Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
63. Honey bukan Madu.


__ADS_3

"Adha, nama panggilan kecil Beni Hardian adalah Adha." Ega menjawab pertanyaan Beni yang ditujukan kepada Nina untuk memberikan kesempatan kepada Wanita itu untuk memiliki Beni.


Nina memandang Ega dengan pandangan sinis dan tak suka. Dia tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Ega. Dia enggan untuk mengakui kebenaran itu.


"Iya, nama panggilannya adalah Adha. Saya mengingatnya dan mulai mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika membantu Kak Adha, saya bertemu dengan Kakek Rasyid Hardian sebelum bertemu dengan Abi Banu. Saat itu Kakek memanggil pasien yang saya tolong dengan panggilan Adha. Sedangkan inisial pada Jam tangan yang kamu ambil yaitu BHA yang maksudnya Beni Hardian Adha. Kak Beni lahir tepat pada hari raya Idul Adha karena itulah Kakek memberi nama Kak Beni dengan nama Beni Hardian Adha. Jadi jelas, kamu yang sebenarnya menghianati saya dan membohongi Beni. Saya menceritakan kejadian itu dan kamu mencuri cerita itu. Menjadikan pengalaman yang saya alami menjadi pengalamanmu. Ketika kamu tahu Kak Beni adalah cowok SMA yang saya tolong kamu memanfaatkan keadaanku yang pelupa dan mengambil jam tangan milik Kak Adha. Kamu memang pintar beracting Nina, tapi sayangnya ackting kamu tidak mendapatkan penghargaan. Kebohongan tetaplah tidak akan menang. Dari kebohonganmu itulah Kak Beni pada akhirnya mengetahui kebenarannya. Nina, kamu sahabat yang sangat saya sayangi. Selama ini saya berusaha menjadi sahabat yang baik untuk kamu. Saya tulus tapi kenapa kamu membalasnya dengan rasa dengki. Saya tidak pernah menghianati kamu. Saya bahkan meminta Kak Beni untuk membalas cinta kamu. Namun Kak Beni menjawabnya dengan menikahiku." Ega melanjutkan penjelasan dibalik nama Adha sekaligus memperjelas dialah yang menolong Beni.


huft


Ega menghirup udara untuk melegakan rasa lelahnya. Semua orang terdiam mendengarkan penjelasan Ega. Tidak ada satupun yang menyelanya apalagi menanggapi. Nina juga diam tak mampu lagi untuk membantah.


"Nin, saya pernah menolak lamaran Kak Beni untuk memberikan kesempatan kepada kamu. Waktu itu saya bisa mengalah dan membiarkan kamu memiliki Beni. Nyatanya takdir malah berkata berbeda. Apakah semua itu kesalahanku, Nina? Apa bisa kita menghindari takdir? apa bisa kita membatah kehendak Tuhan? tentu jawabannya tidak bisa. Sebelum saya menikah dengan Kak Beni mungkin saja saya bisa merelakan Kak Beni untuk kamu tapi sekarang Kak Beni adalah Suamiku. Tidak ada satu Wanitapun yang merelakan Suaminya dimiliki orang lain dan mau membaginya begitupun juga saya. Jika kamu diposisi saya pastilah kamu tidak mau." Ega menyampaikan unek uneknya. Dia merasa lega, dadanya sedikit plong mengeluarkan apa yang ingin diutarakan kepada Nina. Terserah Nina mau mendengarkan dan menanggapi seperti apa? yang jelas dia sudah bersuara.


Ega menghapus airmatanya dan mengajak Suaminya meninggalkan kamar Nina. Satu persatu meninggalkan kamar Nina dengan membawa pikiran masing-masing. Tertinggal Nina dan Juna disana. Nina masih berada dalam pegangan Lelaki itu. Seketika tubuh Nina ambruk dalam dekapan Juna yang menopangnya.


"Apakah aku sangat jahat, Jun?" lirih Nina.


