Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
46. Gurauan Dipagi Hari.


__ADS_3

Ega tersadar dari tidur saat mendengar orang mengaji di Masjid yang ada di area Perumahan kediaman keluarga Hardian.


Dia ingin beringsut dari ranjang namun tangan Beni mencegahnya dengan memeluk erat pinggang rampingnya.


"Kak Beni, lepas dong. Sudah mengaji itu sebentar lagi mau Subuh." Pinta Ega berusaha melepaskan diri dari pelukan Suaminya.


"Sebentar saja sayang, Aku ingin menikmati kenyamanan ini sebentar saja. Bagaimana kalau kita mengulang lagi yang semalam?" Sahut Beni mengeratkan pelukannya.


"Apa Kak Beni belum puas? semalam kita sudah melakukannya beberapa kali. Rasa sakitnya masih terasa eh malah minta lagi." Gerutu Ega berusaha melepaskan diri.


"Sudah puas sih tapi pingin nambah lagi. Habis rasanya lezat banget, hangat." Ucap Beni masih asyik dengan memeluk Isterinya. Tangannya mulai nakal meraba dada milik Isterinya hendak mencari gunung kembar. Ketika tangannya sudah menemukan apa yang dicari dengan lembut dia meremas gunung kembar milik Isterinya yang membuat Ega terlonjak kaget.


"Kak Beni, geli lo!"


"Tapi kamu suka kan?"


Ega hanya terdiam malas menanggapi tingkah Suaminya yang mesum.


"Pingin lagi, sebentar saja. Aku akan bermain dengan cepat dan sekali tembakan karena aku sudah tahu jalan menuju ke gua kenikmatan." Selesai mengucapkan itu Beni langsung saja melancarkan aksinya menikmati kelezatan dan kehangatan kepunyaan Isterinya. Benar saja apa yang dikatakannya. Dia melakukan sekali tembak dan dengan langkah cepat menyusuri Gua kenikmatan milik dari Isterinya itu.


Beberapa menit menikmati itu, Beni tepar di samping tubuh Isterinya lalu istirahat sebentar untuk memulihkan kembali staminanya.


"Kamu benar-benar luar biasa sayang, I Love You." Bisik Beni di telinga Isterinya yang masih tergulai lemah. Ega diam saja menikmati hembusan nafas Suaminya. Ada getaran yang sudah ada di hatinya dan getaran itu terasa nyata semenjak ciuman pertama itu. Apakah dia sudah mencintai Laki-laki yang merupakan sahabatnya dan sekarang sudah menjadi Suaminya?. Entahlah, dia belum memikirkan hal itu. Dia hanya tahu saat ini hatinya sedikit demi sedikit sudah mulai pulih karena terobati oleh cinta yang diberikan oleh Suaminya yakni Laki-laki bernama Beni Hardian.


Jodoh, tidak ada yang pernah tahu siapa dia? Kita melalang buana mencarinya. Menempuh jarak yang jauh bahkan rela melewati semak belukar tapi ternyata jodoh itu sungguh dekat. Orangnya ternyata dekat dengan kita yang tidak pernah disangka. Kalau tahu itu tidak perlu lelah mencari. Tapi seperti itulah kita dituntut untuk berjuang mencari dan menemukannya.


"I Love You To." Akhirnya kalimat balasan itu meluncur juga dari bibir Ega.


Beni beringsut dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandinya. Baru saja hendak membuka handle pintu.


"Awww." Pekik Ega menahan rasa sakit di area bawah perutnya. Sebenarnya Ega berusaha menahan rasa sakit itu dari semalam tapi kenapa rasa sakit itu semakin terasa saat dirinya berjalan.


"Apa itu sangatlah sakit? Maafkan aku." Ucap Beni menghampiri Isterinya lalu dengan tanpa menunggu persetujuan, dia menggendong tubuh Isterinya dan membawanya ke Kamar mandi.


"Mau apa?" Tanya Ega ketika Beni tidak beranjak pergi meninggalkan dirinya dikamar mandi.


"Mau mandi bersama." Jawab Beni singkat.


"Malu." Sahut Ega dengan rona merah pada wajahnya.


