Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Bab 51. Pertemuan dengan Anisa.


__ADS_3

Plash back tanggal 5 Agustus 2018.


Ega dan Beni meninggalkan Desa Madayin. Mereka berdua sudah mengunjungi Pemukiman Warga yang benar-benar hancur dan rusak parah. Tidak ada yang tersisa sama sekali selain Puing-puing yang berserakan.


Mereka hanya bisa pasrah dan berusaha untuk bangkit kembali untuk menata hidup.


Saat ini Mobil Beni sudah berada di Kawasan


bagian Utara Pulau Lomboq. Saat mendengar suara Adzan, Beni memarkirkan Mobilnya di Pinggir jalan raya tepat pada sebuah bangunan Masjid. Saat mereka keluar dari Mobil, Beni dan Ega merasakan adanya getaran, getaran itu amat sangat terasa saat menapaki tanah. Pada saat itu terdengar teriakan dari arah bangunan Masjid dan juga rumah-rumah di sekitar.


“Gempaaaa”


Suara semakin riuh, semua warga berhamburan keluar dengan berteriak, beristigar, suara tangis dan suara mengaduh. Semua suara-suara itu menyatu.Terlihat wajah-wajah panic, terkejut dan juga khawatir yang semuanya berlari menyelamat kiri menuju tanah lapang dan jauh dari bangunan.


Ega dan juga Beni merasakan hal yang sama.


Saat ini mereka berdua masih ada di pinggir jalan raya. Mereka berdua memilih untuk duduk karena tidak memungkinkan kakinya menahan getaran yang begitu dahsyat, terasa seperti mau menenggelamkan mereka ke dasarkan Bumi. Hanya Istighfar yang terucap dari bibir mereka berdua.


“Kak Beni gelap banget, coba di hidupkan Lampu Mobilnya,” ucap Ega dengan suara hampir tidak terdengar. Saat ini tubuhnya benar-benar gemetaran karena terkejut. Ega merasakan tubuhnya sangat lemas bahkan jantungnya sudah tidak lagi berdetak secara normal namun Gadis itu berusaha menenangkan diri.


Beni menuruti keinginan Ega karena juga keadaan sangatlah gelap. Ketika gempa susulan itu terjadi, Listrik tiba-tiba saja padam membuat suasana semakin mencekam. Apalagi getaran-getaran itu masih


saja terasa, entah sampai kapan berakhirnya.


Setelah menghidupkan Lampu Mobilnya, Beni


kembali duduk bersisian dengan Gadis manis itu yang nampak sangat pucat tersorot oleh Lampu Mobil.


“Toloooooong.”


Ega mendengar ada yang meminta tolong, dia


berusaha mencari sumber suara itu karena keadaan sangatlah gelap sehingga menyulitkannya untuk mencari sumber suara itu sedangkan Lampu dari Mobil Beni tidak menjangkau sumber suara tersebut. Apalagi getaran makin terasa malahbtambah membesar. Ega mengarahkan Senter Handphonnya kea rah sebuah rumah yang


ada di depannya. Samar-samar dia melihat seorang Wanita sedang mendekap seorang anak kecil. Wanita itu dalam keadaan l terduduk, entah apa yang terjadi


dengannya. Wanita itu memberi isyarat dengan menatap ke arah atas. Ega seolah


faham, dia segera mendekati Wanita itu walaupun Kakinya seakan oleng untuk


melangkah. Dia berusaha untuk mendekati rumah dan tidak memperdulikan teriakan


Beni yang memanggilnya.


“Jangan Ga, bahaya.”  Teriak Beni, sembari ikut mendekati rumah yang dituju Ega.


“Ada orang yang meminta tolong Kak Beni,”


teriak Ega agar terdengar oleh telinga Beni karena suara-suara kepanikan dari


warga masih terdengar.


Begitu jaraknya aman dengan Ega, Wanita itu melemparkan anaknya ke arah Ega. Dengan penerangan yang seadanya, dengan singgap Ega berusaha untuk menangkap tubuh anak itu. Bersamaan dengan berhasilnya Ega menangkap tubuh anak itu, tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh dari arah atas. Beni berusaha untuk menarik tubuh Wanita itu namun naas kecepatan benda itu lebih cepat dari Beni. Mereka berdua tertimpa rerentuhan


atap rumah.


“Astagfirullah,”  ucap Ega panik. Dia berusaha menjauh dari bangunan itu dan membawa anak dalam gendongannya. Ega melihat Beni berusaha mengangkat tubuh Wanita itu yang sudah tidak sadarkan diri.


