
Pagi-pagi sekali Beni sudah ada di Kantor. Dia tidak bisa menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan Anton disebabkan rasa penasaran dengan status hubungannya dengan Lexi Aditama. Beni ingin segera mendapatkan petunjuk apa maunya Lexi yang menebarkan ketidak nyamanan apalagi ini menyangkut nama baiknya.
Lexi telah mengganggu hidupnya. Jika bertemu dengan Lexi akan dia karung hidup-hidup kemudian melemparnya ke Bangko-Bangko biar jadi santapan binatang pemangsa daging. Beni tidak mengenal sama sekali dengan Lexi Aditama lantas darimana si Lexi itu tahu tentang dirinya. Sungguh Kepalanya mendadak Migren dengan pengakuan si Lexi dan jati diri si Lexi yang berada ditanda kutip.
"Pagi Lisa, apa Pak Anton sudah datang?" tanya Beni kepada seorang Pegawai yang bernama Lisa rekan kerja dari Anton.
"Pagi Pak Beni, sepertinya belum datang karena dari tadi saya sudah ada disini dan belum melihat Pak Anton," jawab Lisa mendadak heran tumben-tumbennya Pak Beni mencari Anton sepagi ini.
"Apa mereka ada masalah ya? tampak sekali raut wajah Beni pahit begitu mana kusut lagi kayak belum di setrika," batin Lisa merasa heran dengan tampang Beni yang tak seenak biasanya.
"Nanti kalau sudah datang, sampaikan ke Pak Anton untuk temui saya," pesan Beni kemudian berlalu meninggalkan Lisa yang bengong melihat tingkah Beni yang tak seindah biasanya.
"Iya Pak," jawab Lisa walaupun Beni sudah meninggalkannya.
Beni bergegas kearah ruangannya dan mengucapkan salam seperti kebiasaannya memberikan salam ketika masuk ruangan ataupun rumahnya meskipun dalam keadaan kosong.
Beni mendudukkan diri di kursi kebesarannya dengan tampang tambah kusut melihat dokumen yang menumpuk di Meja kerjanya. Beni harus menyelesaikan semuanya mau tak mau karena ini merupakan tanggung jawabnya.
Beni baru menyelesaikan satu Laporannya saja sudah membuatnya kepala nyut-nyutan. Pikirannya tidak lagi terfokus sama pekerjaan disebabkan si Anton yang belum juga menemuinya.
"Kemana anak itu? apa dia mengindahkan pesanku atau jangan-jangan Anton sudah merasa akan mau ditanya mengenai Lexi sehingga menghindariku. Mengapa masalah ini membuatku selalu curiga sama orang lain? menyebalkan!"
Beni berbicara sendiri dengan mimik serius terpampang nyata pada wajah tampannya.
Huft
Beni menghela nafas kasar kemudian menghempaskan begitu saja. Ia tidak mau hanya duduk menunggu disini tanpa berbuat sesuatu. Dilirik jam tangan yang menunjukkan waktu menjelang siang.
"Astaghfirullah. Lupa kalau siang ini mau mencari tahu identitas Gadis yang pernah menolong saya. Untung saja kemaren Dipta sempat memberikan informasi yang penting banget. Mungkin saja dengan mengikuti saran Dipta bisa melacak siapa sebenarnya Gadis itu," batin Beni panjang lebar. Dia segera menyambar kunci motor kemudian meninggalkan ruangannya.
"Duniaku jungkir balik gara-gara Lexi, lupa kan jadinya misi utama saya mencari tahu tentang Gadis yang sebenarnya dan membongkar kebusukan Nina."
Beni tidak henti-hentinya mengomeli Lexi dan mendadak sekarang dirinya jadi suka menggerutu.
Baru saja ia meninggalkan Lobi terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Beni." Panggil seseorang yang tidak lain adalah Anton.
Begitu mendengar pesan yang disampaikan Lisa, Anton segera berjalan ke arah ruang kerja Beni namun tidak ada Beni disana. Dia mencarinya ke Loby begitu melihat Beni disana Anton mempercepat langkahnya.
