
Tak menjawab, Ega memilih untuk meninggalkan kamarnya. Dia kini memikirkan langkah selanjutnya, sebelumnya dia mencuci Piring kotor dan perabotan yang digunakannya tadi. Tidak butuh waktu lama untuk mencucinya, Ega bergegas menuju ruang kerja. Dia menemukan Kamera Pengintai yang dimiliki Suaminya.
Dia tersenyum, dengan benda itu akan mengetahui apa yang dilakukan Suami palsunya itu. Benda itu akan mampu merekam pembicaraan setiap sudut ruangan dan mengikuti kemana arah orang itu berjalan. Alat itu seperti bunga, tidak mungkin seseorang akan mengira bahwa itu merupakan alat pengintai dan juga alat menyadap.
Ega kembali masuk ke kamarnya, dia menemukan Beni yang berdiri di Balkon. Entah sedang apa dia? jika Suaminya, Ega pasti akan menghampiri lalu memeluknya dari belakang.
Dia meletakkan Bunga hidup pada tempat yang sangat strategis agar dapat menjangkau sudut ruangan hingga ke arah Balkon. Pada Balkon, tempat terenak untuk merencanakan niat jahat yang sedang ditutupi oleh Suami palsunya. Itu yang dipikirkan oleh Ega, sehingga meletakkan alat itu pada tempat yang tepat dan tak dicurigai.
“Kak Beni,” panggil Ega berdiri di ambang Pintu.
“Iya dek,” ucap Beni. Dia menghentikan panggilan lalu melangkah menghampiri Ega yang berdiri menunggu.
“Boleh aku menginap di rumah, Saik Aminah tadi menelpon. Dia sakit, aku ingin memeriksa dan menemaninya. Jika sakitnya parah, aku bisa membawanya ke rumah sakit. Kasian Saik Aminah sendiri di rumah. Apalagi dia sudah tua dan tidak memiliki kerabat,” ucap Ega panjang lebar, bagaikan Rel kereta Api. Dia tidak menjeda kata perkata sehingga membuat Beni menaikkan kedua alisnya.
“Kamu ternyata bawel,” ucap Beni sembari memamerkan senyum yang nampak kaku.
“Boleh?” tanya Ega seperti memelas. Dia melihat Beni mengangguk.
“Saik Aminah?” Anggukan itu ternyata diiringi pertanyaan.
“Jangan katakan Kak Beni tidak ingat dengan Saik Aminah juga? Rasanya aku ingin memukul Kepala Mas Ivan. Berani-beraninya membuat Suamiku linglung dan kehilangan kecerdasannya,” ucap Ega berkelakar.
Hahahahaha
Kata-kata Ega di sambut tawa nyaring oleh Beni. Entah kenapa, tawanya terdengar berbeda dengan tawa Beni yang sebenarnya. Terdengar kaku dan tak lepas seperti tawa Beni. Terang saja, karena dia bukan Beni Hardian Adha.
Mungkin karena pendengarannya yang bermasalah. Di akui, tawa ini mirip dengan tawa Juna. Entahlah, apa sahabatnya itu yang berada di balik wajah Beni, Suaminya.
Namun Ega meragukan itu, tidak mungkin Juna setega itu? Meskipun segala tingkah lakunya mirip dengan Juna. Bukankah Juna sedang berada di luar Kota? Agak aneh juga, semenjak kepergiannya, Juna sama sekali tidak bisa dihubungi. Sesibuk itu kah dia? Sehingga tidak mempunyai waktu hanya sekedar membalas pesan.
Ega pusing memikirkan ini, dia lebih baik segera pulang ke rumah untuk membicarakan ini dengan Evan dan tujuh sahabat lainnya.
“Nampaknya Kak Beni setuju dengan apa yang saya ucapkan sehingga sebahagia ini,” ucap Ega menghentikan tawa Suaminya.
“Kamu lucu, Dek,” sahut Beni singkat.
“Iya sudah, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,” ucap Ega berpamitan yang dibalas salam oleh Beni.
Ega gegas meninggalkan rumah, dengan meninggalkan Beni palsu sendirian di rumah Beni. Dia sudah mengamankan segala aset dan dokumen penting milik Suaminya sekaligus menebarkan tirai yang akan mengontrol pergerakan Beni palsu.
Wanita itu menuju ke arah Garasi, dia menggunakan Sepeda motor. Dengan tak memikirkan Suaminya itu, Ega mengendarai Sepeda motor menuju rumahnya agar dia aman disana.
Selang beberapa menit mengendarai, dia sampai di rumahnya. Dia menggeser Pagar Besi kemudian memasukkan Motor. Disana, dia menemukan ketiga sahabatnya sudah menunggu.
‘Ega, Alhamdulillah kamu sudah sampai. Kami khawatir dengan keadaan kamu? Terus terang ada rasa cemas mendengarkan bahwa kamu bersama Beni yang berbeda. Apa benar Pria yang bersamamu sekarang bukanlah Beni?” Dipta menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia sangat tulus menumpahkan kekhawatiran itu disetiap kata-katanya.
