
Ega melihat Beni yang merengkuk di balik selimut. Pria itu menyembunyikan ketakutan, sedangkan di luar masih terdengar suara sirene Ambulance.
Wanita itu tidak percaya dengan ketakutan yang diperlihatkan oleh Beni. Sephobia itu kah dia? Jadi benar kembaran Beni ketakutan mendengarkan suara sirene Ambulance. Itu berarti, dia adalah Juna. Namun apa mungkin hanya Juna yang memiliki phobia suara sirene Ambulance, bisa jadi ada orang lain lagi?
Ega masih menduga-duga dan ingin meyakinkan diri sebelum tahu wajah siapa di balik wajah Beni.
Jangan sampai dia salah sangka dan menyalahkan orang yang tidak mengetahui apapun.
Meskipun cukup meyakinkan bahwa Beni palsu adalah Juna, terbukti dari ciri fisik, tingkah laku dan phobia yang diperlihatkannya. Tapi Ega tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa dia adalah Juna. Dia ingin mendapatkan pengakuan dari Pria palsu itu. Mereka akan membongkarnya pada saatnya nanti. Tinggal beberapa langkah menuju kesana.
"Kak Beni kenapa?"tanya Ega menghampiri Ranjang. Dia duduk ditepinya sambil menyingkap selimut yang menutupi seluruh badan Pria itu.
"Anuuu, ituu ada suara membuat saya terkejut," sahut Beni tergagap.
"Oh suara sirene Ambulance? mungkin ada orang sakit?" Ega menanggapi jawaban Beni dengan menunjukkan rasa penasarannya.
"Kenapa Ambulance-nya belum pergi ya?" Beni bertanya dengan menunjukkan kegelisahannya.
"Kenapa Kak Beni gelisah? Kak Beni fhobia mendengarkan suara sirene mobil Ambulance, ya? setahu saya Kak Beni tidak fhobia terhadap apapun. Seinget saya yang fhobia sama suara Ambulance itu adalah Juna, kenapa sekarang Kak Beni ikut-ikutan Juna? Apa Kak Beni adalah Juna?" Ega memberondong Pria itu dengan pertanyaan.
Beni yang ditanya kian gelisah. Entah apa yang digelisahkan olehnya luput dari penglihatan Ega. Meskipun Beni berusaha menyembunyikan ketakutan tapi tetap saja tidak berhasil. Kentara sekali ketakutan itu, wajah pucat pasi yang tidak bisa disamarkan.
"Ngaco, saya hanya terkejut bukan fhobia. Kamu tahu sendiri Suamimu ini tidak fhobia terhadap apapun," ucap Beni terdengar sewot. Dia menyingkap selimut lalu beranjak turun dari Ranjangnya, dengan Kaki di arahkan menuju kamar mandi.
Ega menggelengkan Kepala melihat kesewotan yang tidak mungkin diperlihatkan oleh Suaminya. Itu karena Pria ini bukan Beni Hardian. Semirip apapun dengan Beni, tetap saja dia tidak akan bisa menirukan karakter dan kebiasaan dari Beni Hardian.
Tidak ingin memikirkannya, Ega memilih untuk bersiap-bersiap menuju Kantor dan meninggalkan Beni palsu itu dalam kegelisahannya.
Ega melangkah menuju rumah yang ditempati Suaminya. Disana dia menikmati sarapan sebelum ia pergi menuju Kantor.
"Benar dia ketakutan?" tanya Beni disela menikmati makanan.
Ega menelan makanan sebelum berbicara. Namun terlebih dahulu menjawab dengan anggukan.
"Iya, wajahnya pucat pasi terus dia menyembunyikan diri dalam selimut," jawab Ega serius. Wanita itu menceritakan hal-hal yang berhasil diketahuinya.
"Kenapa Juna melakukan ini?" tanya Beni resah.
"Entahlah aku juga tidak mengerti, secepatnya kita akan mengetahuinya." Ega menjawab diakhiri dengan senyuman. Ada keyakinan dalam hati bahwa cobaan yang sedang mereka hadapi akan segera berakhir.
Beni mengangguk dengan senyum semangat yang terbentuk pada wajah manis Isterinya.
"Kita akan mengatur rencana sebaik mungkin. Kak Beni tidak ingin orang palsu itu terlalu lama menjadi diriku," ucap Beni kesal.
