
“Sudah siap sayang?” tanya Beni. Dia melihat
Ega sedang mengoles bibir sexynya dengan Lipstik berwarna Pink. Ega terlihat nampak fresh dan manis.
“Sudah, ayok berangkat,” jawab Ega sembari bangkit dari duduknya.
“Melihat kamu cantik seperti ini, rasanya enggan bertemu dengan Juna.” Beni meraih pinggang ramping Isterinya yang sudah berdiri dihadapannya. Tubuh Ega tinggi semampai sehingga terlihat serasi bersanding dengan Beni yang memiliki fostur tubuh tinggi dan tegap lebih tinggi sedikit dari fostur tubuh Ega. Saat ini pinggang Ega sudah berada dalam dekapan Beni. Beni sedikit posesif terlihat bagaimana cara dia memeluk erat tubuh Ega dengan mesra.
“Kak Beni, kalau Kak Beni seperti ini kita bisa telat,” ucap Ega datar. Dia menatap wajah Suaminya dengan lekat.
“Juna tidak akan mempermasalahkannya,” sahut Beni sedikit kesal.
“Tapi rasanya tidak enak dengan Juna jika kita ter. …!
Belum saja Ega menyelesaikan kalimatnya, Beni sudah membungkamnya dengan kecupan. Niat Beni hanya menghentikan Lidah Ega menyebut nama Juna akan tetapi rasa manis membuatnya menenggelamkan diri dalam permainan bibir itu. Ega tampak menikmatinya, dia juga larut dalam keintiman yang mulai tercipta.
“Sayang, udahan ya? Kita tidak enak dengan Abang
Juna. Tahu sendiri pasti Abang Juna mengomeli kita kalau terlambat,” ucap Ega setelah Beni melepaskan pagutan panas mereka.
“Kenapa kamu selalu menjaga perasaan Abang
Juna? Aku cemburu lo!” Beni sedikit cemberut mendengarkan Isterinya masih memperhatikan Juna.
“Rasanya enggan menemui Abang Juna, lebih
baik kita lanjutkan kegiatan intim kita. Aku ingin segera memiliki anak dan tidak sabar ingin kembali menanam benihku.” Beni memperelat pelukan dan kembali menyerang Ega dengan ciuman.
“Sudah puas? Apa boleh kita berangkat?” tanya Ega sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan meladeni ciuman ganas Suaminya setelah beberapa menit mereka melakukannya.
“Iya dah, Jujur aku cemburu dengan Abang
Juna. Sampai sekarang dia masih menjadi priolitasmu,” ucap Beni dengan nada
kurang enak didengar.
“Saya tidak memperiolitas Abang Juna hanya saja
saya tidak enak jika kita tidak menemuinya. Kita sudah janji bertemu dengannya malam ini. Janji harus ditepati, itu yang aku maksudkan.” Ega menenangkan hati Suaminya agar tidak berpikiran bahwa dia memperiolitaskan Juna. Posisi Juna
selama ini memang berbeda dihati Ega. Dia sudah menganggap Juna itu Kakaknya selain Sahabatnya. Memang dia sangat dekat dengan Juna dan merasa nyaman mencurahkan semua permasalahan hidupnya. Juna juga seperti itu, kepada Ega lah dia bisa terbuka meskipun tidak semua urusan pribadi dia curahkan kepada
Sahabatnya itu.
“Mungkin saatnya aku tidak terlalu
bergantung dengan Juna. Aku sudah menikah dengan Kak Beni, aku tidak ingin Kak
Beni salah faham,” batin Ega.
“Maaf Kak Beni,” ucap Ega terdengar tulus.
Dia melihat ada kecemburuan di hati Beni jika menyinggung nama Juna. Dulu tidak
pernah mempermalahkan kedekatan dirinya dengan Juna. Namun setelah menikah,
Juna seakan menjadi persaing terselubung yang sewaktu-waktu mengambil Ega dari dirinya.
Kenapa pikiran buruknya mempengaruhi akal sehat Beni.
“Baiklah aku maafkan. Aku hanya takut,
tiba-tiba Abang Juna memiliki perasaan cinta untukmu. Mengingat kedekatan kamu
selama ini dengannya,” ucap Beni terdengar sendu.
“Kak Beni cemburu dengan Abang Juna? Enggak
masuk akal banget. Abang Juna itu sahabat kita, lagipula hatinya Abang Juna sulit tersentuh oleh siapapun,” ucap Ega meyakinkan hati Suaminya. Tidak akan terjadi apapun dengan persahabatan mereka dan Rumah Tangga mereka.
