Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 26. Apaaa? Siapa Dia?


__ADS_3

Malam harinya Ega dan tujuh sahabat berkumpul lagi di kediaman milik Ega. Mereka semua sudah hadir kecuali Nina. Nina lagi-lagi absen dengan alasan yang tidak jelas. Sibuk katanya? seperti apakah kesibukannya sehingga mengabaikan agenda mereka padahal ini menyangkut kenyamanan mereka. Iya sudahlah tidak bisa memaksa Nina untuk bergabung menyelesaikan permasalahan yang melanda mereka.


Semakin besar dugaan Beni jika Nina ikut terlibat juga dalam permasalahan ini namun Ia tidak berani menuduh Nina sebelum ada bukti kuat mengarah kepada Nina.


Dugaan ini sempat diutarakan kepada Ega namun Ega tidak mempercayainya karena Ia cukup mengenal Nina, Nina tidak mungkin melakukan itu dan Nina tidak sejahat itu. Memang Nina keras kepala dan gigih memperjuangkan apa yang Ia inginkan namun Nina tidak mungkin melakukan kejahatan untuk memuluskan tujuannya.


Beni juga menceritakan kebohongan yang dilakukan Nina pada dirinya namun tidak dijelaskan kebohongan apa yang dimaksudkan Beni karena Beni belum mendapatkan bukti yang kuat untuk membongkar kebohongan Nina. Lagi-lagi Ega tidak mempercayai itu yang membuat mereka berdua berdebat.


Malam ini mereka sudah berkumpul dan di jamu makanan lezat dan kue-kue yang enak yang dipesan mereka. Semua yang membuatnya adalah Saik Aminah dan juga Ega. Mereka belum makan malam sehingga mengisi perut dulu sebelum mereka membahas permasalahan yang melanda mereka.


Ega dan Beni terlihat perang dingin tidak seperti biasa. Mereka tidak saling sapa satu sama lain seperti biasanya selalu bergurau jika bertemu. Ega mendadak menjadi pendiam dan Beni tambah pendiam dan dingin banget membuat hawa mereka berdua berseberangan.


Teman-teman mereka berdua memperhatikan itu sehingga mengundang keheranan mereka.


" Ga, tumben-tumbennya muka kamu ditekuk gitu dan suara kamu mendadak hilang? Biasanya nanya ini itu kalau sudah ketemu kita-kita?" tanya Juna melihat ada yang tidak beres dengan tingkah laku mereka berdua.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja lagi hemat bicaranya," jawab Ega dengan wajah datarnya.


Juna mendengus kesal, Ia tidak menginginkan jawaban Ega yang terkesan menyembunyikan sesuatu.


"Kamu juga Beni kenapa muka kamu tambah dingin seperti batu es?" tanya Juna lagi mengarahkan pertanyaan kepada Beni setelah kecewa mendengarkan jawaban Ega. Mungkin saja Beni mau menceritakan dengan jujur apa yang terjadi sehingga mereka menyelesaikan perang dingin dan akur kembali.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja saya lagi puasa diam," jawab Beni dingin.


"Dasar kekanak-kanakan, kalau begini caranya saya ogah terlibat dalam permasalahan yang sedang kita hadapi, urus saja sendiri." Juna mengancam untuk wall out. Dia segera menyelesaikan makannya hendak beranjak pergi namun ditahan oleh Rian yang ada disampingnya dengan menggelengkan kepala.


"Jangan ikut-ikutan membawa genderang perang, itu sama saja ante dengan nih makhluk Betina dan Jantan," ucap Rian tegas sambil menahan Juna. Bisa berabe kalau Juna ikutan ngambek bisa berhari-hari suasana hatinya kembali normal.


"Jadi kalian maunya apa sekarang? tetap melanjutkan aksi perang dinginnya atau kembali akur?" Tanya Rian menengahi mereka.


"Huft." Ega mendengus pelan mencoba memperbaiki suasana hatinya yang tidak enak. Ia belum sepenuhnya mau berdamai dengan Beni lantaran tidak mempercayai Nina sebagai Sahabatnya sendiri.


Begitu juga Beni, dia belum mau akur dengan Ega karena Gadis itu tidak mau mendengarkannya jika Nina itu bukan Sahabat yang baik dan Gadis ini sama sekali tidak mau mendengarkannya tentang dugaannya kalau Nina terlibat dengan akun palsu itu yang meneror mereka.


