Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
62. Aku Tidak Menyangka Ternyata Kamu Berhianat.


__ADS_3

"Beben, nama panggilan kecil kamu Beben." Nina mengulang kembali apa yang diketahuinya. Dia menyunggingkan senyum bahagianya.


Beni mendekati ranjang Nina sembari menebar senyum indahnya.


"Apa kamu yakin nama panggilan kecilku adalah Beben?" tanya Beni lembut selembut sutera.


"Tentu saja benar, aku pernah mendengar seseorang memanggilmu dengan panggilan Beben," sahut Nina yakin.


"Hem, seperti ucapanku tadi saya akan menikahimu jika kamu berhasil menjawab pertanyaanku dan jika jawabannya tidak benar maka kamu bersedia untuk tidak menganggu saya lagi dan juga Isteri saya. Mungkin kamu sudah mengetahui bahwasannya saya sudah menikah dengan Ega, sahabatmu sendiri." Beni pada akhirnya memberikan pengakuannya kepada Nina.


Nina tidak terkejut sama sekali hanya kekecewaan yang tergambar pada wajah cantiknya. Mendengar pengakuan Beni seketika itu bulir bening merembes mengaliri pipi putih bersihnya. Wanita itu terisak dalam tangis.


"Ega kenapa kamu menghianatiku? kenapa kamu menusukku? sahabat macam apa kamu yang tega mengambil Beni dariku dan sekarang aku akan menjadi Isteri kedua Beni. Bukan ini yang aku mau, aku hanya menginginkan Beni seutuhnya tanpa membagi hatinya untuk Wanita lain apalagi sama kamu," ucap Nina disela isak tangisnya.


Ega hanya terdiam, ada rasa sedih hinggap di hatinya bukan karena dia merasa bersalah tapi lebih prihatin dengan keadaan Nina yang masih gigih memperjuangkan perasaannya. Apa cinta seorang Beni harus didapatkannya?.


Sementara yang lain hanya terdiam tidak berkomentar apapun. Mereka memilih membiarkan mereka bertiga menyelesaikan masalahnya tanpa ingin terlibat. Mereka akan berpendapat jika Beni meminta pendapat mereka.


"Bukan Ega yang menghianatimu ataupun menusukmu tapi kamu yang menghianatinya dan menusuknya. Apa kamu tidak menyadari itu? atau mungkin kamu tidak mau menyadari itu?" sahut Beni membela Isterinya.


"Apa maksudnya Ben? jelas-jelas dia mengambil kamu dariku. Aku yang terlebih dahulu menyukaimu dan mengungkapkan perasaanku kepadamu dan sekarang dia sudah menjadi Isterimu. Bukannya itu namanya dia menghianatiku." Nina menyahuti Beni dengan nada penuh amarah dan kesedihan.


"Mungkin menurutmu Ega menghianatimu tapi tidakkah kamu berpikir kamulah yang menghianati kesempatan yang telah saya berikan. Saya memberikan kamu kesempatan tapi kamu tidak mempergunakan kesempatan itu dengan baik. Saya memperkenalkam kamu dengan kedua orang tua. Jujur saja kamu Gadis pertama yang saya kenalkan kepada orang tuaku dan makan malam bersamanya. Tapi apa yang kamu lakukan kepada Abi? kamu bahkan menggoda Abi, apa sebenarnya yang kamu inginkan?"


Nina terdiam, dia memang mengakui telah melakukan tindakan tololnya itu. "Aku minta maaf Beni, waktu itu aku tidak sengaja melakukan itu, aku salah masuk kamar. Aku tidak bermaksud untuk menggoda Abi, aku hanya ingin memijetnya. Aku mohon maafkan aku Beni, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Nina memohon dengan wajah memelas agar Beni mau memaafkannya. Dia takut kejadian itu membuat Beni mengurungkan niatnya untuk menikahinya. Dia masih saja membela diri dan tak mau mengakui niatan buruknya.


