
Malamnya di sebuah Hotel XXX, terlihat seorang Pria sedang mengandeng seorang Wanita cantik di sisinya. Langkah mereka sangat pasti menuju Meja Resepsionis. Sesampainya di sana, salah satunya langsung melakukan cek in. Setelah di proses dan mendapatkan Cardlock, sepasang Kekasih itu melangkah membututi seorang Pegawai Hotel yang akan menunjukkan kamar mereka.
Sesampainya di kamar, mereka langsung mengunci Pintu dengan serapat mungkin agar tidak ada yang menganggu mereka berdua.
“Beni, aku tidak menyangka kita akan melakukan ini,” ucap Wanita cantik itu memeluk tubuh tegap itu dengan mesra.
“Kamu masih tidak percaya, seorang Beni sanggup melakukannya,” sahut Beni. Dia mencubit hidung mancung itu dengan gemas.
“Ternyata kamu tega,” sahut Wanita itu masih tak percaya.
“Inilah sisi terburukku yang tidak diketahui oleh siapapun.”
“Dan sekarang aku mengetahuinya,” sambut Wanita itu tidak membiarkan Beni melanjutkan perkataannya.
Beni tersenyum nakal, dia memperelat pelukan itu sejurus kemudian bibir mereka bertemu.
“Nina, ternyata kamu sangat buas dan saya suka,” ucap Beni. Dia kembali meraup bibir itu dan menekannya dengan liar.
Wanita yang dipanggil Nina tampak sangat menikmati. Dia tersenyum puas dengan tatapan mendamba. Namun dalam Otaknya penuh dengan rencana.
“Selanjutnya aku akan memuaskanmu Beni,” ucapnya menggoda.
“Tentu!” jawab Beni singkat.
“Oh ya bukannya kamu lagi hamil?" sambung Beni dengan pertanyaan. Dia menatap Nina lekat sembari menunggu jawaban. Pria yang mirip Beni itu bertanya-tanya apakah Wanita hamil lebih menggairahkan dari pada Wanita biasa. Raut senang tercetak pada wajahnya. Dia tidak sabaran ingin menjelajah rasa itu.
“Tidak masalah, aku membutuhkan kehangatan seorang Pria. Kebutuhan itu belum aku dapatkan dan sekarang ada kamu yang bisa memenuhinya,” ucap Nina manja. Dia memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya yang sensual membuat Pria itu menekan hasratnya.
“Saya tak sabaran,” ucapnya langsung menerkam tubuh itu.
“Hahahahaha." Nina tertawa lebar melihat kelakuan Pria itu yang tak sabaran.
“Jangan seperti ini Beni, kamu seperti Singa kelaparan yang tidak pernah dipenuhi haknya oleh Ega. Sungguh parah ternyata Sahabatku itu. Apa mungkin dia tidak mampu melayani kebutuhan itu sehingga kamu meminta dariku," ucap Nina menahan diri. Dia sengaja menunda agar Beni tidak tahan dengan hasratnya sendiri.
“Ayolah cantik, aku tidak tahan." Beni merengek.
“Bagaimana kalau kamu membersihkan diri dulu. Sedangkan aku hendak menggunakan wewangian agar kamu tambah bersemangat.” Nina kembali menunda sehingga membuat Beni kesal.
Dia melangkah dengan malas menuju ke Toilet.
“Setelah ini kamu harus siap,” ucapnya sebelum benar-benar masuk.
Nina tersenyum manis. Setelah Beni masuk Toilet, dia mengambil Handphone yang di simpan pada Tas. Kemudian tangan lentiknya mengotak atik benda itu. Dia mengaktifkan Vidio lalu menaruhnya di tempat yang strategis.
“Aku akan mengambil bukti, dengan bukti ini akan aku jadikan senjata untuk menjerat Beni,” ucap Nina tersenyum jahat. Dia nampak berpikir dengan wajah berseri-seri.
