
Sore harinya rombongan Penjemput Wali Nikah dan juga Wali Nikah beserta keluarga Ega sudah hadir di Masjid yang ada di Komplek kediaman orang tua Beni. Banu Hardian sangat bersyukur lamarannya langsung diterima oleh orang tua Ega bahkan Mamiqnya Ega langsung bersedia menikahkan Putri Bungsunya itu hari ini juga. Mamiq Angga tidak mau menunda-nunda lagi karena tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali.
Tentu saja gagalnya pernikahan Ega dulu menyisakan rasa trauma dalam hatinya. Ketika ada Laki-laki yang meminang anak Gadisnya itu tanpa pikir panjang langsung menerimanya apalagi nama yang disebut adalah Beni Hardian tentu saja Mamiq Angga sangat mengenal Pemuda itu.
Sore ini sore yang sangat bersejarah bagi Beni Hardian dan Baiq Ega Fajrina. Mereka berdua akan melangsungkan akad nikah. Dimana akad nikah akan dilangsungkan di Masjid yang berada di Kompleks kediaman orang tua dari Beni. Prosesi Akad nikah dilaksanakan sesederhana mungkin. Dari pihak Beni yang hadir hanya keluarga saja sedangkan dari Ega yang hadir kedua orang tuanya, Kakak Perempuan dan Kakak Laki-laki beserta keluarganya. Sedangkan keluarga besarnya di Kantor hanya memberitahu Atasan Langsungnya dan Mbak Ana. Sementara dari komplek tempat tinggalnya yang hadir ketua RT, Saik Aminah dan tetangga yang akrab dengannya. Tentu saja tidak ketinggalan Tujuh sekawan kecuali Nina. Bukannya Nina tidak diundang hanya saja Gadis itu sedang pergi berlibur bersama Bosnya.
Ega juga meminta kepada Sahabatnya untuk menyembunyikan dulu statusnya yang sudah menjadi sepasang Suami Isteri sampai Nina benar-benar pulih dari rasa traumannya. Apalagi saat ini kondisi Nina tidak stabil takut akan memperburuk keadaan dirinya jika dia tahu Laki-laki yang dicintainya malah menikah dengan sahabatnya sendiri.
Ega nampak cantik dan anggun dengan Gamis Pengantinnya. Auranya benar-benar terpancar, perfeck. Gadis itu terlihat cantik paripurna apalagi di dandanin oleh seorang Perias Pengantin sekelas MUA yang terkenal.
Sedangkan di ruang rias Pengantin Laki-laki disana sudah berkumpul Juna, Rian, Dipta dan Evan. Mereka sibuk menggoda Pengantin Laki-laki. Lebih parah yaitu Dipta, terlihat wajahnya ditekuk seolah-olah tidak rela jika sahabatnya itu dipersunting oleh sahabatnya sendiri.
"Dipta, apa kamu masih belum memberikan restu untuk kami. Beberapa menit kita mau akad nikah lo!" Kata Beni berusaha meluluhkan hati Dipta agar memberikan restunya.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?" Ucap Dipta masih saja merajuk karena kedua sahabatnya ini telah melanggar komitmen persahabatan mereka.
"Masak kamu tega Dip, sudah terlanjur juga ini apalagi saya cinta banget sama Ega tidak bisa hidup tanpa dia. Kamu tidak tahu sih selama ini saya berusaha mencari Ega. Begitu ketemu eh malah kejebak sama komitmen yang kita buat. Ayolah Dip, masak kamu tega menumbangkan cinta saya yang begitu kokoh untuk Ega sih?" Ucap Beni merayu dengan wajah memelas. Laki-laki itu laksanakan Pengemis Cinta yang meminta sedekah restu kepada Laki-laki bongsor bernama Lalu Dipta Prayoga yang sekarang wajahnya sedang ditekuk namun bibirnya berusaha menahan senyum.
"Iya dah iya, saya ACC daripada kamu entar masuk Selagalas gara-gara saya lagi." Akhirnya Dipta runtuh juga tembok komitmen yang berusaha dipertahankannya.