Beni menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Dia segera menepis pikiran anehnya mengenai Laki-laki Tampan yang merupakan Putra Bangsawan dari Pencity itu. Juna memang baik dan perhatian sebagai Sahabat maupun sebagai Saudara namun tidak menutup kemungkinan Juna memiliki perasaan karena kebersamaannya selama ini. Beni bisa melihat bagaimana Juna menatap Ega yang terlihat sulit diartikan. Sekilas namun penuh arti tatkala tanpa sengaja Gadis manis itu mempergokinya. Tatapan yang sulit terbaca, sampai detik ini tidak ada satupun yang mampu mengartikan tatapan Juna yang sekilas itu meskipun tidak sesering mungkin.
Tidak ingin merajuk terlalu lama, pada akhirnya Beni melajukan kendaraannya ke kediaman Ega yang ada di Perumahan Cermen Asri.
Beberapa menit berkendara Beni dan Ega sampai di Rumah Ega yang ditempati oleh Saik Aminah. Setelah berkeluarga Beni memboyong Isterinya di kediamannya yang berada di Grand Muslim dan Rumah Ega akan ditempati oleh Saik Aminah.
“Kalian itu lama bener sih? Apa kalian enak-enak dulu baru menghampiri saya?” Juna menyambut sepasang Suami Isteri itu dengan omelan. Wajahnya sedikit ditekuk karena merasa bosan menunggu kedua sahabatnya itu. Terlihat beberapa putung rokok menemaninya.
“Abang Juna ngerokok? Setahu saya Abang
tidak merokok?” tanya Ega penasaran. bukan meladeni omelan Juna tapi malah mempertanyakan kebiasaan baru yang dilihatnya.
“Seperti yang kamu ketahui Abang memang
tidak pandai merokok. Baru ini Abang coba untuk mengusir rasa sepi,” jawab Juna datar. Dia segera mematikan rokoknya lalu membersihkan putung rokok yang berserakan di Tanah. Dia tahu Ega tidak suka bau asap rokok sehingga mensterilkan area itu dari bau asap rokok.
“Ada masalah apa sih?” tanya Beni penuh perhatian. Dia sejenak melupakan kecemburuannya kepada sahabatnya ini.
“Tidak ada masalah apa-apa.” Juna berusaha
mengelak setelah dia duduk kembali dan berhasil mensterilkan area Berugak.
“Saya masuk dulu, bertemu dengan Saik
Aminah sekalian membuat minuman,” pamit Ega.
“Hey, kenapa disembunyikan. Saya mengerti,
Laki-laki yang kalut pasti akan mencari Nikotin untuk menenangkan pikirannya. Hati-hati nanti kamu terserang penyakit paru-paru.” Setelah berkata Beni memperhatikan raut wajah Juna yang sedikit gusar.
__ADS_1
“Kamu selalu bisa membaca pikiranku Ben,”
ucap Juna tersenyum.
“Kamu lupa kita sudah lama bersama-sama
jadi aku tahu seperti apa raut wajah seorang Juna tertimpa masalah meskipun Abang Juna bisa menyembunyikan dengan begitu baik. Jadi apa permasalahannya?”
‘Kita tunggu Ega saja, sebenarnya yang ingin
saya ketahui tentang Anisa dan Aulia,” ucap Juna datar.
“Anisa dan Aulia, ada apa dengan mereka?” tanya
Beni terkejut. Dia tidak menyangka Juna ingin tahu tentang Anisa anak angkatnya dan Aulia Ibu kandung Anisa. Ega kembali dengan tiga gelas minuman. Dua Teh hangat untuk dirinya dan Juna sedangkan satu Gelas Kopi Hitam untuk Beni.
“Maaf hanya ada minuman saja,” ucap Ega
sembari meletakkan di tengah-tengah mereka.
“Tidak masalah, saya sudah makan,” sahut
Juna tersenyum.
“Jadi ada apa Abang Juna memanggil kami
kesini?” tanya Ega to the point. Tidak ingin berlama-lama dalam rasa penasaran.
Juna terlihat merogoh Saku Jaketnya,
tangannya bergerak cepat lalu menemukan apa yang dicarinya.
“Apakah Aulia yang kalian maksud adalah
Wanita yang ada pada Fhoto ini?” tanya Juna menyodorkan fhoto.
Beni mengambil fhoto itu lalu melihatnya
dengan seksama. Ega mendekat agar bisa melihatnya.
