
“Angin segar apa yang membawa Mas Beni ke sini?” tanya Ivan diiringi senyum ramahnya.
“Tadi saya bertemu Client. Terus saya ingat kalau Mas Ivan Pemilik dari Cafe ini, jadi tidak salahnya menyapa Mas Ivan," sahut Beni tidak kalah ramah. Dia menyeruput Orange Jus hangat yang dipesannya.
Terlihat Ivan mengangguk mengerti dan selanjutnya mengulas senyumnya.
“Tidak menyangka seleramu sama dengan Ega,” ucap Ivan setelah Beni selesai meneguk minumannya.
“Seperti itu orang yang berjodoh,” sahut Beni datar.
“Bagaimana khabar Ega?”
“Dia baik-baik saja, Alhamdulillah aman bersamaku. Nampaknya kamu sangat perhatian sama Isteriku? Apa dia masih berada dalam pikiranmu? Saya harap itu tidak akan terjadi?” ucap Beni mengucapkan tuduhan secara terang-terangan.
Ivan menatap Beni dengan raut sulit diartikan. Sejurus kemudian tersenyum.
"Tenang saja, sebagai orang yang mengenal Ega tentu saya ingin tahu keadaannya apalagi dia pernah mengalami kecelakaan,” ucap Ivan sedatar dan setenang mungkin. Dia berusaha mengelola kesabarannya agar tidak lepas control.
“Alhamdulillah jika itu memang niat baik Mas Ivan, semoga itu tulus tentu akan dibalas oleh Tuhan,” sahut Beni. Dia nampak tenang dan tidak perlu tergesa-gesa mencapai tujuannya.
Ivan mengangguk dengan senyum yang tak kalah indah. Ketampanan Ivan Alkaeri tak diragukan lagi. Pesonanya mampu menyaingi pesona Beni Hardian.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ega? Apa ada yang membencinya karena menikahi Calon Pewaris tahta Perusahaan Otomotif terbesar di Daerah ini?” ucap Ivan datar. Apa yang diucapkannya seakan menyudutkan Beni. Tentu, karena dia Putra dari Banu Hardian, tidak menutup kemungkinan ada orang yang tak suka dengan Isteri dari Beni Hardian. Karena cemburu, sangat beralasan.
Beni tersenyum, dia tidak menyangka Ivan mengetahui jati dirinya. Selama ini tidak ada yang mengetahui siapa dirinya karena memang tidak pernah tampil sebagai Putra seorang Pengusaha hebat. Beni selalu tampil di ruang Publik sebagai seorang Marketing Manager dari Perusahaan Otomotif terbesar yang memang milik Orang tuannya.
‘Saya rasa tidak ada hubungannya dengan diri saya. Saya hanya seorang Manager Marketing, apa yang akan di pandang. Mas Ivan mungkin salah mengira,” sahut Beni datar. Dia kembali meneguk orange Jusnya untuk membasahi tenggorokan yang mulai mengering.
“Pelakunya mulai menampakkan diri, dia menghubungi saya.” Beni melanjutkan perkataannya. Dia menatap wajah Ivan, untuk mendapatkan reaksi apa yang akan dinampakkan.
Ivan terlihat tenang, namun disudut mata tersimpan kegelisahan yang berhasil terbaca. Beni tersenyum tipis.
__ADS_1
“Saya belum tahu siapa dia,” ucap Beni berusaha menghapus kegelisahan yang tak terlalu kentara dari yang diperlihatkan oleh Pria di hadapannya.
‘Bagaimana kalau saya ikut membantu?” ucap Ivan bergerak cepat.
Beni mengangguk, itu yang diinginkannya. Memancing Ivan untuk bergerak, tanpa sadar nantinya dia sendiri membongkar jati dirinya. Mungkin akan melakukan kebohongan dengan menutupi bukti yang sebenarnya.
“Boleh, dengan senang hati. Semakin banyak yang membantu semakin cepat terungkap,” sahut Beni.
Setelah tidak ada pembicaraan, Beni berpamitan karena tujuan awalnya telah tercapai. Dia tersenyum mengiringi langkahnya meninggalkan Café milik Ivan Alkaeri.
[Apa kamu menghubungi Beni?]
[Tidak, kamu becanda]
[Siapa yang becanda Lexi, Beni mengatakan kalau kamu menghubunginya. Awas saja sampai semua terbongkar dan jangan libatkan saya]
[Sayang sekali kamu sudah terlibat Ivan, tidak bisa dipungkiri itu]
[Sial]
[Jangan menggerutu, bukankah kita sama-sama saling menguntungkan. Bukankah tujuanmu adalah aku, Lexi Aditama dan tujuanku adalah Beni Hardian. Ah kebalik, iya sudahlah sama-sama mempunyai tujuan. Nikmati saja]
Evan dan Tujuh sahabat mendengarkan percakapan Ivan dan seseorang yang dipanggil Lexi. Pada saat yang bersamaan juga Juna sedang berbicara dengan Lexi Aditama melalui Vidio Call. Terpampang nyata wajah Lexi di seberang sana menggunakan Baju Koko berwarna putih.
