
Plak.
"Kau seakan menampar hatiku Mas." Batin Beni risau dengan dirinya sendiri karena hatinya terikat dengan komitmen persahabatan yang terlanjur diucapkannya.
"Lah kok tidak ada suara Evan, tadi katanya mau hubungi Evan." Ucap Ega mengingatkan kembali.
"Oh ya hampir saja lupa." Sahut Dipta sembari menekan nomer Evan.
"Bukannya kamu hampir lupa tapi sudah lupa kali Dip!" Celetuk Juna.
Dipta menempelkan jari telunjuk di bibirnya meminta semuanya untuk diam.
📞Assalamu'alaikum Dip, iya kenapa? Saya lagi di tengah jalan nih!"
📞Ngapaen ditengah jalan mau bunuh diri kamu?"
📞Sumpret, memang saya lagi ditengah jalan dipinggir jalan keserempet trotoar dong? emangnya ada apa sih?"
📞Ada misi rahasia lagi nih! ada tugas kamu untuk meretas CCTV yang merekam kejadian memperkosaan."
📞Iya gampang itu mah saya udah sampai gerbang kota Mentaram."
📞Bagus, kita tunggu di rumah Ega."
📞Siap 86."
Tidak ada terdengar suara dari Evan lagi sepertinya Evan sudah mengakhiri panggilannya.
"Apa kata Evan?" Tanya Juna mewakili.
"Lagi di jalan sebentar lagi sampai."
"Oh." mereka kompak ber oh ria.
Benar saja tidak terlalu lama Evan muncul bersama motor modifikasinya dibarengi suara cemprengnya.
"Assalamu'alaikum ya ahli kubur." Teriak Evan menggema disekitar Berugak.
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Jawab mereka yang ada disana serempak.
"Kompak banget seperti paduan suara saja padahal tadi saya salam sama siapa ya?" Ucap Evan bingung sendiri dikiranya dia bakalan dapat semprotan.
"Justru karena kita enggak seperti apa yang kamu sapa makanya kompak membalas karena yang kamu sapa itu mana mungkin bisa memperdengarkan suaranya." Sahut Ega
"Iya juga sih, hehehe." Ucap Evan salah tingkah.
"Ada masalah apa lagi sih?sepertinya ini lebih parah dari yang kemarin." Tanya Evan sembari mendudukkan diri pada Berugak disamping Dipta.
"Mereka semua tidak ada yang menjawab malah sibuk menatap Nina yang sedari tadi hanya diam saja untuk meminta persetujuan apakah boleh mereka menjawab.
"Kok malah pada diam bae, ada masalah apa lagi?" Evan mengulang pertanyaan.
"Kamu retas saja buktinya dulu sebelum bukti itu hilang, nanti juga bakalan tahu." Beni akhirnya buka suara mewakili mereka yang terdiam bingung mau jawab apa sedangkan Nina hanya diam saja tanpa memberikan isyarat apapun.
"Baiklah, tapi saya haus boleh minta minum enggak?" Sahut Evan sambil mengambil segelas minuman mineral dalam kemasan yang tersedia.
"Alhamdulillah leganya." Sambung Evan kemudian menaruh gelas plastik tersebut ketempat semula.
"Saya tidak bawa laptop boleh pinjam laptop kamu Ga?"
"Boleh sebentar saya ambilin." Jawab Ega bergegas masuk ke rumah tidak butuh waktu lama Gadis itu sudah kembali ke tempat mereka kumpul.
"Apa nama Vila dan alamatnya." Tanya Evan agar dia bisa melacak dan mencuri data.
Ega menjawab apa yang ditanyakan Evan sesuai keterangan yang disampaikan Nina saat bercerita padanya.
Evan mulai membuka suatu sistem dan terlihat dia memasukkan angka demi angka yang tentu saja hanya dirinya yang tahu. Dipta yang ada disampingnya mengernyitkan dahinya kebingungan. Cowok berisi itu malah menekan kepalanya yang mendadak pusing.
