
"Nampaknya sedang bahagia nih? kok enggak bagi-bagi sih?" Dipta membuyarkan rasa penasaran dari Lelaki bernama Ivan itu. Ivan melihat kearah Dipta sedikit menyipitkan mata untuk memastikan apa yang dilihatnya.
"Ega, Nugget saya mana?" lanjut Dipta.
"Ini lagi, dateng-dateng minta Nugget. Enggak Juna, enggak Dipta kenapa jadinya ngerepotin Isteri saya sih?" ucap Beni berpura-pura sewot.
"Yaok, kenapa kamu sekarang jadi sewot gini sih, Ben? Perasaan dari dulu saya senantiasa ngerepotin Ega, kamu enggak komentar apa-apa? nah kenapa sekarang jadi enggak asyik gini, sih?" sahut Dipta bernada dongkol.
"Iya, nih! Beni kok jadi posesif gini padahal kita ngerepotin sahabat kita sendiri. Siapa suruh menikahi induk semang kita jadinya harus rela Isterinya kita repotin," ucap Juna menambahkan komentar Dipta.
"Setuju," ucap Dipta. mereka berdua adu tos sembari tersenyum menang. Sedangkan Beni terlihat tambah cemberut.
"Udah deh, enggak usah ribut. Ini Nugget kamu Dip." Ega menyodorkan kotak makanan berisi Nugget. Bersamaan itu pula perdebatan mereka berakhir.
"Terima kasih, kamu memang sahabat saya yang paling baik," sahut Dipta memuji sahabatnya itu.
Ega hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia kembali sibuk dengan kegiatannya. Sedangkan Ivan kian penasaran dengan Wanita yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka. Dia ingin melihat wajah Wanita itu namun masih terhalang oleh tubuh Lelaki yang berada di sampingnya. Wanita itu juga mengarahkan pandangannya kesamping sehingga menyulitkannya untuk melihat wajah itu. Ivan mengenali suara dan juga cita rasa dari masakan Wanita itu hanya saja ingin memastikan jika Wanita yang menjadi topik pembicaraan mereka adalah DIA. Dia yang pernah di hatinya dan rasa itu masih terasa hingga sekarang.
"Jangan cemberut begitu Ben? jelek muka kamu seperti orang enggak pernah dikasik jatah saja," ucap Juna menggoda Beni yang terlihat sebal dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
Beni yang mendapatkan serangan dadakan dari kedua sahabatnya semakin keki.
"Tenang saja, kita akan ngerepotin Isteri kamu saat kita lagi ngumpul saja. Kalau di kamar tentu saja Ega hanya milik kamu seorang. Masak ia harus berbagi pelayanan. Kita enggak gangguin kok apalagi mengintip, kapok kita." Dipta tidak sengaja membuka rahasia apa yang pernah mereka lakukan pada malam pertama Beni dan Ega waktu itu.
"Uhuk uhuk uhuk." Juna tanpa sengaja menyemburkan teh yang sedang diseruputnya. Dia menyadari apa yang diucapkan oleh Dipta. Sejenak Dipta berpikir apa yang membuat sahabatnya itu terbatuk. Sedangkan Beni dan Ega memandang Dipta dan Juna secara bergantian dengan sorot tajam dan penuh tanya, apa maksud dari pernyataan itu.
"Ops keceplosan. Bukan kapok tapi tak ingin melihat," ucap Dipta melarat perkataannya.
"Kenapa dilarat? perkatan kapok sepertinya sebuah kejujuran. Apa yang terjadi dari kata kapok itu? kenapa harus kapok jika tidak melakukan apapun?" tanya Beni membabi buta membuat Dipta kian terpojok.
"Anu, itu! lidah saya kepeleset jadi salah mengucapkan kata. Enggak usah di masukkan dalam pikiran entar pusing," sahut Dipta jadi salah tingkah.
"Diptaaaa," ucap Ega mempelototi Lelaki berpipi bakpao itu.
"Iya, iya saya jujur deh tapi kalian berdua jangan marah ya? apalagi kamu Ega, jangan mempelototi saya seperti tajamnya silet yang siap menusuk netraku," sahut Dipta merasa bersalah.
"Iya buruan, jelasin apa maksud dari kata kapok?" tanya Ega tidak sabaran.
Dipta terdiam memandang Juna yang sedari tadi diam saja. Juna seolah tidak mau ikut terlibat dalam konspirasi konyol yang pernah mereka lakukan. Melihat sikap Juna yang acuh membuat Dipta kesal. Juna seakan melemparkan tanggung jawab untuk menjelaskan dibalik dari kata kapok itu.
"Kenapa bengong?" ucap Ega memburu Dipta tentang jawaban yang ingin didengarnya.
