
Ega meneliti angka demi angka yang ada di layar komputer. Ada selisih enam rupiah yang belum ditemukannya. Terus saja mencari namun tak ditemukannya malah angka-angka itu seakan mengejek meragukan kejelian yang dimilikinya. Pikirannya sedang terpecah menjadi dua sehingga dia tidak fokus. Semua ini disebabkan hilangnya Nina dan sampai detik ini tidak ada yang tahu keberadaan Nina.
Ega mendengus kesal kenapa dia kehilangan konsentrasinya? Kemana perginya Nina dan dimana tempat persembunyian angka yang sedang dicarinya.
Hari-harinya menjadi rumit ketika kedatangan Laki-laki yang bernama Lexi dan lelaki itu tiba-tiba saja datang mengganggu tidurnya.
Ega dan Para Sahabat tidak mendapatkan petunjuk apapun setelah mereka menyelidiki posisi terakhir Nina.
Kemaren malam. Ega, Beni, Dipta, Juna dan Rian menyisir tempat terakhir Nina terpantau oleh sistem canggih yang dimiliki Evan. Mereka bertanya pada Pemilik Warung dan orang-orang di sekitar lokasi apakah melihat seorang Gadis yang diperlihatkan fhotonya.
Salah satu dari mereka melihat memang ada seorang gadis yang wajahnya persis yang ada di fhoto. Gadis itu berjalan menuju arah perumahan tempat Ega tinggal tapi ketika hendak melangkah tiba-tiba berhenti sebuah mobil mewah tepat di hadapan gadis itu. Mereka pikir Gadis itu sama pengemudi mobil tersebut saling kenal sehingga mereka tidak curiga dan benar saja dugaan mereka setelah beberapa menit mengobrol Gadis yang mereka lihat kemudian masuk ke dalam mobil lalu Mobil tersebut meninggalkan tempat berdirinya Nina.
Sayang sekali informasi yang didapatkan tidak memberikan petunjuk apapun karena tidak jelas siapa orang yang mengajak Nina mengobrol dan membawanya pergi.
"suram."
Mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pencarian hari Senin setelah mereka pulang bekerja. Dan hari senin nyatanya hari tersuram bagi Ega karena dia harus menemukan enam angka yang merupakan biang kerok dari ketidak seimbangan data yang dimilikinya dengan data yang dimiliki bagian Akuntansi.
Disela dia berkutat dengan angkanya, fokusnya terhenti saat rekan kerjanya bernama Ana menghampirinya dengan pandangan sumringah.
"Belum ketemu selisihnya? kalau belum ketemu juga cari saja di bawah pohon buah jamplung," canda Ana sambil memainkan pena yang dibawanya.
"Sudah, istirahat sana semakin dicari angkanya semakin bersembunyi. Sepertinya angkanya sedang mengajak kamu main petak umpet. Tinggalin saja nanti lelah sendiri lalu menampakkan diri," lanjut Ana bergurau yang membuat Ega tersenyum geli.
"Oh ya hampir lupa, ada yang mencari kamu tuh makanya saya kesini," ucap Ana lagi memberitahu kedatangan seseorang yang membuat Ana menghampirinya.
"Siapa?" tanya Ega kebingungan. Dia merasa tidak pernah buat janji dengan siapapun hari ini. Jika yang menemuinya adalah salah satu dari sahabatnya mana mungkin menghampiri begitu saja tanpa terlebih dahulu menghubunginya.
"Udah, enggak usah bengong, temuin gih! jangan bikin orang terlalu lama menunggu." Ana mengingatkan Ega yang dilihatnya masih diam di kursi dengan wajah bertanya-tanya.
"Orangnya Laki-laki, ganteng lagi terus yang pastinya bukan si San San-mu itu," sambung Ana memberitahu.
"Baiklah, saya akan menemuinya. Minta tolong intip angka-angka nakal itu siapa tahu saja hendak menghampiri benteng saya," gurau Ega yang membuat Ana tertawa kecil.
Ega menghampiri ruang penerima tamu. Sebelumnya dia mengetuk pintu dan memberi salam namun tidak ada balasan dari arah dalam.
Ega masuk ke Ruang itu dan menemukan seorang Laki-laki berkulit putih dengan fostur tubuh tinggi dan tegap. Sekilas melihatnya Lelaki itu sangat tampan dan memiliki bola mata cokelat yang melelapkan.
"Well, jadi ini yang bernama Ega Fajrina. Tidak disangka ternyata Beni memiliki adik secantik ini kalau tahu begitu kenapa aku tidak memburu adiknya saja kenapa harus tertarik dengan Kakaknya," cerocos Laki-laki itu begitu bertemu dengan Ega.
