
"Ampuuuun."
Ega tak tahan dengan gelitikan yang mendera tubuhnya. Beni tak henti menyerang bagian sensitif membuatnya tak tahan.
"Nyerah ya?"
Ega menganggukkan Kepala, dia merebahkan diri karena lelah. Dia ibarat Daun Putri malu, ketika disentuh langsung menguncup malu. Melihat itu, Beni tak lagi menyerang Isterinya dengan sentuhan. Dia membiarkan Isterinya merebahkan diri.
Saat keheningan terjadi, deringan Handphone memecahkannya.
“Kamu istirahat saja,” ucap Beni hangat. Saat ini dia tengah menerima panggilan. Ega hanya mengangguk dan membiarkan Beni melanjutkan obrolan. Pria itu memilih duduk di Sofa tak jauh dari Ranjang.
Namun apa yang terjadi, Ega tak mampu memejamkan mata, rasa letih dan sakit di sekujur tubuh membuatnya tak nyaman.
Dia membolak balikkan tubuh untuk mencari posisi yang aman. Kegelisahan telah berhasil menguasai Wanita itu membuatnya terjaga.
"Kenapa?” Beni menghampiri lantas menempatkan diri di samping Isterinya. Di tatap mata indah itu dengan lekat.
Ega menggelengkan Kepala menegaskan tak terjadi apa-apa dengan dirinya. Agar Beni tak mengkhawatirkannya, sebisa mungkin dia menyembunyikan kegelisahan, entah tentang apa?. Namun Pria itu tetap saja berhasil menyingkap rahasia yang berusaha disembunyikan dibalik mata.
“Sayang, bicaralah?” bujuk Beni sembari mengelus rambut panjang itu. Matanya tak beranjak dari keindahan yang dipancarkan rupa. Hanya saja sedikit muram terselimuti gelisah yang melanda.
“Mata ini tak mampu terpejam padahal tubuhnya ingin rehat.” Pada akhirnya Ega berucap. Dia tidak ingin Beni diliputi rasa yang sama dengan dirinya yaitu gelisah. Sebisa mungkin menenangkannya dengan memperlihatkan diri bahwa dia tak apa-apa.
“Baiklah, biar Kak Beni menina bobokkanmu,” ucap Beni sambil menyunggingkan senyum nakalnya. Dia menempatkan Ega dalam bidangnya sandaran. Tangannya tak lepas dari rambut lembut itu.
Leq jaman laek araq sopoq cerite
Inaq Tegining Amak Teganang arane
Pegaweane ngarat sampi leq tengaq rau
Sampi sai tekujang kujing leq tengaq rau
Inaq Tegining Amak Teganang epene
Ongkat dengan Tegining Teganang luek cerite
Ngalahin datu si beleq-beleq ongkatne
(Pada dahulu kala terdapatlah sebuah cerita
Ibu Tegining dan Bapak Teganang namanya
Pekerjaannya menggembalakan sapi di tengah ladang
Sapi siapa yang dizalimi di tengah ladang
Ibu Tegining dan Bapak Teganang yang punya
Orang bilang Tegining Teganang banyak cerita
Mengalahkan raja yang besar-besar katanya)
Beni bertembang, dimana tembang yang di nyanyikan Beni sangat terkenal di Daerah ini. Tembang itu berasal dari cerita rakyat Amaq Teganang dan Inaq Tegining.
Mendengarkan suara merdu dari Suaminya dan lembut tangan itu. Membuat Ega berlahan-lahan memejamkan mata. Gelisah memudar dengan sendirinya digantikan dengkuran halus.
Melihat Isterinya sudah tertidur lelap. Dia menghujani wajah itu dengan sapuan lembut, terakhir pada Bibir ranum yang merupakan candunya.
Setelah memastikan Ega tertidur, Beni dengan berlahan beranjak dari sisi Ega. Dia melangkah ke arah balkon melanjutkan obrolan yang sempat terputus.
[Mila? mantan Isteri Ivan]
Beni tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Evan. Saat ini mereka sedang membahas hasil penyelidikan Evan. Dimana Kamera pengintai itu didapatkan melalui Online Shop dan penerimanya atas nama Mila.
[Apa mungkin Mila yang melakukannya?]
Hening, Beni tak menjawab pertanyaan Evan. Dia sibuk berpikir, mengaitkan satu dugaan ke dugaan lainnya. Entah mengapa dia meragukan bahwa Wanita itu yang melakukannya.
[Saya tidak yakin, mungkin saja Kamera pengintai itu sengaja di alamatkan di rumah Mila. Apa mereka sudah berpisah pada saat itu?]
[Sudah Ben, mereka sudah berpisah. Mungkin saja Mila tidak terima sehingga dendam]
__ADS_1
[Heeeem, Saya malah mencurigai kedua saudara itu. Ivan Alkaeri dan Anita Alkaeri]
Beni menuturkan dugaannya.