"Bagaimana nih? Juna jawab dong?" ucap Dipta meminta bantuan Juna untuk menjelaskan.
"Siapa yang punya ide, dia dong yang menjelaskan," sahut Juna acuh.
"Iya, itu memang ide saya tapi kalian setuju saja, kan? malah bersemangat untuk melaksanakan ide tersebut. Dan sekarang kenapa saya sendiri yang harus menjelaskan," ucap Dipta kesal.
"Kenapa saling lempar? saya ingin tahu apa maksud dari kata kapok yang tadi kamu lontarkan itu? jadi siapa yang akan menjelaskannya?" Beni gregetan melihat tingkah kedua sahabatnya. Satunya acuh dan satunya lagi menyebalkan.
__ADS_1
Dipta pada akhirnya menceritakan kekonyolan mereka mencoba untuk mengintip malam pertama dari kedua pengantin. Demi melaksanakan niat jeleknya, Dipta dan yang lainnya harus rela memanjat Balkon. Namun mereka tidak melihat apapun karena tertutup tirai yang amat sangat tebal. Upah dari perbuatan buruk mereka, Rian dan Evan yang harus menanggungnya. Rian terjatuh dari tangga dan Evan harus merasakan tubuhnya kesakitan karena tertimpa tubuhnya Rian.
"Pletak."
Mendengarkan itu, Ega langsung menjitak kepala Dipta dan Juna sehingga membuat kedua sahabatnya itu mengaduh. Beni melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya. Mau marahpun urung mengingat mereka langsung mendapatkan teguran. Ingin tertawapun rasanya tak enak hati. Beni pada akhirnya memilih legowo saja.
"Makanya jangan iseng, dapat teguran, kan? kalau dibuat FTV, judulnya : Azab pengintip malam pertama pengantin mereka tertimpa tangga membuat badan babak belur dan kepala nyut-nyutan serta mata melotot tak bisa kembali normal. Kebayang dah seperti apa rupanya." Beni membuat judul seperti sinopsis panjangnya tak berakhir titik.
Mau tertawapun malu sama penulis nanti dikira menyindir. Akhirnya semua memilih diam.
"Ben, Isteri kamu nih? kok kasar banget." Juna mengadu sembari mengelus kepalanya.
"Ini nih! giliran menderita baru bilang Isteri kamu Beni. Nah pas giliran ngerepotin kalian bilang saya sedang ngerepotin sahabat saya. Bingung saya jadinya, apa maunya kalian?" tanya Beni serius dengan senyum tipis tersamarkan.
"Iya, iya kita mengaku salah. Kita tidak akan mengulang lagi kesalahan malam itu. Sedangkan mengenai kita ngerepotin Ega-ku yang tersayang tentu saja kita bakalan terus ngerepotin walaupun pada akhirnya nanti kita punya pasangan masing-masing. Kamu jadi suami, sabar-sabar saja ya? Ega induk semang kita jadi wajarlah kita repotin." Dipta berucap panjang lebar meminta Lelaki yang menjadi Suami dari induk semang mereka agar menerima kenyataan.
"Baiklah, berhubung saya orangnya baik maka dari itu saya izinkan Isteri tercintaku ini direpotin oleh kalian. Namun itu jika dia mau, kalau dia enggak mau jangan maksa. Bagaimana?" Beni akhirnya pasrah dengan kemauan para sahabatnya.
"Berarti saya boleh ngerepotin Isteri anda juga dong?" ucap Ivan bercanda. Dia penasaran dengan Wanita yang mereka sebut Ega sekaligus menyadarkan Dipta akan keberadaannya. Sedari tadi dia hanya menyimak perdebatan mereka dan tanpa sengaja ikut terlibat dalam pembicaraan mereka.
Ega, merasa mengenali suara itu segera mengarahkan pandangan ke sumber suara. Pun begitu dengan Dipta yang merasa mengenal suara yang tak asing di telinga. Beni yang ditanya hanya tersenyum kecut. Bukan enggak rela tapi merasa kasihan dengan Isteri tercintanya.
Ega terkejut, ketika matanya beradu pandang dengan netra milik Lelaki yang menjadi kenalan Suaminya yang sedari tadi ada di tengah-tengah mereka. Pun begitu dengan Ivan, Lelaki itu terkejut sekaligus bahagia.
"Raka."
"Dinda."
Lain lagi dengan Dipta, dia mengamati Laki-laki berada di samping Beni. Dia baru menyadari ada orang lain di tengah-tengah mereka.
"Ya Allah, Mas Ivan? Mas Ivan, kan?" ucap Dipta setelah mengingat Lelaki itu. Dipta beranjak mendekat lalu menjabat tangan Ivan yang disambut bahagia oleh Ivan.