Ega mengangguk kemudian mengakhiri sarapannya. Beni juga menyelesaikan sarapannya.
Setelahnya, mereka melangkah menuju tujuan masing-masing. Ega menuju ke Kantor sedangkan Beni menuju ke Perusahaan. Saat ini dia menyamar sebagai Office Boy untuk mengawasi tingkah laku Beni palsu itu.
Sesampai di Kantor, Beni langsung melaksanakan tugasnya sedangkan kembarannya terlihat sudah ada di ruang kerjanya.
"Ben, apa sudah siap?" tanya Banu Hardian. Saat ini dia berada di ruang kerja Marketing Manager.
"Sudah Pak," sahut Beni singkat.
Banu mengernyitkan dahinya berpikir sejenak. Dia memandang wajah Putranya seksama. Ada yang janggal dirasakannya, tapi diabaikan. Dia tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Sebelum pergi dia menepuk bahu Beni memberikan kepercayaannya.
Kepergian Banu menghadirkan kelegaan untuk Beni. Dia mengendorkan sarafnya yang semula tegang. Tidak di sangka berhadapan dengan Banu Hardian membuatnya gelisah. Dia takut, Banu akan menyadari bahwa Pria yang mirip dengan Putranya bukanlah Putra yang sebenarnya. Tidak mungkin seorang Ayah tidak mengenal Putranya dengan baik.
Beni tadi sempat tegang saat Banu menatapnya dengan pandangan sulit terbaca. Sepertinya dia meragukan Putranya sendiri.
"Apa Pak Banu menyadari kalau saya bukan Beni, ya?" batin Beni bertanya-tanya.
Sejenak dia berpikir untuk lebih hati-hati agar penyamarannya tidak terbongkar.
"Bodo amat, meskipun Pak Banu menyadarinya tetap saja Putranya itu sudah tewas terpanggang," ucap Beni senang. Dia tertawa lebar menikmati hidupnya yang kini berubah drastis. Dia sedang menikmati hidup dalam kemewahan dengan segala apa yang dimiliki Beni Hardian.
Tanpa disadari olehnya, terekam segala apa yang diucapkan Pria palsu itu.
***
Menjelang siang, terlihat Nina menghampiri Resepsionis Kantor tempat Beni bekerja.
"Mbak, ruang kerja Beni Hardian dimana ya?" tanya Nina.
Resepsionis menatap Nina dengan pandangan bertanya-tanya. Dia menduga Wanita ini bukan client dan juga Isteri dari Beni Hardian. Apalagi melihat kotak Nasi yang di bawanya membuat rasa curiga di hati Resepsionis itu. Ditambah kondisi Nina yang sedang berbadan dua memantik rasa penasarannya.
__ADS_1
"Siapa Wanita ini?"batinnya dalam diam.
"Di lantai dua, ruang sebelah kanan," jawab Resepsionis itu menampilkan senyum ramahnya. Nina melangkah pergi tanpa meninggalkan senyuman apalagi ucapan terima kasih.
"Enggak sopan banget terus angkuh. Beda dengan mbak Ega yang ramah dan murah senyum." Resepsionis itu ngedumel tak suka.
Nina memasuki Lift dan menekan angka 2, Lantai tempat keberadaan Beni Hardian.
Ting
Terdengar Lift terbuka lebar, Nina buru-buru keluar kemudian melangkahkan Kaki jenjangnya menuju ruang kerja dari Pria yang sedang dicarinya.
"Nina? Ngapaen dia kesini?" tanya Beni yang kebetulan melintas di lorong tersebut. Dia melihat apa yang di pegang oleh Wanita itu.
Tanpa berpikir lagi dia menghampiri Nina kemudian menyapanya.
"Mau cari siapa Mbak? sepertinya kebingungan?" sapa Beni dengan ramah.
Nina menghentikan langkahnya. Dia melihat seorang Pria dengan seragam Office Boy yang dipastikan salah satu tenaga kebersihan di perusahaan ini. Nina sama sekali tidak mengenali Beni yang sedang menyamar.
"Mau mencari ruang kerja Beni Hardian," sahut Nina datar.
Dalam hati dia menyalahkan dirinya yang tidak pernah mengunjungi Perusahaan tempat Beni bekerja. Bertahun-tahun mereka bersahabat selama itu pula dia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengetahui Perusahaan tempat Beni bekerja.