"Iya, kamu sangat jahat. Kenapa kedengkian itu berhasil mengalahkan hati nurani kamu. Kamu sangat tega kepada Ega, dia sangat baik kepada kamu selama ini. Coba kamu ingat kebersamaan kamu dengannya. Tidakkah kebersamaan itu membuat kamu bahagia?. Ega terlalu baik sehingga kamu berhasil mengelabuinya, apakah itu balasan untuknya. Dia sangat sayang kepadamu sehingga menolak lamaran Beni. Dalam pikirannya hanya kamu dan kebahagiaan kamu. Tetap saja, cinta mereka sudah tertanam sejak lama tanpa mereka ketahui. Saya yang memberikan saran kepada Beni untuk menculik Ega agar bisa menikahi Gadis yang dicintainya. Saya tidak tega melihat Beni yang begitu frustasi dan terluka ketika Ega menolaknya. Nin, takdir itu tidak bisa kita tolak. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Bukankah kita beriman kepada Qada' dan Qadar maka pergunakan iman itu untuk menerima segala takdir yang telah terjadi." Juna menjawab pertanyaan Nina dengan jujur sekaligus menasehatinya. Dia berharap mata hati Nina menjadi terbuka dan menyadari kesalahannya.


Hikz hikz hikz


Nina hanya memperdengarkan suara tangisnya. Juna berusaha menenangkannya sekaligus memberikan semangat dengan mengelus bahunya.


"Jun, apakah aku pantas menjadi sahabat kalian? setelah apa yang aku lakukan kepada Beni dan Ega. Apakah kamu membenciku?" tanya Nina dalam isak tangisnya.


"Jujur saja saya marah sama kamu Nin dan juga membenci apa yang telah kamu lakukan kepada sahabatnya sendiri. Mungkin semuanya saat ini sedang marah dan membenci kamu. Tidak bisa dipungkiri itu, hanya saja kita semua tidak perlu memperlakukan kamu dengan tidak baik. Lihatlah Ega dan Beni, mereka tidak membalas segala apa yang kamu lakukan terhadap mereka," jawab Juna panjang lebar.


"Benar, aku teman yang buruk," ucap Nina sedih.


"Kamu sadar itu. Saya harap kamu menyadarinya dan tidak mengulangnya kembali. Perbaiki diri kamu dan sikap kamu yang tidak baik itu. Percuma memiliki wajah yang cantik tapi ternyata attitudenya buruk. Sekarang lebih baik kamu istirahat."


Nina kali ini menuruti apa yang diperintahkan oleh Juna. Dia seperti anak baik yang tak mau membatah. Dia berjalan kearah ranjang lalu merebahkan diri kemudian menyelimuti tubuhnya.


"Tidurlah," ucap Juna sebelum meninggalkan Nina. Nina mengangguk dan berusaha memejamkan mata.


Juna keluar dari kamar Nina kemudian menghampiri sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul di ruang tamu.


***


Sementara itu, Beni dan Ega memilih untuk kembali ke pondok tempat mereka menginap.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Beni memandang wajah isterinya yang masih terlihat mendung.


"Sudah lebih baik," jawab Ega tersenyum tipis.


"Syukurlah, aku tidak ingin kamu memikirkan semua ini. Semua telah terjadi dan semua itu tidak bisa kita menghalaunya," ucap Beni lembut.


"Aku sudah menerimanya dengan ikhlas. Aku juga tidak ingin memiliki dendam apalagi amarah. Karena itulah aku ingin melapangkan rasa sakit ini dengan memaafkan. Tadi aku hanya tegang dengan keputusan Kak Beni yang memberikan peluang kepada Nina. Jujur aku ketakutan tadi, bagaimana kalau Nina bisa menjawabnya? Aku tidak ingin memiliki madu." Ega mengutarakan kegelisahan yang menekannya sedari tadi.


"Bukankah madu itu baik untuk kesehatan? madu sangat bermanfaat untuk stamina dan imun tubuh kita ya? makanya saat ini aku ingin mencari madu untuk kamu," ucap Beni menggoda Isterinya dengan memamerkan senyum jahilnya.