"Bertempur enggak malu, mandi bersama kok malah malu? kamu tuh ya ngegemesen." Ucap Beni sembari mengguyur tubuh Isterinya dari kepala. Sebelumnya Ega bersuci dulu dari hadas kecil lalu berwudu begitu juga Beni melakukan hal yang sama.


"Kak Beni enggak macem-macem kan?" Tanya Ega sedikit khawatir jika Beni lagi melakukan aksinya.


"Tenang saja, walaupun macem-macem juga enggak ada yang larang. Kamu kan Isteri aku." Goda Beni dengan senyum nakalnya.


"Haneh mulai dah mesumnya. Kalau nambah lagi Kak Beni telat Shalat berjamaahnya nanti." Ega mulai sewot dengan wajah ditekuk.


"Tenang saja aku tidak akan melakukannya disini. Lagipula disini tempat kita mandi bukan tempat kita bertempur. Bertempurnya diatas ranjang." Ucap Beni menenangkan pikiran Isterinya.


Mereka berdua mandi besar bersama tanpa melakukan aktivitas tanbahan. Selesai mandi Beni menuju ke Masjid sendirian karena Abi dan Sahabat-sahabatnya sudah lebih dulu menuju Masjid. Sedangkan Ega Shalat di Musholla berjamaah dengan Para Wanita.


Pagi menjelang, di Meja Makan keluarga Hardian sudah berkumpul Abi Banu, Umi Citra, Anisa, Beni dan Ega bersama Para Sahabat.


Tumben pagi ini terasa begitu ramainya karena kehadiran Tujuh Sahabat yang menginap semalam di Rumah Orang Tua Beni.


"Beni, tadi ane bertemu dengan Bidadari berkerudung Cokelat. Kira-kira ante tahu enggak siapa dia?" Tanya Rian memulai pembicaraan.


"Enggak." Jawab Beni singkat.


"Ante ya masak Tetangga sendiri enggak tahu?" Sewot Rian atas jawaban yang tak dia inginkan dari Beni.


"Lagian mana saya tahu Gadis yang kamu maksud. Lihat aja enggak pernah. Saya bukan Petugas Dukcapil yang mensensus penduduk." Beni menanggapi kesewotan dari Sahabatnya.


"Tak pikir kamu lihat tadi, orangnya berkulit putih terus hidungnya mancung dan wajahnya oval." Rian berusaha menceritakan ciri-cirinya.

__ADS_1


"Gadis itu? saya juga lihat. Lumayan cantik sih tapi lebih cantik Nina." Evan menimpali.


"Iya sih lebih cantik Nina tapi Nina barang lama pinginnya barang baru biar seger penglihatannya. Lama-lama bosen lihat Nina terus." Sahut Rian menanggapi.


"Nah ini tanda Laki-laki tak setia. Lihat cewek bening sedikit yang lama dilempar dengan alasan bosan memandangnya." Umi Citra ikut mengomentari pembicaraan anak muda yang merupakan Sahabat anaknya.


Mendengarkan itu, Rian tersipu malu dan merasa di skakmak.


"Tuh denger, perkataan dari Umi. Memangnya Wanita itu Baju apa? setelah bosan terus disimpan enggak mau dipakai lagi begitu mendapatkan yang baru." Juna ikutan menyerang Rian yang terlihat sudah terpojok.


"Ante ya hep, belum puas apa berpetualangannya. Sekarang kamu bilang Gadis itu cantik setelah menemukan yang lebih dari Gadis yang saat ini kamu kenal, nanti kamu bilang bosen melihatnya dan beralih sama yang baru ditemukan. Sampai kapan Mas Rian?" Dipta ikut menambahi tentu saja membuat Rian benar-benar terpojok dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Jangan diserang Mas Riannya. Kasian, dia belum kesandung cinta yang membuatnya tersungkur lalu Bucin. Ada saatnya nanti dia merasakan efek dari apa yang ditanam sekarang. Berikan kesempatan untuk menikmati masa jayanya sekarang sebelum masa sulitnya meraih cinta yang membuatnya sesak." Ucap Ega menambahkan kekalutan dari seorang Rian.


"Kata-katamu itu lo Ga, awalnya sangat enak didengar pada akhirnya nyesek untuk dicerna. Kamu itu menghibur ane atau hendak membanting ane sih? sama saja kalian semua sedang menyerang ane." Sahut Rian terdengar pilu.