Mereka yang mendengarkan Nina yang pernah menggoda Banu Hardian tentu saja terkejut. Mereka tidak menyangka sama sekali ternyata Nina berani untuk mendekati Banu Hardian yang merupakan Ayah kandung dari Beni. Beni hanya tersenyum sinis menanggapi segala apa yang diucapkan Nina. Masih saja menyangkal.


"Ane tidak percaya dengan apa yang ane dengar hari ini. Kenapa ante tega menggoda Abi dari Laki-laki yang ante suka? Sudah terlihat jelas bukan cinta Beni yang ante mau tapi apa yang dimiliki Beni. Ane tidak percaya ini semua Nin? apa ante tidak pernah berpikir apa yang dilakukan itu bisa merusak keharmonisan rumah tangga orang apalagi ini keluarga sahabat ante sendiri." Rian tidak tahan untuk tidak berkomentar. Dia mengomeli Wanita yang pernah disukai dulu.


"Maafkan aku," lirih Nina. Hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya. Dia menundukkan wajahnya menyesali semuanya.


"Kesempatan kedua, kamu mengatakan bahwa kamu menyukaiku tapi nyatanya kamu berpacaran dengan Soni sehingga terjadi malam naas itu. Benar kata Mas Rian, sebenarnya kamu tidak benar-benar mencintaiku.Kamu hanya terobsesi. Kamu ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu hanya ingin pengakuan dari orang lain bahwa kamu hebat. Saya curiga, kamu sebenarnya tidak ingin Ega melampauimu dan hanya ingin Ega tetap berada di belakangmu dan hanya mampu mengejar bayanganmu saja, iya kan? apa yang saya pikirkan ini semuanya benar,,iya kan?" Beni melanjutkan apa yang ingin disampaikan kepada Nina agar Wanita itu terbuka pikirannya.


"Bukan begitu Beni, aku hanya ingin Ega mendapatkan yang sepadan dengannya. Aku sangat cantik sedangkan dia biasa-biasa saja tapi kenapa dia mendapatkan Laki-laki sebaik,Sesoleha dan semapan Ivan Alkaeri. Jujur saja aku cemburu kepada Ega. Mengapa dia mendapatkan Lelaki seperti Ivan Alkaeri sementara aku tidak mendapatkan Lelaki seperti dia. Aku tidak ingin Ega mendapatkan Lelaki yang lebih baik dari yang aku dapatkan. Aku tidak suka itu, aku sangat tersinggung. Karena aku tidak suka Ega yang bertampang biasa saja harus bersanding dengan Ivan yang sangat tampan. Ega tidak cocok bersanding dengannya begitu juga dengan kamu Beni. Dia tidak cocok sama sekali mendampingi kamu. Wanita yang tepat menjadi isterimu adalah aku. Sejujurnya dulu aku tidak suka Ega mendapatkan Suami seperti Ivan Alkaeri, aku yang memberikan ide untuk menjebak Ivan Alkaeri agar Ega dan Ivan gagal menikah. Apa yang aku lakukan memang berhasil tapi sekarang Ega malah mendapatkan Lelaki yang lebih baik dari Ivan Alkaeri. Aku benci Ega karena berhasil menikahimu." Nina tanpa sengaja membuka rahasia dibalik gagalnya pernikahan sahabatnya itu. Dia mengucapkannya tanpa ada rasa sesal. Dia merasa bahagia menjadi dalang dari gagalnya pernikahan Ega dan Ivan. Tidak ada siapapun yang mengetahui hal tersebut selain dirinya dan Gadis itu.


"Beberapa hari sebelum Ega dan Ivan menikah, diam-diam aku memdekati Ivan berharap mendapatkan perhatiannya sehingga Ivan berpaling dari Ega dan memilih aku. Namun sialnya, Ivan sangat mencintai Ega dan juga sangat setia. Dia tidak bergeming sama sekali itu yang membuatku sangat marah."


Plash back. ..


"Hai Kak Ivan," sapa Gadis cantik dan anggun. Dia mengggunakan Dres selutut dengan lengan pendek dan kerah sedikit rendah sehingga menampakkan leher jenjangnya. Sangat cantik dan menarik.


