
"Mas Ivan!" serempak mereka berucap, menyebut nama Lelaki itu.
"Untuk apa dia kesini?" tanya itu berkeliaran dibenak masing-masing bagaikan bola api yang berputar-putar dalam arena permainan.
Ivan, Lelaki itu membawa kecemasan yang tergambar nyata pada wajah tampannya.
"Apa dia sedang bersandiwara atau memperlihatkan kesuguhan?. Entahlah! tak ada satupun yang bisa membaca niat dari Lelaki yang kini menjelma menjadi tamu kehormatan.
"Bagaimana keadaan Ega?" tanya Ivan mengutarakan tujuan dari kehadirannya.
"Alhamdulillah, Isteriku baik-baik saja. Sangat bersyukur Tuhan melindunginya dari niat buruk seseorang." Beni menjawab dengan nada sedatar mungkin namun mengandung ancaman bagi yang merasa.
"Alhamdulillah," ucap Ivan bersyukur. Tidak ada yang aneh ditunjukkan oleh Lelaki itu. Pembawaannya tenang seolah dia tak bersalah. Apa mungkin dia tak bersalah? Entahlah! saat ini belum terlihat keterlibatan yang dia tunjukkan.
Disana, hanya kecemasan yang mampu terbaca oleh siapapun yang melihatnya. Beni menyadari Lelaki mantan ini masih menyimpan hasrat. Dia dengan gamblang menunjukkan perhatiannya tanpa peduli seperti apa pikiran Lelaki yang menjadi Suami dari Wanita ini.
"Darimana Mas Ivan tahu kalau Isteri saya terjatuh?" tanya Beni.
Saat ini antara mereka berdua yang berinteraksi sedangkan yang lain hanya terdiam. Dipta dan Evan berusaha melihat celah untuk menemukan kebusukan yang tersimpan di hati Lelaki bernama Ivan Alkaeri.
Terlalu sempurna jika dia melakukan kejahatan. Lihatlah, dia tak menunjukkan sedikitpun adanya kebusukan. Hanya sopan santun yang melekat dalam setiap bahasa tubuhnya. Jadi percuma saja Beni dan Juna menyelidiki dalam diam jika yang mereka temukan kemustahilan.
Namun bukti mengarah kepada Ivan Alkaeri. Hal itu tidak bisa dibantah lagi. Apa Pin itu bisa dijadikan alat bukti yang ditemukan dan bisa di uji kebenarannya? pertanyaan itu terpikir oleh Dipta yang sedikit tahu dengan sebuah kasus.
"Tadi saya mendengar obrolan dari orang-orang. Mereka menceritakan bahwa ada dua orang terjatuh ke Jurang. Mereka menyebut nama Ega dan Juna. Saya pikir Ega dan Juna yang dimaksud adalah Ega dan Juna yang saya kenal. Karena itu saya kesini untuk memastikannya." Ivan menjelaskan.
"Mas Beni, apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Mas Beni seolah merasa ada yang berniat mencelakai Ega? lanjut Ivan bertanya. Dia penasaran dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Beni.
"Iya, kami menemukan fakta bahwa kecelakaan yang dialami Isteri saya dan Juna bukan sebuah kecelakaan murni melainkan kesengajaan. Ada seseorang dengan sengaja mendorong seorang Pemuda sehingga Pemuda tersebut menabrak Isteri saya. Kami menemukan bukti dan mengantongi nama seseorang. Berdasarkan itu kami akan mengusut siapa Pelakunya dan memastikan dia akan mendekam di Penjara." Beni menjawab dengan menekan semua kata-katanya. Setiap kata yang terucap dari Beni merupakan sebuah ancaman yang terdengar begitu tajamnya.
Ivan mengkerutkan dahinya, ada keterkejutan yang dia nampakkan sesaat. Namun keterkejutan itu bukan sebuah petunjuk bahwa dialah yang melakukannya. Melainkan raut itu menambah buramnya kebenaran.
"Disengaja? mengapa ini bisa terjadi?" tanya Ivan penasaran.
"Kita belum bisa memastikan tujuannya. Tapi kami pasti akan menyelidiki dan menemukan Pelakunya," ucap Evan ikut mengambil bagian dalam pembicaraan antara Beni dan Ivan.
"Saya percaya dengan bakat kalian," sahut Ivan memberikan semangat.