Beni dan Ega diminta untuk akur, terjadilah perdamaian diantara mereka walaupun di dalam keterpaksaan. Ega berusaha menyunggingkan senyum terpaksanya sedangkan hatinya sedang kesal. Sama, begitu juga dengan Beni yang berusaha menyunggingkan senyum tipisnya seperti biasa.


"Sudah, baikannya? sekarang kita menyelesaikan makan dulu habis itu kita telpon Evan bagaimana hasil penelusurannya. Kalau kita berlama-lama bisa-bisa Evan malah tidur," ucap Dipta mengingatkan mereka.


Mereka semua menyelesaikan makan malamnya setelah selesai Ega membersihkan Berugak tempat mereka makan bersama. Ega mengumpulkan piring-piring kotor kemudian membawanya ke Dapur. Nanti sajalah Ia mencucinya karena ingin tahu juga apakah Evan berhasil melacak siapa Pemilik akun palsu yang menebarkan ketidaknyamanan di kehidupannya dan tujuh sahabat. Setelah Ia menaruh begitu saja piring kotor kemudian bergegas kembali ke Berugak sebelum semuanya terlewatkan.

__ADS_1


Setelah semuanya sudah kumpul dan memungkinkan untuk menelpon Evan, Dipta mengambil Handphone-nya kemudian menekan nomer Handphone Evan, terjadilah panggilan Vidio Call. Lumayan lama Evan tidak mengangkat panggilan VC Dipta membuat Dipta kesal.


"Kemana sih anak itu?" tanya Dipta kesal.


"Sabar kenapa? Mungkin saja Evan lagi tidak ada di dekat Hpnya," ucap Rian menenangkan hati Dipta.


"Kau itu Dip, tidak sabaran banget mungkin saja apa yang disampaikan Mas Rian itu benar kalau Evan lagi tidak berada di dekat Hpnya," ucap Ega mendukung apa yang disampaikan Rian.


Benar saja Evan langsung menghubungi Dipta tanpa Dipta mengulang lagi menghubungi Evan.


(Hai, Assalamulaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.) Terlihat wajah Evan nongol di layar hp Dipta tidak ketinggalan suara cemprengnya yang menggema ketika Ia mengucapkan salam.


(Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh) balas mereka bersamaan.


(Van, kemana aja sih kamu dari tadi? saya tunggu kamu angkat panggilan saya malah dianggurin) cerocos Dipta tidak ada jeda membuat mereka geleng kepala.


(Tadi saya lagi ke Toilet, lagi meju terus handphone saya tinggal di kamar) sahut Evan sambil tangannya sibuk mengutak atik sesuatu.


(Issh jorok, sudah cuci tangan belum?) komentar Ega mengingatkan.


(Bersih, tenang saja sudah higienis nih! lagipula tidak sampai baunya ke kalian semua) ucap Evan terlihat tertawa.


(Informasi apaan sih? Kok bisa kalian pada kumpul semuanya? memang penting ya?) ucap Evan terlihat memonyongkan mulut.


Yang lain hanya menunggu dengan tidak sabaran.


(Evaaaan, jangan mendadak pikun kamu) teriak semuanya.


(Ups kenapa jadi paduan suara sih kalian semuanya? sungguh tidak enak didengar mengalahkan kecengprengan saya) kelakar Evan sambil tertawa lebar.


(Kalau kamu ada di dekat saya sudah saya ketuk kening kamu yang selebar lapangan Golf) ucap Juna kesal.


(Ups Abang Juna sudah mulai galak, baiklah saya ungkapkan tabir Misteri akun palsu penebar teror) ucap Evan terlihat berpikir. Ia membesarkan mata mengamati layar handphone-nya sambil mencari sesuatu.


(Ngomong-ngomong kok teman kita kurang satu, mana Nina?) tanyanya kemudian setelah Ia menyadari kalau Nina tidak nampak wajah cantiknya.


(Nina lagi halangan hadir, katanya lagi ada yang dikerjakan), jawab Ega memberitahu.


(Oh gitu, baiklah lagipula sudah cukup banyak yang mendengarkan informasi dari saya), sahut Evan serius.