Sementara Beni tak beranjak dari Café, dia menyembunyikan diri sambil memantau Ivan. Saat itu Ivan langsung menghubungi seseorang dan gerak cepat Beni langsung meminta Evan untuk mendengarkan percakapan yang sudah di sadapnya.
***
“Jadi benar, ada dua Lexi disini? Apa tujuan mereka sebenarnya? membuat saya pusing saja,” ucap Dipta bingung. Mereka kembali berkumpul di kediaman Ega. Saat Beni sudah kembali dari Café.
“Nah itu dia, siapa Lexi abal-abal ini?” sahut Juna terlihat bingung. Dia tidak menceritakan kepada Lexi tentang dirinya yang dijadikan tersangka.
__ADS_1
“Apa Lexi mempunyai saudara kembar?” tanya Beni.
“Setahu saya tidak?” jawab Juna menggelengkan kepalanya.
Beni berpikir sejenak. Dia berusaha mengaitkan kalimat-kalimat yang terlontar dari Ivan dan juga Lexi abal-abal itu.
“Sebenarnya tujuannya adalah saya dan Lexi Aditama tapi menggunakan Ega untuk menyakiti kita berdua. Mungkin saja dia dendam dengan Lexi dan menggunakan jati diri Lexi agar kita mengarahkan sasaran kepada Lexi. Lexi abal-abal itu ingin menghancurkan Lexi dan membuat nama Lexi buruk dimata siapapun. Apa ini ada hubungannya dengan Anita? saya rasa Ivanlah dibalik semua ini. Sedangkan orang yang dianggap Lexi hanyalah mengalihkan perhatian kita.” Beni menerangkan analisanya. Entah kenapa dia mendadak menjadi penyidik dan menyimpulkan apa yang diketahuinya.
“Maksud kamu apa Beni?”
“Anita, sumber dari kejadian ini. Ivan kemungkinan menyimpan dendam kepada Lexi karena mungkin saja dia telah mencampakkan Anita. Dia tahu Lexi menyukai Ega dan itu alasan yang tepat kenapa dia melakukan itu,” jawab Beni melanjutkan analisanya.
“Bisa jadi itu? Ivan melakukan ini karena cinta. Dia mencintai Anita yang merupakan Adiknya dan disisi lain dia mencintai Ega. Jadi dia ingin menghancurkan dua Pria sekaligus. Dimana kedua Pria itu yang telah membuatnya kecewa. Bisa jadi karena rasa kecewa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya membuatnya marah. Amara tak terkontrol yang terlanjur bersemayam di hati membuatnya ingin orang lain merasakannya juga. Siapa tahu kesehatan Ivan terganggu dengan pengalaman yang pernah dialaminya. Pertama kegagalan pernikahannya dengan Ega dan juga kegegalan rumah tangganya. Dia juga harus menghadapi kegagalan asmara dari adiknya. Mungkin saja dia tidak sanggup menghadapi semua ini.” Rian panjang lebar melanjutkan kesimpulan dari Beni. Dia nampak sependapat dengan Beni.
“Nah ketahuan, yang kita lakukan sekarang mengumpulkan bukti-bukti agar Ivan mempertanggung jawabkan perbuatannya,” ucap Dipta serius.
“Tidak menyangka Mas Ivan bisa berbuat seperti itu. Jika kita lihat, dia sangat baik dan pemahaman agamanya tidak dangkal. Sangat disayangkan,” ucap Evan masih tidak percaya.
“Saya juga tidak menyangka,” ucap Dipta. Dia tahu betapa baiknya Ivan Alkaeri dan dia masih tidak percaya bahwa Ivan melibatkan diri dalam kejahatan ini.
“Dia dimanfaatkan oleh nafsu dan orang lain. Bisa jadi orang lain itu adalah orang yang sangat disayanginya. Jika berhadapan dengan orang yang kita sayangi, kita bisa berbuat apapun walaupun itu bertentangan dengan hati nurani,” ucap Beni menimpali perkataan Evan dan Dipta.
‘Bisa jadi itu?”
Juna tidak berkomentar apapun, dia membenarkan apa yang diucapkan oleh Beni. Buktinya karena cinta kepada Ega dia mengabaikan amanah dari Lexi dan karena cinta kepada Ega, dia mengotori kesucian dari Gadis itu dengan tameng menolong. Hanya satu yang masih dipegangnya, yaitu iman yang sangat tipis agar tak bertindak diluar dari hati nuraninya. Jika tidak, mungkin saja dia akan bertindak seperti Ivan Alkaeri. Namun dia tidak sejahat itu.
Juna gelisah sendiri dan berusaha menyembunyikan kegelisahan itu.
Beni menangkap kegelisahan yang berusaha disembunyikan Laki-laki berparas timur tengah itu. Dia yakin yang dipikirkannya adalah perasaan Lexi, sahabatnya. Betapa bersalahnya dia kepada Pria itu.
Tidak menyangka cinta pula membuat Juna harus menanggalkan persahabatan itu. Dan Beni terjebak pada tiga Pria yang mencintai Isterinya.
__ADS_1
"Kamu jodohku Ga, aku percaya kita akan selalu bersama-sama. Bukan merasa aku sebagai pemenang tapi aku yang ditakdirkan untuk kamu," bisik hati Beni.
Bersambung.