“Bukti ini bisa aku pakai untuk memeras Banu Hardian. Aku akan meminta saham Perusahaan mereka. Jika Banu Hardian tidak memenuhinya, maka Vidio tindakan asusila Putranya akan tersebar luas. Tentu saja itu akan mencoreng nama baik Banu Hardian dan berimbas pada Perusahaan.”
Nina tersenyum manis dengan khayalannya. Setelah puas berkata dia berjalan menuju ranjang. Baru saja hendak mendudukkan diri, terlihat Pintu di buka. Dari arah sana menampilkan sosok Beni yang sudah siap menyerangnya.
Wanita cantik itu tersenyum indah sembari melambaikan tangannya meminta Beni merambat.
Pria itu mendekat, memenuhi keinginan Wanita yang sangat menggoda itu. Dia meraih jari jemari saat sudah berjarak sangat dekat. Mereka bersama-bersama menuju Ranjang lalu menghempaskan tubuh dengan perlahan.
Saat tubuh itu menyentuh Bed yang empuk. Sepasang Kekasih itu terlonjak kaget.
“Awww sakiiiit," teriak Nina.
Beni juga merasakan hal yang sama, rasanya seperti tertusuk dengan duri-duri yang entah bersembunyi dimana.
“Iya sakit, seperti ada duri yang menusuk,” sahut Beni menahan sakit di tubuhnya.
Tubuh telanjang mereka merasakan rasa sakit yang sangat parah. Seperti ada duri yang menusuknya. Secepat kilat mereka bangun kemudian menjauh dari pusaran Ranjang. Setelah terlepas dari rasa sakit, kini disekujur tubuh mereka merasakan rasa gatal.
__ADS_1
Nina terlebih dahulu merasakannya, dia menggaruk lengannya dan bukan hanya di lengannya saja tapi di seluruh badannya. Beni juga merasakan hal yang sama. Pria itu mulai menggaruk tubuhnya yang terasa gatal. Mereka berdua sibuk menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal dan rasa panas yang menjalarinya.
“Gatal sekali, sebenarnya ada apa ini?” ucap Beni merasakan rasa gatal yang kian parah. Belum reda rasa sakit akibat tertusuk duri, kini mereka harus merasakan rasa gatal di sekujur tubuh mereka.
Alhasil, kejadian ini membuat keduanya gagal untuk melakukan kegiatan panas mereka. Beni lebih memilih memakai pakaiannya kembali. Pun begitu juga dengan Nina yang melakukan hal sama. Secepat kilat dia membungkus kembali tubuhnya yang sempat polos.
Terlihat kekesalan yang nampak di wajah Beni. Dia tidak percaya dengan apa yang di temuinya di kamar Hotel ini. Maksud hati menyenangkan diri dengan Nina, Wanita cantik itu. Namun nyatanya gagal total. Selain rasa sakit akibat duri, gatal disekujur tubuhnya dan dia juga harus merasakan rasa sakit karena senjata yang sudah on tidak tersalurkan.
Pria itu menahan rasa sakit di Kepalanya dan amarah yang kian membucah.
“Saya akan komplain dengan Pihak Hotel. Kenapa bisa Hotel termewah memiliki fasilitas yang buruk,” umpat Beni kesal. Dia meraih Jus Melon yang sudah tersedia di sana. Baru saja meneguk, Lidahnya merasakan rasa pahit. Pria itu menyemburkan cairan berwarna hijau itu karena rasa pahit yang dia rasakan.
“Jus apaan ini? kenapa rasanya pahit,” ucap Beni marah.
“Tidak mungkin Beni, ini Hotel terbaik tidak mungkin menyediakan minuman pahit,” sahut Nina tidak percaya.
“Coba saja.”
Nina mengambil Jus yang disodorkan oleh Pria tampan itu. Dia meneguknya, baru saja cairan itu menyentuh ujung lidah dengan cepat Nina melepehnya.
‘Ini seperti Jus pare, rasanya pahit banget,” ucap Nina membenarkan rasa pahit itu.
“Sebaiknya kita tinggalkan kamar ini, saya ingin komplain,” ucap Beni kesal.
Mereka berdua berlalu meninggalkan kamar Hotel.
