
Terkejut!
Kata itu cocok sebagai gambaran apa yang terjadi pada semua orang yang mendengarkan tutur kata dari bibir seorang Nina. Memang benar Bibir tak bertulang dengan lenturnya mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal. Terlebih Beni, wajahnya terlihat kacau. Dia sekarang berhadapan dengan seorang Wanita yang hilang akal jadi percuma saja menjelaskannya berulang-ulang.
Sejenak mereka bingung harus berkata apa. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ega, Wanita itu terlihat begitu shock. Dia berusaha menyunggingkan senyum untuk mengelabui hatinya yang begitu remuk. Nina, Sahabatnya benar-benar menginginkan Suaminya. Dia sedari awal sudah mengalah dan merelakan Laki-laki bernama Beni itu dimiliki oleh Nina. Namun ternyata keinginan tak sesederhana itu, Beni mencintainya dan sekarang dia juga merasakan cinta untuk Suaminya. Apa dia yang salah? jika sekarang dia mendambakan Beni, Suaminya seperti Nina mendambakannya. Apa dia yang salah jika Beni ternyata takdirnya dan bisakah Nina menerima itu semua?. Kenapa sekarang keadaan menyudutkannya pada kerumitan. Apa yang harus dilakukan agar keadaan tidak seperti ini?.
Nina merasa puas karena tidak ada satupun yang mengomentari apa yang diucapkannya. Dia merasa dirinya menang dari Amanda yang terlihat menahan kekesalannya.
"Mbak Ega sebaiknya kita siap-siap, jangan hiraukan Wanita gila ini," ucap Amanda dingin. Dia memecahkan keheningan yang membuat sulit bernafas.
"Memangnya kalian mau siap-siap kemana? Astaga aku baru sadar, kenapa sepagi ini kamu sudah ada disini Van?" tanya Nina datar. Dia sudah melupakan apa yang diucapkan tadi dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Dia berakrab ria kembali dengan sahabat-sahabatnya.
Tak ada jawaban, Nina beralih kepada Rian yang sedang merapikan kembali Piring kotor bekas dia sarapan.
"Kenapa semua menjadi tak menghiraukan aku sih? hellooo, aku Nina sahabat kalian dan anggota Tujuh Sahabat, jangan lupakan itu?" ucap Nina sedikit merajuk karena baik Evan dan Rian tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya Nin, kita ingat kok jadi jangan merajuk," ucap Rian singkat. Dia hendak bangkit dari duduknya lalu hendak berjalan menuju kedalam rumah.
"Biar Manda aja Mas," cegah Amanda mengambil alih Piring yang dipegang Rian. Dengan gesit Gadis itu segera berlalu menuju ke dalam rumah Ega.
"Hubungi Juna dan Dipta, kok lama amat entar keburu siang. Lelet amat sih mereka berdua," ucap Beni dingin. Dia tak menghiraukan keberadaan Nina. Dia menaruh Paper Bag yang dipegangnya begitu saja di Berugak lalu berjalan menuju ke arah dalam rumah.
"Loh Beni? sejak kapan kamu boleh memasuki Rumah Ega?" tanya Nina sedikit berteriak dan merasa heran. Beni tak menjawab lebih memilih mengabaikan pertanyaan Nina dan melanjutkan langkah.
"Aduh Nina, kamu kemana saja? kita sudah boleh masuk ke rumah Ega. Toh juga kita rame-rame dan ada Saik Aminah jadi amanlah," sahut Evan datar.
"Oh jadi begitu? tadi si Cewek belagu itu bilang siap-siap dan belum ada yang menjawab pertanyaan, sebenarnya kalian siap-siap mau kemana sih?" tanya Nina penasaran.
"Kita mau liburan ke Senaru," jawab Evan singkat. Dia terlihat agak malas menjawab tapi kalau tidak dijawabpun Nina akan memburu siapapun untuk mendapatkan jawaban.
