Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 3. Menjemput Abang Juna


__ADS_3

Ega menghubungi Mas Rian, Nomor Rian tersambung dan dengan cepat di angkat oleh Pemilik nomer tersebut.


[Ega : "Assalamualaikum Mas Rian? Ada apa nih jam sembilan sudah nelpon kayak kembang pukul sembilan yang mekarnya pas jam sembilan saja."]


[Rian : "Wa'alaikumussalam. Panjang amat sambutannya. Ini, cepetan ke Jalan kelengkeng Bangkol. Jemput abangmu, enggak pake acara nyongkolan  dan juga barisan sisok, buruan."]


[Ega : "Waduh terdengar seperti perintah bukan permintaan? harus segera berarti."]


[Rian :"Iya ane khawatir keadaan abangmu nanti kalau terlambat menjemput. Dia akan tambah kering seperti Ikan Asin yang dijemur jadi gerak cepat ante!"]


[Ega : “Siap Mas, saya segera melaksanakan perintah dan tidak mau liat abang Juna kisut." ]


Terdengar suara tawa Ega.


[Rian : "Udah berani ngatain abangnya kisut ya? entar tidak dikasik uang Jajan untuk beli permen, TAHU rasa ante."]


[Ega :"Ampure Mas Rian, tidak ada niat, saya keceplosan, saya juga tidak mau liat Mas Rian juga entar kulitnya menjadi kopi, ini beneran lo Mas, disengaja."]


Terdengar Ega sengaja memperjelas ucapannya. Dia tersenyum bahagia berhasil mengusilin Rian tentu saja Rian tidak melihat senyum Gadis manis itu.


[Rian :"Egaaaaa, awas lo. Berani-beraninya."]


[Ega :" hahaha, saya kabur mas. Atuuut. Assalamu'alaikum.”]


[Rian :"Wa'alaikumussalam."]


Ega mengakhiri panggilannya, dia bergegas masuk ke kamarnya mengambil gamis berwarna cokelat tua dipadukan jilbab berwarna cokelat muda, dia juga mengambil celana gamis longgar dari lemarinya kemudian memakainya tidak lupa dia menggunakan kaos kaki untuk menutup aurat kakinya, setelah dia merasa auratnya sudah tertutup rapi, Ega bergegas ke Garasi tempat Motor Matic kesayangannya beristirahat. Sebelumnya dia berpamitan kepada Saik Aminah. Ega menstater motor dan menggas ke arah Jalan Kelengkeng Bangkol yang diarahkan Mas Rian. Tidak lupa sebelum berangkat dia berdoa.


Tidak butuh waktu lama Ega sampai di Jalan tersebut. Dia berhenti di bawah pohon yang terlihat rindang sebagai tempat berteduh. Sebelumnya Ega memastikan bahwa tempat tersebut aman tanpa ada rambu larangan. Gadis itu celengak celingguk mencari seseorang. Namun yang dicari tidak keliatan bayangannya. Jangankan bayangan, aslinya juga tidak keliatan.


“Mana Mas Rian sama Abang Juna? katanya di jalan ini. Wah jangan-jangan saya di prank nih.” Ega bermonolog dengan pandangan memperhatikan sekelilingnya.


Sementara itu, Rian menunggu sambil mengeksiskan wajah cemberutnya. Rian sedikit kesal diledek sama Ega. Rian sengaja memamerkan wajah kesalnya padahal dalam hati dia tidak sama sekali tersinggung. Rian tahu bahwa Ega hanya bercanda dan dia juga sadar kalau kulitnya memang agak gelap tapi exotis. Sedangkan cowok ganteng berkulit putih yang selalu menemaninya terlihat berusaha menghiburnya.


"Sabar Rian, Ega bukan bermaksud seperti itu. Dia pasti cuma bercanda, ternyata bisa juga dia bercandanya, terdengar lucu," komentar cowok berkulit putih yang dengan setia mendampingi cowok yang dipanggilnya Rian.