Sementara itu Ega keluar dari persembunyiannya. Dia tertawa lebar melihat keberhasilannya.
"Kita berhasil Kak Beni," ucap Ega terdengar riang.
"Iya, kamu sangat pintar, Ga!" ucap Beni memuji Wanita itu.
"Ayok cepat kita ganti Seprainya dan juga Jus melonnya. Kamu dengar, kan? Beni palsu itu akan komplain," lanjut Beni. Dia bergerak cepat menyingkirkan duri-duri dan juga mengganti Seprai yang sudah ditaburi serbuk gatal.
"Ega, sepertinya ada langkah menuju kamar ini," ucap Beni mengingatkan Isterinya.
Ega menggangguk mengerti. Mereka berdua kembali menuju persembunyian yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Beni palsu dan Nina pasti kebingungan selanjutkan mereka akan di tuduh karena telah mencemarkan nama baik Hotel ini," ucap Ega terkikih.
"Iya, Nina sempat-sempatnya mengeluh dalam Medsos dan menyebut nama Hotel ini. Dia tidak sadar telah menempatkan diri dalam bahaya," sahut Beni menahan tawa. Dia menggelengkan Kepala tak percaya dengan tindakan Sahabatnya itu.
"Hahahahaha."
Sepasang Suami Isteri itu tertawa dengan apa yang telah mereka rencanakan. Tentu saja rencana itu berhasil.
"Kak Beni, saya tidak sabaran melihat wajah jelek kembarannya," ucap Ega menahan tawa. Dia tidak berhasil menahan tawanya saat melihat wajah Suaminya yang cemberut. Pada akhirnya Ega tergelak dengan berusaha membungkam mulutnya.
Beni mencubit Pipi Isterinya itu saking gemas.
"Suamimu ini anak tunggal dan satu-satunya wajah yang di ciptakan Tuhan. Mungkin mirip tapi tidak seratus persen sama. Entahlah, wajah siapa dibalik wajah itu," ucap Beni galau.
Secepatnya ingin mengakhiri semua ini dan mengetahui tujuan dari wajah palsu itu sekaligus mengetahui wajah siapa di baliknya.
Ega menenangkan hati Beni. Dia mengelus punggung itu dan mengangguk memberikan semangat bahwa secepatnya meraka akan membongkar Topeng itu.
"Siap-siap."
Selesai berucap Beni mendekap tubuh Ega lalu secara bersamaan mereka berhitung mundur.
"Lima, empat, tiga. ...!"
Belum saja mereka berdua berhenti berhitung, terdengar suara Pintu terbuka.
__ADS_1
"Lihatlah fasilitas Hotel kalian. Sudah ada duri dan Seprainya juga tidak pernah dicuci menyebabkan seluruh badan ini gatal. Itu juga Jus melon yang kalian sediakan juga rasanya pahit. Apa kalian bisa bertanggung jawab dengan kerugian kami," ucap Beni dengan wajah kesal.
"Mas dan Mbak, kami akan mengganti rugi jika benar dengan apa yang kalian keluhkan," ucap Petugas Hotel.
Petugas Hotel itu memeriksa keadaan Ranjang itu dan memastikan apa yang dikeluhkan oleh kedua Tamu itu benar-benar terbukti.
Tidak ada jejak Duri ataupun taburan bahan-bahan yang membuat tubuh mereka gatal. Dia kemudian merebahkan diri untuk membuktikannya.
"Ini aman, kok!. Saya tidak merasakan apa-apa, tidak tertusuk oleh Duri ataupun merasa gatal-gatal," ucap Petugas itu bingung.
"Ini apa buktinya, rasa gatal di tubuh ini masih terasa," ucap Beni berang. Dia menggaruk bagian tubuhnya yang masih terasa gatal dan kini terasa perih.
"Kalian berdua yang mengada-ngada dan memfitnah Hotel kami. Jelas-jelas disini aman dan satu lagi Jus melon ini rasanya manis. Mungkin saja Lidah anda yang pahit sehingga itu yang anda rasakan," ucap Petugas itu datar.