“Benar ini Aulia,” ucap Beni setelah
melihatnya dengan seksama. Ega juga mengatakan hal sama.
Terlihat wajah Juna sedikit berbinar-binar.
“Alhamdulillah, selama ini saya berusaha
mencari keberadaan anak Aulia. Apa Anisa itu anaknya Aulia?”
Beni dan Ega saling pandang sebelum
menjawab pertanyaan Juna. Mereka berdua terkejut ternyata Juna mengenal Aulia
“Iya, Anisa Mutia adalah anaknya Aulia. Saat gempa terjadi, kami berdua menolong Aulia dan Anisa lalu membawanya ke Rumah Sakit Mentaram. Saat itu keadaan Aulia terluka parah sedangkan Anisa berhasil diselamatkan Ega. Saat gempa terjadi Aulia melemparkan Anisa ke arah Ega sehingga tidak tertimpa reruntuhan. Beberapa hari Aulia sempat sadar dan berbicara dengan kita. Dia menitip Anisa kepada kami dan meminta kami untuk merawat Anisa dan menjadikan Anisa sebagai anak kami. Aulia mengira kalau kami berdua sepasang Suami Isteri. Saat itu kami hanya mengiyakan saja, tanpa bertanya lebih lanjut karena saya yakin dia akan segera sembuh. Kami tidak tahu bahwa Aulia ternyata mengidap Kanker
Payudara. Kankernya itu menggerogoti tubuhnya. Dokter berusaha untuk menyembuhkan Aulia dan kita berdua bersedia menanggung biaya rumah sakit Aulia akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Aulia tidak bisa diselamatkan, dia meninggalkan Anisa Mutia kepada kami.” Beni menceritakan semua hal yang terjadi pada Aulia. Tindakan apa yang dia dan Ega lakukan saat mengetahui penyakit Aulia.
Juna menitikkan airmata, baru kali ini Beni
maupun Ega mengetahui keterpurukan Laki-laki itu. Terlihat sekali kesedihan pada wajahnya.
“Saya merasa bersalah dengan Aulia, saya
tidak berhasil menjaganya bahkan mencintainya. Aulia selama ini memendam harapannya agar bisa bersama saya sebagai sepasang Suami Isteri dan berharap saya mencintainya. Saya tidak tahu diam-diam Aulia menyimpan perasaannya itu,”
ucap Juna terlihat sedih.
“Jadi ini alasannya kenapa selama ini Abang Juna
menutup pintu hatinya itu semua karena cinta Aulia,” batin Ega.
“Aulia memang mengidap Penyakit Kanker
Payudara. Dia pernah melakukan operasi dan saya dengan setia menemaninya. Setelah melakukan Perawatan yang lama pada akhirnya Dokter menyatakan kalau Aulia sembuh dari Kankernya. Saat itu saya merasa lega melihat Aulia sembuh dan terlihat begitu semangatnya. Saya selalu mendampingi Aulia demi kesembuhan
sekaligus perjuangannya untuk bangkit dan menata hidup demi Anisa.” Juna melanjutkan
ceritanya. Dia terdiam sejenak sembari mengingat sesuatu.
“Suatu hari Aulia meminta saya untuk mencari Lexi karena ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu. Saya menyetujuinya, mungkin kita harus membicarakan kebenaran kepada Lexi dan tidak ingin bersembunyi lagi dari kejaran Om Indra.” Juna kembali menjeda ceritanya. Ada rasa sedih tatkala menceritakan itu semua.
“Lexi? Maksud Abang Juna apa? Apa hubungan
Lexi dengan Aulia?” tanya Ega penasaran.
“Aulia adalah Nara Aulia, sahabat saya sekaligus sahabat Lexi. Apa kalian inget kejadian saat Om Indra ditangkap dan cerita Lexi kepada kamu Ga,” jawab Juna datar. Dia mencoba mengingatkan pertemuan Ega dan Lexi yang menumbuhkan bunga-bunga cinta diantara mereka berdua meskipun tidak bermekaran. Saat itu pula Indra Aditama, orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang dialami Nara Aulia dan keretakan persahabatan mereka.
“Jadi Aulia itu sebenarnya Nara Aulia, Gadis
yang dicintai Lexi? Gadis yang diperkosa oleh Om Indra Aditama? Jadi Anisa Mutia adalah anak Biologis Indra Aditama dan itu artinya Adik satu Ayah dengan Lexi Aditama? Saya sungguh tidak percaya ini semua?” Ega berkata-kata dengan
tanya yang terdengar beruntun-runtun.
