
Semenjak kepergian Dipta. Ega dan Nina kembali ke kamar. Mereka berdua merebahkan tubuh diatas kasur berbahan kapuk. Kedua gadis itu sibuk dengan aktivitas masing-masing, belum ada satupun yang memulai pembicaraan.
Ega tersenyum menatap layar handphonenya. Memang benar benda ini mampu membuat orang menjadi gila, termasuk Ega. Ega tidak hentinya untuk menampilkan senyumnya. Hatinya seakan berbunga-bunga karena mendapat khabar dari seseorang yang selama ini menemani malam sepinya. Seseorang yang mampu membalut hatinya yang pernah terluka. Mengembalikan kembali senyumnya yang pernah hilang. Semenjak gagal menikah, Ega berusaha membangun kembali puing-puing hatinya yang berserakan disebabkan oleh Laki-laki yang memberi warna dalam hidupnya dan laki-laki itu juga yang menghancurkan warna itu menjadi warna gelap yang menemaninya hingga saat ini.
Itu dulu tiga tahun yang lalu merasakan indahnya cinta. Bagaimana tidak indah, sesosok pemuda tampan, baik hati dan juga Insyaa Allah taat dengan Agamanya datang melamarnya. Waktu itu umurnya masih terbilang muda, baru saja lulus dari kuliahnya dan lulus seleksi menjadi Pegawai Negeri Sipil di Instansi pemerintah tempat Ega pernah magang dulu. Betapa beruntungnya ia mendapatkan anugerah tersebut. Ega tidak menganggur setelah lulus dan tidak juga menjomblo dari ijo lumut ( ikatan jomblo lucu dan imut ).
Namun, bahagia tidak bisa diraih. Tiba-tiba menjelang pernikahannya terdengar khabar bahwa Laki-laki yang menumbuhkan cinta pertamanya pergi meninggalkannya bersanding dengan Wanita lain.
Apa mau dikata? Takdir berkehendak lain. Ega hanya pasrah dan membangun kembali hatinya yang berserakan. Terluka, luka yang dirasakannya begitu perih.
Pada saat itu, Ega harus menebalkan gendang telinga dari omongan orang yang mencibir. Mereka seakan tak perduli dengan kesakitannya. Mereka lebih perduli dengan cemoohan dan celaan yang dialamatkan kepada dirinya atas gagalnya pernikahan sepasang cinta yang begitu manisnya membuat siapapun akan iri. Itulah mereka hati takkan ada yang tahu.
Tidak sedikit pula orang-orang menaruh iba padanya, ikut sedih dan kecewa. Mereka membesarkan hati Ega, memintanya bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Memohon kepada Tuhan agar diberikan kesabaran, kelapangan dan keikhlasan untuk menerima semuanya.
Pada saat itu orang tuanya begitu terpukul, mereka begitu kecewa dengan gagalnya pernikahan Putri Bungsunya. Tapi mau di kata apa? semua telah terjadi. Takdir tidak bisa ditolak, sekuat apapun kita menolak tidak akan bisa merubah kehendak Allah. Apalah kita manusia, Makhluk ciptaan-Nya. Sebagai makhluk-Nya kita harus menerima apapun yang telah Allah tetapkan.
Ega memang terluka tapi bagaimana dengan Ivan Alkhaeri calon suaminya? Menurut cerita dari calon Mertuanya, Ivan lebih terpuruk lagi, dia harus menikahi Wanita yang tidak dia inginkan. Ivan meratapi kebodohannya, karena kebaikan hatinya dimanfaatkan oleh orang lain untuk berniat buruk kepadanya. Kebaikannya menolong Gadis itu menggiringnya ke sudut nestapa. Ivan terjebak disana, mau tidak mau dia harus menikahi Gadis yang telah menjebaknya.
Gadis lugu yang mampu membuat Ivan bertekuk lutut di hadapannya. Bukan pesona gadis lugu itu yang membuatnya harus terpisah dari calon istrinya, akan tetapi adat yang menghakiminya. Iya, adat istiadat yang berlaku disana. Tuntutan adat yang membuatnya terpenjara dalam jeratan gadis yang berpura-pura lugu. Gadis itu telah berhasil merampas dirinya dari tangan Ega, calon Isterinya.
******
Flashback Tiga Tahun Yang Lalu.
