
Nina menyambut Beni dengan sangat bersemangat beserta tatapan penuh cinta. Dia segera meraih tangan Beni lalu merangkulnya. Dia berhasil menyingkirkan Ega yang berdiri di samping Lelaki itu.
"Beni, temani aku ya?" ucap Nina bermanja ria di sisi Beni.
"Bisa enggak kamu jangan peluk seperti ini?" Beni menepis tangan Nina dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Wanita itu.
"Beni kok gitu? tadi pagi kamu menikmati pelukan aku tapi kenapa sekarang malah menolak. Apa kamu malu karena ada mereka? kenapa harus malu, anggap saja mereka tak ada." Nina meraih kembali tangan Beni lalu merangkul dengan erat takut terlepas.
Sementara yang lain memandang dengan jengah apa yang dilakukan Nina.
"Stop Nina, aku enggak suka kamu menyentuh kulitku apalagi memeluk seperti apa yang kamu lakukan tadi pagi. Cukup sekali itu kamu lakukan dan jangan pernah mengulangnya lagi karena saya tidak suka, ingat itu." Beni memperingati Nina dengan perkataan serius dengan menekan apa yang diucapkan agar Nina mendengarkan itu.
"Kok begitu sih, Ben?" ucap Nina sedih. Matanya mulai berembun dan siap menumpahkan bulir-bulir airmata.
"Aku cinta sama kamu Beni, berikan aku kesempatan untuk menyentuh hatimu," sambung Nina dalam isak tangisnya.
Semua orang yang mendengarkan pernyataan Nina terkejut. Rupanya Nina masih keukeuh memperjuangkan perasaannya kepada Beni hingga mendapatkannya.
"Aku tidak bisa mencintaimu karena aku sudah meni. ...!"
". ... aduh sakit, perutku keram," ucap Nina menjerit kesakitan. Dia memegang perutnya sembari menahan rasa sakit itu. Nina meringis kesakitan, dengan wajah pucat.
"Beni bantu aku, bawa aku ke kamar. Aku tidak bisa melangkah, ini sakit sekali," ucap Nina terbata-bata.
Semua orang yang ada disana menghampiri Nina dan bertanya apa yang terjadi. Mereka mendadak panik melihat wajah Nina yang pucat.
"Kamu kenapa Nin? aku bantu kamu," ucap Ega menghampiri Nina. Dia segera menangkap tubuh Nina yang oleng lalu menahannya.
"Aku tidak butuh bantuan kamu, Ga? Aku hanya butuh Beni," ucap Nina menolak bantuan Ega. Dia menepis tangan Ega yang berusaha menopang tubuhnya.
"Jangan kekanakan kamu, sakit gitu masih saja pilih-pilih siapa yang hendak membantumu," ucap Dipta kesal.
"Aku hanya ingin disentuh oleh Beni. Beni kenapa diam aja, bawa aku ke kamar. Aku kesakitan, perutku sangat keram," pinta Nina memelas. Dia memanfaatkan rasa sakit yang menderanya untuk mendapatkan iba dari Lelaki itu.
Beni hanya diam saja, saat ini dia bimbang. Dia punya hati untuk menolong orang lain. Bagaimanapun juga dia masih memiliki rasa kemanusian itu tapi disisi lain dia ingin menjaga perasaan Isterinya. Beni memandang Ega untuk meminta persetujuannya. Ega mengangguk seolah mengatakan dia tidak apa-apa dan lakukan untuk kemanusiaan. Beni segera mengulurkan tangan untuk membopong tubuh Nina. Namun ternyata Juna terlebih dahulu mengambil alih tugas Beni. Dia membopong tubuh Nina lalu membawa Nina ke kamar agar dia bisa beristirahat.
"Jun, turunkan. Kenapa kamu malah menggendongku. Aku hanya ingin Beni yang melakukannya." Nina mengomeli Juna yang berinisiatif menggendongnya.
"Diam, jangan protes. Apa kamu mau perut kamu tambah sakit," ucap Juna membungkam Nina agar berhenti memprotes. Nina terdiam dengan memperlihat amarahnya.
Sesampainya di Kamar, Juna merebahkan Nina. Lalu dia keluar dengan mempersilahkan Para Gadis untuk masuk merawat Nina.
