Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 54. Inggas.


__ADS_3

Minggu pagi Rombongan iring-iringan


Pengantin sudah bersiap-siap menuju kediaman Orang Tua Pengantin Perempuan di


Desa Madayin. Satu Bus Pariwisata sudah dipersiapkan oleh Banu Hardian untuk


menampung Para Pengiring yang terdiri dari Pemuda dan Pemudi serta Ibu-ibu dari


Kampung Tetangga. Beni sering bertandang ke Kampung sebelah dan bergaul dengan Pemuda yang ada disana. Beni juga sering ikut kegiatan yang diadakan oleh Remaja Masjid maupun kegiatan Remaja yang bersifat Sosial.


Pergaulan itulah kenapa Pemuda dan Pemudi begitu banyak ikut pengiringi prosesi adat yang dijalankan Beni dan Ega sebagai bentuk Solidaritas mereka. Seperti itulah yang terjadi dalam pergaulan, jika kita rajin menampilkan diri dalam kegiatan adat, Remaja Masjid maupun kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh Desa maka secara otomatis mereka akan mengingat itu. Keluarga Beni tidak perlu repot-repot untuk mengurus persiapan Prosesi adat yang musti di jalankan. Para tetangga dan pemuda yang ada disana dengan Sukarela membantu melancarkannya.


Tidak ketinggalan tujuh sahabat kecuali Nina ikut mengiringi prosesi adat. Mereka menggunakan satu mobil yang mampu menampung  Dipta, Rian, Evan, Amanda dan Fiza sedangkan Mobil Pengantin yang berupa Mobil Sport berplat Beni di sopiri oleh Juna dan didampingi oleh Anisa. sedangkan Keluarga besar Banu Hardian menggunakan Mobil pribadi masing-masing.


Beberapa jam kemudian sampailah rombongan Pengantin di Desa Madayin. Rombongan Pengantin berhenti pada lokasi yang telah


ditetapkan oleh pihak keluarga Ega. Rombongan Pengantin mulai mempersiapkan diri dengan mengatur barisan yang terdiri dari Pengantin Wanita paling depan yang diapit oleh Remaja Putri. Dimana Remaja Putri itu dipercayakan kepada Amanda dan Fiza. Selanjutnya baru Pengiring Perempuan yang kesemuanya menggunakan baju adat dengan barisan berbanjar ke belakang dengan dua shaf. Tidak ketinggalan Payung Agung untuk memayungi kedua Pengantin. Payung Agung untuk Pengantin Perempuan di Pegang oleh Rian sedangkan Payung Agung Pengantin Laki-laki di pegang oleh Evan. Posisi terakhir setelah Pengiring Laki-laki yaitu iringan Gendang Belek.


Saat semua barisan sudah rapi barulah Pengantin Perempuan berjalan secara berlahan-lahan menuju kediamannya diringi oleh para Pengiring dan juga Pengantin Laki-laki yang menempati posisi setelah Pengiring Perempuan. Saat iring-iringan bergerak barulah Para Pemain Gendang belek mulai memainkan Gendangnya dan sesekali dengan Tarian. Suara Gendang Belek tersebut mengundang warga disekitar untuk datang menonton. Tentu saja suara Gendang Belek itu menarik rasa penasaran warga sehingga mereka bersedia keluar rumah untuk melihat siapa wajah dari Pengantin yang sedang melaksanakan adat. Semua warga disana mulai berkumpul untuk menyaksikan prosesi tersebut.


Warga bertanya-tanya anak siapa yang menikah. Sebagian dari mereka mengenali Pengantin Perempuan yang tidak lain adalah Baiq Ega Fajrina. Seorang Gadis yang dikenal ramah dan baik.


“Pengantin Perempuannya Mbak Ega, anaknya


Mamiq Angga. Cantik banget ya? Suaminya juga tampan sekali.” Terdengar para Ibu-ibu yang kebetulan mengenal Sosok Pengantin Perempuan.


Setelah acara sorong serah aji krama selesai dilaksanakan oleh Pembayun. Rombongan Pengantin baru diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kediaman orang tua Pengantin Perempuan. Saat dipertengahan jalan rombongan tersebut disambut oleh rombongan dari pihak keluarga perempuan dengan iring-iringan yang kesemuanya menggunakan baju adat dan juga Gendang belek. Kedua pasukan Gendang belek bertabuh saling sahut menyahuti untuk memeriahkan acara tersebut. Setelah mereka sampai di rumah Orang Tua Pengantin Perempuan, kedua Pengantin di dudukkan pada Singgasana sementara dan didampingi oleh dua remaja Putri sebagai Dayang-dayang yang mengipasi kedua Pengantin tersebut.