Pagi yang Indah, Ega berjanji menjemput Anita sahabatnya di perumahan Village. Gadis manis itu mengendarai Motor Matic ke arah perumahan yang bernuansa minimalis. Dilihat nomer sebagai petunjuk rumah yang dituju yakni bernomer 15. Ega berhenti tepat di depan Gerbang cat berwarna Biru.
"Ini mungkin rumahnya?" Ega bertanya dalam hati.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh," salam Ega kepada seseorang yang sedang berada di halaman depan Rumah itu.
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh," jawab seseorang dari arah Taman Mini yang ada di depan rumah.
Seseorang yang menjawab salam menghampiri gerbang, terlihatlah seorang cowok tampan yang umurnya lebih tua dari Ega.
"Nyari siapa ya?" tanyanya ramah.
"Apa benar ini rumahnya Anita? Anita ada kak?" tanya Ega ramah dengan menampakkan senyum manisnya.
Sesaat Cowok itu terdiam sembari menatap Wajah Ega yang masih berdiri menunggu jawaban dari Cowok di hadapannya. Senyumnya tidak hilang dari wajahnya yang berwarna Sawo matang.
"Manis banget senyumnya seperti gula aren, ini mah cewek atau gula sih pingin tak cicipin,”batin cowok itu terpesona menyaksikan keindahan senyum dari gadis di hadapannya.
“Pingin rasanya saya ajak ke Penghulu sepertinya agar bisa menikmatinya, apa ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?”Lagi-lagi cowok itu membatin. Dia tidak sadar kalau Gadis manis di hadapannya beberapa kali memanggilnya.
"Kak, apa benar ini rumahnya Anita, Anita ada tidak?" Ega mengulang pertanyaannya untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Eh iya benar ini rumahnya Anita, Anita ada kok,” jawab cowok itu tersadar dari lamunannya. Cowok itu merasa malu karena kepergok telah menikmati senyum dari gadis tersebut.
“ Masuk aja,” ucap cowok itu kemudian mempersilahkan Ega untuk masuk ke halaman rumahnya.
"Lah bagaimana masuknya, ini masih di gembok? apa harus saya manjat, kak?" Ega bergurau sembari menunjuk Gerbang yang masih di gembok.
"Astaghfirullah, lupa saking asyiknya menikmati Gula Aren." Cowok itu menepuk jidatnya dengan pelan menyadari dia tidak membuka Pintu Gerbang yang menghalangi jalan Gadis itu untuk masuk ke Rumahnya.
"Apaan sih? padahal dia tidak lagi mengunyah," guman Ega bingung.
"Hehehe, gula arennya ada di wajahmu," sahut Cowok itu dengan diawali cengengesan.
“Kakak habis obatnya ya? biar saya beliin,” tawar Ega dengan pandangan bingung.
"Obatnya cukup senyummu saja Ariq."
Ega hanya tersenyum mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh cowok yang ada di hadapannya. Sekaligus bingung dengan apa yang dimaksudkannya. Saat Ega bingung untuk memaknai perkataan Cowok di hadapannya, dari arah dalam terdengar seseorang melangkah menghampiri keduanya.
"Loh Ega, kenapa berdiri di depan sana, ayok masuk," sapa seorang gadis cantik berhijab menghampiri mereka. Dia muncul dari balik punggung Cowok yang masih berdiri tegap menghalangi jalannya.
"Bagaimana caranya saya masuk, ditahan sama penjaga gerbang," sahut Ega sambil tersenyum cerah.
"Memangnya apa yang dilakukan kakak saya? sudah deh Kak tidak usah gangguin temen saya," pinta gadis cantik itu kepada Kakaknya yang masih asyik mengganggu Ega dengan pandangan matanya.
"Kak Ivan jangan mulai dah, kalau ladenin kakak bisa-bisa bibirku entar jadi keriting," kata Anita cemberut.
"Gampang tuh Nita, kalau bibirnya sampai keriting tinggal di catok aja," komentar Ega ikut terlibat dalam pembicaraan dua bersaudara itu.
Terlihat gadis cantik itu mendelik ke arah Ega dengan kalimat ancaman." Begitu ya? udah mulai pintar ya? awas ya aku aduin ama Miss rempong."
" Hahahaha."
Bukannya takut dengan ancaman Sahabatnya itu, Ega malah tertawa garing, kayak keripik talas.