“Terima kasih Dipta, tadi saya berusaha berpikir mencari alasan. Saya terpaksa mengatakan Saik Aminah sedang Sakit. Ya Allah saya salah telah mendoakan Saik Aminah sakit semoga saja itu tidak terjadi,” sahut Ega tidak kalah panjang. Ada kegelisahan dan juga merasa bersalah disetiap ucapannya.
“Insyaa Allah, tidak akan terjadi apa-apa dengan Saik Aminah. Tuhan Maha Mengetahui, kamu tidak bermaksud begitu,” ucap Dipta berusaha menenangkan Sahabatnya itu.
__ADS_1
Ega mengangguk, dia berpamitan untuk masuk ke dalam rumah. Menemukan Saik Aminah yang tengah membuat minuman untuk sahabatnya. Dia terlihat bahagia melihat kedatangan Ega. Wanita paruh baya itu menanyakan Beni yang tak ikut bersamanya. Tentu, Ega kembali berbohong. Tidak mungkin mengatakan kalau Beni yang di rumahnya bukan Beni, Suaminya.
Setelah minuman jadi, Ega membawa minuman itu menuju Berugak.
“Kamu benar, Ga! Gerak gerik Beni terlihat berbeda. Beni itu gesit dan luwes sedangkan yang ini pergerakan agak lambat. Terus ini terlihat lebih gemuk sedangkan Beni lebih kurus,” ucap Evan menganalisis. Rian dan Dipta mengangguk setuju. Dia melihat Beni dari CCTV yang terpasang disana dan juga Kamera Pengintai yang diletakkan Ega di kamar. Di kamar Pribadi Beni tidak di lengkapi CCTV, tentu untuk menjaga privasi mereka.
“Seperti ini rasanya menjadi Beni Hardian Adha. Kenapa hidupnya sangat sederhana banget, sangat membosankan. Jika nanti semuanya aku ambil alih, aku ingin merubah semuanya. Gila saja tak dilayani seperti pangeran. Percuma mempunyai harta yang melimpah kalau tidak difoya-foyakan.”
“Astaghfirullah, saya pikir gila harta itu hanya ada di FTV tapi sudah muncul di rumah Beni,” ucap Evan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Sudah jelas sekarang, Laki-laki di rumah Beni bukanlah Beni melainkan orang lain yang mengincar apa yang dimiliki oleh Beni.
“Apa kalian percaya, kalau dia mirip Abang Juna. Dari fostur tubuh dan juga warna kulit benar-benar sama dengan Abang Juna. Bahkan Parfum yang digunakan juga sama dengan Parfum yang digunakannya,” ucap Ega memberitahu kebenaran tentang Beni palsu ini.
“Ju-Juna?” tanya mereka serempak. Mata mereka menatap Ega dengan pandangan tak percaya. Ega hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah sedih diselimuti kekhawatiran akan nasip Suaminya.
“Tidak mungkin Juna, sekarang Juna sedang di luar kota,” ucap Rian meragu.
“Tapi Juna tidak bisa dihubungi, Handphonenya mati bahkan medsosnya juga terhapus,” sahut Evan memberitahu.
“Serius?” tanya Dipta tak percaya. Dia kemudian mengambil Handphone lalu mencari akun Juna. Tidak ada, bahkan akun hijau di group juga tiba-tiba menghilang. Nomorpun tidak bisa dihubungi.
“Sungguh aneh dan mencurigakan,” ucap Dipta menimpali pertanyaannya sendiri.
“Iya, Juna menghilang dan kini di gantikan Beni palsu. Apa mungkin dugaan Ega adalah benar, kalau orang yang mirip Beni ini adalah Juna,” sahut Evan. Dia berpikir tapi semakin memikirkannya membuat kepalanya mendadak berdenyut. Pusing!
“Oh ya? Apa kalian sudah mengecek rumah kosong itu?” tanya Ega mengalihkan pembicaraan.
“Tidak mungkin, jelas-jelas ada suara ketukan, seperti yang sering Mas Rian lakukan saat menjitak kepala Kak Beni,” ucap Ega serius.
“Yakin, Ga?” tanya Rian tak percaya.
“Yakin,” jawab Ega singkat.
“Kalau begitu kita kesana, apa salahnya kita mengecek kembali,” ucap Dipta.
“Nah, lihat Beni palsu keluar dari rumah,” ucap Evan melihat Laptopnya yang terhubung dengan CCTV.
“Coba kamu hubungi Beni,” ucap Rian memerintahkan Ega.
Ega mengangguk, dia lekas mengambil Handphone lalu menelpon nomor Beni.