"Nina, apa yang sakit? kita ke Dokter ya? saya khawatir dengan perut kamu," ucap Ega memberikan perhatian kepada Nina. Dia meraih minyak kayu putih lalu membalurkan pada perut Nina yang mengalami keram.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh Beni, bisakah kamu meminta Beni untuk menemani aku Ga? aku mohon bantu aku untuk berbicara dengannya. Jika kamu yang memintanya pasti Beni akan mendengarkan dan memenuhi permintaan kamu, aku mohon Ga," ucap Nina memohon. Dia memegang tangan Ega dengan wajah memelas penuh dengan kesedihan dan rasa sakit yang tak bisa dia tahan lagi.
"Aduh, sakit Ga." Nina meringis kesakitan. Dia merasakan rasa sakit itu lagi bahkan terasa lebih menyakitkan.
"Kamu yang sabar Nin, bagaimana kalau kita panggilkan Dokter. Saya takut terjadi apa-apa denganmu dan Bayi kamu," ucap Ega terlihat sangat khawatir. Dia membalurkan kembali pada area perut untuk meredakan keram yang dirasakan Nina.
__ADS_1
"Tidak usah, aku hanya perlu Beni yang menemani dan merawatku. Bicaralah pada Beni, aku mohon." Nina memohon dengan penuh harap agar Ega bersedia membantunya.
Ega menghirup oksigen yang terasa begitu sulit masuk ke Parunya. Saat ini dia merasa sesak. Nina, sahabatnya menginginkan Suaminya. Apakah dia merelakan Suaminya memberikan perhatian kepada Wanita lain? Mengapa pernikahan serumit ini manakala ada orang lain menginginkan Lelaki yang sama. Tak tahu harus menjawab apa.
"Maafkan saya Nin, saya tidak bisa membantumu. Sangat sulit merubah keputusan Kak Beni. Saya pernah memintanya tapi Kak Beni tidak mau bahkan dia memarahiku. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," sahut Ega jujur. Dia tidak bisa berbuat apapun untuk membujuk Beni.
"Apa karena kamu takut aku mendapatkan cinta Beni. Apa kamu khawatir Beni berpaling kepadaku dan melupakan kamu. Aku tahu kamu mulai mengincar Beni juga, kan? ternyata kamu munafik Ga. Kamu selalu berkata kalau Beni hanya teman nyatanya kamu menusukku dari belakang dan diam-diam ingin mengambil Beni. Jangan harap kamu berhasil. Dia hanya memanfaatkan kepolosan kamu saja. Beni tidak tulus mencintai kamu, dia hanya tulus mencintaiku. Berikan Beni untukku, dia lebih bahagia bersamaku. Lagipula aku sedang mengandung anaknya Beni."
deg
Pengakuan itu membuat orang terkejut. Amanda dan Fiza saling pandang tak percaya. Sedangkan Ega hanya diam saja tak memasukkan perkataan Nina dalam hati.
"Malam itu, saat Beni mengantarkan aku pulang. Kita berdua mengobrol hingga larut malam. Kita tidak menyadari apa yang kita lakukan. Kita mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga aku dan Beni tak sadar melakukan dosa itu." Nina menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan Beni malam itu. Nina menangis sesenggukan meratapi diri.
"Aku menyesal telah terbuai bujuk rayu Beni. Dia mengatakan akan bertanggungjawab nyatanya Beni mencambakkan aku. Dia tak mengingat apa yang pernah dia lakukan kepadaku. Beni sangat jahat."
Nina menangis, dia meluapkan amarah, kesal dan airmata menyatu menjadi satu.
"Aku hanya ingin Beni menikahiku, itu saja. Tidak susah, kan?" ucap Nina menyelesaikan ceritanya. Dia menyeka airmatanya berharap airmata itu mampu meluluhkan hati yang melihatnya.
Ega dengan setia mendengarkan cerita Nina. Terlihat wajahnya sangat tenang karena dia tahu apa yang terjadi. Nina sudah berani memfitnah Beni dan dia tidak menyangka itu.