"Udah ah, ayok berangkat entar kalau terlambat kita nanti kena omelan senopati Argadana, mana bisa kita dibela sama Prabu Siliwangi," ucap Ega kemudian mengajak Anita berangkat ke tempat kerjanya.
"Minta saja pertolongan Raden Walangsungsang, ini di hadapan kamu, orangnya." Cowok yang dipanggil Ivan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan kedua Gadis itu.
"Masih kalah kakak sama Senopati Argadana, kalau sudah keluar taringnya bikin kita semua jadi bisu." Ega menyahuti guyonan Cowok yang bernama Ivan itu dengan tawa kecil yang terlihat begitu mempesona.
"Jurus apa gerangan yang dipake Senopati Argadana? pingin rasanya saya berguru untuk menaklukkan hati gadis Gula Aren ini," ucap Ivan berterus terang. Dia terpesona dengan apa yang diperlihatkan oleh Gadis ini. Apapun yang diucapkan oleh Gadis ini merupakan Magic yang telah menyihirnya. Ivan mengakui kenyataan itu bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa secepat itu? Pesona dari Gadis manis ini mampu menggentarkan hatinya. Kalau ditelisik lebih dalam, Gadis ini tidak cantik namun ada sesuatu yang menarik dari wajah manisnya yang teduh.
"Mata itu sangat indah, mata yang menyimpan magnet yang mampu menarikku." Ivan bermonolog dalam diam sembari memandang Gadis di hadapannya. Ega tersenyum bersamaan itu juga mata indahnya ikut tersenyum tulus membuat Ivan kian meleleh.
"Aroo wah, berangkat ayok, biarin dah kak Ivan ngoceh sendiri, udah kena ilmunya Nyi Rompang jadi miring dah tuh?" ujar Anita menanggapi kekonyolan Kakaknya.
__ADS_1
"Ayok kita berangkat, kalau kita menanggapinya bisa-bisa kita tidak akan berangkat ke kantor." Ega mengajak Anita, dia berjalan ke arah Motor yang terparkir. Ega menaiki Sepeda motor di ikuti oleh Anita. Merasa Anita sudah duduk dengan aman, Ega segera menghidupkan Motor dan berlalu dari hadapan Laki-laki yang masih berdiri memandang ke arah mereka berdua. Tidak lupa Ega mengucapkan salam sebelum meninggalkan Cowok itu.
"Rayi Rara Santang, jagain Nyimas Gadis Gula Aren untuk Raka Walangsungsang ya!" Teriak Ivan terbawa angin, dia masih sempat-sempatnya berkolosal.
Hanya terdengar suara balasan salam selanjutnya di antara deru angin yang menampar pipinya lembut.
\====
Berawal pagi itu, kisah cinta mereka bersemi. Ega tidak menyangka bisa terpikat dengan rayuan gombal laki-laki bernama Ivan Alkhaeri. Ega tidak ingin pacaran, karena tidak ada faedahnya malah yang ada hanya dosanya saja. Begitu juga dengan Ivan, dia tidak ingin mengajak Gadis Gula Arennya dalam hubungan yang tak di ridhoi Tuhan. Setelah Ivan memantapkan hatinya, bersama kedua orang tuanya, Ivan melamar pujaan hatinya.
Suasana lamarannya begitu indah, penuh dengan kekeluargaan. Waktu itu Ega terlihat begitu cantik dalam balutan gamis berbahan tenun dengan kombinasi kain brokat.
"Jadi, maksud dari kedatangan keluarga kami selain bersilaturahmi ada harapan lain juga," ucap Bapak Alkhaeri membuka pembicaraan. Setelah mereka semua berkenalan dan mengobrol untuk membentuk keakraban. Pada akhirnya juga Laki-laki Baya itu segera menyampaikan niatannya.
Terlihat Bapak Alkhaeri mengatur nafasnya untuk memulai membicarakan selanjutnya menyampaikan maksud kedatangan keluarga mereka.
"Saya sebagai ayahnya Ivan Alkhaeri bermaksud melamar Putri Bungsu Mamiq bernama Baiq Ega Fajrina untuk dijadikan menantu di keluarga kami, menjadi istri dari Putra pertama kami bernama Ivan Alkhaeri. Sekiranya lamaran kami diterima dengan baik," ucap Bapak Alkhaeri pelan. Selanjutnya dia bernafas lega setelah menyampaikan niat baiknya.