[Iya, Dek]
[Kak Beni, saya lupa memberitahu kalau saya sudah sampai rumah. Kak Beni sedang apa? Maaf meninggalkan Kak Beni sendirian di rumah]
[Tidak apa-apa Dek, ini saya mau ke rumah teman. Ada urusan sebentar, maaf tidak memberitahu kamu. Untung saja kamu menelpon saya]
[Oh gitu, iya dah Kak Beni. Hati-hati]
__ADS_1
Setelah mengucapkan hati-hati, Ega mengakhiri panggilan dengan salam. Handphone dia simpan, lalu mengikuti ketiga sahabatnya yang sudah siap-siap menuju rumah kosong tempat pertama kali Ega dan Beni bertemu.
Sesampainya disana, Rian menaruh Mobilnya di tempat yang tersembunyi agar tak terlihat oleh anak buah Beni.
Dengan mengendap dan penuh kehatian empat orang itu menyelusuri rumah kosong.
"Aku tidak ingin melakukannya."
Terdengar seseorang tengah berbicara. Evan yang lainnya menghentikan langkahnya. Mereka mencari tempat aman untuk mendengarkan pembicaraan sekaligus melihat siapa yang tengah berbicara itu.
"Yakin? Apa kamu ingin Anita, Adik yang kamu sayangi kehilangan nyawa dan bayi yang di kandungnya."
"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini. Kamu berpura-pura mencintainya dan mengambil kehormatannya dengan paksa sekarang kamu ingin membu**hnya. Breng**k kamu Lexi."
"Lexi?"
Ega dan yang lainnya terkejut. Beni palsu ini adalah Lexi. Sungguh tidak dipercaya. Mereka saling pandang penuh dengan pertanyaan dalam pikiran namun tak ada satupun yang bersuara. Mereka memilih untuk melanjutkan pengintaian.
Hahahahaha
"Ivan Ivan, aku hanya mengabulkan segala niat jahatmu. Bukankah kamu yang berniat jahat ingin melenyapkan Beni agar Ega bisa kamu miliki, iya bukan?" Sahut Beni diawali dengan memperdengarkan tawanya.
"Itu memang niatan tapi hanya sekedar niatan. Saya masih memiliki hati nurani untuk tidak melakukan tindak kejahatan," sahut Ivan menyanggah apa yang diucapkan oleh Beni.
"Sayangnya kamu sudah melakukannya. Lanjutkan saja jangan setengah-tengah. Lakukan kalau tidak Anita detik ini akan hilang." Beni menyambut penyanggahan Ivan dengan ancaman.
"Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya, Lexi!" teriak Ivan memenuhi ruangan. Dia menumpahkan kemarahannya, tangannya mengepal hendak memukul wajah yang mirip dengan Beni itu.
"Tentu aku tidak ingin mengotori tanganku apalagi Beni itu sahabatku. Aku hanya ingin mengambil identitas dan wajahnya yang rupawan itu setelahnya hidup bahagia dengan Isterinya Baiq Ega Fajrina."
Ivan terlihat muak dengan kalimat yang diucapkan Beni. Senyum jahat yang tercetak pada wajahnya ingin rasanya dia cabik-cabik. Namun sayangnya Ivan tak berani melakukannya, karena Anita-lah yang akan menjadi taruhannya.
"Lakukan!"
Beni menekan satu kata yang membuat Ivan tak sanggup berbuat apa-apa.
"Dengan melenyapkan Beni, semuanya bisa menjadi milikku. Jika kamu berpikir bisa mendapatkan secara baik-baik tentu tidak mungkin. Bagaimana mungkin Beni dengan sukarela menyerahkan identitasnya dengan segala apa yang dimiliki beserta Isterinya. Apa kamu pikir Beni itu orang gila yang mau melakukan itu. Ancaman tidak akan mempan jadi lenyapkan."
Beni melanjutkan kalimat-kalimat jahatnya. Wajah tampannya sekali lagi menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
"Aku menunggu khabar baiknya," ucap Beni melanjutkan kata-katanya. Dia berbalik arah meninggalkan Ivan yang diliputi kemarahan.
Ega, tentu saja ketakutan. Wajahnya berubah pucat pasi seakan tak memiliki kehidupan. Suaminya dalam bahaya sementara mereka belum menemukan keberadaan Beni.
"Dipta?" Ucap Ega parau. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-kata. Tubuhnya bergetar hebat dengan lutut yang lemas tak sanggup menopang. Seketika tubuhnya ambruk berada di titik ketidak berdayaan.
"Tenang, Ga. Kita pasti bisa menyelamatkan Beni," sahut Dipta menepuk bahunya memberikan kekuatan. Anggukan Evan dan Rian berhasil memberikan kekuatan untuknya.
Setelah Beni palsu pergi, Ega masuk ke ruangan tersebut untuk menemui Ivan. Tentu kehadiran Ega membuat Ivan terkejut.
__ADS_1
"Mas Ivan, dimana Suamiku?"
Bersambung.