"Kok ACC sih? kayak saya mengajukan Proposal minta sumbangan saja." Cicit Beni masih merasa Dipta belum sepenuhnya menerima pelanggaran yang dilakukannya.
"Sudah deh, daripada kamu sibuk minta restu kepada Dipta mendingan kamu sibuk menghafal ijab Kabul. Nanti malah tidak ingat nama Isteri sama nama Bapak Mertuanya." Ucap Juna mengakhiri perdebatan antara Beni dan Dipta yang tak kunjung mencapai titik kesepakatan.
"Iya tuh, nanti malah tidak bisa ngomong di depan Penghulu gara-gara tidak tahu nama Mertuanya. Bisa-bisa ditunda jika tiga kali tidak bisa mengucapkan ijab kabul." Evan ikutan nimbrung.
"Bener tuh apalagi kalau ada orang iseng yang melipat Tikar tempat kalian duduk terus ante jadi gagap tidak bisa ngomong apa-apa karena kena tuh ilmu orang iseng." Ucap Rian ikutan bergabung bersama teman-temannya sengaja menakut-nakuti Beni.
"Bener ada seperti itu? Pasti sedang nakutin ane kan Mas Rian?" Tanya Beni mulai serius.
"Beneran kok, ada kejadian seperti itu. Namanya juga ilmu hitam dari zaman Nabi pun sudah ada tapi enggak tahu zaman Modern ini masih kepake kagak tuh?" Jawab Rian terdengar serius.
"Kalau begitu kita coba saja yok melipat Tikar yang digunakan Beni sebagai alas duduknya. Biar Beni kagak bisa ngomong pas akad nikahnya." Ucap Evan iseng sambil menarik tangan Rian hendak mengajaknya ke Masjid.
"Memangnya tahu apa yang akan diucapkan semacam jampi-jampi gitu?" Tanya Rian
"Enggak, kita lipat saja siapa tahu saja manjur. Bukannya Mas Rian itu Dukunnya nanti biar Mas Rian yang komat kamit baca jampinya." Sahut Evan memasang muka nyengirnya.
"Pletaaaak. Sirik tahu, dosa besar itu mah." Rian menjitak kepala Evan yang membuat Laki-laki kurus dengan suara cempreng itu meringis kesakitan.
"Hahahaha." Sontak mereka yang ada disana tertawa melihat Evan yang menderita sedangkan Rian tertawa bahagia karena berhasil menjitak kepala sahabatnya itu.
"Ben, Beni sudah siap belum. Keluarga Ega sudah sampai. Kamu siap-siap gih!" Terdengar suara Umi Citra memanggil Putranya.
"Nggih Umi." Jawab Beni dari dalam.
Beni dan sahabat-sahabatnya keluar dari kamar lalu dengan berjalan kaki mereka menuju Masjid tempat dilaksanakan prosesi pernikahan.
Rombongan Calon Pengantin sudah sampai di Masjid. Keluarga dari Calon Pengantin Perempuan, keluarga dari Calon Pengantin Laki-laki dan Para undangan sudah menempati posisi masing-masing.
Terlihat Beni duduk di depan Lalu Angga Ramadhan yang merupakan Ayah Kandung dari Calon Isteri yang dipersuntingnya. Ada Penghulu, Saksi dari Pengantin Perempuan dan Saksi dari Pengantin Laki-laki.
Rangkaian demi rangkaian acara dilaksanakan seperti membaca Alquran yang merupakan bagian dari acara prosesi akad nikah.
Setelah itu mempertanyakan kesediaan dari Calon Pengantin Perempuan dan menanyakan mahar yang akan diberikan oleh Calon Pengantin Laki-laki. Selanjutnya mengucapkan dua kalimat syahadat lalu baru Prosesi Akad nikah dilaksanakan.
Mamiq Angga menjabat tangan Beni dengan begitu eratnya sedangkan Beni berusaha mendamaikan dirinya yang deg-degkan saking gugupnya. Saat yang mendebarkan ini Beni berusaha menenangkan dirinya yang sudah tidak karuan dan berdoa kepada Allah agar Allah menenangkan dirinya.