Butuh waktu lama Evan bermain dengan laptop Ega, entah apa yang dikerjakan oleh Evan tentu saja semua sahabatnya tidak tahu. Evan dianugerahkan otak cerdas pada bidang IT sehingga kerap kali dia memanfaatkan kecerdasannya itu untuk membuat sistem agar bisa dimamfaatkan oleh sahabatnya salah satu sistem tersebut adalah sistem yang pernah dipergunakan Ega meminta bantuan saat dia hampir saja dilecehkan oleh Papanya Lexi. Padahal Sistem itu terpasang di Handphone Nina mungkin saja Nina lupa untuk mempergunakan sistem itu sehingga teman-teman tidak tahu kejadian yang menimpa dirinya. Seandainya Nina ingat tentu saja sahabat-sahabat akan segera membantu tapi apa mau dikata takdir berkata lain.
"Alhamdulillah berhasil." Seru Evan begitu berhasil meretas CCTV yang terpasang di Vila tempat kejadian naas itu.
Evan terkejut begitu melihat siapa yang ada dalam CCTV yang baru saja diretasnya.
"Astaghfirullah, jadi kamu Nina korbannya?" Tanya Evan memastikan apa yang dilihatnya.
Nina menangis sesenggukan jika mengingat kejadian malam itu. Dia hanya mampu mengganggukkan kepalanya.
"Minta tolong hapus rekaman CCTV di Vila itu dan di file yang akan jadi bukti minta tolong disensor." Pinta Nina berharap tidak ada orang jahat yang menyebarkan kejadian malam Naas itu.
"Tenang saja Nina, saya akan hapus rekaman yang ada disana." Jawab Evan meyakinkan sahabatnya ini.
Nina bernafas lega karena dia sangat mempercayai sahabat cemprengnya itu. Nina tahu Evan dan teman-temannya yang lain adalah orang yang sangat baik dan tulus bersahabat dengan dirinya.
Evan sudah mulai kembali dengan laptop milik Ega kemudian masuk ke CCTV yang ada di Vila tidak butuh waktu lama dia menghapusnya dan hanya menyimpan file yang disimpannya di laptop Ega. Sekarang tinggal dia sensor video itu. Saat Evan hendak mensensor dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya buru-buru dilipatnya laptop tersebut tidak sampai menutup rapat sehingga masih terdengar pembicaraan antara Nina dan laki-laki bren**k itu.
__ADS_1
"Soni kok disini sepi bukannya tadi kamu bilang ada acara keluarga dan rencananya mau menginap. Terus mana orang tua kamu?"
"Mereka sudah pulang karena tiba-tiba ada musibah yang menimpa keluarga jadi Papa dan Mama buru-buru pulang."
"Oh begitu, kalau begitu antar saja saya pulang karena tidak jadi menginap."
"Kita duduk saja dulu."
beberapa menit tidak ada pembicaraan. Evan mengintip pada Video tersebut sedang terlihat aktivitas ciuman panas. Setelah puas Laki-laki yang ada pada Video itu melepaskan pagutannya.
" Sekarang aku menginginkan yang lain."
"Apa maksudmu Soni?"
"Making Love, kamu cinta sama aku kan? jadi aku ingin yang ini." Terlihat dalam Video itu Laki-laki yang bernama Soni itu menunjuk kearah bawah perut Wanita yang ada di Video itu yang tidak lain adalah Nina.
"Memang iya saya cinta sama kamu tapi bukan berarti saya harus menyerahkan tubuh saya sama kamu." Terdengar nada suara Nina sudah mulai meninggi.
"Bukannya kamu suka gonta ganti pacar dan kamu juga suka pacaran sama Om-Om tajir lalu memporoti uang mereka. Kalau bukan kamu menjual diri bagaimana bisa mereka membayar apa yang kamu inginkan. Kalau sudah jadi kupu-kupu malam jangan sok merasa masih suci." Terdengar suara laki-laki itu menghina Nina dengan sinisnya.
"Saya pacaran sama mereka tapi sebatas pelukan dan ciuman saja tidak lebih dari itu. Jika kamu menginginkan itu sewa saja Kupu-kupu malam jangan dengan saya." Terdengar suara Nina begitu emosi dan geram. amarahnya benar-benar membucah terlihat jelas pada wajah cantiknya.
"Saya menginginkan kamu sebagai pacar, apa ada yang salah Nina?"
"Saya mau pulang." Terdengar langkah kaki Nina menghampiri pintu keluar.
"Mau apa kamu hah? enak saja mau pulang."
"Awww sakit, lepaskan rambut saya." Pinta Nina sambil menahan rasa sakit.
