
"Salam sama Beni dan Ega. Sampaikan permintaan maaf saya," lanjutnya.
Setelah tidak ada pembicaraan, Pria itu meninggalkan rumah sakit dengan adanya rasa nyeri pada hatinya.
***
"Abang, bebaskan saya."
"Terima saja hukuman dari kejahatan yang kamu lakukan, Taufan. Bukankah Abang sudah menasehati kamu untuk tidak menyimpan dendam. Abang juga sudah menjelaskan kebenaran ini sebelumnya, namun kamu tidak pernah mau mempercayainya. Bahkan kamu tega menyekap Saudaramu sendiri hanya demi memuluskan niat jahat kamu." Pria yang dipanggil Abang menyahuti Lelaki yang dipanggil Taufan itu.
"Abang Naufal, bebaskan saya." Taufan kembali memohon dengan wajah memelas. Dia terlihat sangat frustasi, satu-satunya harapan adalah Pria yang ada di hadapannya.
"Bukankah ini semua keinginan Abang," lanjutnya penuh dengan amarah.
"Abang tidak pernah memintamu untuk bertindak," ucap Pria itu tegas.
"Abang hanya tidak mengambil kesempatan untuk melakukannya," sahut Taufan kesal.
Naufal tersenyum lalu berkata "Tidak ada gunanya saya disini sebaiknya saya pulang. Nikmatilah hidupmu di penjara dalam waktu yang panjang mungkin saja seumur hidup. Sementara Abang akan menikmati hidup yang bebas di luaran sana kemana pun Abang mau pergi tanpa hukum yang mengikat."
Naufal bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Adiknya yang tergugu menahan amarah.
"Saya memang jahat tapi tidak selicik kamu Lalu Naufal Mandala."
"Hahahaha."
Naufal tak menyahuti, Pria berparas timur tengah itu memilih meninggalkan tawa dan lambaian tangan perpisahan.
***
Sementara di rumah sakit. Beni dengan setia menemani Ega. Tangannya terus saja menggenggam tangan Isterinya.
"Sayang, sadarlah. Kamu tahu saat ini aku sangat khawatir. Aku takut terjadi sesuatu denganmu. Kamu tahu aku sangat mencintaimu," lirih Beni.
Ada rasa hampa dan kesakitan. Hanya senyum Ega yang mampu menenangkan dan melegakan kegelisahannya saat ini. Hanya Isterinya yang bisa mengembalikan sesuatu yang hilang itu.
Saat ini Beni terus saja berharap agar doanya dikabulkan Tuhan. Dia merebahkan Kepala pada ranjang dengan tetap memegang tangan Isterinya. Karena lelah, Beni pada akhirnya tertidur dengan memeluk harapannya.
Cukup pulas ia tertidur sehingga tidak merasakan gerakan tangan Ega. Secara perlahan-lahan Ega membuka mata. Dia menatap langit-langit berwarna putih dan merasakan tangannya di genggam. Dia mengalihkan pandangannya dari langit kepada Pria yang Kepalanya dia rebahkan pada Ranjang.
"Kak Beni," ucap Ega lemah tak terdengar.
Dia meletakkan tangannya lalu mengusap rambut bergelombang itu dengan lembut.
Karena merasakan adanya pergerakan tangan, Beni segera menarik Kepalanya dari Ranjang. Matanya langsung bertubrukan dengan mata indah Ega yang terlihat rapuh.
"Sayang, kamu sudah sadar, Alhamdulillah."
Ega hanya tersenyum lemah. Dia merasakan kesakitan pada bagian tubuhnya yang terluka.
Beni menghujani Isterinya itu dengan ciuman saking leganya.
"Akan saya panggilkan Dokter," ucap Beni kemudian setelah puas menumpahkan kelegaan.
Dia keluar dari ruang rawat inap. Tidak menunggu terlalu lama Beni kembali bersama Dokter dan seorang Suster.
"Bagaimana keadaan Isteri saya, Dokter?" tanya Beni tak sabar.
"Alhamdulillah dalam keadaan stabil. Hanya saja dia masih lemah dan luka yang dialaminya masih basah sehingga sewaktu-waktu akan merasakan nyeri," jawab Sang Dokter. Selesai memeriksa pasien, Dokter berpamitan dengan meninggalkan resep berupa Obat luka agar luka yang dialami Ega segera mengering. Luka sobek lumayan dalam dan lebar, tapi bersyukurnya tidak melukai rahimnya karena tusukan itu tepat mengenai perut Ega. Jika itu terjadi entah apa yang akan terjadi dengan kandungannya.
