Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
59. Tidak ada Rasa di Sana.


__ADS_3

Mobil Beni sudah memasuki kawasan Bayan. Sebelum melanjutkan ke Senaru pasangan Suami Isteri itu mampir di Pondok Pesantren yang ada di Desa tersebut.


"Kita mampir dulu ya Kak, mau mengantar Alquran, Mukena dan Sarung," ucap Ega memberitahu kenapa dia mengajak Beni untuk singgah di Pesantren.


"Okay sayang, aku bangga sama kamu karena masih menyempatkan diri untuk berbagi. Aku baru tahu tentang hal ini," sahut Beni dengan pancaran hangat penuh cinta.


"Aku menyisihkan dari uang kaget yang aku dapatkan. Waktu aku cek ternyata lumayan banyak. Entah berapa tahun aku menyisihkannya, aku tak ingat," jawab Ega penuh rasa syukur. Dia tidak menyangka uang yang disisihkan di luar dari Gajinya itu ternyata setelah di kumpulkan lumayan banyak sehingga dia bisa membeli Alquran dan Perlengkapan Shalat. Alquran dan perlengkapan Shalat itu bisa dia sumbangkan pada Pondok Pesantren, Musholla dan juga Madrasah tempat orang belajar Alquran.


Setelah Mobil terparkir di Halaman Pondok Pesantren, Beni dan Ega keluar dari Mobil lalu berjalan menuju Bagasi Mobil untuk mengambil tiga buah kardus besar yang masing-masing berisi Alquran, Mukena dan Sarung.


Beni meminta bantuan beberapa Santri untuk membantunya membawa kardus yang ada isinya itu ke ruang Pengurus Pondok.


Mengurus Pondok Pesantren menerima kedatangan Pasangan Suami Isteri dengan ramah penuh kekeluargaan. Beberapa menit mereka mengobrol sekaligus menerima ilmu yang disampaikan oleh seorang Ustadz.


Tidak terasa sudah memasuki waktu Dzuhur, mereka semua segera melangkah ke arah Masjid di Pesantren untuk melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur. Beberapa menit mereka melaksanakan shalat, Beni dan Ega berpamitan kepada Pengurus Pondok Pesantren untuk melanjutkan perjalanan.


***


Sedangkan rombongan Juna dan Rian terlihat sudah sampai di Villa yang sudah di Boking oleh Beni.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai," ucap Rian mematikan Mobilnya lalu membuka Seatbeltnya disusul oleh Fiza dan Amanda.


Mereka bertiga bergegas keluar menuju Bagasi Mobil untuk mengambil bawaan mereka.


"Biar saya bantu bawa," ucap Rian mengambil Tas ransel yang hendak di sampirkan ke Punggungnya oleh Fiza.


"Tidak apa-apa Mas, ini juga tidak berat kok," sahut Fiza menolak bantuan Rian.


"Kalau kamu tidak bakalan nolak, kan Manda," ucap Evan menghampiri Amanda lalu mengambil alih Tas ranselnya.


"Biarkan saya saja yang membawakan Tas Ransel milik Manda," ucap Dipta merebut Tas itu dari tangan Evan yang berusaha dipertahankannya.


"Biar saya saja, saya yang duluan. Kenapa kamu mau merebut sesuatu yang sudah di tangan saya. Makanya kalau berniat untuk membantu Amanda, garcep dong," ucap Evan mempertahankan Tas yang sedang dibawanya. Dia memeluknya dengan erat seolah Tas itu barang yang sangat berharga.


"Sini kasik saya." Dipta tidak mau menyerah untuk mengambil alih Tas itu. Evan berusaha mempertahankan Tas dengan langkah panjang untuk melarikan diri dari kejaran Dipta. Mereka berdua, seolah tidak ada yang ingin kalah.


Mereka yang menyaksikan perdebatan itu tertawa lebar kecuali Nina yang terlihat nampak kesal.