"Jangan membuang waktu saya, sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini sebelum Satpam menyeret kalian," lanjut Petugas Hotel itu terdengar tegas.
"Enak saja, kalian harus bertanggung jawab dengan ketidak nyamanan kami. Apa kamu tidak tahu siapa Pria ini?" sahut Nina tidak terima diperlakukan dengan tidak baik.
"Siapa pun Pria ini, itu tidak penting. Terpenting kalian harus membersihkan nama baik Hotel ini, kalau tidak kami akan menutut kalian ke ranah hukum," ucap Petugas itu dingin.
"Silahkan saja, saya pastikan Hotel ini akan bangkrut seketika karena sudah berani berhadapan dengan Beni Hardian, Putra dari Banu Hardian Pemilik dari Perusahaan Hardian Group." Nina tidak mau kalah. Dia menggertak Petugas itu dengan menjual nama Beni Hardian. Dia tidak takut sama sekali karena dia berada di posisi benar. Ada Beni yang akan membungkam kesombongam dari Petugas Hotel itu.
"Oh ya, setahu saya Putra dari Pemilik Hardian Group tidak suka membawa Wanita yang bukan Isterinya menuju kamar Hotel. Dia Laki-laki baik dan tidak suka mengaku."
Petugas itu membantah, dia menghubungi seseorang.
"Silahkan tinggalkan Hotel kami. Jangan pernah mengaku kalau Pria ini Putra dari Banu Hardian," ucap Petugas itu setelah menghubungi seseorang.
"Kamu, berani-beraninya memperlakukan kami seperti ini. Lihat saja saya tuntut Hotel ini," sahut Beni murka. Terlihat wajahnya merah padam karena Petugas itu meragukan dirinya sebagai Beni Hardian.
"Silahkan saja, kami tunggu," ucap Petugas itu dingin.
Beni dan Nina masih berdebat dengan Petugas Hotel. Dia tidak terima dengan perlakuan Petugas Hotel itu. Mereka berdua mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dan sekarang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.
Perdebatan itu masih berlanjut sampai Petugas keamanan datang dan menyeret keduanya dari Hotel itu.
Beni dan Nina berteriak tidak terima. Dia mengancam akan membawa semua ini ke jalur hukum.
"Silahkan saja, kalian yang akan kami seret karena sudah berani mencemarkan nama baik Hotel kami dan juga mencemarkan nama baik Beni Hardian Adha." Petugas Hotel tidak mau kalah. Dia mengertak dengan balik mengancam.
Beni dan Nina melepaskan diri dari cengkeraman Petugas keamanan. Mereka berdua pergi dengan membawa amarahnya.
"Ngakunya sebagai Beni Hardian Adha tapi KTPnya bertuliskan Lalu Naufal Mandala, piye toh?"
Ucapan Petugas Hotel itu membuat Ega dan Beni terkejut.
"Apa? Lalu Naufal Mandala? Bukannya itu nama asli Juna, ya?" tanya Beni.
"Iya, nama asli Abang Juna sebelum ganti nama," sahut Ega tidak kalah terkejut.
"Apa mungkin Beni palsu itu adalah Juna? atau mungkin Beni palsu itu menggunakan identitas Juna?" ucap Beni bertanya-tanya.
Ega menggelengkan kepala harus menjawab apa karena meragukan ini semua.
Beni palsu itu memang mirip dengan Juna, dari ciri fisik dan tingkah lakunya memang sama dengan Sahabatnya itu.
Namun satu hal yang meragukan, Juna bukan Pria mes*m seperti yang diperlihatkan oleh Pria itu.
Atau jangan-jangan Juna hanya berpura-pura dan berusaha menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Berpura-pura menjaga kehormatannya sebagai Pria tapi nyatanya dia menikmati hasrat terlarang itu dengan pasangan haramnya.
Ega menggelengkan Kepala dengan pikiran buruknya. Dia tidak boleh bersu'udzon dengan Sahabatnya sendiri.
"Tidak mungkin Juna sejahat itu," ucap Ega tidak percaya.
__ADS_1
Bersambung.