Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 18. Pengakuan Nina.


__ADS_3

Beni mengantar Nina pulang dengan wajah sedikit ditekuk. Masalahnya Nina menempel seperti Cicak di Dinding pada punggungnya membuat Laki-laki itu merasa tidak nyaman sama sekali. Beberapa kali Beni menegur Sahabatnya itu namun ia cuek saja seakan tidak mengubris peringatan Beni. Nina masa bodo dengan alasan demi Safety dirinya sendiri.


Selang beberapa menit sampai juga di rumah Nina. Beni segera mau pergi setelah Nina turun dari Motornya. Belum saja Motor itu berlalu, Nina menahannya dengan suara panggilan membuatnya urung.


"Beni, tunggulah sebentar. Ada yang saya mau omongin. Kita duduk di Bangku itu saja," ajak Nina kepada Beni untuk duduk pada bangku yang berada di halaman rumahnya.


Beni mengikuti kemauan Nina. Dia berjalan mengikuti Nina lalu duduk di sampingnya dengan jarak yang lumayan lebar. Pria itu menundukkan wajah tanpa berkata. Dia hanya diam saja menunggu Nina berbicara dan tugasnya hanya mendengarkan saja.


"Aku serius dengan apa yang aku ucapkan tadi. Aku ingin kamu ingat sama aku Beni. Apa kamu sudah lupa dengan kejadian beberapa tahun yang lalu saat kamu kecelakaan? Waktu itu kamu sedang merayakan kelulusan SMA," Kata Nina mulai bercerita.


Cerita Nina membuat Beni terkejut. Dia menatap wajah Nina dengan pandangan menyelidik.


"Kenapa kamu tahu dengan peristiwa itu?" tanya Beni masih dalam keterkejutannya.


"Apa kamu tidak ingat waktu kejadian itu ada seorang Gadis yang menolong kamu dan membawa kamu ke Rumah sakit dan bersedia mendonorkan darahnya karena pada saat itu kamu benar-benar membutuhkan darah sedangkan stock darah sesuai dengan golongan darah kamu dalam keadaan kosong. Pada saat itu aku bersedia mendonorkan darah untuk kamu agar kamu selamat." Nina melanjutkan ceritanya.


Beni menatap wajah Nina untuk membuktikan kebenaran yang diucapkan olehnya. Dia merasa cerita itu benar dan tak mengada. Mana mungkin Nina mengarang cerita jika dia sendiri yang mengalaminya. Apa yang ada dalam pikirannya berbanding terbalik dari kejujuran dari kata-kata Nina. Beni sulit mempercayai kalau gadis remaja yang menolongnya adalah Pemilik cerita dalam hal ini adalah Nina. Selama ini dia berusaha mencari keberadaan Gadis yang pernah menolongnya hanya bermodalkan ciri-ciri yang disampaikan Abinya.


"Kata Abi cewek itu berjilbab dan kulitnya sawo matang sementara Nina kulitnya putih. Kalau masalah jilbab mungkin saja Gadis yang menolongku melepaskan hijabnya," batin Beni ragu atas pengakuan Nina.


"Darimana kamu tahu kalau cowok yang pernah kamu tolong itu adalah saya?" tanya Beni masih belum yakin. Entah kenapa ada keraguan di dalam hatinya.


"Aku enggak sengaja mendengarkan pembicaraan kamu dengan Juna. Waktu kamu menceritakan kepada Juna sedang mencari cewek yang pernah menolong kamu dan ceritanya sama persis dengan apa yang aku alami," jawab Nina meyakinkan cowok tampan yang ada di sampingnya.


Beni mengingat pembicaraannya dengan Juna.


"Jadi kamu serius tidak mau pacaran dan langsung akad nikah kalau sudah ketemu yang cocok denganmu," tanya Juna.


"Iya, untuk menghindari dosa karena mungkin saja aku tidak mampu menahan nafsu akhirnya aku apa-apain anak orang," jawab Beni serius.


"Apa kamu pernah suka sama seseorang."


"Pernah, Gadis yang tidak saya kenal namun pernah menolong saya. Sampai saat ini saya sedang mencari namun belum mendapatkan Informasi tentang Gadis itu." Beni menjawab dengan jujur tentang perasaannya terhadap Gadis yang pernah menolongnya. Entah kenapa hatinya langsung terpaut kepadanya padahal dia tidak mengenalnya. Dia hanya ingat mata indah Gadis itu saat kesadaran mulai menghilang lalu pingsan.