Selanjutnya pengambilan gambar, sebagai


kenang-kenangan. Tidak ketinggalan teman-teman Ega yang berada di Desa ikut bergabung untuk berfoto bersama. Acara berfoto-foto sudah selesai dan acara tersebut diakhiri dengan sungkeman kepada kedua orang tua Ega. Saat sungkeman Ega menenggelamkan diri dalam pelukan Ibu yang sangat disayanginya.


“Inaq,” ucap Ega lirih berusaha menahan air


matanya. Saat ini matanya mulai berkaca-kaca tidak kuasa menahan kesedihan.


Semenjak melanjutkan pendidikan Menengah Pertama, Ega sudah mulai berpisah


dengan kedua orang tuanya. Itu semua dilakukan untuk melanjutkan pendidikan. Walaupun Ega terbiasa mandiri tapi kemanjaannya tidaklah hilang dari Gadis sampai kini ia sudah menikah. Dia sangat dekat dengan Ibunya, jika dia kangen


maka dia langsung pulang meskipun jaraknya begitu jauh. Dia rela mengendarai


Sepeda Motornya dalam waktu tempuh empat jam hanya demi berjumpa kedua orang


tuanya. Itupun kebersamaannya hanya sehari saja kecuali kalau ada hari libur


pada Hari Jum’at maka Ega memiliki tambahan waktu selama sehari.


“Iya Tatik, kenapa sedih? Sekarang Tatik


sudah bersama Laki-laki yang baik, soleh dan Insha Allah bertanggungjawab atas


hidup Tatik dunia dan akherat. Seperti tidak bisa pulang saja, sekarang ada Nak


Beni yang menjadi Ojek Pribadinya. Tentu saja Nak Beni bersedia mengantarkan Tatik pulang. Tinggal memberitahu tidak harus memesan lewat aplikasi, apa yang dirisaukan lagi?” ucap Ibu Siti Fatimah panjang lebar.


Beni hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibu


Mertuanya itu.


“Inaaaaq, Kak Beni itu Suami Ega bukan


Tukang Ojek,” sahut Ega dengan manjanya.


“Merangkap, agar bisa mengantarkan Tatik


pulang sekaligus mengantarkan kemanapun Tatik mau biar enggak capek dan kepanasan. Bagus dong kalau ada Nak Beni yang siap sedia memayungi sehingga anaknya Inaq ini tidak tambah buluk,” ucap Ibu Fatimah bercanda.


“Inaaaaaaq,” pekik Lika cemberut.


“Hahahahaha.”


Semua orang yang mendengarkan pembicaraan


antara Ibu dan anak itu tertawa lebar.


“Dek, sebenarnya Inaq mau bilang. Nanti


kalau adek pulang dari sini, bisa-bisa Suami kamu tidak tanda karena saking


gelapnya kulit kamu terus berkata 'Sayang, kok pulang-pulangnya seperti ini? apa disana kamu mandinya dengan kecap?” Kakak Laki-laki Ega ikut nimbrung memberikan ledekan kepada Adik buntutnya.


“Itu lebih baik, bagaimana kalau Beni bilang kulit kamu seperti Pantat Panci pasti tambah nyesek, kan?” Kakak Perempuan Ega ikut menambahkan.


“Kak Laniiiii,” Pekik Ega histeris.


“Kak Lani sama Kak Pahri Jahat, mentang-mentang kulitnya sedikit cerah sudah sombong, ledek terus biar kalian berdua bahagia. Saya memang buluuuuk. Huwwwaaa,”  pekik Ega


menambahkan airmatanya dengan wajah cemberut.


“Hahahahaha,”


Lagi-lagi mereka tertawa melihat tingkah


Pengantin yang mendapatkan ledekan dari kedua Saudaranya.


“Jangan sedih Nak, kamu itu cantik banget


dengan kulit yang jarang dimiliki orang lain. Siapa bilang Buluk dan siapa bilang hitam. Kulit kamu itu sangatlah manis dan mempesona sampai Suamimu itu terpikat oleh keindahan kulit kamu, iya, kan, Nak Beni?” Mamiq Angga menghibur Putri

__ADS_1


Bungsunya yang memiliki kulit yang sama dengan dirinya berwarna Sawo Matang. Warna kulit yang terlihat manis dan indah.


“Iya Miq, Wanita ini Cantik dan memiliki kuit indah nan lembut. Bukan itu yang membuat saya terpesona tapi hatinya yang mampu


membuat saya klepek-klepek saking enggak bisa bernafasnya,” jawab Beni menanggapi perkataan Bapak Mertuanya. Beni ikutan meledek Isterinya itu.