“Iya, Aulia adalah Nara Aulia. Selama ini saya menyembunyikan Aulia di Utara dan memulai hidup baru. Dia tidak ingin kembali dan harus berurusan kembali dengan masa lalunya. Awalnya seperti itu
tapi tiba-tiba Aulia ingin bertemu dengan Lexi, entah apa yang ingin dibicarakan dengan Lexi. Saya berusaha mencari keberadaan Lexi hingga Aulia meninggal saya tidak menemukannya. Lexi seakan hilang di telan Bumi.” Juna terdiam setelah menuturkan semua yang diinginkan oleh Aulia. Ia menenangkan dirinya karena ingatan masa lalu yang selama ini menyiksanya.
“Saya tidak berhasil mewujudkan keinginan
__ADS_1
Aulia, itu yang saya sesali hingga sekarang.” Lanjut Juna.
“Jangan salahkan diri kamu Jun. kamu sudah berusaha mencari Lexi dan memberikan perhatian kepada Aulia. Jika kalian tidak bisa bersama-sama dan saling mencintai itu merupakan takdir yang tidak bisa kamu hindari. Kita sebagai manusia tidak bisa menghindari takdir itu, bukankah kita beriman dengan yang namanya takdir. Sekarang lepaskan diri kamu dari masa lalu itu. Saya yakin Aulia tidak ingin kamu seperti ini, memenjarakan diri kamu
dalam sel rasa tidak bersalah.“ Beni berusaha untuk menyemangati Juna dan menenangkannya. Dia berharap Juna bisa keluar dari masa lalunya itu.
Juna terdiam, sulit baginya untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalunya. Rasa bersalahnya pada Aulia karena tidak mampu memberikan kebahagiaan kepadanya. Mengapa dirinya tidak peka terhadap rasa yang ditunjukkan oleh Aulia. Kenapa dia tidak menyadari kalau Aulia membutuhkannya malah pergi meninggalkannya saat-saat Aulia berjuang kembali dengan penyakitnya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga mencari keberadaan Lexi sehingga melupakan kewajibannya menjaga Aulia. Meskipun ingin selalu mendampinginya namun kenyataan dia tidak mampu membagi raganya untuk selalu
bersama Aulia dan Anisa. Saat dia tahu bahwa Aulia mencintainya saat itu ia menyadari dia tidak sanggup kehilangan Aulia. Karena tidak berhasil membahagiakan dan melindungi Aulia menjadi momok menakutkan baginya jika menjalin hubungan dengan seorang Wanita. Itulah sebabnya kenapa dia tidak berani memenuhi
keinginan orang tuanya. Dia benar-benar takut tidak bisa membahagiakan orang yang mendampinginya. Juna benar-benar Insecure dengan masa lalunya itu.
“Abang, Kak Beni benar. Saatnya Abang membebaskan diri dari masa lalu Abang. Bukankah selama ini tugas Abang adalah mencari anak dari Nara Aulia dan sekarang Abang sudah menemukannya lantas apalagi yang Abang pikirkan?” Ega menambahkan apa yang dibicarakan oleh Suaminya.
“Iya, kalian benar saatnya saya memikirkan diri sendiri. Saya bersyukur kalian merawat anaknya Nara Aulia dengan baik. Setidaknya hidupku sekarang sangat lega,” sahut Juna mengamini keinginan kedua sahabatnya itu.
“Gitu dong! Saatnya Abang cari calon Isteri, sedih saya ngeliat hidup Abang yang tak berwarna, indah dan bermekaran seperti Taman Bunga,”
ucap Ega terdengar riang.
"Hahahaha."
Juna tertawa lebar mendengarkan kata-kata dari Sahabatnya itu. Entah kenapa hatinya merasa tenang.
"Kamu tuh Ga bisa saja," ucap Juna hendak mengulurkan tangannya untuk mendaratkan tangannya di Kepala Ega. Namun urung dilakukan karena Juna menyadari Ega sudah menikah dan tak ingin membuat Beni salah faham.
"Iya bisa dong, seperti kata Pujangga hidup tanpa cinta bagaikan Taman tak berbunga. Memangnya Abang mau Tamannya enggak ada bunganya."
Mendengarkan kutipan dari lirik lagu Raja Dangdut membuat Juna kembali tertawa. Suasana hatinya membaik dengan kehangatan persahabatan mereka.