"Lurus saja mbak sebentar lagi sampai," ucap Beni memberitahu.
Nina mengangguk mengerti dan melangkahkan Kaki menuju ruang yang ditunjukkan.
"Tapi mbak, Pak Beni sedang ada Meeting penting yang tidak bisa diganggu. Tadi dia sempat berpesan jika ada orang yang menemuinya agar meninggalkan pesan dan datang lagi esok hari," ucap Beni memberitahu.
Nina menghentikan langkah saat mendengarkan apa yang di sampaikan Office Boy itu.
"Apa benar itu? kamu tidak lagi berbohong, kan?" tanya Nina setelah membalikkan tubuhnya menghadap Office Boy.
"Untuk apa berbohong mbak, pekerjaan saya menjadi taruhannya," ucap Beni serius. Dia menatap Kotak makanan yang di pegang oleh Nina. Nina ikut mengarahkan pandangan menuju ke tangannya.
"Biar saya yang menaruhnya," lanjut Beni menawarkan.
"Apa tidak boleh saya menaruh sendiri di ruangannya," ucap Nina tidak suka.
Segala macam gosip akan bermunculan dengan pikiran masing-masing yang dipastikan tidak benar.
Nina terdiam memahami apa yang disampaikan oleh Office Boy. Dia ingin mendapatkan undangan jadi ikut saja apa yang disampaikannya.
"Baiklah, saya titip bekal makan siang untuk Beni," ucap Nina pada akhirnya pasrah. Dia menyerahkan Kota Nasi itu dan tanpa berkata apa-apa berlalu begitu saja dari hadapan Office Boy.
"Jadi seperti ini sikap kamu ternyata di belakang kami? Tidak menghargai orang lain sama sekali." Beni membantin.
Beni melangkah menuju ruang kerjanya. Menaruh Kotak Nasi itu kemudian menulis sesuatu pada kertas Post it kemudian ditempelkan pada Kotak Nasi. Tidak lupa dia membubuhkan banyak garam, merica dan penyedap rasa agar rasanya kian lezat.
Beni tersenyum puas menikmati hasil karyanya selanjutnya apa yang terjadi? Kita lihat saja nanti! Beni tak sabaran menikmati wajah tak sedap dari kembarannya itu.
Setelah tertata dengan rapi, Beni melangkah meninggalkan lantai dua hendak menemui Ega. Mereka berdua akan makan siang di Kantin Kantor tempat Ega bekerja.
Sesampainya di Kantor Ega, Beni langsung menemui Isterinya di Kantin. Ega sudah memberitahunya sehingga langsung menuju ke sana.
"Kak Beni sudah sampai?" ucap Ega begitu melihat kehadiran Suaminya.
Beni menyapa teman kerja Ega, kemudian mereka larut dalam obrolan. Kali ini pembahasan mereka seputar otomotif.
"Kak Beni mau makan sekarang?" tanya Ega saat mereka terdiam.
"Boleh," sahut Beni singkat.
"Tadi yang buat Pelecing mbak Ega lo! Rasanya enak, jadinya kita ikut mencicipi," ucap seorang Bapak-bapak menimpali pembicaraan Suami Isteri itu.
Beni tersenyum, dia ikut menimpali dengan candaan.
Selanjutnya Beni menikmati makan siang bersama Isterinya di Kantin Kantor yang sangat sederhana.
Selagi mereka berdua menikmati makan siang. Dari CCTV terlihat kembaran Beni memasuki ruang kerjanya. Dia mendudukkan diri pada Kursi kebesarannya. Saat matanya menangkap Kotak Nasi, seketika senyumnya mengembang. Dia meraih kertas post it itu lalu membacanya. Senyumnya lagi-lagi mengembang. Kini perhatiannya beralih ke Kotak Nasi. Dengan cepat Pria itu membukanya lalu mulai menikmatinya.
"Kita saksikan pertunjukannya," ucap Beni tersenyum sumringah.
Ega mengarahkan pandangan kepada layar Handphone milik Beni. Disana terpampang kembaran Beni.
__ADS_1
"Satu, dua. ...,"
Uhuk uhuk uhuk
Kembaran Beni terbatuk dengan makanan yang diberikan oleh Nina. Dia segera mengambil air putih yang tersedia disana. Saat meneguknya seketika itu menyemburkannya karena rasa asin yang terasa di Lidahnya.