“Ga, Ibunya pingsan. Kita bawa mereka ke rumah sakit,”  ucap Beni sembari melangkah dengan cepat. Beni menggendong tubuh Wanita itu lalu merebahkan dengan hati-hati pada Jok Belakang Mobil Stradanya yang terbuka. Ega juga ikut naik ke Jok Belakang untuk menemani Wanita tersebut.


Beni melajukan Mobilnya ke arah Mentaram. Dia maupun Ega melihat di sepanjang jalan keadaan sudah kacau balau.Terlihat bangunan sudah rata menjadi tanah yang semula tadi pagi masih terlihat berdiri kokoh.Terlihat Warga sudah mulai berkumpul di lapangan terbuka untuk menyelamat diri.Tidak sedikit dari mereka mengalami luka parah dan juga luka ringan.Mungkin saja ada dari meraka yang tidak sempat menyelamatkan diri sehingga tertimbun pada bangunan rumah mereka.


Mobil Beni melaju dengan cepat bersamaan dengan Mobil-mobil bantuan lainnya yang kembali ke arah Mentaram. Selang beberapa menit Beni sudah memasuki Pelataran Rumah Sakit Kota. Keadaan di Kota lebih parah dari keadaan pusat gempa. Pasien-pasien di bantu oleh keluarga mereka yang berjaga berhamburan keluar menempati halaman, area parkir rumah sakit.


Tadi juga keadaan jalanan benar-benar macet


total, karena warga yang bermukim di sebelah barat Kota memilih untuk berhamburan keluar meninggalkan rumah dan mencari pengungsian ke arah Timur. Mereka mendengar adanya isu tsunami yang menyebabkan Warga yang bermukin dekat dengan pantai memilih untuk mengungsi menuju arah Timur yang jauh dari Zona merah.


Beni segera mengangkat tubuh Wanita itu dan


berteriak untuk meminta bantuan para Medis. Sedangkan Ega mengikuti langkah kaki Beni dan mengendong anak dari Wanita itu yang diperkirakan oleh Ega berumur sekitar dua tahun dan berjenis kelamin Perempuan.


Beni disambut oleh Para Medis yang memang


sudah siaga untuk menangani Pasien Korban bencana. Begitu Wanita itu sudah di tangani oleh Dokter. Beni dan Ega bernafas lega. Mereka berdua meninggalkan rumah sakit setelah menyelesaikan administrasi dan yakin bahwa Pasien sudah ditangani dengan baik oleh para Dokter dan perawat.


***


Esok harinya Beni dan Ega mengunjungi Wanita yang mereka tolong sedangkan anak dari Wanita tersebut Ega titip pada Saik Aminah. Saik Aminah bersedia untuk menjaganya.


Saat berada di rumah sakit, Beni dan Ega berusaha untuk mencari keberadaan Wanita yang ditolongnya. Mereka berdua tidak tahu siapa nama Wanita tersebut sehingga menyulitkan mereka berdua untuk bertanya apalagi sebagian Pasien di tangani pada Tenda darurat yang terpasang di halaman rumah sakit. Untungnya Ega sempat bertanya nama Dokter yang menanangi Wanita tersebut.


“Mbak, Pasien Dokter Firza ditempatkan ditenda mana ya?” tanya Beni kepada seorang Perawat yang berjaga disana.


“Dokter Firza, sebentar saya cek,” ucap Perawat tersebut dengan ramahnya. Dia mencari data Pasien yang ditangani oleh Dokter Firza. Setelah menemukannya Perawat tersebut memberi tahu dimana Pasien tersebut dirawat.


Beni dan Ega menuju arah Tenda yang dimaksudkan. Didalam tenda terdapat beberapa pasien yang sedang dirawat. Beni dan Ega sibuk meneliti setiap pasien yang terbaring lemah. Saat mencari, Ega melihat wajah yang dikenalnya.


“Itu Kak Beni paling pojok,”  ucap Ega menunjuk Pasien yang masih tidak sadarkan diri.


“Yakin Ga? Saya malah tidak ingat wajahnya,”  tanya Beni tidak yakin.


“Yakin, saya sangat mengenal wajahnya,” sahut Ega meyakinkan.


“Iya sudah ayok kita kesana,”  ajak Beni sembari berjalan kearah Pasien. Disana sudah ada Perawat yang sedang mengecek keadaan Pasien.


“Bagaimana keadaan pasien ini? Apakah sudah sadar mbak?” tanya Ega begitu sampai di ranjang Pasien.


“Belum mbak, dia masih tidak sadarkan diri. Keadaan Pasien stabil. Kita tunggu saja sampai dia siuman. Apa mbak dan Mas ini


keluarga Pasien?” jawab Perawat tersebut sekaligus bertanya.


“Bukan, kami yang membawa Pasien ini ke


rumah sakit. Kita belum tahu identitasnya,”  jawab Ega.