Beni menoleh dengan sorot mata kesal. " Kenapa baru nongol nih anak padahal dibutuhkan tadi. Lebih baik saya langsung menemui Gadis saja karena ini lebih penting. Kesempatan untuk mencari tahu siang ini saja telat sedikit saya bisa kehilangan informasi penting," batin Beni memutuskan untuk mencari tahu perihal Gadis sedangkan informasi tentang Lexi bisa menyusul karena Anton tidak mungkin akan kabur.
"Tunggu saya sampai kembali, awas saja kamu hilang maka hilang juga ladang rezeki kamu Anton," ancam Beni terdengar serius kemudian meninggalkan Anton yang terpaku bingung.
"Ada apa dengan Beni? kenapa wajahnya serius banget?" batin Anton bertanya-tanya lalu meninggalkan Lobi menuju ruang kerjanya.
Baru saja sampai, dilihatnya Lisa sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Beni hendak memberikan Laporan penjualan yang dimintanya.
"Mau kemana Lisa?" tegur Anton melihat Lisa hendak mengetuk Pintu ruang kerja Beni.
__ADS_1
"Mau ketemu Pak Beni, mau kasik ini," jawab Lisa menunjukkan Dokumen pentingnya.
"Pak Beni sudah pergi, taruh saja di Mejanya. Sebelum kamu menaruhnya saya mau tanya, kira-kira kamu tahu enggak Pak Beni kenapa?" tanya Anton penasaran.
"Nah itu juga pertanyaan saya, Pak Beni itu kenapa ya? tidak seperti biasanya. Kusut gitu apa mungkin Setrikanya rusak ya Pak Anton?" Lisa balik bertanya dengan tampang bingung. Ada apa dengan hari ini sehingga atasannya itu tidak fresh seperti biasanya.
"Hus apa hubungan setrika rusak dengan Pak Beni, lain-lain saja kau ini. Nanti kalau didengar sama Pak Beni kena SP kamu. Ini juga, saya nanya kok malah balik bertanya. Aturannya kamu harus jawab dong!" sahut Anton memperingati Lisa agar menjaga ucapannya.
"Habisnya tuh muka Pak Beni sudah kusut begitu eh ditambah lagi dengan super dinginnya. Lama-lama deket sama Pak Beni saya bisa beku dengan hawa dinginnya, Berrrr." Lisa menjawab sembari menggigilkan badannya.
"Awas nanti kau bisa bucin sama cowok terdingin di Kantor ini, tahu rasa kau. Kalau sudah jatuh cintrong sama Pak Beni siap-siap saja bawa penghangat setiap kalian kencan," ucap Anton mengingatkan Lisa jangan terlalu sentimen dengan laki-laki.
"Amit-amit cabang bayi, itu tidak akan terjadi lagipula Pak Beni bukan tipe saya. Mana ada cewek suka sama Cowok Salju gitu. Tampan sih, cool gitu tapi kekurangannya yaitu kurang tajir dan bukan Laki-laki hangat," sahut Lisa dengan jelas, selesai berkata Gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Anton.
"Eh tunggu," panggil Anton melihat Lisa pergi begitu saja seakan tidak punya sopan santun.
"Apa?" kata Lisa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Anton dengan angkuhnya.
"Jika kau tidak suka Pria dingin seperti Beni berarti suka Pria hangat-hangat kuku seperti saya dong?" sahut Anton memamerkan ketampanannya dengan merapikan kerah baju dan memainkan rambutnya dengan sorot mata menggoda.
"Maaf saja ya Pak Anton, walaupun anda kurang Tampanpun saya tidak tertarik tuh karena Pria hangat sepertimu hanya akan membuat saya melepuh," jawab Lisa dengan nada sedikit mengejek. "Tidak ada yang saya mau bicarakan lagi saya permisi Pak Anton," lanjutnya lagi dengan mengumbar senyum sinisnya.
"Dasar Gadis aneh, tadi ngakunya tidak suka Pria dingin begitu ditawarin Pria hangat eh jawabannya ngaco begitu memangnya saya air panas yang baru diangkat dari tungku," gerutu Anton kesal karena belum saja merayu sudah terpental oleh kata-kata dari bibir sepetnya Lisa.