Soni menyeret Nina dengan menarik rambut panjangnya kemudian Soni menghempas tubuh Nina di Sofa.
Bruuuukz
Plaaaak
"Sakit, lepaskan saya Soni.
"Diam."
Terlihat Soni melancarkan aksinya sedangkan Nina berusaha melepaskan diri dan memberontak namun usahanya gagal apalagi Soni meningkat tangannya kearah belakang.
"Awwww, sakiiiiit. Toloooooooong." Terdengar teriakan Nina meminta tolong namun tentu saja tidak akan ada yang mendengarkan suaranya karena Vila itu jauh dari pemukiman penduduk. Nina mencoba meronta dengan hanya menggerakkan kakinya karena kedua tangannya terikat. Tubuhnya telah di kuasai oleh Laki-laki itu tentu saja Nina hanya bisa merintih dalam hati dan menangis dalam hati.
"Ternyata kamu masih Perawan dan aku menyukai ini."
Plak.
Lagi mendarat tamparan keras di pipi Nina membuat pipi Nina memar.
"breng**k kamu Soni."
Plak
Soni mendaratkan tamparan keras lagi pada Pipi Nina dengan posisi masih berada diatas tubuh Wanita itu. Bukan hanya menampar saja Soni juga menggigit salah satu bagian tubuh Nina tanpa ampun.
"Semakin kamu kesakitan semakin aku merasa bergairah jadi berteriaklah sayang."
Soni benar-benar gila, laki-laki itu bukan hanya bermain dengan tubuh Nina tapi sesekali dia menyakitinya.
"Aaaaaargh, leganya." Terlihat Soni ambruk disisi Nina setelah puas dan lelah dengan aktivitas penyimpangannya.
"Terima kasih Nina sayang, kamu benar-benar luar biasa." Ucap Soni mengakhiri kesakitan dari tubuh Nina tanpa dosa laki-laki itu memejamkan matanya karena merasa staminanya terkuras habis dengan permainannya sendiri. Soni benar-benar terlelap disisi Nina yang terluka dengan hidupnya yang telah hancur.
Evan mematikan Video itu. Mereka hanya mendengarkan suara tanpa melihat isi dari Video tersebut kecuali Evan karena dia mensensor bagian tubuh Nina saja tidak pada wajahnya karena video itu akan menjadi alat bukti. Mau enggak mau Evan harus melihat dengan amarah yang sudah berada diubun-ubun sesekali dia menggertakkan gigi menahan amarah melihat apa yang dilakukan Soni kepada sahabatnya.
"Breng**k, mau saya cincang tubuh Soni itu. Memangnya dia tidak terlahir dari rahim seorang Wanita sehingga seenaknya merenggut kesucian orang." Umpat Dipta mulai meledak-ledak ketika mendengarkan isi dari Video itu dengan apa yang dilakukan laki-laki breng**k itu.
Suasana pada pagi itu mendadak mencekam. Terlihat sekali wajah mereka penuh amarah sedangkan Nina hanya bisa menangis dengan hati yang hancur berkeping. Ega disisinya tidak mampu menghiburnya.
"Tenang saja Nin, kita akan membuatnya kesakitan dan menyesal seumur hidup bahkan hidupnya tidak akan tenang." Sambung Dipta lagi dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Laki-laki bernama Soni ini sepertinya memiliki penyimpangan aktivitas ******l. Dia akan merasa puas dan nikmat jika dia berhasil menyakiti pasangannya baik secara fisik dan phikis. Semakin pasangannya merasa sakit maka semakin dia bergairah mungkin saja mencapai kenikmatan penuh. Penyimpangan ******l ini dinamakan Sadomasokis. Sadomasokis itu sendiri gabungan dari sadis dan masokis. Sadis merupakan kelainan saat seseorang yang mendapatkan kenikmatan penuh saat menyakiti lawan jenis secara fisik dan phikis sementara masokis lawannya yaitu seseorang yang mendapatkan kenikmatan saat disakiti oleh pasangannya. Tapi akan berbahaya bagi pasangannya yang normal tentu saja ini menyakiti fisik dan phikis dari pasangannya itu." Terang Rian panjang lebar.
Mereka yang mendengarkan mengganggukkan kepala tanda mengerti atas ulasan singkat Rian.
"Jadi seperti itu, tetap saja ini tindakan kejahatan dan kita harus basmi kejahatan itu sendiri. Kapan kita bergerak?" Tanya Dipta menggebu-gebu.