"Hahahaha."


Mereka tertawa melihat wajah Rian yang tidak sedap dipandang mata.


"Tenang saja Rian, nanti saya nyari tahu siapa Gadis berjilbab cokelat yang menjadi incaranmu itu." Ucap Beni menenangkan pikiran Rian.


"Benar kah? kamu benar-benar sahabat yang paling baik." Sahut Rian terlihat begitu bahagia. Awan mendung yang menutupi wajahnya sedikit bergeser.


Mereka melanjutkan sarapan sembari mengobrol dengan penuh kekeluargaan. Setelah mereka selesai sarapan mereka melanjutkan dengan aktivitas masing-masing.


Abi Banu dan Beni menuju ke Perusahaan sedangkan Dipta, Juna dan Rian menuju ke tempat kerja masing-masing. Begitu juga Evan kembali ke sarangnya di Desa Jenever. Beni hendak mengurus cutinya sehingga masuk Kantor.


Hanya Umi Citra dan Ega yang masih tinggal di rumah.


" Nak Ega enggak ke Kantor?" Tanya Umi Citra melihat Menantunya masih menggunakan baju santainya. Saat itu Ega sedang bersama Anisa hendak mengantarkannya ke Sekolah.


"Enggak Umi, saya sudah menelpon Mbak Ana meminta tolong dia yang mengurus cuti saya. Insha Allah sekarang sudah diproses oleh Mbak Ana. Saya juga sudah menelpon Ibu Erika." Jawab Ega menjelaskan.


"Jadi begitu, Iya sudah Umi ke Galery dulu sebentar nanti kita bahas mengenai acara Nyongkolan kalian." Ucap Umi Citra berpamitan kepada Ega dan Anisa yang disambut cium tangan dari Menantu dan Cucunya.


"Alhamdulillah sudah sampai. Belajar yang rajin ya sayang nanti Mama jemput." Ucap Ega sembari mencium pucuk kepala Anisa.


"Nggih Mama." Sambut Anisa tersenyum bahagia menikmati sentuhan hangat dari Mamanya itu. Dia segera meraih punggung tangan Ega setelah Wanita itu melepaskan ciumannya lalu mencium punggung tangan Ega.


Anisa melangkah memasuki kelasnya dengan wajah ceria. Senyum itu tidak lepas dari bibir mungilnya.


"Apa Anda Mama Tirinya Anisa?" Seseorang tiba-tiba saja menyapa Ega.


"Tidak, saya bukan Mama Tirinya tapi Mamanya Anisa." Jawab Ega dengan santai sembari tersenyum ramah.


"Kenalkan saya Ega." Sambung Ega sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Saya Santi, Ibunya Anggi teman sekelas Anisa." Sahut Wanita yang bernama Santi. Matanya masih asyik meneliti Ega dengan melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala yang terbungkus Gamis dan hijab. Berbeda dengan penampilan dirinya yang modis dengan lengan terbuka.


"Senang berkenalan dengan Anda." Sambut Ega memberikan senyum ramahnya.


"Aku dengar kamu baru kemarin dinikahi oleh Beni sedangkan Anisa anak Beni yang tidak jelas siapa Ibu Kandungnya. Apa mungkin kamu Ibu Kandungnya dari hubungan gelap kalian berdua terus baru diresmikan sekarang pernikahan kalian." Tiba-tiba Wanita itu menyerang Ega dengan pertanyaan yang berbau fitnahan.


Ega terkaget dengan apa yang diucapkan Wanita yang bernama Santi. Kenapa Wanita ini mengurusi rumah tangganya. Sebenarnya apa maunya dari Wanita yang baru dikenalnya? Tentu saja kebingungan dan tanda tanya meliputi diri Ega.


Huft


Ega menarik nafas panjang lalu melepaskan secara perlahan untuk menenangkan dirinya.


"Hari pertama bertemu dengan seseorang yang mengusik kehidupan rumah tanggaku. Sabar, sabar, sabar." Ucap Ega dalam hati berusaha bersikap tenang.


