Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
71. Bunga Bintang.


__ADS_3

Beni tak percaya dengan apa yang dikatakan Isterinya. Dia meneliti ketidak benaran yang terucap. Kenyataannya pernyataan itu benar adanya.


Pin ini satu-satunya petunjuk dan sekarang Pin ini seakan membawanya kepada petunjuk yang berbeda.


Rumit dan membingungkan. Darimana mereka akan memulai jika kenyataannya Pin ini sebuah teka teki. Siapa sebenarnya Pemilik Pin ini? Ivan Alkaeri atau orang lain yang menjadikan Ivan Alkaeri sebagai tameng. Ataukah Ivan Alkaeri itu sendiri? Ivan yang bertamengkan Pin yang hilang.


"Iya, Pin ini telah hilang dan Mas Ivan tidak memiliki Pin ini lagi. Sekarang bagaimana mungkin Pin ini bermunculan waktu bersamaan dengan munculnya Mas Ivan hari ini? apakah ini kebetulan ataukah direncanakan sebelumnya. Siapa yang mengetahui rencana kita selain tujuh sahabat." Ega bertanya. Terlihat keningnya mengkerut memikirkan hal ini. Mana mungkin salah satu dari sahabat yang berkhianat. Ega tidak ingin mencurigai hal itu. Dia cukup mengenal semuanya. Mereka amanah dan senantiasa menjaga satu sama lain.


"Suram ini mah," ucap Beni seperti orang mengeluh.


Wanita itu merasa Suaminya sedang kesal pada dirinya sendiri. Kesal karena tidak mampu memberikan keadilan untuk Isterinya. Itu yang dirasakan oleh Ega. Dia memeluk tubuh Suaminya, seolah mengatakan dia baik-baik saja.


"Kak Beni enggak usah risau. Tidak akan terjadi apa-apa dengan kita, Insha Allah." Ega pada akhirnya berucap setelah sejenak mereka diliputi keheningan.


"Ini bunga apa sih?" tanya Beni penasaran. Menurut keterangan Evan dan Dipta dia belum mengetahui bunga apa itu. Meskipun mereka sudah mencari di Internet.


"Ini bunga liar bernama bunga bintang. Kak Beni pasti enggak tahu kalau bunga bintang terkadang digunakan untuk merangsang batita agar cepat bisa berbicara dan lancar. Bunga bintang yang masih berkuncup jika di tekan akan menghasilkan bunyi Pok Pok Pok. Nah karena itulah Emak-emak mempercayai hal itu." Ega menjelaskan bunga apa yang terbentuk dalam pin yang mereka temukan.


"Jadi hanya kamu dan Mas Ivan yang tahu bunga apa ini?" tanya Beni penasaran. Dia baru kali ini mendengar adanya bunga yang dipercaya oleh masyarakat mampu membuat Sang batita cepat bisa berbicara dan lancar berbicara. Apa karena suara yang dihasilkan bunga bintang itu yang dapat merangsangnya? mungkin itu hanya kepercayaan dan belum tentu dibenarkan oleh ilmu. Mungkin bisa melakukan penelitian lebih lanjut.


Beni terdiam setelah mendapatkan penjelasan dari Ega. Sedangkan pikirannya sedang aktif untuk mempertaruhkan kecerdasannya.


Benar, Pin itu sudah hilang tapi tidak menutup kemungkinan Ivan membuatnya kembali. Itu yang ada di pikiran Beni saat ini.


"Kamu tahu enggak Pin ini dibuat dimana?" tanya Beni kemudian.


"Tahu, di Sekarbela. Waktu Pin dan Bross dibuat aku juga ikut untuk menunjukkan desain yang aku inginkan," sahut Ega memberitahu. Dia bertanya dalam hati kenapa Beni menanyakan hal itu.


"Alamatnya, ingat?" tanya Beni kembali.


Ega mengangguk sebagai jawaban lalu dia bertanya pula kenapa Beni menanyakan hal itu.


"Untuk apa Kak?"


"Aku berencana menyelidiki Pin ini dari tempat pembuatnya. Aku mencurigai Pin ini bukan Pin milik Mas Ivan yang hilang. Terlihat sekali Pin ini masih baru. Jika Pin ini adalah Pin milik Mas Ivan yang hilang kemungkinan Pinnya akan sedikit buram. Coba kamu perhatikan?"