"Enggak menyangka kita bertemu disini setelah beberapa tahun Mas Ivan tidak ada khabarnya? bagaimana khabarnya, Mas Ivan?" ucap Dipta panjang lebar sekaligus mengingat kapan terakhir mereka bertemu.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja Dipta. Kamu makin berisi dan tampan saja, pasti ini karena Nuggetnya Ega, kan?" ucap Ivan.
"Hehehe iya, Mas Ivan inget saja?" jawab Dipta diawali dengan kekehan.
"Kamu tidak pernah berubah begitupun dengan kalian yang masih bersama-sama. Evan dan Nina apa khabarnya?" tanya Ivan penasaran.
"Alhamdulillah, Nina dan Evan baik-baik saja. Evan ada disini juga sedangkan Nina memilih untuk pulang tadi pagi karena kurang sehat. Kenapa Ega enggak ditanya khabarnya?" jawab Dipta sekaligus menanyakan kenapa Ivan tidak menyebut nama Ega.
"Oh jadi begitu. Saya lihat Ega baik-baik saja. Dia nampak semakin cantik dan fresh. Saya bisa melihat keadaannya jadi tidak perlu bertanya," sahut Ivan sembari melirik Ega dengan pandangan yang masih berbinar cinta. Beni yang menyadari, Lelaki itu memandang Isterinya dengan berbeda segera merangkul pinggang isterinya posesif untuk menegaskan Wanita manis ini adalah miliknya.
"Mas Ivan benar, tapi Mas Ivan tidak pernah tahu dan melihat bagaimana Ega melewati keterpurukannya sehingga menjadi secantik ini," ucap Dipta datar.
Wajah Ivan berubah sedih, dia teringat masa lalunya. Dia selama ini menyalahkan diri sendiri karena ketidak hatiannya membuat Gadis yang dicintainya terluka.
"Sudah berapa anaknya Mas?" tanya Dipta mencoba mengembalikan Ivan dari masa lalunya. Dipta menyadari perubahan raut Ivan yang berubah sedih.
__ADS_1
"Dua, Laki-laki dan perempuan. Alhamdulillah. Kalau kamu Dipta?" tanya Ivan.
Dipta yang ditanya hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. Dia merasa tak laku jika berkata jujur.
"Masih pendekatan sama jodoh tapi malah saya di jadikan jemuran alias di gantung," sahut Dipta tersenyum kikuk.
"Sabar, ya?" ucap Beni menepuk bahu Dipta.
Selama Dipta berbicara, Beni dan Ega sesekali berbicara sementara Juna hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Juna lebih memilih menikmati teh dan kue yang dihidangkan Ega.
Saat mereka asyik mengobrol, datang Evan bersama Amanda. Amanda duduk di samping Ega. Gadis itu langsung menyambar makanan sedangkan Evan menukikkan penglihatannya ke arah Dipta yang nampak asyik memgobrol dengan seseorang yang terlihat tidak asing. Evan segera menghampiri mereka berdua.
"Mas Ivan Alkaeri? benar, saya tidak salah. Saya masih mengenali," ucap Evan menegur Lelaki itu dengan menyebut nama lengkapnya. Tentu saja penyebutan nama lengkap dari Lelaki itu membuat Beni dan Juna mengalihkan perhatiannya. Kini mereka sudah mengetahui siapa Lelaki yang menjadi kenalan Beni. Pantas saja Lelaki ini sangat mengenal Ega, Evan, Dipta dan Nina, ternyata Lelaki ini dari masa lalu mereka tepatnya masa lalu Ega. Sedangkan Beni, Juna dan Rian belum mengenal Ivan saat mereka mengenal keempat sahabat itu. Saat itu Ivan sudah meninggalkan Ega untuk Wanita lain. Karena itulah mereka tidak bertemu.
"Ivan Alkaeri, jadi ini mantan calon Suami Ega? tampan, kelihatan baik dan kebapakan," batin Juna menilai.
"Ivan Alkaeri, jadi ini Lelaki yang pernah dicintai Isteriku dulu. Tampan dan terlihat perhatian. Rasanya aku lebih tampan, perhatian dan hangat dari laki-laki ini. Yang jelas aku lebih mencintai Ega darinya, buktinya aku yang berhasil mendapatkan Ega dan menjadi Suaminya. Tunggu dulu tadi Ega memanggilnya Raka dan Lelaki ini memanggil Ega dengan panggilan Dinda. Apakah itu panggilan kesayangan? Kenapa Ega masih memanggilnya dengan panggilan sayang. Minta dihukum nih?" Beni bermonolog dalam hati sembari menyimak pembicaraan mereka. Dia memenangkan dirinya yang tertampan dari Ivan meskipun menyadari Lelaki bernama Ivan itu sangat tampan dan mampu mengalahkannya. Namun Beni tetap saja tidak mau mengakui itu meskipun hanya terucap dalam hati.