"Makanan dan minuman apa ini? Rasa asin dan pedes banget," ucap Beni. Wajahnya seketika memerah menahan rasa pedas dan tidak enak di lidahnya.
"Aduuuuh! Apapula ini? Kenapa perut saya terasa sakit, pingiiiiin. ...!"
Belum saja menyelesaikan perkataannya, dia bergegas menuju Toilet.
Sementara Beni dan Ega tertawa lebar menyaksikan tontonan gratis dari CCTV. Apa yang dialami oleh kembaran Beni lebih lucu dari komedi apapun.
Hahahahaha
"Kapok!" ucap Beni berbinar-binar.
***
Malam harinya Ega dan Beni sudah sampai di kediaman Banu Hardian. Kehadiran sepasang Suami Isteri itu disambut bahagia oleh Anisa.
Anisa langsung meminta Pasa untuk mengendongnya. Beni tidak mengerti apa yang diinginkan Gadis kecil itu. Dia mengabaikannya dan berlalu begitu saja.
Ega yang mengetahui hal itu segera menghibur Anisa. Gadis kecil itu terlihat kecewa karena Pasa tidak mau lagi mengendong seperti biasanya.
"Pasa capek sayang, lagipula anak Gadis Mamsa yang cantik ini sudah semakin besar otomanis tambah berat, dong! Pasa mungkin tidak sanggup lagi menggendong Anisa."
"Jadi begitu ya Ma?" tanya Anisa.
"Iya sayang."
Anisa tersenyum begitu mendengarkan penjelasan Ega.
Ibu dan anak itu kemudian melangkah ke ruang makan setelah suasana hati Anisa membaik.
Di Meja makan sudah menunggu Banu Hardian, Citra Hardian dan juga Beni Hardian.
Ega melangkah ke arah Bapak mertuanya lalu menyalaminya dan setelahnya beralih ke Citra.
"Apa khabar Nak?" tanya Citra hangat setelah melepaskan pelukan.
"Alhamdulillah baik Umi," sahut Ega dengam senyum manisnya.
Ega melangkah ke kursi di sebelah Beni dan mulai melayani Suaminya agar tak terlihat berbeda seperti biasanya.
Mereka mulai menikmati makan malam dan larut dalam obrolan. Beberapa menit kemudian mereka selesai menikmati makan malam. Namun tidak satupun meninggalkan Kursi masing-masing.
"Abi, Umi. Beni ingin menyampaikan sesuatu," ucap Beni lirih. Dia menundukkan wajah karena rasa bersalah yang ada di hatinya.
Banu dan Citra mengarahkan pandangan kepada Putra semata wayangnya itu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Nak?" tanya Banu serius.
"Saya ingin menikah lagi," ucap Beni pelan tapi masih terdengar oleh mereka yang ada disana.
Deg
Banu terkejut sedangkan Citra terbatuk tatkala mendengarkan apa yang diucapkan oleh Putranya.
"Kenapa ingin menikah lagi? tidak cukupkah satu Isteri. Kalian baru beberapa hari menikah belum hitungan berbulan-bulan dan sekarang ingin menikah lagi," ucap Banu resah.
"Maafkan saya, Abi, Umi. Anita saat ini sedang mengandung anak saya. Saya khilaf, saya mohon maaf." Beni menuturkan apa yang terjadi. Terlihat pada wajahnya rasa bersalah yang sangat menekannya dan rasanya Pria itu tidak sanggup melanjutkan hidup.
"Apa yang kamu katakan itu tidak benar, kan?" Citra terkaget. Dia berharap apa yang didengarnya tidaklah benar.
Tidak mungkin Putranya itu melanggar aturan agama dan tenggelam dalam kemaksiatan. Mereka telah mendidik Beni dengan ilmu agama tapi tetap saja tergoda tipu daya Setan.
Banu terdiam, dia merasa gagal dalam pendidik anak semata wayangnya. Pria paruh baya itu menghela nafasnya yang terasa berat.
Sedangkan Ega hanya terdiam. Dia tidak sanggup berkata apapun. Padahal orang yang mengatakan adalah Beni palsu tapi kenapa dia ketakutan juga. Dia langsung mengenyahkan pikiran buruk yang tiba-tiba hinggap di benak.
"Semoga ini tidak menjadi kenyataan," batin Ega berdoa.
Bersambung.
__ADS_1