"Jadi begitu? kalian mau liburan dan aku enggak diajak. Gitu ya sama sahabat sendiri," kata Nina merasa sedih karena diabaikan.
"Bukan begitu Nin, setahu kita kamu sedang liburan dan kita tidak tahu kapan kamu pulang. Lagipula kita sudah obrolkan di Group jadi mana mungkin kamu tidak tahu," sahut Ega datar. Dia tidak mau Nina lagi-lagi menyalahkan mereka dan menganggap dirinya diabaikan. Meskipun saat ini hati Ega sendu tapi Nina adalah bagian dari Tujuh Sahabat, mau tidak mau dia harus melupakan apa yang sudah dilakukan Nina.
"Benar juga sih? aku yang enggak sempat menyambangi group. Kalau begitu aku ikut kalian. Sebentar aku mau siap-siap, di Lemari masih ada pakaian aku 'kan, Ga?" Nina berlalu begitu saja setelah mengucapkan keinginan untuk ikut.
Ega belum bisa berbuat apa-apa, bagaimanapun juga Nina adalah sahabatnya. Entah apa yang terjadi nanti, mereka berdua pasti bisa melewati semuanya agar pernikahannya dengan Beni akan tetap bertahan. Ega dan Beni akan mengatakan kepada Nina kalau dia sudah menikah pada saat yang tepat. Dia berharap Nina bisa menerima dengan ikhlas dan bisa bersikap sewajarnya sebagai sahabat.
Ega tersentak dari lamunannya, dia buru-buru masuk Rumah karena Beni masih berada di dalam rumah sedangkan Nina berjalan menuju kamar Pribadi mereka.
Tentu saja Nina terkaget menemukan Beni yang saat ini ada dikamar. Tubuh indahnya terekspos untuk mamanjakan mata yang memandangnya.
"OMG, indah banget tubuh kamu Beni!" pekik Nina dan langsung berhamburan hendak memeluk tubuh indah itu.
Beni yang menyadari bukan suara Isterinya reflek mendorong begitu saja Pintu kamarnya. Nina lebih cepat masuk dan dengan gesit menutup Pintu.
"Astaghfirullah Nina, apa-apaan kamu, keluar!" bentak Beni. Dia juga berusaha melepaskan diri dari pelukan Nina.
__ADS_1
"Tidak, kita sudah terlanjur berduan disini jadi enggak apa-apa digrebek oleh warga. Aku juga mau menikah dengan kamu Beni? aku mohon menikahlah denganku Ben. Aku bingung harus berbuat apa? aku saat ini sedang hamil dan aku berharap kamu mau membantuku untuk menutupi semua ini. Bantu aku Beni untuk mengakui anak yang aku kandung adalah anakmu. Aku mohon Beni, kamu adalah Pria yang baik, mana mungkin tega untuk mengabaikan aku dan menyakiti aku. Beni aku mohon nikahi aku dan akui anak yang aku kandung adalah anakmu meskipun anak ini memang benar bukan anakmu tapi anak Soni. Kamu sahabat terbaik yang aku miliki sekarang dan aku yakin kamu sangat menyayangiku jadi wujudkan harapanku untuk bersama kamu, aku mohon Beni, bisakah itu?" Nina berusaha mengiba kepada Beni agar Beni mau menikahinya dan mau mengakui anak yang dikandungnya adalah anaknya. Beni satu-satunya Laki-laki yang diharapkannya dan dia yakin Beni akan mencintainya. Sudah tidak ada malu yang dia rasakan asalkan Beni bersedia menikahinya. Apapun akan dilakukan untuk itu meskipun dia harus mengemis belas kasihan seorang Beni.
"Kak Beni, Nina! apa yang kalian lakukan di kamar?" ucap Ega terkaget mendapatkan Suaminya berduaan dengan Wanita lain yang merupakan Sahabatnya.
Beni melihat Isterinya di depan Pintu dengan keadaan sedih. Isterinya itu mempergoki dirinya sedang di peluk erat oleh Nina dalam kondisi hanya menggunakan handuk melilit Pinggangnya. Beni belum sempat memakai baju dan Celananya setelah dia selesai mandi dan Nina begitu saja masuk menculik kesempatan.