Ega mengerutkan keningnya tidak merasa mengenal laki-laki yang sedang berbicara dengannya.
Laki-laki itu tertawa renyah menyaksikan kebingungan Ega yang terlihat nampak lucu.
"Hai, kenapa bingung, apa karena tanda tanya bergelayut manja pada otakmu sehingga tidak mampu untuk berpikir," ucap laki-laki itu kembali. Dia tersenyum melihat raut Ega yang keheranan. Gadis itu hanya terdiam tak menanggapi apa yang diucapkan oleh Lelaki yang sedang duduk di hadapannya. Saat ini Gadis itu sedang linglung karena tak mengerti apa yang sedang diinginkan tamunya ini. Dia tak mengenalnya, terus apa tujuan menemuinya di Kantor. Apa urusan Kantor? Jika urusan Kantor tapi mengapa tidak segera mengutarakannya secara gamblang.
"Apa perlu saya memperkenalkan diri? Saya pikir kamu mengenaliku Nona?" ucap lelaki itu seakan sengaja memanasi kuping Ega.
Ega hanya diam saja mendengarkan segala ocehan yang bersifat pasif yang tidak berfaedah untuknya. Siapapun laki-laki ini tidak berpengaruh pada kinerjanya pada hari senin kelabu ini.
"Baiklah biar kamu tidak penasaran, saya Lexi Aditama? kamu beruntung Nona karena seorang Lexi Aditama menemuimu," ucap Laki-laki bernama Lexi Aditama memperkenalkan diri bersama senyum lebarnya menyambut kedatangan Ega.
__ADS_1
Mendengarkan itu membuat Ega tersentak kaget. "Apa urusan Lexi Aditama menemuinya. Apa sekarang aku adalah incarannya," batin Ega berusaha menenangkan diri. Dia agak tegang dengan pengakuan laki-laki ini. Kenapa wajah Lexi yang ada di hadapannya berbeda dari yang terlihat di fhoto. Aslinya lebih tampan dan terlihat biasa-biasa saja.
"Jadi anda bernama Lexi? ada perlu apa anda menemui saya?" tanya Ega senormal mungkin.
"Saya merindukan dirimu? melihat fhotomu membuatku tidak bisa tidur nyenyak," jawab Lexi sambil tersenyum tipis.
Ega geleng-geleng kepala mendengar pengakuan yang sungguh tidak bisa dicernanya. Pikirannya saat ini tambah mumet.
"Baiklah, saya sudah berada di hadapan anda jadi sekarang apa yang anda ingin lakukan?" Ega mulai memancing maksud dari kedatangan Lexi.
"Ternyata kamu mengerti perasaanku Baby. Aku inginkan Beni, laki-laki yang membuat jantungku berirama kencang bak musik yang dimainkan oleh seorang DJ Macho," jawab Lexi bersemangat. Dia sudah mulai berbicara tidak karuan.
Mendengarkan itu membuat Ega berpikir kemana ia akan membawa laki-laki tidak waras ini agar tidak membuat seisi kantor gempar.
"Okay, saya akan memberikan informasi tentang kak Beni tapi ikuti saya dulu sebelum mengatakan sesuatu hal terpenting dari Kak Beni. Saya rasa kamu pasti suka." Ega sengaja berbasa basi kepada Lexi dan membawanya keluar dari area kantor agar tidak terjadi sesuatu yang akan menggemparkan seisi kantor.
Gadis manis itu tidak habis pikir kenapa Laki-laki yang bernama Lexi dengan beraninya menghampirinya di tempat kerjanya lagi.
Ega izin kepada Atasannya untuk keluar sebentar dan mengajak Lexi ke rumah makan terdekat. Dia mengambil Jaketnya untuk menyamarkan seragam dinasnya. Bisa-bisa kena Sidak dari Pol pp jika dia menampakkan seragam-nya.
Sesampainya di rumah makan bernuansa tradisional, dimana berjejer berugak-berugak tempat pengunjung di jamu dengan menu andalannya. Ega memilih tempat paling pojok agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Mereka berdua duduk lesehan saling berhadapan.
"Informasi apa yang ingin kau ketahui tentang Kak Beni?" tanya Ega memulai pembicaraan.
"Jadi, informasi apa yang kamu miliki? apa Beni tertarik denganku?" Lexi malah balik bertanya sambil tersenyum puas karena ucapan terakhirnya pasti membuat Gadis manis di hadapannya gedeg kemudian menelan Tissu beserta tempatnya.