"Itu madulani kali Kak! madu yang aku maksud adalah madu cantik yang bisa membuat Piring melayang menghantam tubuh orang," sahut Ega cemberut.


"Hahahahaha."


Beni tertawa mendengarkan perkataan dari Ega. Dia mencubit pipi mulus dan bersih berwarna sawo matang itu.


"Aduh, sakit." Ega mengaduh sembari mengelus Pipinya.


"Maaf, aku gemes," ucap Beni. Dia mengambil raga Ega lalu memeluknya dengan erat untuk memberikan rasa nyaman kepada Wanita itu.


"Maafkan aku karena telah membuat kamu ketakutan. Aku tidak mungkin akan menghianatimu apalagi mencari madu cantik. Sudah aku katakan aku tidak mampu berbagi apalagi berbuat adil. Karena itulah aku memilih menjadi Lelaki setia yang cukup dengan satu Isteri. Tadi aku sudah memikirkannya karena itulah aku berani mengajukan pertanyaan itu. Aku yakin Nina tidak mengetahui nama panggilan kecilku adalah Adha. Aku berpikir tidak semuanya kamu menceritakan kejadian itu kepada Nina. Kamu juga tidak pernah menyinggung nama panggilan kecilku." Beni menjelaskan kenapa dia sangat yakin mengajukan pertanyaan itu kepada Nina. Dia sangat yakin pertanyaan itu bisa membebaskan dirinya dari Wanita itu.


"Kak Beni memang amazing," ucap Ega lega.


"Baru tahu ya? Beniii!" ucap Beni menaikkan kedua alis lalu mengedipkan matanya untuk menggoda Ega.

__ADS_1


"Aislah seneng banget dapat pujian," ucap Ega sembari memperdengarkan tawa kecilnya. Dia geli dengan kenarsisan yang ditunjukkan oleh Beni.


"Iya iyalah seneng, masak enggak sih? yang muji itu cantik bangeeeeeeet," sahut Beni bahagia.


Ega kembali tertawa, kali ini suasana hatinya mulai sedikit membaik meskipun masih menyisakan kepedihan.


Ega memandang Beni sangat lekat sehingga pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. Hanya wajah Beni yang ingin selalu dilihat tidak butuh wajah orang lain. Pun begitu juga dengan Beni, hanya wajah manis milik Ega yang akan selalu memikatnya sehingga pandangan itu tidak mampu berpaling kepada wajah yang lain.


Ega, kali ini ingin mengendalikan diri Beni. Dia semakin mendekatkan wajahnya lalu dengan lembut menikmati benda kenyal berwarna merah itu. Wanita itu berbagi ciuman yang disambut sorakan di hati Beni karena Wanitanya itu mulai berani berinisiatif duluan.


Selang beberapa menit berlangsung, Ega melepaskan pagutannya. Seketika menyadari apa yang dilakukannya membuatnya tersipu. Dia tidak menyangka dirinya bisa seliar itu. Dia menyalurkan emosinya dengan menyentuh bibir itu.


"Hem, apa kamu belum puas? lakukan lagi!" ucap Beni sembari mengusap lembut cairan yang menempel pada bibir ranum itu.


Ega memandang kembali wajah teduh suaminya, dia tersenyum karena merasa mendapatkan tantangan. Dia kembali ******* sepasang benda kenyal itu, berbagi ciuman lagi dengan rasa yang sangat membucah dihatinya. Bukankah boleh? karena mereka pasangan halal jadi tidak perlu merasa malu.


Beberapa menit berlalu, Ega melepaskan pagutannya dengan berusaha menghirup oksigen agar mampu bernafas dengan lega. Dia terlihat mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


Beni juga melakukan hal yang sama. Dia tersenyum melihat isterinya yang mulai kelelahan.


"Apakah kamu belum puas? lakukan lagi," ucap Beni mesra di telinga Ega.


"Aku kelelahan, cukup untuk malam ini," sahut Ega sembari tersenyum.


"Baiklah, sekarang aku yang akan mengambil kendali. Kamu hanya menikmati saja, aku akan memuaskanmu sayang," ucap Beni tersenyum.