"Apa mungkin si Lisa suka Pria kurang waras kali ya? makanya jadi gitu orangnya?. Untung saja kamu tidak tahu siapa Beni sebenarnya bisa-bisa tumbuh bibit matrealistik ataupun bibit unggul Pelakor dari hatimu Gadis aneh. Jangan sampai tahu dah!"
Anton mengomeli Lisa dengan masih saja berdiri mengawasi Gadis itu yang hanya nampak punggungnya saja.
Kurang satu jam Beni kembali ke Kantor dengan wajah sedikit cerah karena keberhasilannya hari ini mendapatkan informasi tentang Gadis itu. Setelah mendapatkan informasi dari rumah sakit tempat dirawatnya dulu dengan susah payah dan informasi dari Abinya hari ini keberuntungan memihak kepadanya. Cocok semua data-data yang dimilikinya dengan data-data yang dimiliki Gadis itu. Beni tidak menyangka sama sekali kalau Gadis itu adalah Mamsa. Wanita yang teramat berharga di dalam hidupnya. Wanita yang diam-diam dia cintai dan Mama dari Anisa, anaknya.
Beni menuju ruangan Anton karena dia ingin menyelesaikan masalah Lexi agar semuanya terang menderang siapa sebenarnya Anton dan Lexi.
"Pak Anton, minta tolong ke ruangan saya," titah Beni dengan muka datarnya.
"Siap, laksanakan," sambut Anton dengan memainkan tangannya membentuk hormat.
Anton mengikuti langkah kaki Beni yang melesat jauh meninggalkannya.
"Gila nih Beni, cepat amat jalannya. Apa Dia pakai ilmu menghilang ya?" batin Anton berusaha mempercepat langkahnya.
Mereka berdua duduk di ruang kerja Beni dengan saling tatap menatap. Beni menatap Anton dengan penuh selidik tapi tidak ada yang mencurigakan dari wajah Anton, normal-normal saja tidak seperti tatapan mata Lexi yang terlihat kosong di fhoto itu.
Sedangkan Anton menatap Beni dengan perasaan heran. Anton merasa apa yang dikatakan Lisa itu benar, tampang Beni terlihat horor.
"Jadi, apa hubungan kamu dengan Lexi Aditama, apa kamu mengenalnya?" tembak Beni langsung dengan pertanyaan. Pertanyaan itu tepat sasaran menuju ulu hati Anton.
Glek
Anton menelan salivanya yang terasa pahit. Pertanyaan Beni lebih horor dari Film Anabel. Anton terkaget, rasanya bagaikan disambar beliung. "Rasanya lebih baik di guncang Gempa skala tujuh lagi deh daripada diguncang pertanyaan seperti ini," batin Anton dengan masih terdiam. Tampangnya benar-benar berubah menjadi porak-poranda.
__ADS_1
Beni menunggu jawaban Anton dengan sorot matanya menancap pada netra milik Anton. Terlihat jelas perubahan wajah Anton begitu menyebut nama Lexi Aditama.
"Kenapa diam? Kamu kenal dengan Lexi Aditama?" Beni mengulang dan memperjelas pertanyaannya.
Huft.
Anton menghela nafas berat kemudian mengangguk.
"Jadi kamu mengenalnya? Ceritakan tentang Lexi Aditama," pinta Beni dengan pandangan penuh tekanan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa Lexi berbuat ulah?" Anton malah bertanya karena Ia tahu jika Beni menginterogasi dirinya tentang Lexi pasti telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Iya, laki-laki yang bernama Lexi itu telah mengganggu kenyamanan saya dan Sahabat saya. Dia berani membututi Ega dan begitu ada kesempatan pasti akan menyerangnya. Lexi juga meneror Juna di medsosnya," jawab Beni dengan raut tidak tenangnya begitu menyebut nama Ega. Beni sangat mengkhawatirkan keselamatan Gadis itu. Bisa saja Lexi tiba-tiba menyerang Ega. Itu yang ada dalam pikiran Beni saat ini.
"Lexi itu Sepupu jauh saya, dia dulu anak yang baik dan juga patuh walaupun sedikit cupu. Cerita yang saya denger sih, Lexi mempunyai Sahabat bernama Mandala dan Nara. Mereka bertiga sangat dekat bagaikan Saudara. Mandala yang Tampan dan populer berhasil membuat Lexi menemukan kepercayaan dirinya."
