Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
68. Terjatuh


__ADS_3

"Sudah enggak usah menggerutu, kita lanjutkan perjalanan." Juna menenangkan hati sahabatnya itu.


Berhubung tidak ada lagi pembahasan. Rombongan itu melanjutkan perjalanan. Ada keriangan yang terlihat pada sepasang Kekasih yang baru resmi jadian. Terdengar senda gurau mengalir begitu saja. Seperti aliran air terjun yang tumpah memperdengarkan suara gemericik yang syahdu.


Mereka berjalan beriringan, menapaki anak tangga yang semakin menanjak. Dibarengi dengan obrolan dan senda gurau yang semakin mengakrabkan mereka.


Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba seseorang menabrak seorang Wanita yang membuatnya oleng. Wanita itu terpental dan seketika itu juga tangannya terlepas dari genggaman Suaminya.


"Astaghfirullah, Egaaaaa!" Beni berteriak melihat tubuh Isterinya terpental. Juna yang ada di belakang spontan menahan tubuh dari Wanita itu. Karena posisi yang tidak menguntungkan keduanya terperosok. Terlihat tubuh mereka berguling-guling menuju ke arah jurang.


"Bruuuuukz."


Terdengar suara tubuh keduanya terjatuh di jurang yang terlihat dalam.


"Egaaaaaa!"


Junaaaaaaa!"


Terdengar pekikan Beni memanggil keduanya. Pun begitu dengan Dipta yang berada di posisi belakang.


"Maaf Bang, saya tidak sengaja," ucap seorang remaja Lelaki mengatup tangannya. Dia terlihat panik dan ketakutan. Wajahnya terlihat pucat pasi.


Beni menatap pemuda itu dengan mata Elang yang siap mencabik tubuhnya.


"Kamu jangan kabur, kalau terjadi sesuatu dengan kedua sahabat saya, habis kamu!" ucap Dipta mencekal tangan pemuda itu.


Mendengarkan teriakan Beni dan Dipta, orang-orang yang berjalan pulang maupun datang berhenti seketika itu untuk bertanya apa yang terjadi?


"Ada yang jatuh ke jurang."


"Astaghfirullah."


Mereka terkejut mendengarkan jawaban apa yang sedang terjadi.


Tanpa pikir panjang, Beni segera mau turun namun ditahan oleh Dipta.


"Bahaya, kamu bisa terjatuh." Dipta menahan langkah Beni yang hendak turun tanpa pengaman apapun.


"Dipta, Isteri saya disana dan juga Juna. Mereka jatuh, saya harus segera menolong mereka," sahut Beni segera melangkah menjejakkan Kakinya.


"Iya, saya mengerti. Kamu harus pakai pengaman. Kita minta bantuan dulu. Bukannya berhasil menyelamatkan mereka malah kamu yang tidak tertolong." Dipta kembali berbicara menenangkan pikiran Beni. Mereka sekarang dalam keadaan panik, tentu saja harus berpikiran tenang sebelum melakukan sesuatu.


"Pakai tali tambang ini Beni." Evan menyodorkan.


Evan, Rian, Fiza dan Amanda sudah ada ditempat beserta beberapa orang yang terlihat seperti Tim penyelamat. Pada saat Ega dan Juna terjatuh, mereka ada di depan. Kejadiannya sangat cepat sehingga tidak bisa menolong Ega dan Juna.


Evan dan lainnya berbalik menuju tempat Beni dan Ega. Dan pada saat itu Evan segera menghubungi kenalannya yang ada di kawasan itu. Beberapa menit kemudian, kenalannya itu segera bergerak ke Lokasi.


"Tenang Bang, kita akan evakuasi mereka," ucap salah satu yang merupakan pimpinan dari Tim itu.


Sementara di dalam jurang tubuh Ega tertahan oleh sebatang pohon. Seolah pohon itu menghadang laju tubuh itu. Juna yang ikut terjatuh berusaha meraih akar pohon untuk mendekati keberadaan Ega. Dia melihat tubuh Ega tidak bergerak sehingga membuat Juna kian panik. Dia berusaha berpegangan pada apapun yang diraihnya. Dia tidak peduli rasa sakit pada anggota badannya, terpenting baginya bisa menyelamatkan sahabatnya itu.


"Ega, sadarlah! ini aku Abang kamu," ucap Juna menepuk pipi Wanita itu.

__ADS_1


"Ini tidak lucu Ga, sadarlah. Abang tidak mau kehilangan kamu seperti aku kehilangan Nara." Juna berteriak histeris. Dia meraih tubuh tak berdaya itu lalu memeluk dengan erat.


"Jangan tinggalkan abang, aku mohon sadarlah. Apapun akan abang lakukan agar kamu sadar." Juna berbicara, dia tidak sadar air matanya tumpah. Dia melihat wajah Ega memucat, nafasnya tersenggal.


Melihat itu Juna semakin panik. Ega sadar tapi dia tidak mampu untuk berkata. Bahkan nafasnya terlihat berat.


