Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Rencana Awal.


__ADS_3

Aula Perusahaan Hardian Group sudah dipenuhi oleh Para undangan. Mereka menikmati hidangan yang disediakan dan mulai saling menyapa satu sama lain. Mereka mulai mengobrol dengan orang-orang mereka kenal dengan topik beragam.


Termasuk Banu Hardian dan Citra Hardian yang berkumpul dengan keluarga pada satu Meja.


"Dek!, bagaimana penampilan saya sudah tampan belum?" tanya Beni memperbaiki Dasi yang digunakannya. Dia menggunakan setelan Jas mahal berwana hitam.


Ega mengangguk dan memperhatikan Beni dengan penampilan menawannya.


"Tidak sabaran menunggu waktu puncak saat pengumuman bahwa Suamimu ini menjadi Direktur Utama Hardian Group," ucap Beni berbinar-binar.


Ega hanya mengangguk lagi dengan mimik sedatar mungkin.


"Iya, semoga para Pemegang saham menerima Kak Beni sebagai Direktur Utama. Bagaimana pun juga Para Pemegang saham berhak memilih siapa yang dipercayanya memegang kekuasaan tertinggi dalam Perusahaan Abi," sahut Ega kemudian.


Wajah Beni terlihat gelisah dan tidak suka dengan apa yang dikatakan Isterinya. Dia menatap Ega dengan raut yang sulit diartikan.


"Bukankah Abi sudah memutuskan dan apa perlu meminta persetujuan mereka lagi," ucap Beni ketus. Dia menghela nafas untuk mengelola hatinya yang kesal sekaligus deg-degkan.


"Sepertinya kamu tidak suka bahwa saya memimpin Perusahaan Abi, iya kan? Seharusnya kamu mendukung Suamimu ini bukan malah memudarkan semangatnya." Beni melanjutkan kata-katanya dengan raut kekesalan yang terang-terang diperlihatkannya.


"Aku mendukung, kok! tapi kita juga harus tetap mendengarkan keputusan Para Pemegang saham meskipun Abi Pemegang saham tertinggi. Tetap izin itu harus dilaksanakan. Dalam perusahaan ada tata krama dan sopan santunnya. Bukannya nyelonong langsung duduk di Kursi Sang Direktur Utama. Kak Beni faham, kan? Kenapa jadi tidak mengerti begini?" Ega menyahuti dengan pandangan heran.


Beni tersenyum kikuh dan salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya untuk menetralisir rasa tidak enak itu.


"Kak Beni terlihat banyak perubahan semenjak di sekap. Apa mungkin Kak Beni bukan Suamiku tapi kembarannya?" ucap Ega menebak.


"Apa kamu tidak percaya bahwa saya Beni Hardian?" tanya Beni dengan tatapan menyelidik. Ada kegusaran yang berusaha ditutupi. Dia khawatir Ega mencurigai dan mulai menyadari bahwa dirinya tak sama dengan Beni.


"Percaya, hanya heran saja dengan perubahan Kak Beni," sahut Ega datar.


Beni terlihat tenang begitu mendengarkan perkataan Ega yang tidak mencurigainya.


Hening, tidak ada lagi pembicaraan selanjutnya. Beni lebih memilih diam karena tidak ingin salah berkata dan bersikap lagi. Bisa saja kesalahan itu akan membongkar identitasnya. Tidak mudah menjadi Beni yang sebenarnya meskipun mungkin saja dia sangat mengenal Pria itu.


Ega memilih mengobrol dengan anggota keluarga Hardian yang lain daripada menghadapi kembaran Beni yang menurutnya berlebihan.


"Ini untukmu sayang," ucap Beni yang menyamar menjadi pelayan. Dia mendekat menuju Ega yang berdiri sendirian sedangkan lawan bicaranya sudah pergi.


"Terima kasih," jawab Ega kemudian mengambil minuman yang disodorkan oleh Beni.


"Banyak wajah asing, takutnya itu anak buah kembaranku. Dia sudah menyiapkan semuanya dengan matang dan terencana. Kini yang aku khawatirkan Abi dan Umi." Beni melanjutkan kata-katanya.


Beni setenang mungkin menjelaskan hasil pengamatannya.


"Kak Beni sudah meminta Bibi Siti membawa Anisa agar dia aman. Takutnya Anisa bisa saja dijadikan senjata untuk melawan kita. Itu kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Terus kita semua sudah siap mengikuti permainan Suami palsumu sayang."


Beni melanjutkan penjelasan dengan sedikit menggoda Sang Isteri.


Ega hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia ingin sekali menanggapi Suaminya dengan godaan pula. Namun semua itu hanya sebatas ingin karena takut penyamaran Beni bakalan terbongkar. Tunggu dulu, sabar hingga bisa membuktikan siapa orang dibalik Topeng wajah Beni.