"Jangan mengarang cerita. Abang Beni tidak seperti yang kamu tuduhkan? Dia sangat menjaga kehormatannya, tidak mungkin merendahkan dirinya dengan melakukan perbuatan hina itu. Jangan-jangan kamu mengarang cerita, jangan bilang kamu sedang memfitnah Beni. Terlihat sekali wajah kamu sedang berbohong. Oya fitnahan itu masuk pasal pencemaran nama baik. Kamu bisa masuk penjara lo mbak. Apa mbak mau melahirkan di Penjara, kalau mau saya persilahkan mbak." Amanda membatah pengakuan Nina yang memfitnah Saudara Laki-lakinya itu apalagi dia melihat Ega yang nampak tenang tidak terpengaruh sama sekali dengan pengakuan itu.
"Tahu apa kamu, Beni sangat pandai menyembunyikan kebusukannya. Dia berpura-pura alim hanya untuk mengelabui kalian semua. Bagus di luar tapi dalamnya siap merobek kalian. Kalian sudah tertipu dengan kebaikan yang Beni tampakkan." Nina menyahuti bantahan Amanda dengan fitnahan kembali.
Ega menarik nafas berat. Dia tidak menyangka rumah tangga yang baru saja dibangunnya harus tertimpa cobaan seperti ini. Baru memulai rupanya halangan itu dari Sahabat sendiri.
"Mbak Ega kok baik banget sama Wanita rayap ini," ucap Amanda tak percaya dengan apa yang dikatakan Ega.
"Apa katamu, kamu yang Wanita Rayap," ucap Nina membentak Amanda.
Ega menghela nafas yang terasa berat. Setelah berhasil bernafas dengan baik lalu dia berkata, " Nina sebaiknya kamu istirahat, jangan menempatkan janimmu dalam penderitaan. Jika kamu terus-terusan bersikap begini tentu itu sangat berisiko untuk janim dalam kandunganmu. Sebaiknya kamu bisa mengelola emosimu demi kebaikannya."
"Pintar sekali kamu berbicaranya. Sementara untuk diri sendiri apa kamu bisa menasehatinya agar tidak menjadi Wanita munafik. Kamu munafik Ga, kamu murahan dan kamu Wanita Ja**ng. Kamu menusukku dari belakang lalu mengambil Beni dariku. Kamu munafik Ga." Nina membalas nasehat Ega dengan sumpah serapah. Selain sumpah serapah yang menampar hati Ega. Nina juga menampar fisik Ega tepat di pipi manisnya.
"Mbak kenapa kasar sekali?" Fiza yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya bisa bersuara juga. Dia menghampiri Ega lalu berusaha untuk menenangkannya.
"Dasar Wanita enggak tahu malu. Sudah memfitnah Beni sekarang mbak juga memfitnah Mbak Ega. Apa yang ada dalam otak hanya kata-kata hinaan saja. Kasihan sekali, memang seperti itu Wanita rayap." Amanda mengomeli Nina dengan menahan kekesalannya.
Ega, dia mengelus pipinya yang terasa perih. Dia tidak menyangka mendapatkan tamparan dari Sahabatnya sendiri.
"Mbak Ega kenapa tidak membalas sih?" tanya Amanda melihat perilaku buruk Wanita yang mengatakan dirinya cantik.
"Tidak perlu membalas perbuatan buruk seseorang. Setiap perbuatan dan perkataan tentu akan ada balasannya. Baik itu perbuatan baik maupun buruk. Jika yang kita lakukan perbuatan baik maka yang kita dapatkan sesuatu yang baik juga dan sebaliknya seperti itu. Bukan kita yang membalasnya tapi Tuhan. Saya diam bukan berarti membenarkan apa yang terucap darinya. Setiap hinaan, makian dan merendahkan orang lain tentu akan berbalik ke dirinya sendiri. Orang tersebut sedang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya yang tak mengenal attitude dan tak tahu apa itu attitude jadi alangkah baiknya meladeni segala hinaan, makian ataupun sumpah serapah yang ditujukan kepada kita dengan kualitas mental kita yang baik." Ega menjawab pertanyaan Amanda dengan begitu cerdas dan dewasa. Dia tidak perlu membalas perilaku jahat Nina dengan kejahatan pula. Seharusnya yang dia lakukan adalah mengingatkan Nina dengan kekhilafan yang diperbuatnya.