__ADS_1


"Hahahaha." Terdengar suara tawa Juna seperti meledek kisah cinta Sahabatnya ini dalam kata tidak mungkin. Pasalnya Beni tidak mengenal Gadis itu. Tidak tahu seperti apa rupanya hanya berbekal rasa. Juna patut mengacungkan jempol atas kesetiaan dan gigihnya Beni mencari Gadis. Samar, meskipun itu, Beni seakan yakin bisa bertemu dengan Gadisnya itu.


"Ya Allah, Kok bisa suka sama seseorang yang tidak kamu kenal, tidak tahu siapa namanya terus wajahnya juga tidak tahu. Kamu tuh ibarat mencari jarum di tumpukan jerami mana mungkin bisa ketemu. Sampai sekarang-pun Ayam belum menemukan Jarum milik Burung Gagak itu hingga sampai sekarang masih berseteru. Nah sekarang kamu menambah cerita baru sekisah dengan Ayam dan Jarum." Juna berkata tak percaya akan keberhasilan Beni menemukan Gadis itu.


Fiksi. Itu yang tepat untuk menggambarkan Gadis itu. Ya, diakui Gadis itu pernah ada dan pernah menolong seorang Beni. Namun menjadi teka teki, dimana keberadaan Gadis itu. Asal usul-pun seakan tak memiliki tempat. Orang Tua Beni luput mempertanyakan siapa dia? hingga sampai sekarang-pun tak tahu siapa dia? Lantas apa yang dicari jika tak tahu siapa ia?  Gadis itu seperti tak ber-asal usul dan tak bernama hanya aliran darah itu yang nampak nyata mengalir dalam tubuh Beni hingga bisa menghirup Oksigen sampai saat ini.


"Entahlah saya juga tidak tahu apa bisa bertemu atau tidaknya, yang terpenting saya sudah berusaha mencarinya." Beni menjawab dengan perasaan ragu. Ragu itu segera ditepis dan menggantikan dengan keyakinan. Dia yakin suatu saat nanti, dia akan menemukan Gadis itu. Entah waktu itu kapan? apakah takdir itu bisa menuntunnya untuk menemukan Gadis seperti Jarum yang bersembunyi dalam Jerami. Setidaknya Jarum masih memiliki letak sedangkan Gadis itu tidak memiliki letak. Pihak rumah sakitpun tak mampu menghadirkan data pribadi itu karena tersumbal permintaan dari Gadis itu bahkan dalam sekejab raib. Hanya ingatan Abinya yang menjadi petunjuk berharga yang di pegangnya.


"Beni." Terdengar suara Nina memanggil. Sedangkan orang yang dipanggil bernama Beni masih asyik dengan ingatan masa lalunya.


"Beniiii." Teriak Nina menyadarkan Beni dari lamunan panjangnya. Nina nampak kesal karena Beni tidak memperhatikan apa yang diucapkanya. Laki-laki ini memang berada disisinya namun pikirannya ditempat berbeda.


"Kenapa Nina?" tanya Beni datar.


"Kamu melamun, ya? tadi kamu dengar, kan apa yang aku ucapkan?" tanya Nina.


Beni menggelengkan kepalanya bingung. Dia jujur, tak mendengarkan setiap kata yang terucap.


"Aku tadi bilang, aku suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku. Terus terang aku telah suka dari pertama kali kita bertemu namun aku belum berani berkata Jujur lagipula kita terikat komitmen itu. Komitmen itu yang menghalangi langkah kita, tapi bisa kita langgar, kan? Aku juga tidak mengira ternyata kamu orang yang aku cari selama ini dan kamu juga mencari aku, kan?" Nina mengulang kata-kata yang dia ucapkan tadi. Dia berharap Beni menerima cintanya. Dia berharap bahagia itu berpihak kepadanya. Hanya Beni yang dia inginkan bukan orang lain lagi.


"Kenapa kamu mencari aku Nin?" tanya Beni penasaran.


"Untuk mengembalikan Jam tangan kamu yang tidak sengaja aku simpan di Rok seragamku. Pada saat itu seseorang yang ikut menolongmu memberikan Jam tangan. Aku kemudian menyimpannya pada saku Rok dan berharap bisa mengembalikan kepada kamu tapi aku lupa. Aku masih saja menyimpannya dan berharap suatu saat nanti bertemu dengan kamu dan mengembalikannya," ujar Nina panjang lebar menceritakan apa yang pernah dialami beberapa tahun yang lalu saat dia masih duduk di Bangku SMA.


Nina mengambil jam tangan Beni di dalam Tasnya. Kemudian memberikannya kepada Beni.


"Benarkan ini Jam Tangan kamu?" tanya Nina untuk memastikan.


Beni memperhatikan Jam tangan yang diberikan Nina. Dia mengamati dengan seksama. Ada inisial namanya di belakang Jam Tangan itu.