“Tuh kan? Kak Beni juga ikutan mengejek


saya, memamgnya Kak Beni Ikan?” sewot Ega cemberut.


“Hahahahaha.”


Selesai sungkeman dan beramah tamah, rombongan Pengantin kembali ke Mentaram sebelumnya mereka melaksanakan Shalat Dzuhur di Rumah orang tua Ega. Setelah kewajiban dilaksanakan baru kembali ke Kediaman keluarga Hardian.


Mobil Sport milik Beni membelah jalanan yang dulunya sempat rusak akibat Gempa Bumi yang melanda Daerah ini. Tidak ada pembicaraan


sama sekali, hanya terdengar deru Mobil yang melaju dengan perlahan-lahan. Mobil Pengantin adalah iringan terakhir karena rombongan yang lainnya terlebih dahulu meninggalkan Desa Madayin dan kembali ke Mentaram.


Saat ini Anisa yang berada di samping


kemudi tidak terdengar suaranya. Dia terlihat lelah sehingga memilih untuk tidur.


“Rencananya mau bulan madunya kemana nih?”


tanya Juna memecahkan keheningan yang terasa membosankan.


“Belum ada rencana kemana-mana Jun?” jawab


Beni datar.


“Enggak asyik banget sih?” seru Juna.


Juna merasa heran kepada kedua Pengantin tidak begitu antusias dengan Honeymoon mereka malah mereka tidak merencanakan apapun. Apa mungkin karena pernikahan mereka mendadak sehingga tidak ada rencana untuk berbulan madu.


“Pernikahan kita saja mandadak jadi tidak


ada rencana apa-apa dalam agenda kita.” Ega menuturkan keadaan mereka yang


serba mendadak.


“Bagaimana kalau kita berlibur di Senaru


dan jalan-jalan ke air terjun bersama tujuh Sahabat.” Juna memberikan usul.


“Boleh, ide bagus.”


Beni menyetujui usulan Juna, sudah lama


mereka tidak Touring bareng-bareng dengan tujuh Sahabat.


“Kita pastikan Evan ikut? tahu sendiri tuh


anak sulit sekali mengajak dia ikut Touring apalagi Camp. Dia selalu sibuk dengan alasan yang sama.” Ega mengingatkan mereka agar Evan harus bisa ikut. Mereka harus memastikan agar Evan bisa ikut bergabung dan tidak ingin mendengar alasan Evan dengan alasan sibuk mengerjakan Anggaran APBdesnya.


selalu memberikan alasan ketika dia tidak bisa bergabung  ketika tujuh Sahabat jala-jalan. Jarang sekali dia ikut Touring bersama. Tenang saja,


kita akan ajak Amanda, jika ada Amanda Evan pasti akan ikut juga. Mau tidak mau dia akan ikut karena tidak ingin Dipta mencuri start dan memenangkan hati Amanda.”


Kata-kata Juna membuat Ega berpikir


sejenak. Dia merasa persaingan antara Evan dan Dipta terlihat nyata. Dia tidak


menyangka Evan yang selama ini cuek dengan perasaan ternyata bisa bergetar juga


sedangkan Dipta yang selama ini galak sama cewek yang dekat dengannya ternyata


bisa bersikap lunak juga. Namun yang menjadi rintangannya sekarang adalah


mereka jatuh cinta sama Gadis yang sama. Entah siapa yang memenangkan hati


seorang Amanda, Bidadari Petakilan.


“Sayang apa yang kamu pikirkan?” tanya Beni


melihat Isterinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Ega tersenyum melihat ke arah Beni, dia


menatap Suaminya dengan rasa cinta yang semakin membuncah.


“Tidak ada apa-apa, saya hanya memikirkan


hubungan Bidadari Petakilan. Kira-kira siapa yang memenangkan hati Bidadari Petakilan kita ya? Persaingannya sepertinya ketat banget.” Ega menuturkan apa yang ada dalam pikirannya.


“hahahaha, ya Allah. Saya kira ada apa-apa tadi, ternyata kamu memikirkan mereka bertiga.” Beni menanggapi perkataan Isterinya. Dia mentoel hidung mancung Ega yang terlihat menggodanya.


“Uhuk, uhuk, uhuk.”


Juna terbatuk untuk menyadarkan sepasang


Pengantin itu.


“Ops lupa ada Juna disini,” ucap Beni dan


Ega serempak.


“Terus, terus bersikap mesra di depan saya. Apa kamu pikir Bujang Ganteng ini Patung? Aku Laki-laki normal dan juga punya rasa dan punya hati. Aku pasti tegang jika melihat kalian bermesraan.” Juna berkata seperti mengomeli mereka berdua yang tak tahu tempat memamerkan kemesraan dihadapannya.