[Enggak mungkin Ben, Anita itu teman Ega dan Ivan dulu pernah mencintai Ega. Tidak mungkin mereka dengan tega mencelakakan teman sendiri]
Evan membantah perkiraan Beni yang tak masuk akal. Dia lebih mempercayai bahwa Mila yang melakukannya. Mungkin karena Ivan menceraikannya sehingga menaruh dendam kepada Ega. Karena hanya Ega yang berada di hati Ivan sehingga dia sangat marah. Bisa jadi itu, kan? Evan menjelaskan perkiraannya. Dia sependapat dengan Juna.
[Van, esok kita bahas dan mungkin saja ada petunjuk lainnya]
[Iya deh, apa mau begituan sama Isterinya. Okay saya faham]
[Sembarangan, Ega sudah tidur lagipula dia belum pulih. Kemaren, di Desa Lobe-lobe kami mengalami kejadian yang sangat mengerikan. Untung saja Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, kalau enggak mungkin salah satu di antara kita berdua tinggal nama]
[Memangnya apa yang terjadi?]
[Besok dah saya cerita]
Evan mendengus kesal karena Beni menggantung ceritanya. Rasa penasarannya membuatnya murka. Dia memaki Beni dengan suara nyaring membuat pendengarnya menjauhkan Handphone.
Selesai berbicara dengan Evan, Beni tidak buru-buru menghampiri kamarnya. Dia memilih diam memandang pekatnya malam, berharap bisa menyibak rahasia yang tersembunyi disana.
"Apa mungkin Mila, ya? bisa jadi, dia cemburu kepada Ega karena Ivan tidak mencintainya. Hanya ada Ega yang selalu menguasai pikiran Ivan. Seharusnya dia tidak perlu marah, bukankah dia yang telah merebut Ivan dari Ega." Beni bermonolog. Dia berusaha berpikir hingga kepalanya terasa sakit. Pria itu menjambak rambut dengan kasar karena tak mampu menemukan petunjuk yang jelas.
***
"Disana saya ketemu Gadis Desa, cantik banget." Beni mulai bercerita saat mereka berkumpul di rumah Ega.
Juna dan Dipta kompak memandang ke arah Ega berharap Wanita itu memberikan somasi kepada Suaminya karena telah memuji kecantikan orang lain.
"Tumben kamu memuji Wanita, Ben?" tanya Juna heran.
"Saya mengatakan yang sebenarnya, tanya saja sama Ega. Dia pasti akan sependapat dengan saya," sahut Beni cengengesan.
"Saya tidak menyangka kesetiaanmu hanya seumur kecambah. Baru saja kemarin menikah sekarang sudah membicarakan kecantikan Gadis lain. Belangmu sudah kelihatan sekarang." Dipta mengomentari perkataan sahabatnya itu.
"Hahahaha." Beni tertawa.
"Bilang saja kamu ingin embat juga, tidak puaskah memiliki Ega dan sekarang menginginkan Gadis lain, rakus banget sih!" sahut Dipta sewot.
"Kamu mau setiap malam di buntuti, terus dia berdiri di depan Jendela dengan rambut terurai di bagian depan untuk menutupi wajahnya. Mau?" Beni bertanya.
Terlihat Juna dan Dipta saling pandang dengan apa yang dituturkan oleh Beni. Sementara Ega yang ada di samping Beni hanya terdiam tak mengatakan apapun. Dia masih trauma dengan apa yang telah mereka alami.
"Maksudnya?"
"Gadis cantik itu Selaq, dia juga yang menyerang kami berdua."
Beni menceritakan tragedi yang mereka alami, saat menginap di rumah panggung yang ada di Desa Lobe-lobe. Sesekali Ega ikut menambahkan beberapa bagian cerita. Bagaimana perjuangan mereka sehingga lolos dari maut.
Juna dan Dipta nampak menyimak cerita itu. Raut mereka terlihat serius dan terkandang memperlihatkan raut bergidik serta ngeri.
"Alhamdulillah, kalian selamat. Tidak bisa saya bayangkan jika itu terjadi sama saya, pasti langsung pingsan melihat Gadis cantik tapi serem," sahut Dipta bergidik.
"Iya, karena itulah saya tidak jadi mengenalkan Gadis itu," sahut Beni serius.
"Kalau Gadis seperti itu mah ogah, secantik apapun dia. Saya kasik kamu aja, mungkin demen buktinya memuji dia terus," sahut Dipta masih merasa ngeri.
"Saya tipe setia, seandainya enggak Selaq pun saya tidak tertarik. Cukup satu Isteri saja," ucap Beni serius.
"Lagakmu, beneran enggak tuh? jangan-jangan hanya terucap di bibir tidak di hati," sahut Juna tak percaya.
"Kamu tuh Jun, sengaja ya?"
"Takut ya? tenang saja Ega selalu mempercayai kamu. Saya yakin dia tidak meragukan kesetiaan kamu, Beni. Just Kidding!" ucap Juna mengembalikan suasana hati sahabatnya itu.