Mereka yang baru bertemu larut dalam pembicaraan. Terdengar gelak tawa dan keseriusan dari obrolan mereka. Mereka seakan reunian dan bernostalgia mengingat masa lalu. Sementara Ega hanya terdiam dan lebih suka menunduk. Dia tidak memperhatikan Ivan yang terkadang curi pandang kepada dirinya.
"Jadi Ega dan Beni baru menikah?" tanya Ivan setelah berlangsung lama obrolan mereka.
Dipta dan Evan serempak mengangguk sebagai jawaban. Mendapat kejelasan, Ivan mengalihkan perhatiannya kepada Beni dan terucap kalimat selamat.
"Selamat Beni, Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir." Ivan melantunkan doa. Sejurus kemudian menjabat tangan Beni.
"Aamiin. Terima kasih Mas Ivan," jawab Beni menyambut tangan Ivan yang menjabat tangan Beni hangat penuh persahabatan.
"Ega, selamat ya," ucap Ivan kepada Ega dengan doa yang sama. Ega hanya menggangguk sebagai jawaban dan tidak berkata apapun. Hanya senyum ramah yang tersungging sebagai bentuk kesantunan kerena Ivan telah mendoakannya. Ivan membalas dengan anggukan pula diiringi dengan senyuman. Dalam hati, sebenarnya sangat sedih dan kecewa. Dia sangat merindukan ocehan Ega. Ingin sekali mendengarkan celotehan yang membuatnya selalu tertawa. Tak mau berbohong, dia sangat merindukan Wanita ini yang merupakan Mantan Calon Isterinya. Namun apa dikata, rindu itu seperti racun yang siap melumpuhkan hidup. Rindu yang tak mungkin akan saling berbalas. Kini mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing yang harus dijalani. Ivan sadar itu.
Setelah cukup lama mengobrol, Ivan memilih untuk memisahkan diri dari mereka. Selepas kepergian Ivan. Beni mengajak Ega untuk menelusuri sungai yang di aliri oleh air terjun Sendang Gile. Begitu menemukan tempat sepi, hanya ada mereka berdua. Beni dan Ega memilih untuk mengguyur raganya di tempat itu meskipun guyurannya seperti gerimis, dua sejoli itu tampak menikmatinya.
"Aku cemburu, kenapa kamu masih memanggil Ivan dengan panggilan kesayangan. Raka dan Dinda, kalian seperti berada di zaman kolosal saja," ucap Beni dingin seperti dinginnya air terjun yang saat ini mengguyur tubuh mereka berdua.
"Aku spontan, tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku," ucap Ega lirih.
"Itu artinya kamu masih menyimpan Lelaki itu di lubuk hati kamu, Ga. Cinta pertama, sangat sulit dilupakan, bukan begitu?" ucap Beni semakin dingin.
Ega menatap Suaminya dengan rasa sedih. Entah mengapa dia sangat terluka mendengar Suaminya menuduhnya masih menyimpan perasaan kepada Ivan. Raka itu berarti Kakak, sudah sewajarnya memanggil Ivan dengan panggilan Raka dan tak ingin menyamakan panggilan untuk orang lain dengan panggilan untuk Suaminya.
Ega hanya mampu menggelengkan kepala membatah apa yang ada dalam pikiran Suaminya.
Beni menyerang bibir ranum itu dengan ciuman. Dia meluapkan kecemburuan itu dengan menekan bibir kenyal milik isterinya. Bukan ciuman biasa tapi sedikit kasar dan juga menggebu-gebu. Entah kenapa Ega sangat menyukai itu meskipun pada akhirnya meninggalkan luka. Dia tahu saat ini suasana hati Beni sedang tak baik. Dia dapat merasakan bagaimana cara Beni menciumnya, kasar dan memaksa.
"Hem, aku suka. Ini terasa lebih menggairahkan dan nikmat. Apa aku mengalami sindrom Sadomasokis? seperti yang dijelaskan oleh Rian. Iya, Beni melakukan hal ini saat pertama kali menciumku. Dia sedang marah dan melampiaskan kemarahannya dengan menciumku secara kasar. Ciuman kasar dan memaksa ini yang pertama kali aku kenal. Tentu saja terasa sangat indah." Ega membatin. Dia membiarkan Suaminya menciumnya sekasar mungkin dan berusaha mengimbanginya.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, ada sepasang mata memandang dua sejoli itu dengan pandangan nanar. Dia tersenyum getir menyaksikan kemesraan mereka yang terlihat melekat dalam rasa yang menyatukan mereka berdua.
"Seharusnya aku yang menikmati bibir ranum itu. Apakah aku boleh mencuri dan merasakannya? Mengapa aku terlambat menyadari ini?"
__ADS_1
Bersambung.