Beni shock masih tidak percaya kalau Nina adalah Gadis itu, kini bukti sudah di depan mata yang diberikan Nina dan tidak ada alasan untuk meragukan itu. Beni masih saja belum percaya. Entahlah dia tidak mengerti apa yang membuat dia belum yakin. Seharusnya dia senang akhirnya bisa bertemu dengan Gadis yang pernah menolongnya akan tetapi kenapa dia malah tidak senang.


"Beni, mau kan kamu jadi pacar aku?" Kata Nina mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Untuk saat ini saya belum siap untuk menjawab apa-apa karena saya masih shock tidak percaya semua ini. Saya  masih bingung mau jawab apa. Saya tidak ingin pacaran," jawab Beni masih bingung. Beni tidak mau menjawab gegabah yang akan membuatnya menyesal.


Ragu.


Kata itu yang menjadi alasannya mengapa dia langsung menolak Nina yang ternyata Gadis itu. Hatinya mendeteksi bahwa Gadis itu bukan Nina tapi orang lain.


"Kalau begitu kita nikah saja," ucap Nina penuh harap.


"What? Nikah? tidak segampang itu kita menikah, perlu persetujuan kedua orang tua kita lagipula aku belum siap untuk menikah," jawab Beni berbohong.


Beni sebenarnya sudah siap kapanpun jodoh itu datang mengingat usianya sudah matang untuk berumah tangga. Akan tetapi ada sesuatu hal yang membuat Beni belum siap hanya dirinya yang tahu.


Nina terlihat kesal mendengarkan penolakan dari Laki-laki yang diincarnya. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan penolakan dari siapapun. Selalu mendapatkan Cowok incarannya dengan mudah. Hanya berbekal kecantikan parasnya, dia memikat semua Laki-laki. Lihatlah sekarang, Pria ini menolaknya. Apakah kecantikannya kini tak berarti dan berharga di mata Beni. Apakah daya tariknya sudah pudar oleh dinginnya sikap itu.


"Kamu harus menjadi milikku Beni bagaimanapun caranya. Jangan panggil aku Nina kalau kamu tidak berlutut meminta cintaku," batin Nina kesal.


"Sudah malam Nina, aku pulang dulu," Pamit Beni meninggalkan Nina kemudian melajukan Motor maticnya.


Beni meninggalkan rumah Nina dengan pikiran berkiaran kemana-kemana tak terarah dan tak tahu tujuannya. Dia ingin memusatkan pikiran itu menjadi penerimaan. Namun ragu itu lagi-lagi menyelimuti hatinya seakan enggan percaya dengan pengakuan itu. Dia berpikir, mungkin ini sebagai petunjuk siapa sebenarnya Gadis itu. Pikiran itu telah mengarahkan yang akan menjadi sebuah alasan untuk mencari tahu.


"Dulu aku sangat ingin bertemu dengan penolong yang dikirimkan Allah untukku tapi mengapa ketika aku bertemu dengannya aku malah tidak bahagia."


"Seharusnya aku bahagia dan senang menemukan seseorang yang aku cari selama ini. Masalahnya kenapa harus Nina? Apa salah Nina sebenarnya? Gadis itu begitu cantik dan juga baik. Tidak ada yang bisa menolak Pesona yang dia pancarkan hanya saja hati ini menolaknya dan merasa tidak nyaman."


"Maafkan aku Nina, aku tidak bisa mewujudkan keinginan kamu. Kamu tidak cocok dengan hatiku dan juga Putriku. Hati kita tidak sejalan. Entah kenapa hatiku menolak bahwa kamu orangnya. Tidak ada rasa yang mengalir dalam aliran darahku begitu kamu mengungkapkan rahasia itu tapi berbeda dengan Mamsa walaupun dia diam aku sungguh merasa sangat dekat dengannya seolah rasa itu menyatu."


"Aku tidak boleh punya angan yang menolongku sebenarnya adalah Mamsa karena angan acapkali menipu."


Beni bermonolog tanpa jeda dan tentu saja apa yang diucapkannya hanya terdengar oleh Telinganya sendiri. Hanya angin yang menikmati kata hatinya dan suara deru Motornya yang seakan menyempurnakan kebisingan yang dia rasakan sekarang.


Selang beberapa menit berkendara. Sampailah dia di kediamannya tanpa ada yang menyambutnya. Memang seperti itulah hidup Laki-laki Bujang itu. Dia sudah menempatkan Gadis itu sebagai Ratu di hatinya dan suatu saat nanti dia akan menempatkan Ratunya itu di Istana sederhananya untuk meramaikan sudut hati yang sepi dan sunyi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2