Saat mereka asyik bercanda, terdengar salam dari seseorang.
"Assalamu'alaikum."
Evan dan Rian secara bersamaan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Kalian sudah lama nunggunya, maaf saya nunggu Rian, alot banget bersoleknya," ucap Evan menjelaskan keterlambatannya.
"Sumpr*t, asal bersuara ante," sungut Rian kesal. Dia hendak menjitak Kepala Evan namun gagal, Evan terlebih dahulu menghindar.
Hahahahaha
Mereka menertawakan kegagalan Rian dengan kebiasaannya.
"Kalian menemukan apa?" tanya Beni langsung membuka pembahasan.
"Pertama, Mas Ivan yang membuat Pin bunga Bintang," ucap Dipta memulai mengurutkan hasil penyelidikannya.
"Kamera Pengintai itu di beli lewat online dan pengirimannya dialamatkan pada rumah Mila dan atas nama Mila," lanjut Evan.
"Ivan mempergoki Mila berselingkuh dan bertengkar dengan seorang Pria. Saya yakin orang yang sama dengan Pria yang mendorong Pemuda itu. Ciri-cirinya sama meskipun tak bisa memastikan wajahnya." Juna menerangkan hasil penyelidikannya.
"Mila berselingkuh?" tanya mereka serempak tak mempercayai apa yang dituturkan Juna.
"Iya," sahut Juna menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Rumit kalau begini mah?" ucap Ega lesu.
"Jangan kalah, apa kamu sudah menyadap Handphone Mila. Cari tahu tentang Pria itu, dari Pria itu kita akan mendapatkan petunjuk," ucap Beni terlihat serius.
"Udah, saya menyimpan nomor yang mencurigakan. Dan sudah saya telusuri nomor itu," sahut Evan.
"Hem, apa kamu sudah meretas nomor Handphone Ivan. Saya pernah mendengar Ivan berbicara dengan seseorang. Waktu itu saya belum menaruh curiga kepada dia. Kini saya menaruh curiga dengan Ivan. Pin bunga bintang itu sengaja dibuat oleh Ivan sebagai tameng karena Pin bunga bintang yang asli sudah hilang. Ega mengetahui itu, tentu saja kita tidak akan menaruh curiga kepadanya."
"Benar juga apa yang disampaikan oleh Beni. Kita melewatkan Ivan," sahut Evan. Dia terlihat berpikir.
"Ga, apa kamu masih menyimpan nomor Ivan yang lama?" tanya Evan kemudian.
"Untuk apa?" tanya Ega penasaran.
"Kita akan mengecek dari nomor lama Ivan. Sekarang dia menggunakan nomor yang baru. Saya sudah mengecek, tidak ada yang mencurigakan di sana." Evan menjelaskan.
"Nomor itu sudah tidak aktif." Ega kebingungan dengan apa yang ingin dilakukan Evan.
"Nah ini, dia bisa mengelabui kita dengan membuat Pin bunga bintang baru. Dia juga pasti akan menggunakan nomor lama yang mungkin saja orang lupa," sahut Evan menjelaskan.
Mereka tampak tak mengerti arah pikiran Evan.
"Saya akan cari, soalnya di Handphone saya sudah hapus, hanya ada nomor baru." Setelah berkata, Ega berpamitan menuju ke dalam rumah.
Tidak menunggu terlalu lama dia kembali lagi dengan membawa secarik kertas.
"Ini Van," ucap Ega menyodorkan secarik kertas itu.
Evan mengambilnya, dengan kecanggihan Otaknya dia mencoba menelusuri sesuatu dari nomor lama Ivan. Semoga saja dia mendapatkan petunjuk.
Diotak atik Laptonya. Cukup lama dia berkonsentrasi membuat yang lainnya jenuh.
Juna dan Dipta memilih memejamkan mata. Rian asyik mengobrol dengan seseorang yang berada di seberang melalui Handphone. Terdengar nama Fiza yang menggema di telinga yang lainnya.
Beni, Pria itu menyibukkan diri dengan mengotak atik mesin Mobilnya. Sedangkan Ega memilih memasak untuk makan siang mereka.
"Nah dapat!"
Evan berteriak membuat Juna dan Dipta tersadar dari mimpi indahnya.
"Evaaaan," teriak Juna karena merasakan kepalanya pusing karena terbangun dengan paksa.
Dipta mendelik dengan wajah cemberut seperti biasa. Pria berpipi Bakpao itu merasakan hal yang sama. Pusing!
Evan tertawa menyaksikan penderitaan kedua sahabatnya itu.
Beni dan Rian menghampiri dengan senyum yang sama-sama jahil.
Selanjutnya mereka mendengarkan percakapan yang dilakukan seseorang.
"Enggak mungkin ini?" ucap Juna terkejut
Bersambung.
__ADS_1