"Terima kasih, Dokter," ucap Beni dibalas anggukan oleh Dokter dengan diiringi senyum ramah.
Sepeninggalnya Dokter, Ega meminta air karena rasa hausnya. Beni dengan sigap membantu Isterinya.
"Kak Beni terima kasih," ucap Ega lirih. Dia tidak leluasa untuk bergerak karena takut jahitan akan robek. Wanita itu berusaha menahan sakit agar Suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya, namun tetap saja dia meringis sebagai bentuk menahan kesakitan itu.
"Sakit sayang? maafkan Suamimu ini lagi-lagi tidak bisa melindungimu," ucap Beni parau. Setetes air mata jatuh pula. Rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding rasa sakit yang diterima Isterinya. Beni tidak malu menumpahkan air mata. Tetesan itu sebagai cara meluapkan betapa sesaknya dia.
"Kak Beni kok nangis, aku enggak apa-apa hanya luka ringan saja," ucap Ega menghibur Suaminya. Dia menghapus jejak air mata yang mengapung pada kedua mata Beni yang teduh.
"Wanita tidak bakalan lepas dari yang namanya luka. Mulai dari sobeknya selaput da**ra hingga dia melahirkan anaknya. Pasti bakalan di jahit terus kalau tidak bisa melahirkan normal ya di giret perutnya."
Perkataan Ega membuat Laki-laki itu bergidik. Dia semakin erat menggenggam tangan Isterinya. Dia berjanji dalam hati tidak akan pernah menyakiti Isterinya. Tidak akan membuat Ega menangis karena rasa sakit itu.
Sepasang Suami Isteri itu larut dalam obrolan. Mereka saling menguatkan dan saling menghibur. Ada semangat yang ditunjukkan oleh Ega. Sampai akhirnya Ega tertidur bersama Beni yang dengan setia di sisinya.
***
Esoknya, kedua orang tua dan Saudara Ega sudah berada di rumah Sakit. Karena jarak yang jauh membuat mereka tidak bisa langsung berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Nak kamu tidak apa-apa sayang? Kok bisa tertusuk? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Siti Fatimah bertubi-tubi. Keluarga Ega tidak tahu menahu tentang masalah yang di hadapi oleh keluarga Beni. Saat Beni menghubungi Mertuanya, dia hanya mengatakan kalau Ega kecelakaan.
"Alhamdulillah Ega tidak apa-apa Inaq. Namanya juga musibah tidak bisa di hindari," jawab Ega berusaha menenangkan Siti Fatimah. Gurat kecemasan nampak jelas terlihat pada wajah Tuanya.
"Kok bisa, Dek? Memangnya kalian punya musuh?" Tanya Fahri penasaran. Kakak Laki-laki Ega menangkap ada permasalahan yang berusaha ditutupi oleh keduanya.
Beni dengan cepat menggelengkan Kepalanya.
"Tidak ada musuh, Kak. Hanya saja orang yang tidak suka pasti ada. Selama ini kita berusaha tidak menyinggung siapa pun. Mungkin saja iri dan dengki itu menyebabkan ini terjadi." Beni berusaha menjelaskan agar keluarga Ega mempercayai keselamatan Ega pada keluarganya.
"Kemaren terjatuh ke jurang, tadi malam ketusuk besok-besok apalagi? Kenapa Adik kami kalian tempatkan dalam bahaya? Apa kalian jamin selanjutnya Ega tidak kenapa-kenapa?" Fahri melanjutkan dengan kata-kata pedasnya. Dia tidak menyangka keputusannya menyetujui pernikahan adiknya dengan Beni ternyata berbutut bahaya. Kesalamatan Ega harus dipertaruhkan.
Beni hanya terdiam, apa yang dikatakan oleh Fahri sangatlah benar. Akan tetapi tidak ada satu pun yang akan menjamin keselamatan Manusia kecuali Tuhan. Manusia hanya bisa berhati-hati dan berdoa.
"Kak Fahri, jangan berkata seperti itu. Nak Beni sudah melakukan segala upaya untuk melindungi Isterinya. Namun tetap saja diluar kuasanya. Sudahlah, jangan menyudutkan Nak Beni, tentu tidak ada yang menginginkan ini terjadi." Angga menengahi. Dia tidak ingin antara Putra dan Menantunya terjadi perselisihan. Fahri nampak tak terima, dia menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Bukan maksud menyalahkan Beni, hanya saja rasa sayang kepada kedua Adiknya membuatnya posesif.
Sedangkan Beni tidak berkata apa-apa selain hanya meminta maaf.