__ADS_1


"Hai Beni, kamu tampan sekali dengan pakaian mahal seperti ini," ucap Nina dengan begitu antusias dan bersemangat.


Dia terlihat baru datang dan langsung menghampiri Beni dengan rasa memuja yang terang-terangan ditunjukkan.


"Terima kasih," ucap Beni terlihat bangga dan senang. Dia merapikan dasinya dan kedua lengannya secara bergantian.


Nina yang ada di hadapannya tersenyum manis memamerkan keindahan rupanya. Dia sangat cantik dan menawan dengan balutan Dress selutut berwarna merah yang memperlihatkan Kaki putih jenjangnya. Wanita itu terlihat sensual dan mempesona memperlihatkan perutnya yang sedikit menonjol. Meskipun tengah hamil, penampilan tidak boleh dinomor duakan karena kecantikan adalah aset berharga dari Wanita itu.


Ega dan Beni mengulum senyum melihat pasangan serasi itu. Prianya seorang penipu ulung dan Wanitanya seorang perayu ulung. Keduanya layak untuk disandingkan menjadi pasangan fenomenal tahun ini.


Hal itulah yang ada dalam angan Ega yang ingin di utarakan pada Suaminya. Beni juga sepertinya setuju dengan memperlihatkan senyum nakalnya. "Serasi ya?"


"Isterimu mana?" tanya Nina.


Beni mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan dan menemukan Sosok itu berada tidak jauh darinya. Sangat dekat bahkan pembicaraannya bisa terdengar.


"Disana rupanya Isterimu." Mata indah itu menunjuk ke arah Ega yang masih berdiri dengan seorang Pelayan Laki-laki. Senyumnya terlihat mengejek dengan tatapan sinis.


"Memang ya orang rendahan maunya berbicara dengan Pelayan. Emangnya kamu tidak malu seorang Direktur Utama mempunyai seorang Isteri yang gaulnya dengan Pelayan?"


Setelah puas mengejek Ega dengan pandangan merendahkan kini melanjutkan mengejek dengan kalimat-kalimat.


Ega tidak menyangka Sahabat baiknya bisa berkata begitu menyakitkan.


Dari kecil mereka sudah bersama-sama. Disana ada Ega dan disana pula ada Nina. Mereka makan bersama, tidur satu kasur di kamar Ega dan melakukan banyak hal bersama-sama. Bahkan rela barang-barang miliknya dipergunakan oleh Nina. Selama ini Ega rela berbagi apapun dengan Nina. Namun hanya satu yang tidak bisa dia bagi yaitu berbagi Beni, Suaminya.


"Beni, kamu harus berganti Isteri agar tidak dipermalukan oleh Isterimu yang sekarang. Lihatlah penampilannya kampungan banget," lanjut Nina dengan tatapan mengejek.


Beni memandang Ega dengan tatapan sulit dimengerti. Ada unsur ketertarikan pada dua bola mata yang berhasil ditangkap oleh siapapun yang melihatnya. Pria itu kini beralih ke Wanita cantik di hadapannya dengan tatapan ingin memangsa.


"Pria ini Play boy," batin Ega.


"Isteriku manis kok! Seorang Muslimah memang harus menutupi auratnya dengan baik. Penampilan Isteriku tidak kampungan dan seharusnya seperti itu Isteri seorang Beni Hardian."


Beni membela Ega di hadapan Nina. Sontak Nina merasa kesal dan tidak menyangka seperti ini tanggapan Pria idamannya.


Speechless!


Ega terkejut tidak menyangka mendapatkan pembelaan dari Pria palsu itu. Dia pikir, Pria itu akan ikut mengejeknya. Ah ternyata su'udzon.


Beni asli di sampingnya kesal, hanya dirinya yang boleh berkata seperti itu 'mengagumi Sosok Ega, Isterinya'.


"Kak Beni tenanglah, ini memang dirimu jangan ditunjukkan," bisik Ega yang hanya terdengar di telinga pelayan itu.


Beni tambah kesal, ingin rasanya dia meluapkan kekesalannya dengan mencium bibir merekah itu tapi tak mampu.


"Sayang, saat ini aku cemburu. Aku sudah ngelus dada nih! sabar-sabar," guman Beni pelan tak terdengar. Dia berusaha menekan keinginan untuk bermesraan dengan Isterinya. Sudah lama mereka tak menyatukan diri membuat Beni uring-uringan.


"Kamu tidak cemburu melihat Isteri sangat akrab dengan Pelayan? Pelayan Laki-laki pula?" tanya Nina berusaha memancing kecemburuan.