"Tentu saja Kak Beni tertarik denganmu Lexi karena berhasil mengacaukan hidupnya. Selama ini Kak Beni tidak pernah peduli ataupun memikirkan seseorang tapi kali ini Kak Beni teramat memikirkanmu." Ega menjawab dengan nada semanis mungkin padahal dalam hati ingin rasanya mencacah kata-katanya kemudian melemparkannya ke muka Lexi.
"Benarkah? aku suka itu," ucap Lexi sambil menancapkan bola mata liarnya ke manik indah milik Ega.
Melihat mata Lexi sudah mulai liar membuat Ega tidak tenang. Dia harus hati-hati dengan Lelaki di hadapannya.
"Tentu, jadi apa maumu dari Kak Beni?"
"Cintanya," sahut Lexi tegas. Jawaban itu langsung terucap tak menunggu beberapa detik untuk berpikir. Lexi seakan tahu, itu yang akan ditanyakan oleh Ega sehingga tidak perlu berpikir. Pandangannya penuh gairah. Dia tersenyum penuh cinta seperti orang kasmaran.
"Mengapa kamu menyukai Kak Beni? Bukannya kamu sedang mengincar Abang Juna?" tanya Ega dengan rasa muak dan jijiknya. Lelaki ini terbukti mengalami sakit jiwa.
"Siapa Abang Juna yang kamu maksud? aku tidak mengenalnya." Terdengar suara Lexi sudah mulai berubah tidak seceria menyebut nama Beni. Sepertinya Lexi tidak suka Ega bertanya tentang Juna.
"Orang yang kamu teror di Medsos dan juga nomernya. Jangan berlagak pilon, saya yakin kamu pasti mengenalnya. Apa masalah Juna sehingga kamu mengganggunya?" tanya Ega seakan meluapkan segala kekesalannya.
"Aku tidak pernah menganggu orang bernama Juna. Siapa Juna?" tanya Lexi pura-pura bingung namun sorot matanya tidak terlihat tenang malah mengalihkan pandangannya.
"Okay, saya minta maaf mungkin saya salah orang, maafkan saya Lexi karena saya pikir kamu mengganggu Abangku yang bernama Juna ternyata salah sasaran seharusnya Mandala, bukan?" Ega kembali melancarkan kekesalannya dengan langsung saja menyebut nama Mandala.
Mendengar nama Mandala membuat telinga Lexi memanas dan juga raut mukanya memerah bak udang rebus. Lexi mengepalkan tangannya menahan amarah dan juga matanya mulai memerah.
"Jangan sebut Mandala di hadapanku, laki-laki Baj**gan itu tidak pantas didengar oleh telingaku. Gara-gara dia, Nara menolakku dan karena dia Naraku terluka dan ingin rasanya aku membalut lukanya tapi Nara malah menolakku dan mencampakkan aku. Aku marah dan aku ingin orang yang bernama Mandala itu menderita seumur hidupnya seperti apa yang aku rasakan selama ini. Aku akan puas jika Mandala hancur berkeping-keping seperti abu lalu terbang terbawa angin, wuuuuus," cerocos Lexi seperti tidak menyadari apa yang sedang diucapkannya. Ega tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam apa yang diucapkan Lexi.
"Hahahaha." Terdengar suara tawa Lexi menggema di Berugak itu yang berdinding bambu.
__ADS_1
Mendengar suara tawa Lexi membuat Ega merinding. Gadis manis itu mulai ketakutan namun dia menahannya agar terlihat normal. Jika dia ketakutan tentu saja membuat Lexi bahagia.
"Apa kamu mengenalnya? Sebaiknya jangan katakan itu karena aku takut kamu yang akan menjadi sasaran selanjutnya," ucap Lexi melembutkan suaranya sambil memandang Ega dengan tatapan penuh persahabatan.
Ega hanya diam dengan pikiran bingung kenapa Laki-laki ini bisa berubah seperkian detik dan sekarang dia bertingkah manis di hadapannya. Ega ingin mengatakan sesuatu namun Lexi terlebih dahulu memperdengarkan suaranya.
"Jangan katakan kalau kamu mengenal Mandala, aku tidak suka itu. Aku tidak ingin menyakitimu karena aku menyukai mata indahmu itu. Aku merasa terlelap disana yang semula tidak bisa terpejam," ucap Lexi terdengar tulus.