Amanda hanya menggelengkan Kepala tak ingin melerai. Tadi sudah menolak kebaikan Evan tapi Laki-laki itu sudah terlebih dahulu mengambil Tas Ranselnya. Laki-laki itu tak ingin di tolak.


"Apaan sih kalian berdua memperebutkan Tas yang tidak penting. Apa di dalamnya ada barang berharga? gawah!" Nina benar-benar sewot menyaksikan perseteruan mereka.


"Bukan Tas-nya yang berharga tapi Pemiliknya yang berharga. Apa ante tidak tahu Evan dan Dipta sedang menarik perhatian Amanda. Mereka sedang berusaha mendapatkan cinta dari Amanda. Menurut ante siapa yang menang, Nin?" ucap Rian memberitahu kenapa tingkah mereka mendadak seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.


"Apa? yang benar saja, memperebutkan Cewek Bar bar itu? apa yang dilihat dari cewek itu, cantik juga enggak. Heran sama Dipta dan Evan, apa mata mereka sudah katarak," sahut Nina tidak suka dengan Gadis itu. Dia sangat kesal dengan kedua Sahabatnya.


"Kenapa ante yang sewot, biarkan saja. Menurutku Amanda cantik kok," sahut Rian datar. Dia berlalu meninggalkan Nina yang semakin kesal.


"Awas kamu Gadis jelek, aku tidak akan membiarkan kamu mengambil perhatian semua Sahabatku," ucap Nina menahan kemarahan.


Juna yang paling terakhir berjalan menuju ke dalam Villa menangkap apa yang diucapkan Nina. Dia menghela nafas, tak bercaya dengan apa yang di dengarnya.


Sesampai di dalam mereka membagi Kamar. Amanda bersama Fiza sedangkan Nina sendirian karena kemungkinan Ega tidak menginap satu Villa dengan mereka. Juna bersama Evan dan Rian bersama Dipta. Setelah pembagian kamar mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.


Juna dan Evan memasuki kamar, memasukkan Tas mereka ke dalam lemari yang tersedia disana. Evan keluar dari kamar setelah menaruh bawaannya sedangkan Juna memilih untuk merebahkan diri. Dia teringat bahwa dia belum menghubungi Beni dan Ega. Dia segera meraih Handphone di Saku Celananya lalu menekan nomer Beni.


Juna : "Kamu sudah sampai mana, Ben?"

__ADS_1


Beni : "Ini sudah memasuki Bayan, saya rencananya mau menyewa penginapan. Nanti kita ketemu di Villa."


Juna : "Okay saya dukung keputusan kalian. Jangan bergabung dengan Pengganggu."


Beni : "Kamu benar Jun, bisa batal rencana saya mau cepat-cepat punya anak."


Beni : "Aw aw aw, sakit sayang."


Juna : "Apa yang terjadi Beni? kedengarannya kamu kesakitan?"


Beni : "Jangan panik Jun, saya hanya dapat cubitan dari Ega hanya gara-gara ucapanku tadi. Iya sudah Jun saya matiin Handphonenya, mau melanjutkan perjalanan. Assalamualaikum."


Juna : "Waalaikumussalam. Hati-hati Beni."


Juna mengakhiri panggilan lalu menyimpannya kembali pada Saku Celananya. Dia keluar dari kamarnya menuju ke arah Dapur. Di Dapur dia menemukan Fiza sedang asyik memasak.


"Kamu sedang apa Za?" tanya Juna sembari meraih Gelas lalu mengambil air pada Galon yang sudah terisi.


Fiza mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Dia melihat Juna yang sudah duduk di Kursi sembari meneguk air putih.


"Ini Bang, angetin Gule lemak yang di buat sama mbak Ega sekalian Nanak Nasi terus mau Goreng Tempe sama Tahu untuk makan siang nanti," ucap Fiza memberitahu.