Lelaki yang dipanggil Ivan itu menoleh sebentar kepada Gadis yang menyapanya. Dia hanya menyunggingkan senyum tipis sebagai bentuk kesopanan atas sapaan Gadis itu. Dia segera beralih ke Laptop yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Enggak kerja Nin?" tanya Lelaki bernama Ivan itu mulai berbasa basi.


"Lagi libur, Kak Ivan juga sebentar lagi mau menikah masih asyik sibuk kerja. Niat enggak nikahnya?" tanya Gadis yang dipanggil Nina itu.


"Kami berdua terima beres saja, sudah diatur EO dan keluarga. Sebentar Nina, saya lupa menghubungi Ega," sahut Ivan sekaligus meminta izin menjeda pembicaraan.


Ivan meraih handphone lalu menekan nomor kekasih hatinya.


"Assalamualaikum Gadis gula arenku." Ivan mengawali pembicaraannya.


"Waalaikumussalan Warahmatullahi Wabarakaatuh, Raka Walangsungsang."


"Hahahaha. Kamu tuh ya, bisa saja membuat aku tersenyum. Oh ya Dinda, sudah makan belum?"


"Sudah tadi sama Anita, terus kalau Raka sudah belum?"


"Belum, maunya disuapin sama kamu? Raka enggak sabaran pingin disuapin sama kamu sayang," ucap Ivan manja.


"Raka ini, seperti Batita saja. Keponakan aku yang umur dua tahun enggak mau disuapin, tuh!. Nah ini Bayi tua manjanya enggak ketulungan." terdengar sahutan dari seberang terdengar merdu membuat Ivan tersenyum simpul.


"Biar mesra gitu sayang, saling suap-suapan, boleh ya sayang?" ucap Ivan merayu. Senyumnya itu selalu tercetak di bibir manakala berbicara dengan pujaan hatinya. Senyum tulus itu tidak lepas dari penglihatan Nina yang berada di samping Laki-laki tampan itu.


"Maunya! Oh ya Raka, aku enggak enak sama teman kantor. Pandangan mereka semua mengarah kearah aku nih? ini masih jam kerja, udahan ya!" Ega memberitahu keadaannya agar bisa mengakhiri obrolan dengan calon Suaminya.


"Okay, nanti sore Raka jemput. Raka mau mengajak kamu ke suatu tempat."


"Ada deh, kalau kasik tahu sekarang bukan kejutan dong namanya."


"Okay, aku enggak sabaran mendapatkan kejutan dari Raka."


Ivan mengakhiri panggilan dengan membalas salam. Saling mendoakan satu sama lain.


"Sorry Nin, membuatmu menunggu," ucap Ivan begitu menyadari Nina masih betah berada di sampingnya.


"Kak Ivan yakin mau menikah dengan Ega?" tanya Nina hati-hati.


Ivan memandang kearah Nina untuk memastikan pertanyaan itu terlontar dari sahabat calon isterinya. Dia merasa heran, menurutnya itu pertanyaan tidak lumrah. Mengapa gadis ini meragukan keseriusannya menikahi sahabatnya sendiri.


"Yakin!" jawab Ivan tegas dan tulus.


"Kak Ivan tidak ingin mempertimbangkan terlebih dahulu? Kak Ivan belum lama mengenal Ega. Belum tahu seperti apa luar dalamnya Ega. Maaf Kak Ivan, bukan maksud ingin melemahkan keyakinan kak Ivan terhadap pilihannya hanya saja saya tidak ingin Kak Ivan kecewa dan menyesal. Menyesal karena ternyata Ega tidak sesuai dengan apa yang Kak Ivan mau. Maaf Kak Ivan, bukan bermaksud ikut campur." Nina kembali mengutarakan pemikirannya dengan hati-hati takut Lelaki itu tersinggung.