"Mbak benar, bukankah Rasulullah ditugaskan untuk memperbaiki akhlak manusia tapi mengapa seorang hamba yang mengaku sebagai umatnya malah tidak memiliki akhlak yang mulia itu, heran? Apa orang tersebut tidak meneladaninya atau sebatas mengaku sebagai umat saja tapi enggan menjalani ajaran itu," ucap Fiza menyambung perkataan Ega sekaligus mempertanyakan keheranannya.
"Hebat, merasa diri sudah baik jadi boleh kalian menyerangku dengan sindiran seperti ini. Aku tidak takut dengan kalian, kalian hanyalah sampah yang tak berguna masih berani menyerang berlian. Kalian tak ubahnya lalat yang nambol pada Lelaki yang tak memperdulikan kalian. Tempat yang cocok untuk kamu, kamu, dan kamu di Tong sampah," ucap Nina emosi. Dia menunjuk wajah satu persatu dengan tatapan nyalang.
__ADS_1
huft
Ketiga Gadis itu beristighfar berjamaah. Mereka mengelus dada masing-masing sembari menggelengkan kepala tak percaya apa yang didengar.
"Dasar Wanita yang dikerubungi Setan, iya ini perkataannya gila semua. Jadi kamu merasa tersindir? Baguslah merasa tersindir, Berlian palsu mah gitu! sakit hati. Males lama-lama disini, percuma juga dibacakan Ayat kursi jika keras kepalanya Naudzubillah." Amanda sudah bosan meladeni Wanita rayap ini. Dia memilih untuk keluar dari kamar itu. Maksud hati memberikan perhatian karena rasa empati melihat Wanita itu kesakitan eh malah dihujat. Hatinya sangat kesal hari ini.
Baru saja hendak keluar Amanda mendengarkan teriakan dari Nina.
"Beniiiiii." Nina berteriak sekencangnya untuk menarik perhatian Laki-laki itu.
Mendengarkan teriakan Nina, semua Lelaki menghampiri Kamar Nina takut terjadi sesuatu kepada Nina.
"Apa yang terjadi?" tanya Beni mewakilkan yang lain.
"Beni, perutku sakit tadi Ega menekan perutku sangat keras sehingga bertambah sakit. Calon Bayi kita pasti merasakan kesakitan. Aku takut terjadi sesuatu dengan calon Bayi kita. Bawa aku dari tempat ini, aku takut Ega mencelakaiku dan calon bayi kita." Nina berkata dengan terbata-bata mengadu apa yang dilakukan Ega dengan berurai airmata.
"Mereka bertiga menyerangku dengan kata-kata hinaan dan makian. Aku tertekan Beni, aku takut Bayi kita akan stres lalu tidak bertahan. Aku mohon Beni, bawa aku ketempat yang aman dan tak ada ancaman untukku dan bayi kita. Aku mohon Beni, hikz hikz hikz." Nina mengadu dengan kata-kata yang sanggup menyayat hati yang mendengarnya. Dia menangis memperlihat kesengsaraannya. Tentu saja membuat para cowok iba. Mereka menatap kearah Ega, Amanda dan Fiza dengan pandangan tanya untuk mencari kepastian dengan apa yang didengar. Mereka juga terkejut dengan sebutan bayi kita. Bayi siapa yang dimaksud?.
"Calon Bayi? apa maksud ante Nin?" tanya Rian heran.
"Kamu hamil Nina?" tanya Juna terkejut.
"Apa maksudnya? mengapa kamu bilang calon bayi kita kepada Beni? apa yang menghamili kamu Beni?" tanya Dipta tak percaya.
Nina menganggukkan kepalanya memberitahu apa yang terjadi padanya saat ini. Dia sedang mengandung dan menginginkan Benilah yang mengakui bahwa anak yang berada dalam kandungannya adalah anaknya.
Beni yang mendengarkan pengakuan Nina itu sangat terkejut. Dia tidak menyangka Nina telah berani memfitnahnya.
"Astaghfirullah. Kenapa kamu memfitnah saya Nin? kapan aku melakukannya? dimana aku melakukannya?" tanya Beni bertubi-tubi.