“Mungkin yang dimaksud Ega itu, kopi dengan kualitas terbaik, dicampur dengan bahan terbaik dan digoreng dengan api yang pas dengan kematangan yang pas pasti hasilnya akan pas cakepnya." Cowok berkulit putih itu menyambung kata-katanya dengan kata-kata yang terdengar absurd di Telinga Rian.


" Apaan sih Ben, Emangnya saya kopi apa? kayaknya kamu cocok jadi Barista deh, alih profesi aja." Rian akhirnya menanggapi tutur kata cowok yang dipanggil Ben dengan wajah penuh kekesalan.


Cowok yang dipanggil Ben itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari membatin. “Padahal tadi pagi sudah keramas deh kenapa tangan malah reflek garuk ni kepala.”


"Emang Mas Rian bukan kopi tadi saya membahas maksudnya Ega yang bilang tidak mau kulitnya Mas Rian menjadi seperti kopi. Itu loh Mas, saya hanya mengartikan ucapan Ega dengan pikiran positif. Kok malah saya disuruh jadi Barista.” Cowok bernama Beni itu membantah kekesalan dari sahabat karibnya itu.


"jadi, kamu setuju dengan Ega?" tanya Rian dengan ekspresi dibuat sekesal mungkin.


"Tidak juga, udahlah tidak usah diperlihatkan wajah kesalnya. Bukan tempatnya untuk eksis, entar beneran jadi kopi Gosong lo!” Beni berusaha menghibur sahabatnya itu dengan menyelipkan kata-kata yang dipastikan membuat sahabatnya itu tambah kesal.


Tidak ingin berprasangka buruk, dia pasti akan menerima tindakan fisik atas apa yang dikatakannya. Benar saja dengan berakhirnya ucapan bersama itu pula dia mendapatkan tindakan yang tentu saja diketahuinya.


“ Platak.”


Rian menjitak kepala cowok yang dipanggil Beni.


"Aduh, Mas Rian apaan sih? Kok jitak kepala saya, entar ilang sebagian kecerdasan saya. memangnya Mas Rian bisa menemukannya kalau ilang,”ujar Beni mengelus kepalanya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Siapa suruh ngatain saya kopi gosong. Mau saya jitak lagi biar semuanya ilang sekalian sama otaknya agar tidak bisa lagi ngatain orang,” sahut Rian kian cemberut.


"Sadis, padahal saya cuma mau menghibur aja kok jadi gelap gini. Tahu ah.” Beni memanyunkan wajahnya.


“ Hahaha.” Tiba-tiba Rian tertawa keras. Dia terenyuh melihat ekspresi cowok di depannya yang merasa bersalah.


"Rasain ante, makanya tidak usah ngatain orang kopi gosong," sambung Rian merasa senang.


Kini giliran cowok yang dipanggil Beni, wajahnya sedikit ditekuk, namun tak mengurangi kadar ketampanannya, malah keliatan semakin tampan. Disela obrolan mereka terdengar handphone memanggil. Panggilan itu berasal dari gawai milik Rian. Rian segera mengangkat panggilan itu karena tidak ingin seseorang tersebut menunggu.


[Ega : "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Mas Rian dimana sih? kok tidak ada Abang Juna yang mau di jemput. Saya sudah mau lumutan, nih! udah persis kayaknya seperti lumut pohon yang saya tumpangi tempat berteduh. Kalau kelamaan bisa-bisa saya diusir karena kelamaan berteduhnya."]


[Rian : "Wa'alaikumussalam, kebiasaan deh ngerocos melulu. Nih, Kita di warung seberang Jalan. Ayo dah ke sini, ada kakaknya juga disini.")


[Ega : "Maksudnya Kak Beni?"]


[Rian : "Siapa lagi, memangnya ada orang lain lagi di panggil kakak?"]


[Ega : "Ada, kak Fahri Kakak kandung saya kalau kakak ketemu gede, iya kak Beni lah."]


[Rian : "Itu tahu, iya udah kesini aja. Cepetan!"]