Ega memperhatikan Pin yang masih dipegangnya. Dia menelitinya dengan baik. Matanya membeliak saat menyadari ada yang berbeda dari Pin itu.


Ega membisikkan sesuatu di telinga Suaminya. Mendengarkan itu, Beni terkaget. Dia langsung mengamati dan menemukan apa yang dicurigai Isterinya itu. Dia membuka putik bunga bintang yang ternyata berisi sebuah kamera pengintai.


"Astaghfitullah. Apa ini terhubung dengan handphone seseorang," ucap Beni terkejut.


Dia melepaskan kamera itu dan memutuskan jaringan yang menghubungkan ke server. Dia berpikir, hanya orang seperti Evan yang bisa melakukan ini.


Tentu saja temuan ini membuat Beni semakin tak mengerti. Terlebih Ega semakin bertanya-tanya. Apa tujuan melakukan ini.


"Siapa melakukan ini Kak? apa tujuannya?" tanya Ega panik. Apa mungkin saat ini dia dalam pengawasan dan telah melacak keberadaannya.


"Sebaiknya kita keluar dari Puskesmas?" ucap Beni. dia punya insting jika seseorang itu sengaja menjatuhkan Pin itu sebagai alat pelacak untuk mengetahui dimana keberadaan mereka. Mungkin saja saat ini Ega menjadi incarannya dan tidak menutup kemungkinan dia akan menyerang kembali. Tentu mereka tahu, saat ini Ega selamat.


Beni, dengan hati-hati menyelinap keluar dari Puskesmas dan memilih untuk mencari Penginapan yang berada tidak jauh dari Puskesmas. Dia membiarkan Mobilnya tetap terparkir di Halaman Puskesmas. sengaja untuk mengelabui orang yang berniat buruk kepada mereka.

__ADS_1


***


"Kamu siapa, toloooooong ada Penyusup?" Seorang Perawat terkejut sekaligus berteriak melihat Sosok berjaket hitam dengan menggunakan masker. Dia menyelinap menuju kamar tempat Ega di rawat. Baru saja sampai ambang Pintu, Perawat yang hendak mengontrol Pasiennya mempergoki Sosok itu.


Saat mendengarkan teriakan, Penjaga malam yang berjaga segera berlari ke arah dalam. Sedangkan Sosok itu langsung menyelinap pergi.


"Ada apa Mbak?" tanya Penjaga malam menghampiri. Dia melihat Perawat itu ketakutan dengan wajah pucat pasi.


"Tadi ada orang hendak masuk ke kamar Pasien. Dia menggunakan Masker sehingga tak terlihat wajahnya." Perawat itu memberitahu. Dia menyadari sesuatu, dengan langkah cepat dia masuk menuju kamar tempat Ega dirawat. Perawat tersebut menemukan kamar dalam keadaan kosong.


"Kemana mereka pergi?" Perawat tersebut bertanya pada dirinya sendiri.


"Siapa Mbak?" tanya Penjaga malam itu bingung. Dia melihat sekelilingnya dan tidak ada yang aneh dengan kamar tersebut.


"Pasien yang dirawat disini," jawab Perawat. Dia terlihat panik melihat keadaan kamar rawat inap dalam keadaan kosong. Tanpa berkata apapun lagi Perawat dan Penjaga malam segera memeriksa disekitar rawat inap. Beberapa menit mereka memeriksa, tidak ditemukan keberadaan Pasien. Mereka menghilang tanpa jejak.


"Sepertinya Pasien sudah kabur. Apa mungkin ada hubungannya dengan penyusup itu?" tanya Perawat pada Penjaga Malam yang tak memahami apa yang terjadi sebenarnya.


Saat mereka sibuk dalam pikirannya, Penjaga malam itu menangkap selembar surat yang terselip pada Vas Bunga yang ada di atas Nakas.


"Ini ada surat," ucap Penjaga malam itu memperlihatkan apa yang ditemukannya. Dia menyodorkan kertas putih yang dilipat rapi itu.