“Makanya cepat nikah, ikuti apa keinginan

__ADS_1


orang tua. Tidak salahnya menerima perjodohan mereka.” Beni memberikan nasehat kepada Juna agar kali ini menuruti apa keinginan kedua orang tuanya.


Juna terdiam, matanya fokus ke arah depan


sedangkan tangannya memainkan benda bulat bernama setir itu.


Beni dan Ega saling pandang begitu


menyadari Juna tidak menanggapinya.


“Maaf Jun,” ucap Beni tulus. Dia merasa


bersalah karena mengungkit tentang perjodohan yang dilakukan orang tuanya.


“Tidak apa-apa Ben, kamu tidak salah hanya


saja hati ini merasa tidak nyaman jika membahas tentang perjodohan itu,” ucap Juna datar. Dia masih membentengi dirinya dan belum mau membuka hati yang selama ini digemboknya.


Huft


Ega menarik nafas panjang, saat ini perasaannya benar-benar gusar. Jika sikap Juna selalu seperti ini maka Juna tidak akan tenang. Dia tidak ingin Juna terjebak dalam masa lalunya dan berharap Juna menemukan Kebahagiaannya. Dia khawatir, rasa bersalah dan trauma itu membelenggu Juna. Sampai kapan itu akan terjadi?


Saat dia asyik dalam pikirannya, tiba-tiba


Ega melihat bangunan yang tersisa hanya Puing-puing saja. Pada tembok itu tertulis ‘ hanya ini yang tersisa’. Hati Ega merasa miris, membaca tulisan itu. Memang benar, hanya puing-puing itu yang tersisa semenjak Gempa menghantam Bumi


Gora.


“Mas, itu rumah Aulia,” ucap Ega menunjuk


rumah yang sudah tak berbentuk lagi.


“Iya, hanya tersisa itu saja dan juga


Anisa,” sahut Beni terlihat sedih mengingat itu semua.


“sraaaaaaaaaaaaaaat,”


Tiba-tiba Juna mengerem mendadak.


“Astaghfirullah. Jun apa kamu ingin


membunuh kami?” ucap Beni mengomeli Juna yang tiba-tiba mengerem mendadak. Ega


terpentur Jok kursi yang diduduki Anisa.


“Tadi kamu mengatakan rumah ini milik


Aulia, siapa Aulia?” tanya Juna penasaran.


Ega dan Beni saling pandang tak mengerti


apa yang ditanyakan Juna. Dia merasa Juna sedikit aneh begitu mendengarkan


dirinya menyebut nama Aulia.


“Siapa Aulia, Beni?” Juna kembali bertanya


dengan pandangan kesedihan.


“Aulia, Ibu Kandung Anisa. Rumah didepan


sana adalah rumah milik orang tua Anisa. Saat gempa terjadi kita menemukan


Aulia meminta tolong dari dalam rumah itu.” Beni mulai menceritakan apa yang


terjadi dengan Aulia dan Anisa. Beni dan Ega belum menceritakan asal usul


Anisa. Selama ini Juna dan Sahabat hanya tahu Anisa adalah cucu dari keluarga Hardian


tapi dia tidak pernah menanyakan siapa Anisa sebenarnya. Itu adalah rahasia


keluarga Hardian jadi mereka tidak ingin ikut campur jika itu bersikap pribadi


keluarga mereka.


“Jadi, Anisa adalah anak dari Aulia dan ini


adalah rumah orang tua Anisa?” tanya Juna terbata-bata. Mata Juna berkaca-kaca


dan terlihat sekali wajahnya menyimpan rasa bersalah dan kesakitan yang selama


ini dipendamnya. Dia menatap Anisa yang masih tertidur lelap.


Melihat sikap Juna membuat Beni dan Ega


saling pandang. Apa yang terjadi dengan Juna? Kenapa dia terlihat sedih.


“Kamu baik-baik saja Jun? tanya Beni.


“Aku baik-baik saja,” ucap Juna berusaha untuk


menyeka airmatanya.


“Jika kalian tidak capek, aku ingin kita bertemu di rumah Ega malam ini.” Juna meminta waktu Beni dan Ega untuk bertemu dengannya di rumah Ega. Meskipun Beni dan Ega tak mengerti apa yang di pikirkan oleh Juna tapi mereka berdua menyetujui permintaan Juna dengan tanda tanya dan pada


akhirnya nanti mereka akan mendapatkan jawabannya.


“Nara, apakah masih tersisa tentang dirimu?”

__ADS_1


batin Juna.


Bersambung.


__ADS_2