"Mengapa kamu lupa Beni? kenapa kamu selalu mengelak? bahkan kamu membantah kalau akulah orang yang telah menolong dan mendonorkan darah untuk menyelamatkan nyawamu. Kenapa kamu memungkiri itu?" ucap Nina mengungkit masa lalu itu.
"Sekarang aku ingin kamu menikahiku untuk membalas apa yang telah aku lakukan kepadamu dulu. Aku memintanya Beni, sekarang balaslah tetesan darah yang pernah aku berikan kepadamu." Nina menyambung kata-katanya.
Beni hanya terdiam tak sanggup berkata apapun untuk membantah apa yang diucapkan oleh Nina. Untungnya pandangan semua sahabat masih mempercayainya dan meragukan pengakuan Nina. Dia lantas berpikir harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalah ini. Haruskah dia menikahi Nina? karena tidak ada jalan lain selain menikahinya. Beni sadar Wanita ini akan terus memburunya sampai dia bersedia menikahinya. Sekarang dia sudah berani memfitnahnya tidak menutup kemungkinan dia akan mengadu kepada kedua orang tuanya dengan siasat. Nina tidak akan memberikan kesempatan kepada Beni untuk membela diri. Wanita itu sangat gigih.
"Okay, saya akan menikahimu jika benar anak yang kamu kandung itu anakku. Satu lagi jika kamu tahu siapa nama panggilan kecilku maka saya pastikan akan menikahimu. Minimal kamu menyebut nama panggilan kecilku saja maka saya akan bersedia menikahimu. Jika kamu tidak bisa menjawabnya saya harap jangan pernah mengangguku dan juga Isteriku lagi," ucap Beni terdengar serius. Dia yakin tidak satupun yang tahu nama panggilan kecilnya kecuali Ega. Egalah yang mengetahuinya karena saat kecelakaan itu ada Almarhum Kakeknya yang terlebih dahulu datang dan bertemu Ega. Kakek memanggilnya dengan nama panggilan kecilnya sehingga Ega mengetahuinya.
Nina tersenyum bahagia, wajahnya berseri-seri dengan mata berbinar-binar.
"Benarkah Ben, kamu tidak lagi berbohong, kan?" tanya Nina semangat.
"Sekarang jawab saja," sahut Beni dingin.
Ega menatap Suaminya dengan wajah kebingungan dan juga cemas. Bagaimana kalau Nina mengetahui nama panggilan kecil Beni. Itu artinya Beni akan bersedia menikahi Nina dan Nina akan menjadi madunya. Dia milihat ketegasan dalam raut Beni sekaligus ketenangan disana. Dia melihat tatapan hangat dan penuh cinta yang tertuju padanya dari Suaminya itu.
"Kamu yakin dengan langkah ini? bagaimana jika Nina bisa menjawabnya apa kamu akan menikahinya? bagaimana dengan perasaan Isterimu? kamu telah menyakitinya." Juna mengingatkan agar Beni memikirkan hal itu dan membatalkan ide konyol ini agar bisa terlepas dari Nina.
"Iya, saya akan menikahinya. Saya selalu tahu apa yang saya katakan dan tentu saja akan melaksanakan apa yang saya katakan. Lelaki yang dipegang adalah perkataannya," ucap Beni tegas tanpa keraguan disana. Dia menatap Nina dengan sorot mata dingin lalu beralih memandang wajah Ega dengan sangat lekat, hangat penuh cinta. Dia selalu akan mencintai Wanitanya itu, hanya dia.
__ADS_1
"Tentu saja nama panggilan kecil kamu yaitu Beben. Bukankah benar apa yang aku sebut. Nama panggilan kecil kamu yaitu Beben, Beben dan Beben. Sekarang kemarilah sayang peluk aku, Lelakiku Beni Hardian mendekatlah. Kita akan menikah." Nina menjawab dengan wajah bahagia. Dia melihat senyum Beni yang mengembang. Baru kali ini melihat senyum Beni yang sangat indah penuh cinta untuknya. Senyum itu seakan membenarkan jawabannya. Nina saat ini sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga karena Beni akan bersedia menikahinya.
Bersambung.