"Mengapa harus kecewa dan menyesal? Ketika saya memutuskan untuk melamarnya itu artinya saya sudah memantapkan hati untuk menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Apapun yang ada pada diri Ega, saya akan menerimanya. Kenapa sih Nin? sepertinya kamu tidak merestui hubungan saya dengan Ega? kamu sahabatnya seharusnya mendukung apapun keputusan Ega." Setelah menjawab, Ivan menatap Nina keheranan. Dia mengenal Gadis bernama Nina sebagai Sahabat karib calon isterinya tapi dia merasa Nina itu bukan Sahabat yang baik.

__ADS_1


"Maaf Kak Ivan, bukan bermaksud seperti itu hanya saja saya cemburu. Kenapa Kak Ivan memilih Ega bukan memilih saya. Apa yang Kak Ivan lihat dari Ega? dia tidak cantik malahan dia itu tomboy dan tidak bisa merawat diri. Kenapa Kak Ivan tidak memilih saya? terus terang saja saya menyukai Kak Ivan sedari awal, saat Ega memperkenalkan kita. Saya jatuh cinta kepada Kak Ivan dan berharap Kak Ivan memilih saya" Nina mengungkapkan perasaannya kepada Laki-laki yang telah melamar sahabatnya. Dia memperlihatkan segala pesona dan kecantikan yang dimiliki agar Lelaki bernama Ivan itu terpikat. Saat ini Nina sangat cantik dan sexy, memang diakui oleh Ivan sebagai Pria normal.


Ivan terkaget dengan pengakuan Nina. Dia tidak menyangka Gadis itu sangat jujur dengan perasaannya. Namun tetap saja hatinya tidak bergetar, secantik apapun Gadis disampingnya tidak mampu membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Justru Ega, dia berhasil melakukannya. Walaupun jauh saat ini, Ivan merasakan jantungnya berdebar-debar. Hatinya terlanjur tertambat kepada Gadis biasa namun memiliki senyum yang luar biasa. Tidak terlalu cantik namun memiliki mata yang begitu mempesona. Gadis itu adalah Baiq Ega Fajrina.


"Saya sangat menghargai kejujuran kamu tapi kejujuran itu tidak akan merubah keputusanku. Hatiku yang memilih Gadis bernama Ega. Mata boleh saja menyukai keindahan dan kecantikan tapi hati yang tahu mana seseorang yang membuatnya nyaman dan merasakan desiran yang ternyata itulah rasa. Maaf Nin, saya sibuk, bisakah kamu tidak mengangguku. Bukan maksud saya mengusir kamu hanya saja kesibukan itu sepertinya menekanku. Mohon maaf dan terima kasih sudah mengingatkan saya." Ivan mulai kesal dengan Gadis yang ada disampinya namun tak menunjukkannya. Dia memilih mengusirnya secara halus.


Nina meninggalkan Cafe dengan rasa kesal yang teramat parah. Dia tidak menyangka Lelaki bernama Ivan itu sulit ditaklukkan.


Dilain hari Nina kembali dengan sebuah siasat. Dia memperdayai seorang Gadis yang diam-diam menyukai Ivan.


"Aku tahu kamu menyukai Ivan?" ucap Nina ketika dia sudah berhadapan dengan Gadis itu.


"Kamu siapa dan darimana kamu tahu kalau saya menyukai Pak Ivan?" tanya Gadis itu yang merupakan Pegawai Cafe milik Ivan.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Aku datang menemuimu untuk membantumu mendapatkan Ivan. Aku punya siasat dan kamu harus menjalankan siasat itu," jawab Nina serius.


"Kenapa harus saya? kenapa tidak kamu saja mendekati Pak Ivan?" tanya Gadis heran.


"Aku tidak ingin terlihat buruk di mata Para sahabatku dan juga Ivan. Jangan banyak tanya, kamu jalankan saja petunjukku. Satu hal lagi jangan pernah memberitahu kepad siapapun perihal ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Toh kamu juga mendapatkan imbalannya, yaitu menikahi Ivan Alkaeri."


Plash back end.


"Astaghfirullah. Sakit jiwa kamu Nina!" ucap Evan tak percaya. Pada saat itu dia dan Dipta memang menyelidikinya. Informasi yang mereka dapat bahwa Ivan dijebak oleh Pegawainya sendiri.