Perawat itu mengambil lalu membuka lipatan. Dia membaca pesan apa yang tertera disana.


"Maaf, disini tidak aman. Terpaksa kami meninggalkan Puskesmas."


***


Beni dan Ega keluar dari Puskesmas Bayan. Mereka berencana melanjutkan bulan madunya di Desa kelahiran Ega di Madayin. Mereka berharap kali ini, tidak ada satupun pengganggu.


"Sayang, bulan madunya seru banget ya? ternyata ada ranjau yang harus kita singkirkan," ucap Beni mengendarai Mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Semoga saja mereka tidak memburu kita. Jika Pelakunya adalah Mas Ivan, dia pasti akan menyusul kita sampai ke rumah Mamiq. Kita harus lebih berhati-hati." Ega berucap sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Beni. Jujur saja dia sedikit tak tenang tapi rasa tak tenang itu dia enyahkan. Ada Beni disisi yang membuat rasa aman itu muncul dan menentramkannya.


"Semoga, kita hanya bisa berdoa. Doa adalah kekuatan kita, dengan doa Pertolongan Tuhan itu akan datang. Dengan Doa maka Tuhan senantiasa menjaga kita. Karena itulah kita meminta agar Tuhan selalu menjaga dan melindungi kita dari segala marabahaya," sahut Beni berusaha menenangkan kegelisahan yang dirasakan Isterinya.


"Aamiin. Kak Beni benar," ucap Ega. Dia tidak bisa lagi menahan kantuknya. Tubuhnya yang lemah meminta untuk memejamkan mata. Beni tersenyum melihat Ega yang sudah berada dalam mimpi. Karena pelarian mereka membuat Ega tidak bisa beristirahat.


Beberapa jam berkendara pada akhirnya Mobil Beni mamasuki Pelataran rumah Mertuanya. Beni segera membuka seatbelt dan membawa Ega masuk ke dalam rumah tanpa membangunkannya.


"Assalamualaikum." Beni mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Mamiq Angga dan Ibu Siti Fatimah secara serempak membalas salam.


"Inaq, Mamiq!"


"Nak Beni, apa yang terjadi dengan Isteri kamu? kenapa tidak dibangunkan?" tanya Mamiq Angga menyambut kedatangan Menantu dan Putrinya.


"Ega kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Saya tidak enak membangunkannya," jawab Beni. Setelah menjawab, dia melangkah ke arah kamar milik Ega. Lalu merebahkan raga Ega dengan hati-hati.


"Jelaskan Nak, kenapa bisa seperti ini? kenapa pagi-pagi sekali sudah sampai?" Ibu Siti Fatimah memberondong Beni dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Biarkan Menantu kita bernafas dulu. Keliatan sekali Nak Beni kelelahan. Apa kalian sudah sarapan? jika belum sarapan, sarapan dulu baru menjelaskan apa yang terjadi," ucap Mamiq Angga menahan Isterinya agar Beni bisa beristirahat dulu.


Beni mengangguk, dia melangkah ke arah Dapur tanpa meminta Ibu Mertua melayaninya. Dia mengambil beberapa sendok Nasi dan Ikan Laut Goreng. Beni mulai melahapnya karena jujur saja saat ini dia sangatlah lapar.


Beberapa menit menikmati sarapan. Beni mencuci piring dan gelas yang di gunakan lalu menaruhkan pada Rak piring.


Ega terbangun saat Beni membawakan Sepiring Nasi lengkap dengan Lauk dan segelas air putih.


"Kita sudah sampai rupanya? kenapa Kak Beni tidak membangunkanku?"


"Tidurmu terlalu nyenyak dan aku juga enggak tega membangunkanmu. Kamu butuh istirahat, tubuh kamu masih lemah," sahut Beni hangat. Dia duduk di sisi Ranjang dan mulai menyendok makanan yang dibawanya.


"Sekarang kamu sarapan dulu," lanjutnya sembari menyuapkn makanan ke arah mulut Ega.


"Aku bisa sendiri Kak Beni, jangan manjakan aku seperti ini. Aku bukan anak kecil." Ega mengambil alih piring yang dipegang Suaminya lalu mulai melahap makanannya.