"Ega, kamu itu ya selalu saja mengangguku. Kenapa kamu enggak biarin aku berduaan dengan Beni. Kita berdua mau pacaran tahu, eh kamu malah mengganggu kemesraan kita berdua, iya kan Beni?" ucap Nina kesal karena Ega telah mengganggu kesenangannya.
"Keluar kamu Nina, apa kamu tidak punya rasa malu berduaan dengan Laki-laki yang bukan mahrommu? kamu boleh saja merendahkanku tapi jangan kamu lakukan tindakan tak senonoh di kamarku, keluar kamu Nina! keluaaaar!" Ega berteriak mengusir Sahabatnya itu dari kamarnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Nina yang sudah di luar Toleransinya. Wajah Ega merah padam menahan amarahnya. Wajah teduh dan lembut itu seakan tersapu oleh amarah yang menyesakkan dadanya.
Nina keluar dengan menampakkan kekesalannya. Dia tidak terima Ega mengusir dan mengganggu kesenangannya.
Sedangkan Beni terlihat gusar, dia menatap wajah Isterinya dengan masih tetap hangat penuh cinta dan mendamba.
"Sayang, tidak terjadi apa-apa! aku berusaha melepaskan diri tapi Nina tidak membiarkan aku bernafas." Beni berusaha menjelaskan kepada Ega bahwa dia tidak menikmati apa yang dilakukan Nina kepada dirinya.
"Bungkuslah Tubuh indah Kak Beni, karena aku khawatir Nina semakin gila ingin bermanja-manja disana," ucap Ega sedatar mungkin. Setelah berkata dia berlalu begitu saja dari ambang pintu kamarnya.
Beni sangat frustasi melihat wajah Isterinya yang nampak terluka dan cemas. Terlihat gurat kekhawatiran dan bingung juga disana. Isterinya itu bingung seperti apa harus bersikap sekarang menghadapi Sahabatnya sendiri yang menginginkan Suaminya. Meskipun Ega bisa setenang mungkin tapi Beni tahu Isterinya itu tidak baik-baik saja. Laki-laki itu segera menggunakan Pakaiannya kemudian mengotak atik gawainya tadi dia sempat menekan rekam.
Sementara itu Nina melangkah keluar dengan membawa kekesalannya hingga dilihat oleh semua yang ada disana. Terlihat Juna dan Dipta sudah ada disana. Dua orang itu tidak tahu apa yang terjadi. Sedangkan yang lainnya mendengarkan teriakan Ega namun tidak berani ikut campur dalam permasalahan mereka sebelum mereka diizinkan untuk terlibat.
"Eh ada Nina, kapan kamu pulang? itu kenapa wajah kamu ditekuk? sepertinya sangat kesal, kesal kenapa?" tanya Dipta bertubi-tubi melihat wajah cantik Nina tak sedap dipandang.
"Kesal sama Ega, seenaknya saja mengusir aku dari kamarnya padahal aku sama Beni sedang bermesraan. Kenapa sih cewek itu sok suci banget padahal aku hanya memeluk Beni tidak melakukan lebih dari itu." Nina menjawab dengan gerutuan yang membuat Telinga orang sakit mendengarkannya.
"Eh Nina terang saja Ega marah dan mengusir kamu karena sudah mencoba menggoda Su. ...!"
Perkataan Dipta terpotong karena Juna buru-buru menyikutnya karena Dipta hampir saja keceplosan berkata jujur kalau Ega dan Beni sudah menikah. Mereka memang dilarang menjelaskan apapun mengenai pernikahan Beni dan Ega, biarlah mereka berdua yang akan menjelaskan kepada Nina akan hal ini.
"Apa?" tanya Nina menunggu apa yang ingin disampaikan Dipta.