"Ega, kamu bertahan ya. Demi Beni, sekarang dia pasti sedang khawatir. Dia pasti akan turun untuk menyelamatkan kita. Kamu harus bertahan Demi Beni dan juga demi aku. Abang yakin kamu bisa, iya kamu bisa."


Juna tetap saja berbicara bersama tetesan air matanya. Dia memeluk tubuh wanita itu dengan eratnya. Ada rasa ketakutan di hati jika ternyata sahabatnya itu tidak memiliki nafas lagi. Dia memeriksa denyut nadi Ega yang masih dirasakannya. Dia sangat bersyukur akan hal itu.


"Ega, aku akui aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku takut kehilangan kamu karena itulah kamu harus kuat, kamu bertahan ya. Aku, aku mencintaimu Ega sekarang sadarlah. Beni sedang menunggumu, akupun begitu."


Juna, tanpa sadar dia mengungkapkan perasaannya. Kenapa, dalam keadaan panik rasa itu menyeruak begitu saja seolah menampilkan dirinya. Kalau boleh jujur, Juna memang ingin mengungkapkan rasa yang dengan diam menguasai hatinya. Dia sangat takut kehilangan sahabatnya dan tidak melihatnya lagi. Karena ketakutannya itu membuatnya harus mengakui perasaannya. Kini hanya doa yang bisa dia panjatkan kepada Tuhan agar mengirimkan pertolongan. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena kakinya terluka. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Ega dalam kondisi seperti ini untuk meminta bantua. Jadi, saat ini yang bisa dia lakukan hanya berpasrah dalam doa agar Beni dan tujuh sahabat segera menemukannya.


"Toloooooooong, kita disiniiiiii." Juna mencoba berteriak agar siapapun bisa mendengarkan suaranya


Berulang-ulang Juna berteriak hingga suaranya serak. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk memperdengarkan suaranya. Tenggorokan terasa haus. Tenaganya kian terguras karena bergerakan tadi menghampiri Ega.


Saat dia tak henti berdoa, Ega membuka mata. Samar-samar dia melihat wajah yang di kenalnya. Dia antara sadar dan tidaknya karena merasa dadanya sakit. Rasa sesak itu menyerang pernafasannya.


"Hap hap hap."


Melihat itu, Juna seakan memiliki harapan baru. Dia segera memeluk kembali tubuh tak berdaya itu.


"Syukurlah kamu sadar Ga, aku mau gila jika aku harus kehilangan kamu. Kamu dengar, kan? aku cinta sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku ingin selalu melihat kamu. Aku tahu rasa ini salah tapi aku menyadarinya, Ga. Aku tahu rasa yang aku punya ini terlambat aku ungkapkan tapi aku tidak ingin menyesal. Aku tak ingin menyesal lagi seperti penyesalanku kepada Nara. Aku bodoh Ga, sejak dulu aku menyukaimu tapi aku tidak berani mengakuinya."


Juna terus berbicara, dia membiarkan air matanya mengalir. Dia tidak peduli seberapa cengengnya dia. Tidak penting, baginya sekarang Sahabatnya harus tahu tentang perasaannya. Dia ingin Ega bertahan dan memperjuangkan hidupnya karena ada orang lain yang menginginkannya.


hap hap hap


"Kamu kenapa, Ga?"


Juna semakin panik ketika melihat Ega sesak. Ega seakan kesulitan bernafas. Dia segera menempatkan Ega pada posisi yang nyaman. Setelah merasa tubuh sahabatnya itu dalam posisi nyaman tanpa pikir panjang Juna mendekatkan bibirnya untuk memberikan nafas buatan untuk Wanita itu. Dia tidak bisa berbuat apapun selain melakukan itu. Dalam pikirannya hanya ingin menyelamatkan Ega. Selanjutnya, dia akan meminta maaf kepada Beni karena telah berani menyentuh bibir Wanita milik Beni itu.


Berulang-ulang dia melakukan itu hingga nafas Ega kembali teratur. Ketika melakukan itu, tubuhnya meremang. Jantungnya terdengar berdetak tak beraturan menyatu dalam nafas Ega yang tersenggal.


"Ega, maafkan aku karena telah merani menikmati Bibir cherrymu. Aku tergoda, rasanya begitu manis dan merasa ini candu untukku." Juna membantin. Dia menyadari nafas sahabatnya itu sudah kembali normal. Namun dia tidak melepaskan tindakan yang memberikan nafas buatan untuknya. Juna menyentuhnya lebih lama lagi bahkan **********. Dia berpikir apa salahnya.


"Hem, manis. Kamu adalah canduku tapi aku menyadarinya kamu tidak mampu aku miliki. Andai saja aku tidak bodoh dan hidup dalam kenangan masa lalu, mungkin saja saat kita hidup bersama." Juna membatin, dia segera melepaskan bibirnya dari bibir Ega. Kesadarannya memerintahkan seperti itu. Dia tidak ingin menghianati sahabatnya itu. Memang dia mencintai sahabatnya ini namun dia tidak akan merampas Ega dari Suaminya. Cukup cinta itu dia pegang sendiri dengan melihat Beni dan Ega bahagia.