Sementara itu Beni hanya tertawa kecil menyimak kata-kata yang terlontar dari bibir sexy Isterinya yang membuatnya selalu mabuk kepayang ketika menyentuhnya.
"Honey, lihat tuh muka Juna sepertinya sudah bermekaran," celoteh Beni menggoda Juna.
"Terima kasih, kalian berdua selalu ada buat saya," ucap Juna berterima kasih. Dia bahagia memiliki Sahabat seperti sepasang Suami isteri dan tentu saja personil Tujuh Sahabat.
“Sami-sami Jun, Oya sudah berapa umurnya masih saja ngejomblo. Seperti kata Isteri saya yang tercantik ini 'sedih saya melihat hidup kamu." Beni menambahkan dukungan yang diberikan kepada Juna agar segera melepaskan masa lajangnya.
“Mentang-mentang kalian sudah menikah jadi
bisa ngeledek begini,” gerutu Juna
sewot.
“Bukan ngeledek, kita hanya mengingatkan Abang Juna agar tidak terus-terusan ngejomblo. Sayang, kan sama Senjatanya Pamungkasnya hanya di pakai buang hajat kecil saja dan tidak difungsikan
sebagaimana mestinya, bukan begitu 'kan, sayang,” ucap Ega masih asyik meledek Juna malah menambah kata sayang meminta pendapat Suaminya membuat Beni tidak tahan mengelus Pipi lembut Isterinya.
Cup
Tiba-tiba Beni mengecup bibir Isterinya membuat Juna melotot. Beni tidak sungkan-sungkan melakukan itu dihadapan Juna, sengaja untuk membuat Laki-laki itu segera bergerak mencari pasangannya.
“Dasar sahabat enggak sopan, bikin kejantanan saya hidup saja. Apa kalian pikir saya Patung, saya makhluk hidup punya rasa punya hati.” Juna mengomeli tingkah Beni yang tidak tahu malu
memperlihatkan kemesraannya dihadapannya.
Ega merasa malu, karena tanpa keinginnya
tiba-tiba Suaminya menciumnya. Ini benar-benar memalukan membuat wajahnya berubah warna karena menahan malu.
“Sorry, makanya segera mencari pasangan lalu
menikah,” ucap Beni merasa tak bersalah.
“Saya belum menemukan seorang Gadis yang
membuat hati ini berdesir dan Jantung ini berdetak tak normal,” ucap Juna datar. Dia tiba-tiba termenung , sebenarnya bukan tidak ada tapi Gadis itu sudah tidak mampu diraihnya. Dia merasakan jantungnya terpompa lebih cepat ketika berada didekat Gadis itu hanya saja dia tidak mau menyadarinya. Dia tidak mau mengakui itu dan tidak menginginkan itu karena ketakutannya tidak
mampu membahagiakannya seperti dia tidak mampu membahagiakan Aulia.
Huft
Juna menghela nafas panjang, dia menatap
Ega sekilas dengan pandangan dalam. Namun hanya sekilas lalu sekilas merubahnya
menjadi pandangan datar karena tidak ingin mengusik kebahagiaan sahabatnya.
Lagi-lagi Beni melihat pandangan yang sulit
terbaca yang diperlihatkan Juna kepada Ega. Hanya sekilas namun sekilas itu
berubah normal kembali.
“Tenang saja Abang, Abang itu tampan dan
juga mapan tidak sulit menemukan Gadis yang membuat Jantung Abang berdebar-debar. Itu si Fiza sepertinya suka sama Abang,” ucap Ega membuyarkan lamunan Juna.
“Fiza ya? Saya tidak memiliki perasaan sama
Fiza lagipula Rian sangat menyukai Fiza. Saya tidak pernah tertarik memperebutkan apa yang diinginkan orang lain dan dimiliki orang lain,” ucap
Juna datar dan terdengar tegas.
“Pelan-pelan saja, nanti juga kamu bakalan jatuh
cinta. Tidak selamanya kamu akan menyendiri dan saya yakin suatu saat nanti kamu bertemu dengan seseorang itu dan bersamanya,” ucap Beni menepuk bahu Juna menyemangati. Beni tahu, selama ini Juna selalu mengelak dan tidak menginginkan rasa dihatinya ada karena Aulia.
Setelah lama berbincang-bincang pada akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan karena rasa kantuk mulai menyerang mereka.
__ADS_1
Juna kembali ke Kostnya sedangkan Beni dan Ega menginap di Rumah Ega.
Bersambung.