". ... terang saja Ega marah, kamu bermesraan dengan Beni di area terlarang, itu kamar pribadinya dan kamu seenaknya saja mendatangkan mudharot dan Setan kesana. Apa itu sopan menurutmu? apa itu boleh menurutmu? Wanita baik-baik mana mungkin memeluk Laki-laki yang belum halal untuk dipeluk di kamar Pribadi Wanita lain, apakah itu pantas?" Dipta melanjutkan kata-kata yang terputus dengan omelan pahit.
"Kalian semua kenapa menjadi sok alim gini? pelukan dan ciuman mah biasa bagi orang berpacaran. Kenapa kamu sewot Dipta? kamu juga pasti bakalan senang dan menikmati jika aku memelukmu, kan? jadi jangan mencoba merendahkanku dengan kata 'tidak pantas' aku tidak suka itu." Nina membalas omelan Dipta dengan omelan lebih nyelekit lagi.
"Kamu tuh ya Nin keseringan bergaul dengan Om Om jadi begini dah? sesuatu yang dilarang kau langgar, sepertinya kamu perlu di Ruqyah biar Setan-setan hedonis itu pada kabur, insyaf kamu Nin!" Dipta melanjutkan dengan nasehat. Seperti apapun tingkah Nina sekarang tetap saja dia itu Sahabat mereka jadi mana mungkin tidak peduli dengan sahabatnya yang salah jalan.
Juna, Rian, Evan, Fiza dan Amanda tidak berkomentar apa-apa, mereka hanya menyimak karena malas meladeni kerasnya hati Wanita itu.
"Jangan menasehatiku, kamu saja tidak sebaik aku jadi perbaiki diri kamu dulu kalau sudah mendapatkan pengakuan Pria baik dari semua orang baru menasehati aku itupun akan aku pertimbangan apa layak untukku," ucap Nina bertahan dengan apa yang menurutnya benar.
Huft
jleb
kesal!
__ADS_1
Mengelus dada untuk menenangkan hati mereka yang kesal dengan apa yang didengar.
"Sudahlah jangan berdebat, semuanya tidak akan habis-habisnya kalau salah satu dari kalian tidak mengalah. Mana Beni? kenapa dia belum kelihatan?" Juna menengahi dan mencoba mengingatkan akan tujuan mereka. Rasanya mereka sudah tidak ada mood lagi untuk melakukan apapun.
"Saya disini Jun, kalian berangkat saja duluan. Kita tetap sesuai dengan rencana kita. Nanti aku menyusul dengan Ega," ucap Beni datar memberikan arahan. Laki-laki itu sudah berada ditengah-tengah mereka sedari tadi dan mendengar perdebatan mereka.
"Okay, kita berangkat. Ayo Nin kamu ikut kita," ucap Juna menarik paksa Nina agar tidak mengacaukan kembali ketenangan sepasang Suami Isteri itu.
"Juna, jangan tarik-tarik saya, saya ingin ikut sama Beni." Nina memberontak tidak mau ikut dengan Juna dan lainnya.
"Beniiii aku ingin ikut sama kamu! kita berdua saja jangan hiraukan Ega yang sedikit-dikit marah. Sudah enggak usah dirayu kalau dia tidak mau ikut tinggalkan saja. Biarkan Ega sendiri ke Senaru dengan Sepeda motornya dan jangan izinin dia naik ke Mobil kamu, aku enggak rela dan aku cemburu. Jaga perasaanku dong Beni, jangan memperlakukan aku seperti ini?" Nina meracau sejadi-jadinya dan melupakan bahwa dirinya jadi tontonan orang.
"Sudah diam, kamu mau ikut enggak? kalau kamu mau ikut jaga kelakuan dan sikap kamu." Juna dan Dipta menarik paksa Nina dan memasukkannya ke dalam Mobil Juna.