“Jadi begitu, semoga saja Pasien ini segera


sadar sehingga kita bisa menghubungi keluarganya.”


“Amin, semoga mbak,”  sambut Ega dan Beni bersamaan.

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi, nanti kalau


Pasiennya sudah sadar segera menginformasikan ke Dokter,” ucap Perawat


tersebut. Dia meninggalkan Pasien setelah menyelesaikan tugasnya.


Ega dan Beni menatap ke arah Wanita


tersebut yang terbaring tak berdaya. Terlihat Wanita itu masih muda, kira-kira


seumuran dengan Beni dan terlihat nampak cantik.


“Cantik ya Kak,”  guman Ega memandang Wanita tersebut.


“Iya,”  sahut Beni terdengar jujur.


“Naksir?”


“Enggak, hanya terpesona,”  sahut Beni datar.


“Alhamdulillah, jangan naksir sama Isteri


orang,” ucap Ega mengingatkan.


“Saya sadar kok, saya tetap setia dengan


Gadis manis berjilbab biru.” Beni menjawab dengan senyum mengembang.


“Jilbab berwarna biru, itu kan saya,” ucap


Ega menunjuk dirinya sendiri. Saat ini memang dia sedang menggunakan Jilbab


lebar berwarna Biru dengan Gamis berwarna Abu dengan aksen berwarna biru.


“Memang,”


Ega diam, dia kembali memandang wajah


Wanita yang ada dihadapannya. Mereka berdua belum tahu apa yang harus dilakukan


karena belum mendapat petunjuk apapun. Mereka hanya bisa menunggu Pasien sadar,


baru bisa mengetahui siapa dia sebenarnya.


“Kak Beni, bagaimana keadaan Abi dan Umi?


Apa mereka baik-baik saja?” tanya Ega membuyarkan lamunan Beni yang entah kemana.


“Alhamdulillah baik-baik saja, Abi dan Umi


sedikit trauma.Mereka rencananya mau membuat tenda di Taman belakang,” jawab


Beni datar.


“Terus bagaimana dengan orang tua kamu?” Beni melanjutkan dengan pertanyaan.


“Rencananya mau mengungsi ke rumah, sepertinya Mamiq sangat trauma.Saya sudah meminta tolong Saik Aminah untuk mencari


bersama dengan tetangga-tetangga.” Ega memberitahu tentang keadaan kedua orang


tua dan Kerabatnya yang akan mengungsi ke perumahan tempat tinggalnya.


“Jadi begitu,”


Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba


Pasien membuka matanya.


“Anisa,” panggilnya.


“Alhamdulillah mbak sudah sadar,” ucap Ega


senang.


“Anisa,” panggilnya lagi.


“Anak, mbak berada di rumah saya.Tenang


saja, anak mbak berada pada tempat yang aman, ada Bibik yang menjaganya,” ucap


Ega menenangkan pikiran Wanita itu.


“Terima kasih sudah mau menolong saya dan


anak saya Anisa,’ ucap Wanita itu pelan hampir tak terdengar.


“Sama-sama mbak, terpenting sekarang mbak


istirahat jangan banyak bergerak,” ucap Ega mengingatkan Wanita itu.


Beni kembali bersama Dokter yang menangani Wanita itu.Tadi Ega sempat meminta bantuan Beni untuk mencari Perawat tadi untuk memberitahu kalau Pasien sudah sadar.Dokter pemeriksaan keadaan Pasien dengan teliti dan penuh kesabaran.


“Bagaimana keadaannya Dokter?” tanya Beni


saat melihat Dokter tersebut menyelesaikan pemeriksaannya.


“Alhamdulillah keadaannya baik-baik saja,


hanya dirawat beberapa hari saja Insha Allah akan segera pulih,” jawab Dokter memberitahu.


“Alhamdulillah,” jawab Beni dan Ega


bersamaan.


Dokter dan Perawat tersebut meninggalkan


ranjang Pasien untuk melakukan pemeriksaan kepada Pasien lainnya yang di rawat pada Tenda darurat tersebut.


“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih


karena kalian telah membantu saya dan menyelamatkan Anisa,” Ucap Wanita itu

__ADS_1


berterima kasih.


“Sama-sama mbak,” ucap Ega tersenyum tulus sedangkan Beni menganggukkan kepala bersama senyum manisnya.


“Oh ya lupa, nama saya Aulia sedangkan anak


saya namanya Mutia Anisa. Biasanya saya memanggilnya Anisa,” ucap Wanita yang


bernama Aulia itu memperkenalkan diri.


“Saya Egad an Laki-laki ini bernama Beni,”


ucap Ega memperkenalkan diri dan juga memperkenalkan Beni yang sedang


bersamanya.