Selesai sarapan, Beni dan Ega menghampiri Ibu dan Bapak yang menunggu di Ruang keluarga menanti penjelasan dari mereka.


"Duduklah Nak," ucap Ibu Siti Fatimah.


Beni dan Ega mendudukkan diri pada Sofa yang tersedia.


"Sekarang jelaskan? apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Nak Ega terlihat pucat?" tanya Mamiq Angga heran. Tentu saja Mamiq Angga dan Ibu Siti Fatimah heran, kenapa Subuh-subuh sekali mereka sudah sampai di Rumah. Padahal menurut informasi dari mereka berdua tadi malam mereka berada di Bayan.


"Ega mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari Jurang bersama Juna. Juna ikut terjatuh karena tidak berhasil menyelamat Ega. Saya juga tidak berhasil menyelamat Ega. Maafkan saya, Miq dan Inaq karena tidak bisa menjaga Ega dengan baik." Beni menceritakan apa yang terjadi dengan Isteri dan sahabatnya. Dia menundukkan wajah karena merasa gagal melindungi Isterinya dengan baik.


"Nak Beni, sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Musibah itu tidak bisa kita halau, sekuat apapun usaha kita. Itu merupakan takdir yang telah Tuhan tetapkan. Kita tidak akan tahu, apa yang akan kita hadapi. Sandungan itu pasti ada dan tugas kita untuk berhati-hati serta senantiasa berdoa agar kita tetap berada dalam pertolongan Tuhan." Mamiq Angga menenangkan hati Menantunya. Dia tidak menyalahkan Menantunya itu. Tentu saja Beni sudah menjaga Isterinya dengan baik. Akan tetapi jika terjadi sesuatu, itu di luar kuasa sebagai Manusia.


"Iya Nak Beni, terpenting sekarang Nak Ega selamat terus bagaimana dengan keadaan Nak Juna? apa dia baik-baik saja?" tanya Siti Fatimah.


"Juna baik-baik saja, dia mengalami luka ringan dan sudah kembali bersama teman-teman," sahut Beni menerangkan.


"Alhamdulillah." Terucap rasa syukur karena anak dan Sahabat anaknya baik-baik saja.


"Iya sudah kalian istirahat dulu," ucap Mamiq Angga.


"Nggih Miq."


Setelah tidak ada pembicaraan, Beni mengajak Ega untuk beristirahat kembali. Beni juga mengantuk, semalam hampir matanya tidak bisa terpejam karena menjaga Ega yang juga tidak mampu memejamkan mata. Mereka berdua khawatir, jika saja orang yang ingin mencelakakan mereka menemukan keberadaannya.


"Kak Beni, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Ega sebelum mata mereka terpejam.


"Aku sudah meminta tolong Dipta untuk menyelidiki Pin tersebut. Sedangkan Evan akan menyelidiki kamera pengintai itu. Kamera pengintai itu berasal dari mana? tentu saja Evan sangat senang melakukannya. Kamu tahu teman kita yang satu itu pasti akan melakukan dengan tuntas." Beni menerangkan langkah awal yang diam-diam dia lalukan. Dia yakin, saat ini mereka akan aman untuk sementara waktu tinggal di rumah Mertuanya. Sementara Ivan Alkaeri, Lelaki itu masih berada di Bayan untuk melakukan pekerjaan. Beni yakin, Lelaki itu tidak mengetahui kalau dirinya sedang dijadikan Talenan.


"Memang bisa?" tanya Ega.


"Petunjuk itu berasal dari hal kecil yang tidak kita sadari. Kamera pengintai itu bisa kita jadikan petunjuk. Biarkan Evan, Sang ahli yang akan melakukannya. Hitung-hitung untuk mengasah kemampuan Evan," sahut Beni menjelaskan. Dia memeluk tubuh ramping Isterinya lalu mulai memejamkan mata. Dia sempat bertanya siapa orang dibalik niat buruk ini.


"Siapa yang melakukannya? Kenapa Ega dan Ivan yang menjadi sasarang orang tersebut?"


Bersambung.

__ADS_1


Mohon maaf, ini up terakhir karya "Cinta Itu Sahabat." Terima kasih atas dukungan, Like dan juga komentarnya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.


__ADS_2