Hening terjadi, tidak ada lagi pembicaraan. Ega lebih memilih memejamkan mata untuk mengikis rasa nyeri pada lukanya.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar salam membuyarkan keheningan yang semakin terasa. Secara serempak mereka membalas salam.
Pintu terbuka, dari balik Pintu muncul wajah yang sangat mereka kenal yaitu Citra.
"Besan, sudah lama sampainya? Bagaimana khabar semuanya?" tanya Citra ramah. Senyumnya terlihat tulus menyambut kehadiran keluarga Ega. Citra bersalaman dengan Siti Fatimah berlanjut dengan saling menguatkan.
"Ben, Umi bawakan Ikan Tokok. Ikan ini bagus untuk orang yang mengalami luka. Bisa dengan cepat mengeringkan luka apapun dari dalam," ucap Citra setelah selesai beramah tamah dengan keluarga Ega.
Beni mengambil Rantang plastik berisi makanan yang di bawa dari rumah.
"Ega masih tidur?" Tanyanya kemudian.
"Baru saja Umi, tadi dia sempat kesakitan tapi sudah dikasik Obat pereda nyeri," sahut Beni. Dia tidak pernah beranjak dari sisi Ega kecuali melaksanakan Shalat. Saat Shalatlah baru meninggalkan Ega untuk tetap menunaikan kewajiban itu dengan berjamaah.
"Biarkan Ega beristirahat. Nanti kalau Ega bangun jangan lupa berikan Ikan Tokok agar lukanya cepat mengering," ucap Citra mengingatkan kembali.
"Nggih Umi."
"Mamiq dan Inap menginap?" Citra kemudian mengarahkan pertanyaan kepada Besannya.
"Mamiq dan Inaq jangan mengkhawatirkan Ega. Kami akan menjaga dan memberikan perawatan yang terbaik untuknya," ucap Citra menenangkan hati kedua orang tua Menantunya. Terlihat sekali rasa cemas dan khawatir yang tidak bisa disembunyikan oleh keduanya.
Setelah cukup lama mereka di rumah sakit, pada akhirnya keluarga Ega berpamitan. Fahri dan Lani akan langsung pulang ke Desa sedangkan Angga dan Siti Fatimah akan menginap di rumah Sakit sebelumnya mereka akan mampir ke rumah Ega untuk membersihkan diri, setelahnya baru kembali lagi ke rumah Sakit. Baru saja melangkah keluar, mereka berpapasan dengan Saik Aminah.
Mereka kemudian beramah tamah dan saling menanyakan khabar.
"Sebaiknya Mamiq istirahat saja di rumah biar saya sama Ibu Fatimah yang menjaga Ega," ucap Saik Aminah menawarkan diri.
"Ada benarnya juga, Mamiq butuh istirahat cukup. Kalau menginap di rumah sakit, Mamiq tidak bisa beristirahat. Bisa-bisa nanti Mamiq akan begadang dengan Nak Beni." Siti Fatimah menyetujui usulan Aminah. Biar mereka berdua yang menjaga Ega.
"Iya sudah, kalau begitu kita pulang dulu," ucap Angga pasrah.
Setelah tidak ada pembicaraan Angga dan Siti Fatimah melangkah meninggalkan rumah sakit, sedangkan Aminah masuk ke ruang rawap inap Ega.
***
"Bagaimana keadaan Ega?" tanya Dipta. Saat ini Dipta dan Rian sudah berada di rumah sakit. Mereka berdua menjenguk Ega dengan membawa buah-buahan. Dipta kemudian menyodorkan apa yang dibawanya kepada Beni.
"Alhamdulillah Ega sudah sadar dan sekarang dia sudah tidur," jawab Beni menyambut kedatangan sahabatnya.
"Kalian itu enggak perlu repot-repot bawa buah-buahan," lanjutnya saat menerimanya.
"Namanya juga lagi jenguk orang sakit, masak iya nenteng diri sendiri," sahut Rian.
"Oh ya salam dari Evan, katanya ada acara sehingga dia tidak bisa ikut menjenguk Ega." Rian melanjutkan pembicaraan.
"Iya Wa'alaikumussalam. Tadi Evan sudah khabarin."
" Wuaalaaaah Evan gimana, sih? Sudah ngirim pesan langsung ke Beni eh minta di salamin untuk permakluman." Rian terlihat sewot dengan kelakuan salah satu sahabatnya.
"Sabar Mas Rian, Evan mungkin lupa. Enggak apa menjalankan amanah dan Mas Rian sudah menjalankan amanah itu." Dipta menghibur.