"Oh begitu, Calon Isteri idaman," ucap Juna sembari tersenyum.


Tentu saja pujian dari Laki-laki tampan yang telah hinggap dihatinya itu membuat Fiza berbunga-bunga. Fiza tersenyum bahagia menikmati pujian itu.


"Rian pasti bahagia memilikimu. Jangan lupa kecap karena Rian tidak suka pedas. Kalau begitu saya tinggal dulu mau cari sesuatu," ucap Juna tersenyum. Dia berlalu dari hadapan Fiza yang terlihat melemah.


Fiza melihat punggung Juna semakin lama semakin mengecil lalu menghilang.


Sore harinya mereka berjalan-jalan di sekitar Senaru untuk menikmati suasana yang terasa segar.


Amanda, Evan dan Dipta terlihat berjalan bertiga. Mereka menikmati kebersamaan dengan canda tawa dan obrolan yang terdengar menggoda maupun merayu.


Begitupun dengan Rian yang melancarkan pendekatan dengan gencar. Dia sedang bergerilya untuk menemukan sasaran tepat di hati Gadis itu dan siap membidikkan panah asmaranya kepada Fiza pada waktu yang tepat.


Sedangkan Juna, membututi mereka dengan berjalan sendirian dengan gaya coolnya.


Mereka berpisah dengan tujuan masing-masing. Sementara itu, Pria tampan berparas Timur tengah itu sedang memandang ke arah jauh. Disana terpampang pemandangan yang sangat indah berupa tebing tinggi yang di tumbuhi Pepehonan yang segar di pandang mata.


"Indah ya Bang?" ucap seorang Gadis sudah berada di sampingnya sembari Gadis itu menghirup udara dengan mata terpejam. Tangannya dia rentangkan tampak gemulai dengan wajah yang berseri-seri. Sedangkan jilbab yang dikenakan menari-nari mengikuti irama angin yang menerpanya.


"Masha Allah, sungguh indah ciptaan-Mu Tuhan." Bibir itu berkata terdengar tulus penuh pujian kepada Sang Pencipta.


Laki-laki tampan itu tersenyum menanggapi. Dia sejenak menikmati paras cantik dari Gadis di sampingnya lalu sejurus kemudian kembali mengarahkan matanya ke arah Pemandangan yang mampu memanjakan mata.


"Abang, apa saya boleh bertanya?" ucap Gadis itu menatap ke arah Pria di sampingnya.


"Tanya apa? boleh, asal saya bisa menjawabnya jika saya tidak bisa menjawab akan saya carikan jawabannya pada alat pencarian," ucap Pria itu sambil memamerkan senyum indahnya.


Gadis itu tersenyum mendengarkan jawaban. Ternyata Pria ini tidak seserius yang dia kira. Dia nampak cool tapi menyimpan kehangatan saat dekat dengannya. Terlihat serius namun dibalik itu terselip sifat jenaka. Nampak cuek namun tersembunyi perhatian yang siap dia berikan kepada siapapun yang dekat dengannya.


"Yeee, kenapa malah diam?" ucap Pria itu bertanya setelah beberapa menit diam menunggu pertanyaan dari Gadis di sampingnya. Terlihat Gadis itu ragu untuk bertanya. Dia menimbang apakah perlu menanyakan apa yang ingin diketahuinya. Pentingkah itu? Gadis itu kembali berpikir.


"Apa kamu lupa apa yang ingin di tanyakan?" Pria itu berkata sembari memandang wajah Putih dan mulus tak bernoda yang dimiliki Gadis ini.


"Abang, Gadis idamannya seperti siapa? apakah seperti Mbak Nina yang cantik atau Mbak Ega yang manis?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibirnya.

__ADS_1


Pria itu sejenak berpikir untuk menemukan jawabannya. Sebenarnya di hatinya sudah menemukan jawaban di antara kedua Gadis itu siapa yang menjadi pilihan hatinya.