Terdengar Lalu Angga Ramadhan sebagai Wali Nikah mengucapkan Ijab:
"Ananda Beni Hardian Bin Banu Hardian saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Baiq Ega Fajrina binti Lalu Angga Ramadhan dengan Maskawinnya berupa Seperangkat Alat Shalat dibayar tunai."
Lalu, Beni Hardian mengucapkan kabul dengan lantangnya:
"Saya terima nikah dan kawinnya Baiq Ega Fajrina Binti Lalu Angga Ramadhan dengan maskawinnya seperangkat alat Shalat dibayar tunai."
__ADS_1
"Bagaimana saksi apakah Sah?"
"Sah."
"Sah."
"Saaaaah." Jawab mereka yang hadir secara serempak.
"Alhamdulillah."
Selesai Ijab Kabul diucapkan selanjutnya Beni akan melantunkan hafalan Surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10 sebagai hadiah yang diberikan untuk Isterinya karena Beni mengingat bahwasannya Ega pernah meminta jika dia menikah nanti dia ingin menjadi maharnya adalah hafalan surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10 hanya saja Beni tidak menjadikan hafalan Al quran itu sebagai mahar karena mengingat Para Ulama ada yang memperbolehkan dan adapula yang tidak memperbolehkan jadi Beni tidak memasukkan hafalan itu menjadi mahar. Namun Beni tetap akan melantunkan hafalan Surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10 sebagai hadiah untuk Isterinya diluar dari maharnya.
Terlihat Beni sudah mengambil Posisi dan di depannya sudah ada seorang Ustadz yang memegang Alquran untuk menyimak hafalan Surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10 yang akan dilantunkan oleh Beni. Beni menarik nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan sedetik kemudian terdengar suaranya melafadzkan Ta'awudz.
"A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim."
"Bismillahirrahmaanirrahiim."
"Al-hamdu lillahillazi anzala 'ala abdihil-kitaba wa lam yaj'al lahu'iwaja."
"qayyimal liyunzira ba' san syadidam mil ladun-hu wa yubasysyral-mu'mininallazina ya'malunas-salihati anna lahum ajran hasana...."
Beni melantunkannya begitu indah dan fasih tentu saja membuat orang yang mendengarkannya merasakan kedamaian dan ketenangan merasuki jiwa mereka masing-masing. Surat Al Kahfi Ayat 1 sampai 10 yang dibacakan oleh Beni bisa melindungi diri dari fitnah Dajjal.
Semuanya larut dalam keharuan mendengarkan suara merdu dari Laki-laki yang kini sudah sah menjadi Suami dari seorang Gadis bernama Ega. Tidak terkecuali Ega, Gadis itu menitikkan airmata karena tidak menyangka Suaminya memberikan sesuatu yang begitu indah dan begitu berarti bagi hidupnya. Tidak ada yang dicarinya lagi selain mendapatkan Suami yang Soleh dan taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Cinta kepada Rasulullah. Gadis manis itu begitu bahagia mendapatkan Laki-laki seperti Beni dan nantinya rumah tangganya akan dihiasi lantunan ayat-ayat suci Alquran setiap harinya.
Ega teringat pembicaraan mereka berdua tatkala Beni bertanya mahar apa yang diinginkannya.
"Ega, nanti kalau kamu menikah mahar apa yang ingin kamu minta sama Calon Suami kamu?" Tanya Beni ketika itu sedang asyik menikmati buah Sawo hasil panennya dari kebun Ega.
"Apa ya?" Terlihat Ega nampak berpikir.
"Yeee pakai acara mikir segala?" Ucap Beni tidak sabaran mendengarkan jawaban dari Gadis disampingnya.
"Hafalan surat Al Kahfi ya? berat itu mah! Ayatnya saja sampai 110 ayat hanya seorang Hafidz yang sanggup memenuhi keinginanmu Ga." Ucap Beni lemah karena dia tidak mungkin sanggup untuk memenuhinya.
"Itu kan keinginan, lihat orangnya juga kali! kalau jodohnya model Kak Beni sih mana berani saya minta hafalan surat Al Kahfi." Sahut Ega tersenyum.
"Iya juga sih."
"Hafalannya cukup ayat 1 sampai 10 saja, itu yang terpenting seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu dalam hadits Riwayat Muslim nomor 809, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. Artinya : Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal (fitnah).