Dia mengelus bibir Ega dengan lembut. Bibir yang terlihat masih basah karena perbuatannya menolong Wanita itu.


"Hem, aku menyukainya. Maafkan aku Ega, bukan maksud aku merasakan itu. Aku merasakannya, aku sangat merasakannya. Ini momen berharga untukku, aku tidak akan melupakannya." Juna berbicara dengan Ega yang masih tidak sadarkan diri. Namun nafasnya sudah normal kembali dan tidak sesak seperti tadi yang membuat Juna harus melakukan itu.


Juna sedikit lega meskipun Ega belum sadarkan diri. Setidaknya Ega tidak mengalami sesak yang membuatnya sangat khawatir.


Juna tidak mau beranjak pergi meninggalkan Ega. Dia yakin Beni dan lainnya akan menyelamatkan mereka dan segera menemukan mereka.


"Egaaaaaaaa."


"Junaaaaaaa."


Terdengar panggilan berurutan menggema di tepi jurang. Panggilan itu tidak asing bagi Juna. Tentu saja suara panggilan itu milik Beni.

__ADS_1


"Beniiiiiiii, saya disiniiiiiiiiii." Juna berteriak sekuat tenaga membalas panggilan itu. Dia meraih sebatang pohon yang lumayan panjang lalu memukul dahan yang dijangkaunya agar menimbulkan suara.


Pok


Pok


Pok


"Mas, sepertinya ada suara memberi tanda," ucap sesorang yang ikut dalam penyelamatan.


Pok


Pok


Pok


Terdengar lagi dahan yang dipukul dengan sebatang kayu.


"Iya, seperti suara pohon yang dipukul. Mungkin itu Isteri saya atau mungkin saja itu Juna," sahut Beni mempertajam pendengarannya.


"Dari arah kanan," lanjutnya. Dia masih mendengar suara itu dan segera bergerak menuju sumber suara. Dengan hati-hati, mereka yang terdiri empat orang segera menuju sumber suara.


Beberapa menit mereka dalam pencarian. Beni melihat Sosok Juna yang terduduk. Tangannya masih berusaha memukul dahan dengan kayu yang dipegannya. Disisinya ada Ega yang terbaring dengan bantalan Jaket milik Lelaki itu.


"Junaaaa, Alhamdulillah," ucap Beni sangat bersyukur pada akhirnya menemukan Juna dan Isterinya.


Dia segera melangkah kesana dan meraih tubuh Isterinya yang terbaring tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi dengan Ega?" tanya Beni khawatir. Dia terlihat menahan air matanya. Jujur saja dia menangis namun air matanya berhasil dihalaunya. Dia berusaha menguatkan dirinya. Kekhawatiran itu membuatnya tidak sanggup untuk tidak menitikkan air mata.


"Ega tidak sadarkan diri, tadi dia sempat sesak nafas beberapa menit setelah itu tak sadarkan diri," sahut Juna. Dia tidak memberitahu kepada Beni kalau dia sempat memberikan nafas buatan untuk menyelamatkannya.


"Sebaiknya langsung kita bawa ke rumah sakit. Takutnya apa yang dialami oleh Ega semakin parah," lanjut Juna memberitahu.


Beni mengangguk, dia segera meraih tubuh Isterinya lalu menggendongnya. Beni dibantu oleh seorang Tim penyelamat untuk mengevakuasi Isterinya sedangkan Juna dibantu oleh dua orang Tim penyelamat yang ikut bersama Beni.


Dengan susah payah pada akhirnya Beni dan Tim Penyelamat berhasil membawa Ega dan Juna ke atas.


"Alhamdulillah." Terucap syukur dari para sahabat dan orang-orang yang dengan setianya masih disana.


"Ante enggak apa-apa Juna." Rian bertanya sembari meraih tubuh Juna dari Tim penyelamat yang dibantu Evan.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja, hanya sedikit lecet di tangan dan keseleo di Kaki sehingga terasa sulit melangkah," sahut Juna terpincang-pincang.


"Bagaimana dengan keadaan Ega?" tanya Dipta mewakilkan semua yang ingin tahu. Terlihat sekali semuanya khawatir dengan keadaan Ega yang tak kunjung membuka mata.


"Pingsan, sebaiknya kita ke Puskesmas terdekat," sahut Beni. Dia kembali meraih tubuh Isterinya lalu menggendongnya. Dia dengan langkah cepat menapaki tangga membawa tubuh Ega agar segera mendapat penanganan.


"Maaf, tidak ada tandu," ucap seorang Pria yang tadi ikut mengevakuasi Juna dan Ega.


"Enggak apa-apa Bang, saya akan menggendong Isteriku. Sedangkan Juna dibantu teman-teman kita," sahut Beni terus melangkah dengan Ega dalam punggungnya. Dia tidak merasakan beratnya tubuh Ega. Dalam pikirannya sekarang, dia hanya ingin segera sampai sehingga Isterinya mendapatkan penanganan medis.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2