"Sekarang saja mumpung masih pagi." Sahut Evan yang sudah selesai mensensor bukti yang ada dalam video dia kemudian mengunci agar tidak bisa dibuka oleh siapapun kecuali dirinya.
"Baik kita susun rencana." Ucap Dipta.
Mereka mulai menyusun rencana secara matang sebelum Soni di seret ke Penjara. Mereka ingin memberi pelajaran dengan membuat Soni babak belur dan merasakan kesakitan dulu baru mereka menyerahkannya ke Polisi. Disini mereka menunjuk Ega yang akan maju untuk merayu Soni dan menjebaknya.
"Soni sekarang ada di Cafe, kita akan langsung menemuinya disana." Ucap Evan begitu berhasil melacak keberadaan Soni melalui nomer handphonenya.
__ADS_1
Tujuh sekawan itu langsung bergerak menuju Cafe kecuali Nina dan tidak lupa Ega berdandan secantik mungkin agar Soni terpesona dengan dirinya. Melihat penampilan Ega yang tidak biasanya membuat sahabatnya yang cowok kompak memuji Ega cantik dan manis. Terutama Beni yang semakin kumat jantungnya dan dia benar-benar terpesona oleh paras manis Ega yang tidak biasanya. Ega memang tidak suka dandan, kerap kali dia berpenampilan sederhana. Gadis itu tidaklah begitu cantik tapi dia manis. Wajah yang tidak akan bosan untuk dipandang, apalagi inner beauty yang terpancar dari dirinya.
"Cantiknya." Guman Beni tak sadar membuat teman-teman yang ada langsung berkomentar riuh karena tidak biasanya Beni memuji seorang Gadis biasanya dia acuh tak acuh.
"Kamu naksir Ega ya Ben? inget komitmen persahabatan kita." Ucap Dipta mengingatkan membuat Beni menelan pil kepahitan yang teramat pahit.
"Iya saya tahu, tidak ada salahnya memuji teman sendiri." Sahut Beni membela diri.
"Memang tidak ada yang salah tapi kali ini tidak seperti biasanya kau seperti ini." Ucap Dipta mulai mencurigai sahabatnya ini.
"Udah ah ayok kita berangkat menuju ke TKP, jadi enggak kita nih?" Tanya Beni menghindari kecurigaan Dipta.
Setelah terjadi kesepakatan mereka kemudian bergerak menuju Cafe tempat Soni berada.
Sesampainya disana langsung mereka mengambil tempat strategis untuk memantau kegiatan Ega. Mereka pura-pura jadi Pelanggan dari Cafe tersebut.
Ega mendekat dan pura-pura menabrak Soni yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada disana sedang menikmati makanannya. Sungguh adegan yang klise. hehehehe.
"Ops Sorry enggak sengaja. Abang enggak apa-apakan?" Tanya Ega berusaha membersihkan tumpahan minumannya pada baju yang digunakan Soni.
"Tidak apa-apa, no problem." Jawab Soni sambil sibuk memandang paras Ega.
"Anda sendirian, boleh saya duduk disini? Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya. Saya benar-benar teledor." Ucap Ega langsung saja duduk sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Ega."
"Soni." Balas laki-laki bernama Soni itu menyambut uluran tangan Ega. Lumayan lama dia menikmati tangan halus dan pandangannya tidak lepas dari wajah Ega.
Sementara para Sahabat yang ada disana mengumpat dengan apa yang dilakukan Soni dan mencak-mencak dengan cara berbisik.
"Eheeem." Ega berdehem sehingga membuat Soni melepaskan jabat tangannya.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya. Bagaimana kalau saya mencucikan baju Abang sekarang." Tawar Ega.
Terlihat mata Soni berbinar-binar.
"Boleh jika itu tidak membuatmu keberatan." Sambut Soni tersenyum smirk.
"Kalau begitu apa bisa sekarang karena saya tidak ada waktu untuk berlama-lama karena saya orangnya super sibuk tapi karena saya telah berbuat salah maka saya harus bertanggung jawab setiap kesalahan saya sekecil apapun itu." Ucap Ega mulai bertingkah sok bijak padahal hatinya sekarang sedang emosi ingin cepat-cepat memberikan pelajaran pada laki-laki dihadapannya yang sok ganteng padahal kagak ganteng juga malah matanya jelalatan seperti orang cacingan saja.
