat ini hanya ingin hidup bersama kamu sebagai pasangan Suami Isteri tidak lagi sahabat." Ranum menanggapi penolakan Banu dengan pengakuan. Setiap kata yang terucap berharap berhasil menyentuh hati Banu sehingga mau menjadikan sebagai pasangan hidup Pria tampan itu.


"Saya tidak bisa menyambut cintamu, maaf. Ada Gadis lain yang telah saya pinang dan kini di hatinya telah tumbuh cinta untuk saya. Saya pun mencintainya dan tidak mungkin menyakiti hatinya, maafkan saya Ranum." Banu berterus terang dan berusaha untuk memberikan pengertian kepada Ranum bahwasannya cinta itu tidak bisa dipaksakan dan kebersamaan itu sangat sulit untuk di raih. Banu telah memilih hati seorang Gadis yang menemani hidupnya.


"Siapa Gadis itu?" tanya Ranum dengan nada tak suka.


"Gadis itu Citra dan saya sudah melamarnya," jawab Banu tidak ingin menutupi semuanya.


Ranum melepaskan pelukan dari tubuh Citra. Dia kemudian menatap Citra dengan pandangan tak suka dan kebencian. Air mata yang terus-terus mengalir di seka. Wajahnya semula sendu kini berubah penuh amarah.


"Berani-beraninya kamu mengambil Banu dariku," ucap Ranum kemudian.


Plak


Ranum melanjutkan dengan tamparan membuat Citra terkesiap karena tidak menyangka Gadis cantik itu akan tega melakukannya.


"Banu dan kamu Citra, akan aku buat hidup kalian menderita dan tidak akan pernah bahagia. Tunggu saja!"


Bersama kata-kata terakhirnya, Ranum meninggalkan Banu dan Citra yang terlihat mematung karena terkejut tidak menyangka dengan tindakan yang dilakukan Sahabatnya itu.


Plash back end.

__ADS_1


__ADS_2