Ega membaca Hadits tersebut yang disimpannya di Handphonenya.
Mendengarkan itu mata Beni berbinar-binar dan senyumnya mengembang.
"Ayok kita belajar bersama dan menghafal ayat tersebut." Ucap Beni terdengar riang.
"Ayok." Balas Ega tersenyum bahagia.
***
Ega tersadar dari ingatan asal muasal kenapa Beni mewujudkan keinginan yang luar biasa itu ketika Beni menyudahi hafalannya.
Ega tidak sanggup lagi menahan dirinya. Ega meneteskan airmata saking bahagianya sedangkan semua yang hadir disini juga sibuk menyeka airmata dan sibuk menata hati mereka agar lebih baik lagi menjalani hidup dengan tugas untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Selesai Beni membaca Surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10, tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena Allah melancarkan prosesi pernikahannya.
Selanjutnya Pengantin Perempuan dihadirkan tentu saja membuat semua hadirin terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Pengantin Perempuan. Terdengar beberapa orang memuji kecantikan Isteri dari Beni Hardian ini. Tidak terkecuali Beni, Beni begitu terpesona melihat Sahabatnya dan sekarang sudah sah menjadi Isterinya. Beni hampir lupa berkedip melihat kecantikan Isterinya itu yang tersenyum manis kepada dirinya.
Ega duduk disamping Beni yang sekarang sudah sah menjadi Suaminya. Ega benar-benar grogi dan ada sesuatu yang menetes didasar hatinya dan terasa begitu menyejukkan. Hatinya bergetar tatkala dia memandang wajah Beni yang begitu tenang dihiasi manik yang lembut dan didampingi senyum indah dari bibirnya.
"Apa ini cinta yang sesungguhnya berupa anugerah yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tatkala kedua insan sudah dihalalkan dalam ijab kabul. Kenapa rasa ini begitu menentramkan terasa berbeda dari ketika ijab kabul itu belum terucapkan." Batin Ega mulai meresapi sakralnya pernikahan mereka.
"Apa ini ya Allah, hati ini begitu sejuknya memandang wajah Gadisku ini. Ada rasa yang aneh menyusup masuk di relung hati ini. Rasa ini semakin nyata dan begitu mendamaikan hati ini. Apa ini yang dikatakan anugerah. Dimana mulai merasakan cinta itu yang sesungguhnya tatkala hati kita berdua ini sudah menjadi halal." Batin Beni.
__ADS_1
Saat ini mereka berdua sedang melalui tahap pemberian mahar yang berupa seperangkat alat shalat. Setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan cincin kawin lalu penandatanganan Buku Nikah.
Setelah melalui tahap itu dilanjutkan pembacaan khutbah nikah dan akhiri dengan doa.
Selanjutnya sungkeman kepada kedua orang tua mempelai. Ega menangis sesenggukan di pangkuan Ibu kandungnya.
"Nak sekarang tanggung jawab Mamiq dan Inaq sudah beralih ke Suamimu. Berbaktilah kepada Suamimu dan jangan pernah membantah perkataannya jika itu tidak bertentangan dengan agama. kalian harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain dan jika ada yang kamu tidak sukai dari Suamimu bicaralah dengan baik-baik jangan sampai masalah dalam rumah tanggamu didengar sama orang lain. Rukun-rukunlah kalian berdua dan jika kalian berselisih faham maka salah satu diantara kalian harus mengalah." Ucap Ibu Ega panjang lebar memberikan wejangan kepada Ega begitu juga kepada Beni.
Setelah semua memberikan nasehat kepada kedua Pengantin acara dilanjutkan dengan ramah tamah.
Rangkaian demi rangkaian acara telah dilaksanakan dan kini mereka semua berkumpul di kediaman milik orang tua Beni untuk menikmati hidangan yang seadanya. Terlihat masing-masing keluarga dari Beni dan Ega duduk bersama sedang menikmati kebersamaan mereka. Mereka terlihat akrab satu sama lain terkadang terdengar tawa dari mereka.