Evan hanya mengangguk dan menyembunyikan kepekaan. Evan meragukan bahwa Ivan Alkaeri akan berkhianat dengan perasaannya. Dia tidak meragukan cinta yang dimiliki Lelaki itu kepada Ega. Mungkin saja bisa terjadi jika ternyata obsesi menguasai pikiran. Orang yang semula baik bisa menjadi Penjahat jika keinginannya tak tercapai.
Kata orang, Cinta bisa membuat orang menjadi jahat dan juga menjadi baik. Tergantung hati mau menjadi seperti apa.
Saat mereka menikmati keheningan. Ega membuka mata. Dia masih melihat teman-temannya masih setia disana.
"Kalian masih disini? jam berapa sekarang? kapan kalian akan kembali ke Mentaram?" Ega berucap yang kesemuanya merupakan pertanyaan.
"Kamu mengusir kami, Ega?" tanya Dipta.
"Bukan seperti itu Dipta. Besok hari Senin bukannya kalian semua harus ke Kantor pagi-pagi sekali. Saya kasian dengan Evan yang rumahnya paling jauh," sahut Ega memberikan alasan.
"Kami mengkhawatirkan mbak. Kami ingin memastikan mbak Ega baik-baik saja baru kita pulang. Rasanya tidak tenang meninggalkan mbak kalau mbak Ega belum benar-benar pulih," ucap Amanda memberikan perhatiannya.
"Iya mbak, kita mana mungkin meninggalkan mbak dalam kondisi seperti ini," timpal Fiza ikut memberikan empati.
"Terima kasih, kalian perhatian banget. Saya baik-baik saja kok. Ada Kak Beni yang merawat saya. Besok juga Insha Allah sudah di izinin pulang. Mungkin malam ini kita berdua menginap disini."
Beni mengangguk sebagai dukungan atas pernyataan Isterinya. Kemungkin hari esok baru Ega akan diizinkan keluar dari Puskesmas Bayan.
__ADS_1
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Ega. Hari sudah menjelang sore mau ke Jingga. Sebaiknya kita siap-siap balek ke Mentaram takutnya entar kemalaman." Rian sedari tadi tak menyumbangkan suaranya pada akhirnya mendukung keinginan Ega.
"Benar juga sih, besok pagi saya ada rapat di balai Desa. Tapi rasanya saya enggak sanggup langsung pulang ke Jenever malam ini," sahut Evan menimbang jarak dan waktu tempuh ke Desanya.
"Saya nginep di Kost kamu, boleh Abang Jun?" lanjut Evan kemudian.
"Boleh, bagaimana kalau nginep di kamar cowok keren sekalian kita jaga Saik Aminah. Siapa tahu saja ada yang culik," sahut Juna sembari terkekeh menyadari ucapannya.
"Nah Ketahuan ante naksir sama Saik Aminah? jangan-jangan ante Oedipus Complex. Penyakit yang lebih cenderung suka sama orang yang lebih tua." Rian mengomentari pernyataan Juna.
"Kok Mas Rian tahu? pinter banget nebaknya. Ajarin dong? Saya mau belajar sama ante biar bisa menebak ke dalaman hati Saik Aminah," sahut Juna membentuk sebuah kekehan diakhir kata.
Semua orang ikut tertawa mendengarkan pernyataan dari Juna. Dia tahu Lelaki itu hanya becanda. Saik Aminah sudah dianggap orang tua mereka jadi wajar semuanya sangat akrab dengannya.
"Kalian becanda melulu. Kasian Saik Aminah pasti sekarang menggigit Lidahnya karena sedang diomongin sama anak-anaknya yang tak punya akhlak." Ega berucap sembari geleng-geleng melihat tingkah mereka.
"Iya sudah, kita pulang saja takutnya Mas Rian enggak berani di Pusuk kalau kita kemalaman. Dia itu kan penakut," ucap Dipta mengakhiri obrolan.
"Dipta, kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan? tidakkah kamu menyinggung seseorang. Jangan mengumbar kelemahan Rian jika ada Fiza disini." Beni mengingatkan Lelaki berpipi bakpao. Dimana penyakit keceplosannya sulit disembuhkan.
"Ops sorry keceplosan," sahut Dipta. Dia menampar bibirnya dengan pelan dan memarahinya.