Sedangkan Fiza dan Amanda masuk ke dalam Mobil Rian. Amanda tidak ingin satu Mobil dengan Wanita jadian-jadian itu. Dia heran kenapa Wanita yang bernama Nina itu dibiarkan ikut dengan rombongan mereka. Memang benar Nina adalah Sahabat mereka tapi jika membiarkan Wanita itu ikut tentu saja menganggu kenyamanan mereka. Mungkin saja adanya pertimbangan dalam hal ini. Mereka lebih tahu siapa Nina daripada dirinya.
"Menyebalkan," batin Amanda.
Sementara itu Beni menghampiri Ega setelah memastikan Nina sudah diamankan oleh Juna. Dia mencari keberadaan Isterinya yang sedari tadi tak terlihat. Beni yakin Isterinya berada di Kebun dan benar saja dia menemukan Isterinya terdunduk di bawah Pohon Sawo yang rindang.
"Sayang," ucap Beni sembari memeluk tubuh Isterinya dari belakang dan merebahkan Kepala pada bahu Ega dengan manja.
Ega hanya terdiam, tidak ada suara hanya helaan nafas yang terdengar berat.
"Aku tidak menikmatinya dan aku tidak merasakan apapun. Aku berusaha menghindarinya namun aku terjebak dalam kamar kita sendiri oleh Wanita lain. Wanita itu tiba-tiba saja masuk dan aku berusaha mencegahnya tapi itu semua diluar kuasaku. Maafkan Suamimu ini Ga." Beni mulai menjelaskan apa yang terjadi saat dia terjebak bersama Nina dan Isterinya itu harus melihat dirinya dipeluk oleh Wanita lain.
Ega membalikkan tubuhnya dan pandangan mata mereka bertemu. Ada kejujuran dan ketulusan disana. Tanpa ragu Ega mengelus wajah Suaminya dengan lembut.
"Aku mempercayai Suamiku, hanya ada aku dihatinya," ucap Ega kemudian setelah puas menikmati wajah Suaminya.
"Alhamdulillah itu yang aku butuhkan dari Isteriku, mempercayaiku. Aku tidak mengkhawatirkan rasa dihatiku untukmu karena rasa cinta dan sayangku sudah pasti hanya untuk kamu namun yang aku khawatirkan kamu tidak mempercayaiku lagi. Aku takut diri ini akan selalu dijebak oleh Nina dan Wanita lain hingga aku tidak bisa melarikan diri. Aku harap saat itu terjadi kamu tetap mempercayaiku dan aku memberikan kesetiaan hanya untuk kamu Ga, Isteri satu-satunya yang aku inginkan." Beni mengutarakan rasa hatinya dengan tulus tanpa ada kebohongan disana.
"Iya sayang, aku akan tetap mempercayai Suamiku, Beni Hardian bukan Pria brengsek yang membagi-bagikan cinta dan mengobral janji kepada Para Wanita. Aku percaya padamu jadi aku harap kamu memegang kepercayaanku." Ega menbalas perasaan cinta yang diutarakan oleh Suaminya itu.
"Terima kasih sayang." Beni memeluk tubuh Isterinya dengan erat setelah puas Beni menghujani wajah Ega dengan ciuman baru menyatukan diri pada rongga kenikmatan.
Beni melepaskan bibir Isterinya setelah menyadari Ega berusaha mengatur nafasnya disela-sela dia meladeni ciuman panas Suaminya yang dia rasakan tidak ingin melepaskannya.
"Maaf membuatmu kelelahan, tadi rasanya manis sekali sehingga membuatku terlena," ucap Beni mesra. Dia kembali melakukan seakan tidak pernah puas, lagi dan lagi.
"Apa kita tidak jadi perginya?" tanya Ega untuk menahan serangan lagi.
"Benar juga, terlalu asyik jadi tidak ingin melepaskanmu," balas Beni sembari mengurai pelukannya.
"Oya Ga, Nina hamil dan aku diminta untuk menikahinya dan mengakui kalau anak yang dikandungnya adalah anakku." Tiba-tiba Beni mengatakan sesuatu yang mengagetkan Ega.
jeddeeeeeeer
__ADS_1
Bersambung.