"Kenapa harus Nina dan Ega? kenapa tidak kamu? Fiza yang kalem dan Amanda yang ceria?" Pria itu berbalik bertanya.


Gadis itu tersipu malu namun segera menetralisir Jantungnya yang tak beraturan.


"Saya rasa kedua Wanita itu patut di jadikan Potret seorang Wanita idaman. Nina yang cantik dengan segala obsesinya dan Ega yang manis dengan kesederhanaannya. Bukankah Ega itu selain baik, dia juga cerdas. Dia memiliki daya tarik tersembunyi yang mampu membuat Laki-laki terpikat. Meskipun Mbak Ega tidak secantik Nina dan terlihat biasa saja tapi Abang pasti mengakui kalau ada sesuatu yang menarik pada diri Mbak Ega yang membuat Laki-laki suka." Gadis itu menerangkan alasannya mengapa dia memilih kedua Wanita itu yang merupakan Sahabat dari Pria yang ada di sampingnya.


Tak menunggu hitungan detik, Gadis itu mendapatkan jawaban yang terdengar begitu jelasnya, yakni :


"Ega."


"Kenapa Ega, Bang? tentu ada alasannya? saya kira tadi Abang memilih Nina. Bukankah Nina sangat cantik dan menarik. Dia memiliki kecantikan di atas standar dengan Tubuh Sexynya yang di idamkan oleh Para Wanita. Sedangkan Ega, dia nampak biasa seperti Para Wanita pada umumnya yang memiliki kecantikan biasa-biasa saja. Di antara Para Wanita itu ada saya." Gadis itu memaparkan keheranannya. Dia menatap Pria di sampingnya dengan keraguan atas jawaban itu. Dalam pikirannya semua Pria pasti suka Wanita cantik dan Sexy tapi Pria ini mengapa tak tertarik dengan hal itu.


"Bagi saya Wanita idaman tidak perlu sangatlah cantik. Terpenting Wanita itu indah di pandang. Selalu menjaga Inner Beutynya. Walaupun tidak cantik tapi dia tahu bagaimana caranya merawat diri. Ketika saya berada di sampingnya ada rasa nyaman dan ketika memandang wajahnya akan terpikat. Bahagia mendengarkan tutur katanya dan tentu saja selalu menjaga kehormatan dirinya. Oh ya Mengenai Ega, kamu benar, Ega memiliki sesuatu yang tak di miliki Nina. Ega sangat tulus tanpa mendahului kepentingannya. Dia apa adanya tak menjaga Image cenderung polos sehingga mudah di manfaatkan orang lain. Namun dia memiliki kekuatan untuk menghalau itu."


Pria Tampan itu menerangkan kriteria Wanita idaman menurutnya dengan sejelas-jelasnya. Tentu saja membuat Fiza tersentuh. Dia tidak menyangka ternyata Pria di sampingnya begitu terbuka. Hanya saja dia belum tahu apakah Pria ini akan jujur siapa Pemilik hatinya. Apakah telah ada atau sedang mencari? pertanyaan itu timbul dalam benaknya.


"Mbak Ega, sepertinya Abang sangat mengenalnya?"


"Iya, dia sahabat yang baik dan perhatian. Dia selalu membantu jika saya dalam kesulitan. Selalu ada jika saya sedang membutuhkannya. Pokoknya saya tidak bisa menjelaskan bagaimana baiknya dia. Saya bersyukur Ega mendapatkan Suami seperti Beni. Dia sanggup membahagiakan Ega." Pria itu menjawab pertanyaan Gadis yang sedang menatapnya dengan lekat. Menyimak segala kata yang diucapkannya.


"Apa karena Abang merasa tidak sanggup membahagiakannya maka melepaskannya untuk Abang Beni," ucap Gadis itu memperkirakan. Dia menyadari dari cara menyebut nama Isteri dari Beni itu terlihat sekali wajahnya berbinar-binar meskipun begitu samar. Sorot mata Pria itu menyimpan rasa yang tak terbaca.