Anton mulai menceritakan kisah Lexi seperti yang dia ketahui.
"Tragedi itu merubah Lexi menjadi Pria sekarang yang brutal dan tidak terarah. Lexi senang bergaul dengan orang-orang di lingkaran tanda kutip. Lexi telah berubah semenjak Nara kecelakaan dan ternyata Nara diketahui mengandung. Entah siapa yang melakukan itu, pada malam kejadian itu ada Mandala disana dan Mandala yang menyelamatkan Nara. Mandala menghilang semenjak Nara berhasil dibawa ke Rumah Sakit. Dirumah sakitlah orang tua Nara tahu tentang kehamilan Nara. Lexi yang pada saat itu sedang ada di rumah Sakit sedang menjenguk Nara menjadi sasaran tuduhan orang tua Nara."
Anton menjeda ceritanya dengan meminum segelas air putih yang ada di hadapannya.
"Selanjutnya terjadilah keributan karena Lexi tidak mau mengakui tuduhan yang tak beralasan dan tidak ada bukti yang kuat bahwa dialah Pelakunya. Lexi membeberkan kepada Orang Tua Nara bahwa Mandala-lah yang seharusnya menjadi tersangka bukan dirinya. Pada saat kejadian ada Mandala disana dan Lexi mengaku bahwa dia tidak berada di tempat kejadian saat Nara mengalami hal itu."
"Terus apa yang terjadi dengan Mandala? Apa Dia Pelakunya?" tanya Beni penasaran.
"Saya tidak tahu karena ceritanya simpang siur. Orang Tua Nara tidak bisa membuktikan kalau Lexi pelakunya dan Mandala juga aman karena ternyata dia bukan orang sembarangan. Ini murni pemerkosaan sementara itu tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Pelakunya antara Lexi dan Mandala atau mungkin saja bisa orang lain. Saat itulah Lexi berubah total apalagi di picu pengusiran dirinya oleh orang tuanya dan Nara juga menghilang semenjak orang tuanya tidak mau lagi mengakui dirinya."
Lanjut Anton menceritakan apa yang dia ketahui dengan wajah penuh kesedihan.
"Sungguh miris nasip Nara, tega banget orang tuanya seharusnya Nara dilindungi karena dia korban pemerkosaan," Ujar Beni prihatin yang menimpa Nara. Beni tambah puyeng begitu mendengarkan kisah hidup Lexi yang ternyata tidak seindah tampangnya.
"Terus bagaimana dengan Mandala? dimana keberadaannya?" Tanya Beni sangat penasaran dengan sosok Mandala. Apa mungkin dia Pelakunya namun kenapa Mandala itu sangat sulit tersentuh hukum. Siapa sebenarnya Mandala itu?"
"Tidak ada yang tahu keberadaan Mandala bersamaan hilangnya Nara. Saya juga tidak mengenal Mandala. Lagipula saya tidak berhubungan lagi dengan Lexi semenjak Lexi salah arah. Saya sudah mencoba menasehatinya agar menjauhi dunianya yang sekarang tapi Lexi tidak mau mendengarkan saya. Dia tutup telinga dan mata. Melihat itu lama kelamaan saya takut dengan penyakitnya itu makanya memilih menjauh dari Lexi," jawab Anton berkata jujur tanpa menyembunyikan apapun lagi. Hanya sebatas itu yang dia ketahui.
"Ini benar rumit," guman Beni serius, gumanan yang berhasil ditangkap telinga Anton.
"Benar banget, ibarat mengurai benang kusut," ucap Anton ikutan bingung.
"Kali ini saya sepaham dengan kamu Anton," sahut Beni mulai berpikir langkah apa yang akan dia dan tujuh sahabat lakukan.
Beni dan Anton masing-masing sibuk dengan pikirannya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Saat mereka sibuk berpikir, tiba-tiba deringan handphone menyadarkan mereka berdua.
Beni segera mengangkat panggilan dari Ega.
(Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh)
(Apaaaa? Nina hilang?)
__ADS_1
Bersambung.