Dia meraih raga isterinya lalu membawanya untuk memadu kasih. Sebelum itu mereka berdua melafalkan doa agar apa yang mereka lakukan bernilai ibadah.


"Malam ini indah."


***


Esok harinya setelah shalat subuh, Ega mempersiapkan bekal yang akan mereka bawa. Rencananya mereka akan berjalan-jalan menuju air terjun Sendang Gile.


"Sudah siap sayang?" tanya Beni. Dia melihat Isterinya memasukkan beberapa snack, beberapa kotak makanan yang berisi berbagai kue dan lainnya.


"Honey itu maksudnya madu, kan?" tanya Beni menggoda Isterinya.


"Maksudnya?" tanya Ega bingung.


"Bukannya Honey itu madu ya? jadi kamu bersedia memiliki madu? aku akan mencarikan madu cantik untuk membantumu membereskan ini semua?" goda Beni tersenyum nakal.


"Silahkan saja, jika pelayananku semalam belum mampu memuaskanmu. Sebelum itu, bagaimana kalau aku, kau lepaskan dulu baru mencari madu cantik. Aku bersedia kok menjadi janda cantik dan terhormat yang pasti kaya raya karena mendapatkan bagian dari harta seorang Beni. Aku enggak mau rugi dong dengan pelayanan yang selama ini telah aku berikan. Bagaimana tuan Beni? apakah kita saling menguntungkan? Kak Beni dapat madu cantik dan nantinya aku dapat bayi ganteng," ucap Ega tidak mau kalah menggoda Suaminya.


"Biar jelek yang pastinya aku bakalan tetap laku," sambung Ega berusaha menahan senyumnya. Dia melihat perubahan wajah Beni yang tak sedap dipandang mata. Maksud hati menggoda isterinya eh malah dia yang terpojok.


"Honey maksudnya bukan madu. Honey yang aku maksudkan adalah sayang. Mana mungkin aku mengganti isteriku dengan madu cantik. Iiish, maksud hati ingin menggoda kenapa aku yang kena," sahut Beni cemberut.


"Hahahaha."


Ega tidak bisa menahan tawanya. Tawanya menggema di ruangan tersebut membuat Beni kian cemberut. Lelaki itu tidak mau kalah, dia membungkam suara Isterinya dengan ciuman membuat tawanya terhenti seketika itu.


Beberapa menit berlalu, Beni melepaskan raga isterinya yang dia peluk sangat erat.


"Manis, aku suka. Terima kasih atas sarapan paginya, aku puas."


Ega tersenyum puas menyaksikan Suaminya yang terlihat menyukai kemesraan mereka tadi.


***


Tujuh sahabat beserta Amanda dan Fiza melanjutkan perjalanan mereka menuju Air terjun Sendang Gile yang dikenal memiliki anak tangga sebanyak lebih kurang dua ratus anak tangga.


"Nina mana?" tanya Ega ketika tidak melihat Sosok Nina bergabung bersama mereka.


"Nina sudah pulang tadi. Dia sudah dijemput seseorang. Nina juga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan mengingat dia sedang mengandung," jawab Juna memberitahu.

__ADS_1


"Jadi begitu?"


"Iya sudah kita berangkat yok?" ajak Evan.


Mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih pagi agar lebih lama menikmati keindahan air terjun.


Beberapa menit menelusuri anak tangga, pada akhirnya mereka sampai juga di kawasan wisata alam air terjun Sendang Gile.


"Alhamdulillah sampai juga," ucap mereka serempak. Mereka memilih tempat untuk beristirahat sembari menikmati gemericik air terjun.


Setelah menemukan tempat yang terlihat nyaman. Mereka menaruh barang masing-masing setelah itu meminta Beni dan Ega untuk menjaga barang bawaan mereka.


"Kami kesini mau mandi merasakan segarnya guyuran air terjun eh disuruh jaga bawaan kalian, bagaimana sih?" ucap Beni sewot.


"Giliran Abang, nanti saya sama Fiza yang jaga deh" ucap Amanda menenangkan Beni yang terdengar sewot. Mereka sudah membubarkan diri untuk mendekati titik air itu tumpah.