Beni hanya tersenyum saja menanggapi ocehan Rian.
"Udah enggak usah dipikirin, kalian mau masuk lihat Ega atau kita mengobrol disini saja?" tanya Beni menengahi.
"Tidak perlulah, lagian Ega sudah tidur. Masak mau lihat orang yang lagi tidur," sahut Dipta.
__ADS_1
"Kali saja mau menyapa Saik Aminah dan Inaq."
Begitu mendengar bahwa Ibunya Ega ada di dalam, tanpa menanggapi Beni, kedua Pemuda itu langsung masuk ke dalam ruang rawap inap. Keduanya meninggalkan Beni yang terbengong diiringi gelengan kepala.
Terdengar salam menyadarkan Beni dari keheningan sejenak.
"Eh ada Nak Dipta sama Nak Rian," sapa Siti Fatimah setelah membalas salam.
Rian dan Dipta hanya tersenyum, mereka menghampiri Sofa tempat Siti Fatimah mengistirahatkan tubuhnya. Secara bergiliran mereka menyalami Siti Fatimah lalu duduk di sampingnya.
"Inaq sehat-sehat saja? Kapan datangnya?" Tanya Dipta mewakilkan.
"Alhamdulillah sehat-sehat saja. Tadi pagi kita sampai disini," jawab Siti Fatimah.
"Kalian berdua saja? Yang lainnya mana? Nak Juna, Nak Nina dan Nak Evan kok enggak keliatan? Apa mereka tidak tahu kalau Ega dirawat?" tanya Siti Fatimah mempertanyakan Sahabat mereka yang lainnya.
Rian dan Dipta saling pandang untuk menjawab apa. Hubungan Ega dengan Nina dalam keadaan tidak baik-baik saja sedangkan Juna, adalah alasan dibalik kejadian ini. Saat kebingungan itu terjadi, Beni masuk lalu menjawab pertanyaan Ibu Mertuanya.
"Evan ada acara yang tidak bisa ditinggalkannya sedangkan Nina dia belum tahu kalau Ega di rawat."
"Nak Juna juga belum tahu?" tanya Siti Fatimah. Dia mengenal tujuh sahabat sehingga mempertanyakan kehadiran satu persatu. Mungkin karena sudah terbiasa melihat mereka bertujuh sehingga ingin tahu apa alasan ketidak hadiran mereka. Bukan kepo, hanya saja sebagai seorang Ibu rasa khawatir itu timbul jika tidak melihat salah satu dari mereka.
"Tahu kok, Inaq. Semalam dia kesini." Dipta menimpali ketidak berdayaan Beni. Dipta mengerti Beni tidak mampu menjawab pertanyaan yang sangat riskan menurutnya.
"Alhamdulillah kalau kalian akur-akur saja," ucap Siti Fatimah lega.
Beni menatap Dipta meminta penjelasan. Dia tidak mengetahui kalau Juna ke rumah sakit.
"Kita bicara di luar saja," ucap Dipta. Mereka kemudian berpamitan kepada Siti Fatimah dan Saik Aminah.
"Kapan Juna datang? Kok saya tidak melihatnya?"
"Tadi malam saat Ega baru selesai di Operasi. Juna hanya melihat dari balik Pintu. Cukup lama dia berdiri di sana kemudian langsung pergi. Dia hanya bilang sampaikan permintaan maaf kepada Beni dan Ega." Dipta menceritakan.
"Apa dia menghindar dan tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Beni terdengar dingin.
"Maaf Ben, saya belum siap menjelaskan semuanya," sahut seseorang. Ketiganya menoleh ke sumber suara. Disana telah berdiri Juna bersama Lexi di sampingnya. Setelah berkata Juna dan Lexi mengucapkan salam yang disambut balasan salam dari mereka bertiga.
Mereka bersalaman sembari bertanya khabar. Usai ramah tamah, mereka kemudian terdiam bingung harus berkata apa.
"Kenapa kamu bisa bebas Juna? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Beni. Kehangatan dulu seakan menguap begitu saja digantikan hawa dingin yang membekukan keakraban yang pernah terjadi.
Beni sebenarnya tahu, Juna menghilang karena disekap. Namun sekarang dia harus waspada bisa jadi Juna di hadapannya bukanlah Juna yang selama ini mereka kenal. Bisa saja mereka berganti peran. Yang di penjara merupakan orang yang tidak bersalah sedangkan orang yang berkiaran di luar adalah Juna yang bersalah.
Juna terlihat gusar, sekarang teman-temannya menaruh curiga kepadanya dan meningkatkan kewaspadaan. Tidak seperti dulu yang bebas berkata apa dan melakukan apa.