[Ega : "iya iya bawel"]


Setelah mengakhiri panggilan, Ega mengarahkan Motor maticnya ke warung yang di tunjuk Rian. Ega menghentikan Sepeda Motornya persis di depan Warung tersebut. Ega melihat dua pemuda tersebut sedang asyik menikmati segelas kopi. Ega menghampiri kemudian langsung duduk di sebelah Beni.


"Mana Bang Junanya?" tanya Ega Setelah dia sadar orang yang akan dijemput tidak ada dalam pandangannya.


"Kamu tuh ya, baru dateng udah nanyain Juna. Sapa dulu Kak Beni apa khabar, Mas Rian apa khabar?”sahut Beni yang sedikit manyun.


“Nih anak yang ada dalam pikirannya Juna melulu!” Batin Beni.


"Tidak ada masalah kok, kak Beni baik-baik saja, aman.” Kikuk, pada akhrinya Beni menjawab pertanyaan Gadis manis yang merupakan sahabatnya. Entah kenapa ada sesuatu dalam aliran darahnya yang terasa berpadu. Dia belum tahu apa itu?.


"Alhamdulillah, jangan nyari tidak baiknya kak Beni. Semoga saja kita dalam keadaan baik-baik aja. Tadi saya disuruh jemput Abang Juna, makanya nanyain Abang Juna,” ujar Ega datar.


"Abangmu bentar lagi dateng, sabar saja,” kata Beni kemudian.


“Mau minum apa?” Beni menawarkan minuman kepada Gadis manis itu. Belum saja Ega menjawab Beni sudah memesankan jeruk hangat.


Ega tersenyum merasa Lucu. Lucu saja, Beni tahu minuman kesukaannya tapi kenapa Laki-laki tampan itu malah bertanya lagi.


"Makasi mbak,” ucap Ega ketika minuman yang dipesan Beni sudah ada dihadapannya.


Ega menyedot minuman dengan pelan. Baru saja beberapa sedotan, Juna yang menjadi object dipagi ini sudah terlihat batang hidungnya disekitar mereka.


"Ayok cabut,” kata Juna terlihat cemas.


"Cabut apaan? cabut rumput? saya lagi menikmati minuman nih, malah dateng-dateng main cabat cabut,” ucap Ega santai sambil menyedot minumannya.


“Hahaha Kena semprot ante.” Rian tertawa


"Lagi dateng tamu bulanan kali ya..? makanya sensi,” sahut Beni menggoda Gadis manis itu. Ega mendelik ke arah Beni membuat Beni tersenyum. Entah kenapa dia sangat suka melihat wajah manis dan teduh itu meskipun tidaklah sangat cantik.


"Ayok buruan.” Ajak cowok yang bernama Lalu Mandala Juna. Dia tidak terpengaruh sama bisikan-bisikan yang terdengar sumbang.

__ADS_1


"Iya iya sedotan terakhir. tidak baik sisain minuman, mubajir,” sahut Ega sedikit kesal. “Tidak sabaran banget sih!” Gerutunya lagi.


“Tuh denger, Esmosi, kan dia?" timpal Beni dan Rian serempak seperti di komando.


" Iyalah,” ucap Juna sedikit kesal. Rautnya terlihat khawatir, sedikit kebingungan dan panik juga disana. Beni dan Rian terkoneksi dengan wajah Juna yang keliatan kacau balau seperti urap -urap. Kalau urap-urap mah enak, nah ini wajahnya sepet. (urap-urap itu makanan yang berisi beberapa sayuran dengan campuran Kelapa yang diparut dengan bumbu cabe, bawang putih, bawang merah dan terasi. Bahan bumbu di goreng sebelum diulek kemudian dicampur menjadi satu. Ini membahas masakan atau membahas Abang Juna yang lagi puyeng, tau ah gelap).


" Ini Bang Juna kuncinya.” Ega memberikan kunci setelah selesai menikmati segelas jeruk hangat. Sementara itu Beni sama Rian sudah siap menggas sepeda motor Beni, mereka berdua berboncengan.


" Kamu yang di depan,” ucap Juna mengembalikan kunci motor kepada Ega.


"Emangnya saya Ojek Bang, dimana-mana cowok yang bonceng cewek bukan malah sebaliknya.” Protes Ega.