__ADS_1


(Jadi, kamu sudah dapat informasinya?) tanya Beni lagi, Beni benar-benar Penasaran.


(Iya, pemilik akun itu namanya Lexi Aditama, Putra dari seorang Konglomerat yang berpengaruh di Kota ini. Perusahaan itu saingan beratnya Perusahaan tempat Beni bekerja). Terdengar jawaban dari Evan.


Seketika itu mereka menatap kearah Beni dan tentu saja pikiran mereka sekarang terfokus kepada Beni yang kemungkinan besar ini persaingan bisnis sehingga Beni yang menjadi incarannya tapi bisa jadi bukan itu. Terus apa hubungannya dengan Beni? Beni hanya karyawan biasa di Perusahaan Otomotif tempatnya bekerja. Berbagai spekulasi bermunculan di otak masing-masing.


(Terus?). Tanya Dipta mencari kemungkinan lain bukan motifnya persaingan bisnis.


(Lexi Aditama bergabung dalam akun Group xxx) ucap Evan meragu untuk mengucapkannya namun tetap saja harus disampaikannya biar jelas permasalahannya.


(Apaaaa?), tanya mereka serempak.


(Astaghfirullah), ucap Beni dan Juna dalam waktu bersamaan saking terkejutnya.


(Nauzubillah min dzalik), ucap Dipta mengelus dadanya menenangkan diri.


(Innalillahi), ucap Rian terkaget.


Sementara itu Ega hanya terbengong dengan penuh tanda tanya di kepalanya karena tidak tahu apa yang dimaksudkan Evan, group apa itu yang membuat semua orang terkaget dengan wajah yang tidak layak dipandang.


"Group apa sih? saya tidak mengerti?" tanya Ega berani bertanya karena tidak mau mati penasaran.


Semua orang terdiam, mereka nampak ragu untuk memberitahu Ega. Kemudian Beni mengambil inisiatif memberitahu Ega dengan cara membisikkan ke telinganya.


"Astaghfirullah, Innalillahi, Nauzubillah min dzalik," ucap Ega terkaget sendiri begitu mengetahui apa yang dimaksudkan Evan.


"Sudah jelas sekarang motifnya bukan persaingan bisnis akan tetapi motif Asmara. Enggak mungkin banget kalau si Lexi itu sukaaaa. ...." ucap Dipta menggantungkan kalimatnya. Dia melirik Beni dengan ujung matanya.


Semua menatap Beni dengan wajah prihatin karena Ia percaya kepada Beni jika dia tidak seperti apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini. Beni orang yang baik dan senantiasa menjaga pergaulannya. Dia orang yang terbilang bersih jauh dari kata macam-macam.


(Kamu punya fhotonya enggak?), Tanya Beni kemudian tidak menghiraukan ucapan Dipta yang mengarahkan kalimat kepada dirinya.


(Punya, tapi satu fhoto sedang saya selidiki karena saya belum bisa memastikan siapa cowok yang bersamanya. Fhoto itu sepertinya diambil sudah lama dan tempatnya juga bukan ditempat biasa mereka berkumpul. Saya tertarik dengan fhoto itu karena salah satu orang yang ada di fhoto itu mirip dengan seseorang yang saya kenal. Dari gestur tubuh dan benda yang dipakainya mirip seseorang yang deket dengan saya). Evan menjelaskan hasil temuannya.


Penjelasan dari Evan membuat semua yang ada disana tambah bingung karena belum bisa menarik kesimpulan apa motif dari Pelaku menebar teror di Medsos.


Evan memperlihatkan fhoto Lexi Aditama dan ada juga Fhotonya dengan seseorang sedangkan fhoto yang dimaksudkan tadi tidak diperlihatkan oleh Evan.


Beni menbelalakkan mata begitu melihat seseorang yang bersama Lexi Aditama begitu juga Juna membesarkan matanya karena terkaget melihat wajah Lexi Aditama seakan Ia mengenalnya namun kemudian Ia segera menguasai diri agar Teman-temannya tidak curiga. Kekagetan Juna tidak luput dari mata jeli Ega. Ega berhasil menangkap wajah terkaget Juna dan menyembunyikan sendiri karena Ia sendiri yang akan mencari tahu ada apa sebenarnya dengan Juna, Juna seakan menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2