"Tentu, saya juga tidak suka membuang waktu hanya untuk basa-basi yang tak berguna. Mari silahkan ke rumah saya." Sambut Soni dengan riang gembira mendapatkan ikan gede nan segar.
Ega mengikuti kemana langkah kaki dari laki-laki yang menjadi targetnya ini.
"Kamu bawa kendaraan sendiri?" Tanya Soni begitu sudah sampai parkiran.
"Tidak, tadi saya pakai Ojek On line."
"Kita bareng saja nanti saya anter pulang begitu kamu selesai membersihkan pakaian saya. Sebenarnya tidak masalah dengan pakaian kotor saya ini nanti bisa saya Laundry atau bisa saya buang karena saya menggunakan sekali saja." Tawar Soni sekaligus memamerkan kesombongannya.
Ega seakan muak mendengarkan itu ingin rasanya dia merendam otak itu semalaman terus menaruh pemutih bila perlu zat yang akan merontokkan kotoran yang melekat di otaknya lalu menaruhnya di Mesin cuci agar di sikat dan kucek dengan keras oleh kekuatan listrik biar kesetrum sekalian.
"Boleh." Sahut Ega mengatur nada suaranya agar tidak terdengar kesal.
"Mari silahkan." Ucap Soni sembari membuka pintu mobil untuk Ega. Setelah Ega masuk baru Soni memutar tubuhnya menuju kursi kemudi.
Mobil Soni melaju dengan pelan membelah jalanan Kota menuju kediaman Soni sementara itu Mobil Rian yang ada sahabat Ega membututi Mobil Soni.
Lumayan lama mereka bergerak pada akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Dimana Mobil Soni terlihat memasuki sebuah rumah tapi melihat posisi rumah yang sepi dan model bangunannya sudah dipastikan itu adalah Vila.
"Dasar licik, bukannya saya dibawa ke rumahnya ternyata dibawa ke Vila." Umpat Ega dalam hati. Ega ikut saja langkah kaki Soni menuju ke dalam Vila.
"Jadi ini rumah kamu Soni?" Tanya Ega Pura-pura dungu.
Soni tersenyum mendengarkan Gadis polos ini.
"Tidak ini Vila keluarga saya." Jawabnya
"Oh begitu, kalau begitu silahkan ganti bajunya biar saya bisa mencucinya. Oh ya dimana tempat mencuci?" Tanya Ega berurutan.
Tanpa pikir panjang Soni membuka baju yang di gunakannya begitu saja dihadapan Ega membuat Gadis itu meradang.
"Ini bajunya dan tempat mencuci baju lurus saja di belakang dekat dengan Dapur." Ucap Soni memberi petunjuk.
Ega mengambil baju yang disodorkan Soni seketika itu Soni berubah pikiran, laki-laki itu malah hendak memegang Wajah Ega namun belum saja wajah itu tersentuh dengan sigap Ega mengambil tangan Soni dan langsung mempelintirnya membuat laki-laki itu berteriak kesakitan. Bukan hanya disitu saja Ega menendang alat vi**l Soni membuat Soni menahan rasa kesakitan.
"Awwww sakit. Berani-beraninya kamu." Pekik Soni kesakitan karena mendapatkan serangan mendadak. Dia sama sekali tidak siaga, yang ada dalam pikiran laki-laki itu bahwa gadis yang ada dihadapannya adalah Gadis lemah.
"Ini untuk rasa sakit yang kamu tancapkan ke ulu hati sahabatku Nina." Ucap Ega menendang untuk kedua kalinya.
Soni tidak sanggup berkata apa-apa, dia hanya mengerang kesakitan dan sibuk memegang benda pusakanya sambil menahan rasa sakit yang sudah menjalari tubuhnya.
"Sakit kan? rasa sakit yang kamu terima tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan sama Nina." Ega menumpahkan segala amarahnya, Gadis manis dan lembut itu mendadak menjadi Gadis yang kejam dan sadis.
Soni tidak bisa membalas, seketika itu tumbuhnya ambruk tak berdaya karena rasa sakit yang dialaminya. Begitu kerasnya Ega melumpuhkan benda pusaka milik Laki-laki itu hingga membuatnya.
__ADS_1
Pingsan.
Bersambung.