"Hahahahaha." Mereka spontan tertawa melihat kelucuan yang dinampakkan oleh Dipta.
"Tenang saja, jika Mas Rian takut biar saya yang menenangkannya," ucap Fiza pada akhirnya bersuara. Sedari tadi dia hanya menyimak pembicaraan di antara mereka.
"Cieeeeee."
Semua orang ribut menanggapi perkataan Fiza dengan menggoda ke dua insan itu. Nampak Fiza tersipu sedangkan Rian tersenyum sumringah.
"Sepertinya Lampu hijau sudah menyala nih! tancap Gas biar cepat ke Pelaminan. Jangan mau kalah dengan Evan dan Amanda. Ayo kalian saling salip," ucap Juna.
"Apa Abang pikir kita balapan karung apa?" sahut Amanda menanggapi.
"Bukan hanya karung saja dibalapkan. Menuju Pelaminan juga bisa. Ayo siapa yang duluan itulah pemenangnya," sahut Juna.
"Ayo aja, kita tunggu Abang Juna dan Dipta jadi peserta. Mana seru jika balapannya hanya kita berdua." Evan menyela pembicaraan Amanda dan Juna.
"Sepakat, kita tunggu kepesertaan Juna dan Dipta," timpal Rian.
"Saya enggak ikutan, belum kelihatan hilal," ucap Dipta dengan wajah buram.
"Pantesan hilalnya enggak kelihatan, wong muka ante debuan gitu." Rian menanggapi.
"Sepertinya Mas Rian dendam sama saya. Mas Rian benar, wajah saya berbedak debu. Saya lupa menggosok wajah saya dengan amplas," sahut Dipta cemberut.
Mereka kembali tertawa. Lelah bercengkerama pada akhirnya mereka berpamitan kepada Beni dan Ega untuk kembali ke Mentaram. Sedangkan Beni dan Ega akan bermalam di Puskesmas Bayan. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Desa Madayin jika Ega sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.
Ivan, Lelaki itu juga berpamitan. Dia meninggalkan kamar Ega dengan langkah berat. Keluar dari Puskesmas dia menghubungi seseorang.
"Kamu berhasil, saya akan menginap disini."
***
"Kak Beni belum ngantuk?" tanya Ega. Saat ini hanya mereka berdua yang tertinggal.
"Belum, sini rebahan pada tempat ini," jawab Beni. Dia menepuk dada bidangnya. Ega mengangguk dengan sebuah senyum kecil. Dia masih malu-malu bermanja ria pada dada bidang itu.
__ADS_1
Beni naik ke atas brangkar lalu ikut merebahkan diri pada brangkar yang ditempati Ega. Ega segera menempatkan kepalanya pada dada bidang itu.
"Aku sangat ketakutan saat melihat tubuh kamu berguling menuju jurang. Rasanya aku kesulitan bernafas. Aku tidak ingin berpikiran hal buruk yang terjadi denganmu. Aku ketakutan Ega, aku sangat ketakutan. Aku tidak mau kehilangan kamu. Apa jadinya hidup seorang Beni tanpa ada pujaan hatinya ada di sisi." Beni mengutarakan apa yang dirasakan saat kecelakaan yang dialami Isterinya. Dia mengelus pucuk kepala isterinya dengan lembut. Sesekali dia mendaratkan kecupannya.
"Terima kasih. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Buktinya aku ada disini, di samping Kak Beni. Aku tidak akan meninggalkan Kak Beni. Belum saatnya untuk itu, semoga," sahut Ega berharap. Dia memandang wajah putih yang menurutnya sangat tampan.
Ivan Alkaeri memang lebih tampan dari Beni Hardian. Namun wajah putih bersih Beni yang teduh mampu memudarkan ketampanan siapapun.
Pun begitu dengan Ega, meskipun berkulit sawo matang tapi wajah itu terlihat bersih. Aura mereka berdua sangat teduh membuat orang akan senang memandangnya.
"Maafkan Suamimu karena gagal melindungimu," ucap Beni merasa bersalah.
"Ini di luar kuasa kita sebagai manusia. Kejadiannya begitu cepat. Juna yang berusaha menolong pun ikut terjatuh. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kak Beni sudah melindungiku dengan begitu baiknya."
Ega berusaha menghibur hati Suaminya. Sejurus kemudian siapa yang mengawali. Beni dan Ega hanyut dalam permainan Lidah.