"Jika tidak tahu kebenarannya lebih baik diam karena takutnya tergelincir kedalam jurang fitnah. Itu kan memalukan! permisi Bu. Assalamualaikum." Ucap Ega dengan santainya sembari berpamitan lalu meninggalkan Ibu itu yang terlihat kesal. Ega benar-benar sangat terkejut mendapatkan serangan dadakan. Serangan yang mengusik ketenangan anaknya Anisa.


"Aneh, enggak kenal juga kok main senggol-senggolan." Batin Ega merasa risih dengan perkataan tak berfaedah itu. Anisa memang bukan lahir dari rahim dirinya namun Anisa adalah anaknya tidak peduli siapapun Orang Tuanya.

__ADS_1


"Bener-bener dah tidak memikirkan perasaan anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang jati dirinya. Biarlah Anisa menjadi anakku dan juga anak dari Suamiku Beni." Sambung Ega menggerutu sendiri saking kesalnya.


Ega meninggalkan Sekolah dengan membawa rasa dongkol yang teramat menyengsarakan dirinya meskipun berusaha mengusir rasa tidak enak itu tapi karena anaknya sedang diusik ketenangannya tentu saja membuatnya emosi.


Beberapa menit kemudian Ega sampai juga di Rumah Mertuanya. Dia memarkirkan Sepeda Motor yang digunakannya lalu berusaha menenangkan dirinya sebelum masuk ke dalam rumah.


Ega masuk kedalam rumah langsung menuju ke Dapur. Di Dapur dia menemukan Bik Siti tengah sibuk dengan rutinitas sehari-seharinya yang sebenarnya membosankan.


"Saik Siti, lagi masak apa?" Tanya Ega begitu sampai di Dapur.


"Eh ada Nyonya Muda, lagi masak Opor ayam dan sayur Capcai." Sahut Ibu Siti sembari memamerkan senyum ramahnya.


"Jangan panggil Nyonya Muda dong? Panggil saja Nak Ega, itu lebih akrab dan penuh kekeluargaan. Lagipula enggak enak dipanggil Nyonya Muda. Jika dalam surat menyurat biasanya Nyonya disingkat NY. Saik tahu enggak apa maksudnya?" Ucap Ega panjang lebar.


"Tidak Nyonya Muda." Sahut Bik Siti penasaran.


"Nyonya itu ya maksudnya Nyuci, Nyetrika, Nyapu dan lebih terpenting maksud dari Nyonya itu NYelayanin Suami di Ranjang." Ucap Ega sembari tersenyum.


"Ya Allah jadi itu maksudnya dari kata Nyonya. Nyonya Muda ada-ada saja. Hahahahaha." Bik Siti tertawa renyah begitu mendengarkan maksud kata Nyonya. Tawa Bik Siti menggema di Rumah keluarga Hardian tentu saja membuat Tukang Kebun dan Pembantu lainnya bergegas menghampiri Bik Siti.


"Ada apa Bik Siti? kok kelihatan bahagia banget?" Tanya Tukang Kebun yang bernama Bogi.


"Iya nih, bahagia sendirian saja enggak bagi-bagi." Ucap seorang Pembantu yang terlihat masih muda ikut nimbrung dengan pembicaraan Bik Siti.


"Nah ini Nyonya Bogi sama Nyonya Maryam sudah hadir." Ucap Ibu Siti menyahuti mereka berdua tentu saja membuat Ega mengulum senyumnya sedangkan Tukang Kebun yang bernama Bogi dan Pembantu yang bernama Maryam terheran dengan panggilan Nyonya yang disematkan kepada mereka berdua.


"Maksudnya?" Tanya mereka berdua dalam waktu bersamaan.


"Gini lo, tadi Nyonya Muda bilang Nyonya itu sebenarnya maksudnya semua yang berhubungan dengan aktivitas Ibu rumah tangga seperti Nyapu, nyuci dan Nyetrika. Kalau untuk Bogi sih Nyonya Nyebun dan untuk Maryam Nyonya Nyapu dan Nyepel sedangkan saya Nyonya Nyasak sedangkan Nyonya Muda Nyelayanin Den Beni di Ranjang." Ucap Bik Siti menjelaskan tentu saja membuat yang mendengarkan tertawa lebar.


"Wkwkwkwkwkwkw."