Malampun tiba, pada saat ini Tujuh Sahabat itu sedang berkumpul dihalaman belakang sedang melaksanakan bakar-bakaran. Semua Tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing begitu juga orang tua Ega dan keluarganya sudah kembali ke Desa. Seperti adat di Daerah ini Kedua Pengantin baru boleh mengunjungi kedua orang tua Ega jika sudah dilaksanakan sorong serah Aji Krama atau Nyongkolan mengingat Ega merupakan keturunan Menak maka prosesi adat harus dilaksanakan.
Saat ini mereka sedang bergurau satu sama lain.
"Bagaimana perasaan anda Nyonya Beni karena sudah dinikahi oleh sahabat sendiri? Apakah biasa aja, sedang, dan luar biasa?" Tanya Evan mulai melakukan investigasi sembari memainkan kameranya.
"Apaan sih Van, mau menjebak saya nih? dengan pertanyaan seperti itu." Sahut Ega terlihat malu-malu kucing.
"Jawab saja sayang." Ucap Beni menimpali.
"Cieeeee sudah panggil sayang biasanya panggil Egaaaa." Seru sahabat-sahabatnya mulai rusuh.
"Sekarang kan sudah sah gitu makanya boleh panggil sayang kalau maren-maren kan belum." Sahut Beni membela diri sementara itu Ega tertunduk malu, wajahnya sudah mulai berwarna merah merona.
"Duh Isteriku ini manis banget jika malu-malu seperti ini." Ucap Beni sambil mencubit kedua pipinya.
"Ikutan dong." Ucap Dipta sembari mengulurkan tangannya untuk mencubit Pipi Ega namun langsung di tepis oleh Beni.
"Ane juga mau." Rian ikutan mengulurkan tangan untuk mencubit Pipi Ega. Tidak ketinggalan Juna dan Evan juga ikutan menyerang Pipi Ega namun buru-buru Beni menyelamatkan wajah Isterinya dengan mengambil tubuh Gadisnya itu lalu memeluknya secara erat. Wajah Ega dibiarkan terbenam pada dadanya yang bidang.
"Isteri saya ini, masak mau dicubit juga." Seru Beni berusaha menyelamatkan Ega.
"Ega kan Sahabat kita, kita mau dong ngerasain Pipi mulusnya masak kamu saja, Iya enggak temen-temen." Ucap Juna menjahili.
"Yoi." Sahut Evan dan Dipta.
"Mari kita serang, ciaaaaaaat." Sambung Rian siap menubruk tubuh Beni.
Beni berusaha menyelamatkan tubuh Isterinya dari serangan sahabat-sahabatnya.
"Ini Isteri saya woiiiii." Teriak Beni namun serangan dari sahabatnya tidak bisa dielakkan lagi terpaksa Beni menindih tubuh Ega agar tidak tersentuh oleh mereka.
"Bruuuukz." Alhasil tubuh Beni yang menjadi sasaran serangan mereka.
"Hahahahaha." Mereka tertawa bahagia berhasil menyiksa kedua Pengantin.
"Bangun dong, bangun dong! Berat ini kasian Isteri saya dibawah nanti malah jadi gepeng." Gerutu Beni meminta agar mereka bangun dari tubuhnya.
Bukannya mengindahkan apa yang diucapkan Beni malah semakin senang mengerjain kedua Pengantin itu.
"Ya Allah kalian tuh ya? susah banget dibilangin." Teriak Beni sembari berusaha menyingkirkan tubuh mereka.
Karena kasian Juna terlebih dahulu menghindar lalu menarik satu persatu tubuh teman-temannya dari tubuh Beni.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Beni melihat Isterinya itu kelelahan harus menerima beban berat dari tubuh dirinya ditambah teman-temannya yang ikut menambahi.
"Berat." Sahut Ega berusaha mengatur laju pernafasannya.
"Benar-benar dah tuh Sahabat kita gendeng banget kalau begitu bagaimana kalau kita menyiksa mereka dengan kemesraan kita. Kamu sepakat kan sayang?" Ucap Beni mulai memainkan senyum nakalnya.
Ega hanya tersenyum malu, membayangkan apa yang akan dilakukan Suaminya itu dalam posisi indah seperti ini.
Bersambung.
__ADS_1