“Pasangan yang serasi, semoga tetap


langgeng sampai akhir hayat,” ucap Aulia mendoakan dengan tulus.


“Aamiin.”Beni mengamini harapan yang


diucapkan oleh Wanita yang ditolongnya.


Ega melongo dengan apa yang didengarnya.


Dia ingin mengklarifikasi namun buru-buru dihentikan oleh Beni.


“Mbak Egad an Mas Beni. Boleh saya meminta tolong,” ucap Aulia dengan mimic muka serius.


“Iya mbak, selama kita bisa, Insha Allah


kita akan membantu mbak Aulia,” jawab Ega tegas.


“Saya minta tolong untuk merawat Anisa anak


saya.Saya titipkan Anisa kepada kalian berdua.Saya berharap kalian berdua mau


menerima Anisa sebagai anak kalian. Menjaga, merawat dan mendidik Anisa menjadi anak yang Sholeha. Saya percaya sama kalian berdua, saya percaya kalau kalian berdua orang baik dan mampu menjada anak saya Anisa. Saya minta tolong Mbak Ega dan Mas Beni.” Aulia mengutarakan keinginannya kepada Egad an Beni agar


mereka berdua bersedia untuk menjaga Anisa anaknya.


Beni dan Ega saling pandang, tentu saja


mereka berdua belum mengerti apa yang disampaikan oleh Aulia.


“Iya mbak Aulia, kami akan menjaga


Anisa.Sekarang mbak istirahat saja ya? Jangan khawatir dengan Anisa, Insha


Allah kami akan menjaga Anisa dengan baik dan penuh kasih sayang. Sekarang mbak


istirahat saja agar cepat sembuh agar bersama Anisa kembali.” Akhirnya Ega


membuka suara ketika beberapa detik dia sempat bingung dengan apa yang diminta


oleh Wanita yang baru dikenalnya.


“Terima kasih mbak Egad an Mas Beni,” ucap


Aulia pelan. Dia tersenyum bahagia karena percaya jika Anisa dalam keadaan


baik-baik saja bersama pasangan yang ada dihadapannya.


***


Beberapa hari semenjak musibah itu,


terdengar khabar duka dari Aulia.Setelah beberapa hari dirawat, keadaannya


bukan membaik malah semakin memburuk.Setelah diperiksa oleh Dokter, ternyata Aulia mengidap penyakit serius yang selama ini dibiarkan saja tidak melakukan


pengobatan. Aulia sadar akan penyakitnya namun dia tidak pernah berbagi dengan


orang lain apalagi dia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pengobatan


secara serius. Aulia pernah melakukan operasi namun ternyata penyakitnya kambuh


lagi dan semakin merongrong tubuhnya.Selama ini Wanita itu menahan kesakitan sendiri karena tidak ada tempat dia berbagi kesedihan.Wanita itu hanya memiliki


anak kandung yang berusia dua tahun. Aulia sempat menceritakan kisah hidupnya


kepada Ega dan Beni ketika mereka dengan setianya mengunjunginya setiap hari


bahkan membawa Anisa untuk menguatkan hati agar semangat untuk sembuh. Namun


ternyata takdir berkata lain. Aulia pergi untuk selama-selamanya dan mempercayakan kepada Beni dan Ega untuk merawat Mutia Anisa, buah hatinya.


Plash Back End.


Beni tersadar dari ingatan masa lalu, dia


melirik orang-orang yang disayangnya sudah tertidur lelap.Dia berusaha untuk memejamkan mata namun seakan matanya tidak mampu terpejam.Dia merasa sudah


terbiasa dengan dekapan Isterinya dan sekarang saat Isternya sedang ngambek


sehingga dia tidak merasakan kehangatan dari kebersamaan mereka itu yang


membuat Beni tidak mampu memejamkan mata.


Laki-laki tampan itu bangun dari rebahannya


lalu merebahkan diri disamping Isterinya yang terlihat nyaman dalam tidurnya.Dia memeluk tubuh Wanita itu dari belakang untuk menyambut mimpi indahnya.


Bersambung.


Assalamualaikum.


Apa khabar? maaf ya saya baru bisa kembali UP, karena kemarin saya melakukan Karantika Mandiri. Di kantor ada yang positif Covig 19 dan juga saya sakit dan mengalami gejalanya. Tapi Alhamdulillah tidak terlalu parah. Alhamdulillah sekarang sudah agak sehat dan bisa beraktivitas kembali.


Semoga saja tidak ada yang benar-benar meninggalkan Tujuh Sahabat. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih jika masih ada yang setia menunggu kelanjutan kisah Beni dan Ega serta kisah para sahabat yang menyertainya.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih.


__ADS_2