"Saya Juna Ben, yang melakukan ini adalah Taufan saudara kembar saya." Juna menghela nafas panjang setelah memulai percakapan.
"Rupanya kamu kembar?"
Beni menyelidiki wajah Pria yang duduk di hadapan. Benar, Pria ini adalah Juna yang dia kenal. Sikap tenang dengan sorot mata teduh penuh ketulusan tergambar jelas disana. Tidak ada yang berbeda dari Juna yang selama ini menemani kebersamaan tujuh Sahabat.
Sementara kembaran Beni yang melepaskan Topeng kepalsuannya memang berwajah sama dengan Juna. Hanya saja sikapnya terlihat angkuh dengan sorot mata kasar. Dia menghiasi hidupnya dengan dendam sehingga nampak jelas tergambar kebusukan disana.
"Kalian kembar tapi kenapa bisa berbeda?" tanya Beni pada akhirnya bersuara setelah lama dalam keheningan.
"Saya di asuh oleh Mamiq dan seorang Ibu yang sangat baik, lembut dan soleha. Sedangkan Taufan diasuh oleh Ibu Kandung kami. Dimana Ibu mendoktrin Taufan agar membalas rasa sakit yang beliau rasakan kepada Abi Banu. Saya baru bertemu dengan Taufan saat menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Tentu waktu itu saya terkejut apalagi dengan cerita sedihnya. Dia memanipulasi setiap kejadian yang dialami dengan begitu dramatis. Awalnya saya terpengaruh tetapi akal sehat saya menyadarkan agar mencari tahu kebenaran itu. Saya mulai bertanya kepada Mamiq tentang kebenaran bahwa kami adalah anaknya Abi Banu. Mungkin karena terpengaruh oleh Evan, Dipta dan Ega yang suka menyelidiki sesuatu sehingga saya melakukan itu juga. Menyelidiki kebenaran yang diucapkan Taufan sekaligus melakukan Tes DNA secara diam-diam. Benar saja 99 persen kami berdua anak kandung dari Lalu Mandala dan tidak sama sekali ada hubungan darah dengan Abi Banu. Setelah mengetahui kebenaran itu, saya memberitahu Taufan. Akan tetapi Taufan tidak percaya. Dia menuduh saya memanipulasi hasil DNA untuk melindungi kamu."
Juna menghirup udara setelah mengakhiri ceritanya. Nampak kelelahan pada rautnya memikul beban yang dipikulnya selama ini. Selama ini dia berusaha menjaga hubungannya dengan Taufan. Menasehati Saudaranya agar tidak menyimpan dendamnya. Dia kira selama ini Taufan melupakan niat buruknya itu sehingga Juna tidak mengkwatirkan dan menaruh curiga kepadanya.
Rupanya Taufan diam-diam menyusun rencana dengan memanfaatkan segala obrolannya dengan Juna tentang Tujuh Sahabat.
"Lantas kenapa Taufan menyamar menjadi Lexi?" tanya Beni penasaran.
"Anita yang menjadi alasannya. Taufan ternyata menyukai Anita, namun Anita menyukai Lexi. Hal itulah membuatnya marah. Taufan sedari kecil sudah diracuni dengan sifat keras kepala dan hal-hal buruk sehingga gampang marah dan tidak memikirkan hal baik lagi. Saya sangat menyayangkan sikap Ibu kandung saya Baiq Ranum Kalisa yang sudah menanamkan kebencian pada Taufan kepada Abi Banu sehingga berimbas kepada orang lain."
Lagi-lagi Juna menghela nafas panjang. Ada sedikit kelegaan pada dadanya setelah menceritakan rahasia keluarga yang seharusnya ditutup dengan rapatnya.
Seandainya Taufan tidak melakukan kejahatan ini tentu Juna tidak akan membuka cerita buruk yang merupakan rahasia keluarganya.
Setelah menerangkan semuanya dan malam kian larut, mereka kemudian berpamitan meninggalkan Beni di rumah sakit.
"Rupanya kamu masih hidup Ega? tapi tunggu saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia." Seseorang berkata sembari menampilkan senyum jahatnya.
Seseorang itu berdiri di ambang pintu dengan mata tajamnya menatap ke arah ruang rawat inap. Dimana di sana Ega terlelap dalam tidurnya bersama Beni di sampingnya.
Juna berlalu dari rumah sakit setelah memastikan sesuatu. Siapa yang dia pilih, Ega yang sangat dicintainya atau eratnya hubungan persahabatan mereka?
Selesai.
__ADS_1