"Udah deh tidak usah banyak kata-kata, buruan,” perintah Juna, terlihat kegusaran pada wajah tampannya.


"Iya Bang, ayok tapi jangan pegang-pegang, awas kalau pegang-pegang.” Pada akhirnya Ega mengalah dengan melontarkan sedikit ancaman kepada Pria itu.


"Gadis ini, kalau tidak mau dipegang-pegang ngapaen gaulnya sama cowok, sana sama habibatnya baru aman.”


"Memangnya saya tidak boleh temenan sama cowok, tidak boleh juga minta jangan dipegang- pegang.”


"Bolehlah,” jawab Juna pasrah. Percuma berdebat dengan makhluk Allah yang berjenis kelamin Wanita, pasti ujung-ujungnya bakalan kalah juga, daripada capek hati mendingan mengalah.


“Saya mau protes sama Rian kenapa saya dikirimin kamu, sih! kenapa tidak Dipta atau Nina saja yang jemput. Kalau Nina, kan bisa saya peluk-peluk, kalau Nina mau -mau saja dipeluk sama cowok ganteng seperti saya." Juna mengeluh dengan mengutarakan keinginan. Tentu saja kejujuran Juna membuat Gadis itu tersenyum geli.


"Abang Juna mes**um, ah! Nina belum tentu juga mau dipeluk. Anda terlalu percaya diri Tuan Juna."


Juna diam, dia tidak membalas apa yang diucapkan gadis yang kini sedang membawanya keluar dari ketidak nyamannya.


"Abang kemana?”Terdengar suara tanya yang membuyarkan lamunannya.


"Kita ke rumah Ega saja.”


Ega, melajukan kendaraannya ke arah rumahnya. Dia diam saja menikmati beberapa bertanyaan yang belum bisa dia sampaikan ke Juna. “ Nanti saja dirumah.” Batinnya.


Ega merasa Juna lagi ada masalah, nampak dari wajahnya yang terlihat mendung.


Beberapa menit kemudian Ega sampai di gubuknya. Dia melihat Beni sudah masuk halaman rumah. Ega juga melakukan kendaraan menuju halaman rumah kemudian memarkir sepeda motornya persis di samping sepeda motor Beni.


"Kalian berdua ya main kabur aja,” protes Juna.


"Males saya menyaksikan debat yang tidak ada faedahnya,” jawab Rian.


"Ho'oh.” Beni ikut mendukung.


Tanpa dipersilahkan mereka bertiga sudah duduk di Berugak yang ada di depan rumah Ega. Mereka sudah terbiasa berkumpul di kediaman Ega, tempat favorite mereka adalah Berugak tersebut.


Awalnya hanya sebuah Berugak saja tapi karena mereka sering berkumpul disana, dibuatlah satu kamar di samping bergandengan dengan berugak. Kamar tersebut digunakan sebagai tempat mereka beristirahat ketika lelah.


Kamar tersebut merupakan Bascamenya cowok cowok keren. Bagi merasa dirinya cewek alias Perempuan atau Wanita dilarang masuk.


'Selangkah kaki masuk ke kamar cowok-cowok keren, maka petasan meledak. Jangan salahkan jika kaki anda tidak berjalan normal'.


Begitulah tulisan di depan pintu kamar tersebut. Ega, pemilik rumah pun tidak pernah masuk, entah seperti apa penampakan kamar tersebut dia sama sekali tidak tahu.


Sedangkan Berugak tersebut dijadikan tempat menerima tamu, karena Ega tidak pernah mempersilahkan tamu cowok masuk ke dalam rumahnya kecuali kalau ada kedua orang tuanya. Ega sadar kalau dia hanya tinggal berdua sama Saik Aminah dan juga teman-temannya lebih banyak cowok daripada cewek.

__ADS_1


Untuk menjaga omongan orang dan terhindar dari fitnah maka dibuatlah Berugak, Musholla kecil dan juga Toilet di Halaman depan Rumah agar mereka nyaman tanpa harus masuk ke dalam rumah.


Bersambung.


__ADS_2