"Sudah Kak Beni, jangan sewot. Kita istirahat saja dulu," ucap Ega menenangkan Suaminya itu.


Ega memberikan Snack kepada Beni. Mereka menikmati gemericik air bersama makanan ringan yang mereka bawa. Sesekali mereka saling suap dibarengi obrolan yang penuh dengan canda tawa.


"Maaf Mas, boleh saya bergabung," ucap seseorang meminta izin. Dia kemudian mendudukkan diri di samping Beni.


"Boleh Mas, silahkan. Ini juga tempat umum jadi bebas duduk dimana saja," sahut Beni ramah.


"Oya nama saya Beni," ucap Beni mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Pria asing disampingnya.


"Saya Ivan," sahut Pria itu menyambut uluran tangan dari Beni.


"Mau Kue? ini buatan Isteri saya," ucap Beni menyodorkan Kotak makanan yang berisi kue kering.


"Terima kasih." Lelaki bernama Ivan itu mengambil sepotong Kue yang disodorkan oleh orang yang baru dikenalnya. Mereka berdua selanjutnya larut dalam obrolan.


"Kak Beni, ini kopinya," ucap Ega menyodorkan segelas Kopi kepada Beni tanpa memperhatikan dengan siapa Suaminya itu berbicara. Keadaan memang lumayan ramai jadi siapapun bisa saja saling menyapa lalu mengobrol meskipun tidak saling kenal.


"Mau Kopi Mas Ivan?" tawar Beni sembari memperlihat Kopi hitamnya.


"Boleh kalau tidak merepotkan," jawab Ivan.


"Sayang, Kopinya lagi satu." Beni kembali meminta agar dibuatkan segelas kopi lagi untuk kenalannya.


"Ega, teh untuk Abang mana?" tiba-tiba Juna datang menghampiri sepasang Suami Isteri itu dan meminta jatahnya.


"Ini datang-datang ngerepotin Isteri saya saja. Makanya cepetan cari pasangan agar enggak selalu ngerepotin Isteri saya," ucap Beni serius sebenarnya maksud hati hanya bercanda.


"Siapa yang ngerepotin Isteri anda? saya sedang ngerepotin Sahabat saya. Kenapa sekarang mendadak sewot semenjak kamu menikah. Sebelumnya kita-kita selalu ngerepotin Ega, kamu anteng-anteng saja," sahut Juna terdengar lebih sewot sembari tersenyum menang.


"Sama saja kali Juna. Isteri saya dan sahabat kamu orangnya sama, bagaimana sih?" ucap Beni sewot.


"Sudah, jangan berdebat. Ini kopi pesanan Kak Beni dan ini Teh pesanan untuk Abang Juna." Ega menyodorkan Kopi kepada Beni lalu Teh kepada Juna.


"Sekarang, bagaimana ngomongnya ya! mana bayarannya?" ucap Ega malu-malu. Dia sengaja menggoda kedua Lelaki tampan itu.


"Sebentar," ucap Juna bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju tumbuhan dan memetik selembar daun. Dia kembali membawa daun di tangannya.


"Ini Ga, bayarannya," ucap Juna menyodorkan daun tersebut sembari tersenyum jahil.


"Hahahahaha."


Mereka tertawa menikmati guyonan yang terkesan garing.


"Abang Juna, memangnya Daun bisa dibelanjakan," ucap Ega tidak bisa menahan tawanya.


"Kali saja daunnya berubah jadi uang," sahut Juna terkekeh.


"Abang ini bisa saja?"

__ADS_1


Lelaki bernama Ivan itu sangat penasaran dengan Sosok Wanita yang menjadi perbincangan dua Lelaki. Nama dan suaranya sangat familiar apalagi rasa Kopi yang dibuat Wanita itu seakan mengingatkannya dengan seseorang. Sayangnya dia tidak bisa melihat Wanita itu karena tertutupi tubuh Beni yang berada di sampingnya.


Bersambung.


__ADS_2