Tentu saja pengakuan Lexi membuat Ega terkejut tidak percaya. Apa yang diinginkan Lexi sebenarnya?. Lexi ternyata sulit ditebak dan itu cukup membuat Ega sakit kepala.
"Jika saya mengenal Mandala apa yang hendak kamu lakukan?" Tanya Ega memberanikan diri agar sedikit
mengetahui arah pikiran Laki-laki di hadapannya.
"Aku akan melenyapkan semua orang yang dekat dengan Mandala termasuk kamu meskipun aku menyukaimu," sahut Lexi dingin. Dia mulai memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Mandala.
"Maksudnya?"
"Aku Ingin membuat Mandala tersiksa dengan rasa sakit kehilangan orang yang menyayanginya." Lexi mengeluarkan ancamannya yang membuat Ega merinding.
"Baiklah Lexi sepertinya jam istirahatku sudah habis. Aku tidak mau ditegur karena telat kembali ke Kantor," ucap Ega sudah mulai tidak berminat berbicara dengan Lexi. Tidak ada manfaatnya sama sekali karena tidak tahu arah dan tujuannya. Dia memilih untuk mengakhiri pembicaraan yang tak berfaedah untuknya dan tentu saja menyumbang rasa sakit di Kepalanya.
"Akan aku tutup kantor itu jika itu yang terjadi," ucap Lexi terdengar sombong.
"Saya percaya kamu bisa melakukan itu tapi saya tidak bisa berlama-lama mengobrol denganmu Lexi. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan jadi maafkan aku tidak bisa menemani kamu." Ega mengatur kalimatnya agar indah didengar oleh Lexi meskipun Gadis itu harus meminta maaf demi menyenangkan hatinya. Itu tak mengapa.
"Baiklah, temui aku nanti di tempat yang akan saya serlok lokasinya jika ingin bertemu dengan Sahabatmu. Aku Ingin kamu sendiri karena kita akan berkencan berdua menikmati indahnya Sunset." Lexi meminta kepada Ega agar dia menemuinya jika ingin bertemu dengan Sahabatnya.
"Apa maksudnya?" tanda tanya bergelayut mesra di kepalanya. Apa mungkin Sahabat yang dia maksud adalah Nina.
"Apa maksudmu Lexi? Apa kamu yang menculik Nina?" Pada akhirnya Ega menanyakan kebenaran yang sedang disembunyikan oleh Lexi. Dalam pikirannya, mana mungkin Lexi akan mengakui. Penjara akan langsung penuh.
"Kamu akan tahu sendiri, apa aku menculik orang yang kamu sebut Nina atau tidak," sahut Lexi sambil tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.
"Baiklah aku akan menemuimu dimana? Kapan dan jam berapa?" Ega akhirnya menyetujui kemauan Lexi agar dia tahu dimana keberadaan Nina. Benar dugaan Ega, Lexi tidak segampang itu mau berbicara.
"Nanti sore di Village XXX, aku tunggu kamu karena aku ingin menikmati kebersamaanku bersamamu," sahut Lexi terdengar penuh harap agar Ega mau mengabulkannya.
Ega malas menanggapi ocehan Lexi yang sudah tidak beraturan. Gadis manis itu lebih memilih secepatnya meninggalkan Laki-laki itu.
"Jangan abaikan permintaanku demi keselamatan Sahabatmu itu." Lexi meluncurkan ancamannya yang membuat
Ega memeras otaknya apa yang akan dilakukan nanti sore.
"Aku akan datang, Insha Allah dan pegang janjiku. Sebaiknya kamu istighfar Lexi jangan biarkan emosimu menguasai akal sehatmu. Jangan gara-gara kebencianmu membutakan hati nuranimu. Aku yakin kamu memiliki sisi baik jadi gunakan sisi baikmu itu dan jangan terlalu menuruti sisi buruk yang menyesatkamu lalu membuatmu hancur." Ega mengutarakan unek-uneknya berupa nasehat kepada Lexi entah didengar atau tidak yang terpenting dia sudah mengingatkan Lexi. Gadis itu meninggalkan Lexi sendirian tanpa menoleh lagi. Dia tidak melihat raut wajah Lexi yang cerah dan senyum mengembang terpancar pada wajahnya yang tampan.
" Aku menyukai itu Ega."
Lexi memandang tubuh tinggi semampai itu hingga tak terlihat lagi. Dia masih saja diam diposisi semula tanpa ingin beranjak pergi. Lexi seakan menikmati pertemuannya itu. Dia tersenyum cerah, sesekali meraba jantungnya yang terasa tak baik-baik saja.
Bersambung.
__ADS_1