Selesai mengutarakan maksudnya, gini giliran keluarga Ivan yang diam menyimak balasan dari keluarga Baiq Ega Fajrina.
Ivan menunggu harap cemas. Dia deg-degkan, baru kali ini dia merasakan spot jantung. Semoga saja gadis gula arennya mau menerima dirinya menjadi calon suami dan selanjutnya menjadi Suaminya.
"Bismillahirrahmanirrahim, terimakasih saya haturkan kepada keluarga Bapak Alkhaeri yang sudah berkenan bersilaturahmi ke Gedeng kami. Mengenai niat baik nak Ivan tentu kami sekeluarga menyambutnya dengan baik dan bahagia akan tetapi, saya selaku Mamiqnya Ega sebelumnya memohon ampure...!" Mamiqnya Ega menggantungkan kalimatnya, terlihat wajah Ivan gusar, ada kekhawatiran disana jika saja Mamiqnya Ega menolak pinangannya. Apa mungkin disebabkan dirinya tidak memiliki nama Lalu didepan namanya. Apa mungkin Mamiqnya menginginkan calon suami Ega dari keturunan menak juga. Terliha wajah Ivan begitu gusar.
" .... Sebelumnya, ampure saya tidak bisa mengambil keputusan sebelum menanyakan kepada Ega. Sementara saya selaku Mamiq Ega dan Inaqnya serta saudara Ega telah menyerahkan keputusannya kepada Ega," ucap Mamiqnya Ega yang bernama Lalu Angga Ramadhan melanjutkan kembali setelah sempat tergantung.
"Bagaimana Tatik, apakah diterima? apakah sudah siap untuk membina rumah tangga bersama Nune Ivan Alkhaeri?" tanya Mamiq Angga kepada Putrinya.
Gini giliran Ega yang menjadi pusat perhatian, semua mata tertuju ke arahnya. Merasa diperhatikan Ega mulai deg-degkan padahal tadi dalan mode normal.
"Ya Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang, tenangkan hati hamba." Doa Ega dalam hati.
Terdengar suaranya sangat pelan namun bisa tertangkap oleh semua orang yang ada di majelis. "Bismillahirrahmanirrahim. Saya menerima lamaran kak Ivan Alkhaeri dengan persetujuan dari Mamiq, Inaq, Kak Pahri dan juga kak Lani," jawab Ega mantap tanpa adanya keraguan yang terselip pada kalimatnya.
" Alhamdulillah." Mereka semua mengucapkan rasa syukur begitu mendengarkan penerimaan dari Gadis Manis yang di pinang oleh Pemuda yang bernama Ivan Alkhaeri.
Ivan merasa lega yang semula tadi sesak takut Gadis Gula Aren pujaan hatinya menolak. Dia tersenyum bahagia sembari memandang Gadis Gula arennya yang saat ini sedang menunduk karena malu. Hal Itulah yang membuat Ivan semakin gemas ingin segera menghalalkannya.
Begitu mendengarkan jawaban dari Ega, selanjutnya makan malam bersama dan ramah tamah antara anggota keluarga. Tentu juga menetapkan tanggal pernikahannya. Setelah pembicaraan alot pada akhirnya diputuskan tiga minggu lagi mereka melangsungkan akad nikah.
Namun untung tidak bisa diraih, malang tidak bisa ditolak. Tanggal itu tak menjadikan Ega Fajrina berubah status. Hari pernikahannya yang seharusnya bahagia malah menolehkan luka. Ivan memang mengucapkan ijab Qobul pada waktu itu tapi bukan nama Baiq Ega Fajrina yang keluar dari bibirnya melainkan nama orang lain. Gadis asing yang berhasil menculik Ivan, calon suaminya dan gadis lugu itu berhasil memanfaatkan kebaikan hati Ivan Alkhaeri.
Saat ini Ega tak ingin mengingat itu semua. Dia berusaha menata hatinya, melupakan impian bahagia bersama Ivan Alkhaeri. Tentu saja kenangan itu tidak bisa dihapus jejaknya dan kisah itu pernah terjadi yang tidak bisa dipungkiri. Ega, gadis itu hanya berusaha berdamai dengan rasa sakit yang masih terasa di hati. Gadis itu, berusaha untuk menerima kenyataan sebagai bagian dari cerita hidup yang sudah ditetapkan Tuhannya.
Bersambung.
__ADS_1