Semua orang yang mendengarkannya seperti mendapatkan serangan jantung mendadak. Mereka tidak menyangka ini semua. Sahabat yang mereka sayangi dan mereka jaga selama ini ternyata tega menggagalkan pernikahan sahabatnya sendiri. Ega tidak kuasa menahan sesaknya. Hatinya seperti tercabik-cabik dan dada rasanya ditikam oleh belati berkarat. sangat perih!.


"Astaghfirullah, Nina kenapa kamu sejahat itu?" Ega sangat sock mendengarkan kebenaran itu. Dia tidak menyangka Sahabat yang sangat disayangi dan dipercayainya sangat tega melakukan itu. Gagalnya pernikahan dulu menyisakan rasa trauma bagi kedua orang tuanya. Mamiqnya sempat dirawat karena tidak mampu menahan beban malu sedangkan ibunya hanya bisa menangis meratapi nasib Putrinya.


Beni menenangkan Isterinya. Dia membawa raga yang lemah itu ke dalam pelukannya. Ega tidak kuasa lagi untuk bertingkah tegar nyatanya dia sangat lemah. Dia menangis dalam dekapan yang menghangatkan jiwanya.


"Maafkan aku Beni, bisakah kesalahan yang aku perbuat tidak membuatmu urung menikahiku. Aku sangat ingin hidup bersamamu dan anak ini memiliki Ayah sebaik kamu. Aku hanya ingin anakku hidup bahagia tanpa harus menderita seperti apa yang aku alami," ucap Nina mengiba. Nina tidak merasa berdosa dengan apa yang telah dia perbuat kepada Ega di masa lalu. Bahkan dia tidak meminta maaf dan mengaku menyesal.


"Wanita jadi-jadian, apa kamu tidak punya hati masih saja meminta Suami dari Ega. Dulu kamu berhasil menggagalkan pernikahan Ega dengan Ivan dan sekarang kamu ingin mengulang kesuksesanmu dulu dengan mengambil Suaminya Ega. Enggak punya hati kamu!" Dipta tidak tahan lagi, dia menumpahkan segala unek-uneknya.


"Aku tidak meminta pendapatmu Dipta, aku hanya meminta janji Beni untuk menikahiku karena berhasil menjawab pertanyaannya," sahut Nina kesal.


Dipta tak menyangka dengan jawaban Nina. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan pandangan kesal yang tertuju kepada Wanita cantik itu.


"Jawaban kamu salah, bukan Beben nama panggilan kecilku jadi tidak ada alasan untuk saya menikahimu. Kamu telah gagal dengan kesempatan ketiga yang telah aku berikan. Saya juga sudah muak dengan kamu Nina. Kamu sudah tidak layak menjadi sahabatku dan juga sahabat Ega," ucap Beni tegas dan dingin. Dia berusaha menahan amarahnya. Jika dia tidak mengingat Wanita itu sedang mengandung mungkin saja Beni sudah menamparnya sebagai balasan tamparan yang melayang di Pipi Ega. Hanya saja dia masih memiliki hati nurani.


"Tidak mungkin, kamu pasti sedang berbohong. Jelas-jelas orang tuamu memanggil kamu Beben. Kamu menjebakku Beni. kamu menipuku. Kamu sengaja tidak membenarkan jawabanku, iya kan? kalian berdua jahat." Nina mengamuk, dia memukul Beni lalu mencoba menarik raga Ega yang ada dalam dekapan Beni. Secara spontan Juna meraih tubuh Nina untuk melindungi Beni dan Ega dari amukan Wanita itu.


"Tenang Nina, istighfar. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Apa yang kamu lakukan bisa melukai orang lain dan juga dirimu sendiri serta Bayi yang ada dalam kandunganmu," ucap Juna menenangkan Nina. Sebenarnya dia marah dengan apa yang telah dilakukan oleh Nina namun dia tidak bisa menghukumnya apalagi membiarkan mencelakai orang lain seperti apa yang dilakukannya tadi.

__ADS_1


"Adha, nama panggilan kecil Beni Hardian adalah Adha."


Bersambung.


__ADS_2