"Maaf Abang saya hanya menebak," sambung Gadis itu berusaha untuk meredamkan ketersinggungan.


"Tak apa? mungkin apa yang kamu ucapkan merupakan suatu kebenaran. Jujur saja saya belum berani berkomitmen. Alasannya, aku takut Wanita yang mendampingiku tidak merasakan kebahagiaan jika bersamaku." Pria itu memjawab di akhiri dengan senyuman. Dia teringat dengan seseorang dari masa lalunya itu membuat menyembunyikan kesedihan dari Gadis di sampingnya.


"Mengapa?" tanya Sang Gadis penasaran.


"Maaf, saya tidak bisa menceritakannya. Oh ya bagaimana dengan kamu?"


"Saya masih bingung dengan apa maunya hati ini," jawab Gadis itu bimbang.


"Saranku, cintailah orang yang mencintaimu. Sebab, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kamu. Membuat kamu merasa nyaman dan aman bersamanya. Menghargai apapun keputusan kamu dan tidak ada dalam hatinya untuk menyakiti kamu."


Pria itu memberikan gambaran keputusan apa yang harus di ambil oleh Gadis di sampingnya.


"Mengejar seseorang yang terus berlari menjauh itu sangat melelahkan. Dan satu hal lagi tidak mungkin terkejar walaupun terkejar juga mungkin saat itu dia sudah bersama orang lain. Berat memang, tapi ringankan dengan iman kita. Karena kita sadar itu sudah menjadi Ketetapan-Nya," ucap Pria Tampan dengan panjang lebar seperti sebuah wejangan yang terdengar di Telinga Sang Gadis.


"Saya mengerti." Gadis itu berucap singkat berusaha menghalau getaran rasa yang terlihat nyata. Namun rasa itu tidak mungkin di utarakan karena Pria tampan yang membuat rasa itu ada telah menutup jalannya untuk memasuki ke hati dia.


"Fiza. Rian itu sangat serius menyukaimu. Jika dia sudah memutuskan untuk mencintai seorang Gadis maka keputusannya itu akan dia tetapkan menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Dia tidak pernah main-main denganmu. Kamu adalah Gadis yang di carinya. Saya yakin saat ini dia sedang merencanakan sesuatu."


Pria tampan itu menyingkap sedikit kejujuran yang dimiliki oleh Sahabatnya yang bernama Rian. Dia tahu Gadis di sampingnya ini sedang gamang karena itulah dia memberikan gambaran yang serius untuknya agar tahu kemana harus melangkah. Sebenarnya ia juga menyelipkan ketegasan bahwa dia tidak memiliki perasaan terhadapnya tanpa harus berkata jujur.


"Saya pergi dulu," pamit Pria tampan itu berlalu meninggalkan Gadis itu yang sedang terpaku menatap kepergiannya.


"Benar, Abang Juna tidak ingin agar saya masuk ke hatinya. Tidak ada isyarat cinta yang dia tunjukkan kepada setiap Gadis kecuali hanya satu Gadis yaitu Mbak Ega. Isyarat itu sangat sulit terbaca, mungkin saja mbak Ega tidak mengetahuinya sehingga memilih bersama Abang Beni. Mbak Ega sungguh beruntung di cintai oleh dua Laki-laki istimewa. Saatnya juga saya mengambil keberuntungan itu.


"Fiza, ane capek mencari ante ternyata ada disini. Disini dingin, kita masuk ke Vila yok sebentar lagi mau Magrib."


Rian, akhirnya menemukan Fiza setelah lelah mencari. Dia melepaskan Jaket yang di kenakannya lalu memakaikan di Tubuh Fiza yang terlihat berusaha menahan dinginnya angin menjelang petang.


"Terima kasih, Mas."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2