"Bik Siti ada-ada saja, maksa banget kata-katanya." Maryam mengomentari perkataan Bik Siti tentang NY setelah ia meredakan tawanya.


"Memang seperti itu tugas seorang Nyonya."


"Itu sih Nyonya yang kehidupannya dibawah garis kemiskinan kalau Nyonyanya seperti Umi Citra dan Nyonya Muda mah beda. Pasti tugasnya hanya Nyalon, Nyopping dan Nyalan-nyalan. Bukan seperti itu kan?" Ucap Maryam menyampaikan perbedaannya.


"Sama saja tergantung orangnya mau enggak mengerjakan semua aktivitas Ibu rumah tangga. Ibu Rumah Tangga menurut saya pekerjaan yang sangat mulia tapi terkadang sering direndahkan dan kalah dengan Wanita Karier. Bayangkan kita merangkap jadi Guru, Dokter, Perawat dan masih banyak profesi lainnya yang bisa dikerjakan oleh seorang Ibu Rumah Tangga alias Isteri. Keberhasilan dan kesuksesan keluarga terletak pada ikhlasnya seorang Isteri yang mengurus keluarganya tentu didukung oleh penghargaan dari Suaminya." Ucap Ega memberikan pendapatnya.


"Bener juga, Isteri yang memilih menjadi Ibu Rumah Tangga adalah Pekerja ikhlas yang tak memiliki upah dan seorang Isteri adalah perencana Anggaran biaya Rumah Tangga sekaligus sebagai pelaksana Anggaran dan belanja rumah tangga yang handal." Komentar Maryam terlihat bahagia dengan kalimatnya.


"Betul, pinter banget." Puji Ega kepada Maryam salah satu Pembantu paling muda dan masih lajang dari keluarga Hardian.


Setelah mereka puas mengobrol. Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun sebenarnya sudah selesai di kerjakan. Ega memilih untuk menata kamar Pribadi Beni sebelum ia menjemput Anisa.


Malam harinya Ega menemani Anisa untuk belajar. Dengan sabar Wanita itu menjawab dan menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Putrinya.


"Terakhir Ma, Ulul Azmi dan Nabi dan Rasul yang termasuk dalam ulul Azmi itu siapa saja?" Tanya Anisa menyampaikan soal terakhir.


"Ulul Azmi ya? Ulul Azmi adalah sebuah gelar khusus bagi golongan rasul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa. Jadi golongan rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi adalah Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. Sesuai yang dijelaskan dalan Surat Al-Ahqaf Ayat ke-35 dan Asy-syura ayat ke-13." Ega menjawab pertanyaan Anisa dengan detail dan berulang-ulang agar Anisa bisa menulisnya dengan baik dan juga bisa dihafalnya.


"Alhamdulillah, sudah jadi Ma." Ucap Anisa merasa bahagia karena sudah ada Mama disisi nya yang akan selalu menemaninya belajar


"Terima kasih Ma." Sambunya berterima kasih.


"Sama-sama sayang, sekarang waktunya Anisa tidur. Sebelum tidur kita gosok gigi dulu baru berwudu dan....."


".......Berdoa kan Ma." Potong Anisa.


"Iya sayang, pinter anak Mama." Balas Ega membimbing Anisa ke kamar mandi. Beni yang ada disana menemani kedua Wanita yang sangat dicintainya tersenyum bahagia melihat keakraban mereka berdua yang saling menyayangi. Beni meninggalkan mereka berdua sebelum mereka menyadari keberadaannya.


Anisa dan Ega kembali ke kamar tidur lalu berdoa yang dibimbing oleh Mamanya. Setelah selesai berdoa Anisa tidur telentang menghadap kanan dan Ega masih asyik menemaninya dan meninabobokkan Anisa dengan membacakan satu surat pendek berulang-ulang agar dengan mudah dihafal oleh Anisa.


Memastikan Anisa tertidur lelap baru Ega meninggalkan Gadis kecil itu dengan memberikan kecupan sayang pada pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Mama janji akan selalu melindungimu Nak dari orang-orang yang berusaha mengusik ketenangan kita." Batin Ega menatap wajah polos yang sudah berada dalam mimpi indahnya.


Bersambung.


__ADS_2