"Hem, cukup itu saja yang bisa kita lakukan. Aku tak ingin menyiksamu. Kamu masih sakit sayang," ucap Beni menyudahi pagutan mereka. Beni sadar tubuhnya meminta lebih tapi dia tak ingin memaksa jika Isterinya dalam kondisi seperti saat ini.
"Sayang, apa kamu mengenal Pin ini?" tanya Beni setelah keadaan normal kembali. Dia menunjukkan Pin yang berhasil mereka temukan sebagai barang bukti.
Ega mengambil Pin tersebut. Dia bisa melihat bahwa Pin itu berbentuk bunga dengan inisial RD.
"Iya, ini Pin milik Mas Ivan Alkaeri. Aku juga punya bross yang sama dengan Pin ini. Mas Ivan meminta kenalannya untuk membuat Pin dan Bross couple. Saya pegang Bross dan Mas Ivan pegang Pin." Ega membenarkan kalau dia mengenal Pin tersebut. Dia juga menceritakan kisah tentang Pin dan Bross itu.
"Cieeee, So sweet. nampak dalam banget cinta Raka Ivan sama Dinda Ega hingga punya barang kembaran. Aku salah saing nih! rupanya." Beni menggoda Isterinya.
"Kak Beni cemburu, kalau cemburu bilang Boss!" sahut Ega balik menggoda.
"Bukan cemburu, hanya saja kalian berdua lebay. Raka dan Dinda, sok kekerajaan. Sekarang tuh zamannya Hubby dan Habibati. Ini Raka dan Dinda, enggak banget deh." Beni menyahuti dengan menggoda. Ada kekehan dan candaan yang terdengar di kamar berukuran sedang itu.
"Sudah ketawanya? aku lelah tahu cemberutnya."
hahahahaha
Beni tertawa lagi atas perkataan Isterinya. Dia menekan perutnya yang mulai terasa sakit efek dari tawanya. Untungnya Puskesmas dalam keadaan sepi. Kalau ada yang menempati kamar di sampingnya mungkin mereka berdua akan mendapatkan gerutuan.
"Kak Beni darimana dapet Pin ini?" tanya Ega penasaran dengan keberadaan Pin yang dipegangnya.
"Apa kamu percaya kalau Pemilik Pin ini yang berusaha mencelakai kamu?" tanya Beni sebelum menjawab. Beni melihat jawaban Ega yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Tuh kan? kamu membela Si Ivan Alkaeri itu? karena dalamnya cinta yang kamu miliki kepada Mas Ivan sehingga memilih memaafkan segala kejahatannya. Rupanya kamu sudah buta oleh tutur kata lembut, sopan dan penuh rayuan maupun pujian. Apa Mas Ivan terlalu tak mungkin bisa sejahat itu sehingga membelanya."
Beni cemberut ketika selesai mengatakan kalimat panjang yang menjemukan untuk Ega. Wanita itu tak mengerti dengan maksud dari ucapan Suaminya yang tak memiliki kandungan arti. Terlihat kekusutan yang terjadi tatkala mencerna ucapan yang berupa omong kosong.
"Sudah berpidatonya? Siapa yang membela Mas Ivan? tidak ada? saya malah tidak mengerti apa hubungan Pin dengan kecelakaan yang menimpa saya dan terus juga dengan Mas Ivan?" Ega bertanya dengan wajah kebingungan.
Beni yang melihat penampakan wajah Ega yang kerukut seperti benang yang sulit terurai mendadak menelan air yang pahit.
"Pemilik Pin ini yang berusaha mencelakai kamu. Sedangkan Pemilik Pin ini adalah Ivan Alkaeri. Bukannya kamu membenarkannya?" Beni menjelaskan.
"Iya benar itu? tapi yang menjadi permasalahannya, Pin ini hilang dan Mas Ivan tidak memilikinya lagi. Pin ini hilang beberapa hari sebelun akad nikah kita dulu akan dilangsungkan," ucap Ega menjelaskan. Tentu saja dia bingung kenapa tiba-tiba Ivan memiliki Pinnya sedangkan Pin itu hilang.
"Apa?"
Beni terkaget, berarti bukti tidak mengartikan petunjuk. Kepala Beni mendadak migren. Dia menekan pelipisnya yang terasa pening.
Bersambung.
__ADS_1