__ADS_1


Beni hanya menatap Ega sekilas lalu beralih ke arah Pelayan dengan tatapan datar tak bergejolak.


"Maaf Ibu, lain kali saya melakukan dengan benar," ucap Pelayan itu berakting. Dia tidak ingin dengan cepat orang-orang mengetahui kalau Beni asli adalah dirinya dan masih hidup.


"Lihatlah Nina, Isteriku hanya menegur Pegawai. Bukan akrab tapi sedang memberikan omelan, tidak apa-apa," sahut Beni kembali membela Ega. Dia tidak mempermasalahkan dengan siapapun Wanita itu mengobrol.


Nina cemberut sedangkan Ega tersenyum lebar menikmati kemenangannya.


Pelayan itu berpamitan karena acara inti akan segera dilaksanakan.


Saat Pembawa acara mulai membuka acara semua hadirin memusatkan perhatiannya kepada sosok itu. Selanjutnya rangkaian acara demi acara dilaksanakan, seperti Launching Produk terbaru berupa Mobil Sport. Ada dua produk, satu Mobil termewah dan canggih dengan berteknologi tinggi yang pastinya berharga fantastis. Dan satunya lagi Mobil yang tidak kalah mewah dengan harga terjangkau. Mobil itu berkonsep keluarga dengan bahan bakar ramah lingkungan, berteknologi tinggi sekaligus dilengkapi dengan system pengamanan yang terbaik.


Usai Launching produk baru dilaksanakan, selanjutnya acara pemberian penghargaan kepada beberapa karyawan yang berprestasi di bidang masing-masing. Dimana mereka telah memberikan pikiran, tenaga dan menunjukkan dedikasinya yang sangat membanggakan bagi kemajuan perusahaan.


“Dan karyawan selanjutnya yang mendapatkan penghargaan adalah Manager Pemasaran atas nama Beni Hardian. Kepada yang disebutkan namanya dipersilahkan menuju ke atas panggung,” ucap Sang Pembawa acara memanggil Manager Pemasaran.


Beni bangkit dari duduknya lalu melangkah dengan pasti menuju panggung. Dia tersenyum lebar memandang orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan tatapan bangga. Dia sampai di atas panggung kemudian mendapatkan Tropi sebagai Karyawan terbaik dan berdedikasi. Setelah mendapatkan Tropi itu, Beni dipersilahkan menuju Podium untuk memberikan beberapa kata.


“Alhamdulillah. Pencapaian ini bisa terjadi berkat dukungan kedua orang tua saya dan tentunya karena seorang Wanita yang dengan setianya memberikan semangat dan doanya. Wanita itu ada di tengah-tengah kita, dia adalah. …!” Beni menghentikan ucapannya karena pandangannya sekarang fokus dia arahkan kepada dua Wanita yang berada di hadapannya. Disana ada Nina dan Ega sedang menatap ke arahnya. Nina tentu saja menampilkan senyum terbaiknya, berharap dialah yang disebut. Ega hanya tersenyum tipis dengan pandangan datar. Dia tidak tertarik dengan apapun yang akan dikatakan oleh Pria yang berdiri di panggung itu karena dia bukanlah Beni, Suaminya.


Sedangkan para hadirin sibuk menerka siapa Wanita hebat yang sedang dibicarakan oleh Pria hebat yang berada di atas panggung.


“. … Wanita itu adalah Isteri saya Baiq Ega Fajrina. Dengan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” Beni melanjutkan kalimatnya dengan diakhiri senyum menawan.


Setelah selesai menyampaikan pesan dan kesannya, Beni melangkah menuruni panggung kemudian duduk di samping Isterinya dengan sangat bahagia.


“Acara selanjutnya, pada kesempatan ini Bapak Banu Hardian selaku Pemilik dari Perusahaan Hardian Group akan memperkenalkan Putra semata wayangnya. Saya rasa kita semua pasti ingin tahu siapa Putra semata wayang dari Bapak Banu Hardian dan Ibu Citra Hardian. Selama ini tidak ada yang mengetahui siapa dia dan mungkin saja hanya sebagian yang mengenalnya. Nah pada kesempatan ini kita akan melihat Sosok itu, kepada Bapak Banu Hardian waktu dan tempat dipersilahkan.” Pembawa acara tersebut mempersilahkan Banu Hardian untuk menuju ke atas panggung.


Banu Hardian bangkit dari duduknya lalu dengan langkah penuh semangat dia menuju ke atas panggung. Sesampainya disana dia mengucapkan terima kasih kepada Pembawa acara lalu mulai menyapa para undangan yang hadir. Tidak lupa dia membaca Basmalah dan melantunkan Shalawat. Setelahnya menyampaikan perkembangan perusahaan dan rencana-rencana cerdas penuh inovasi untuk kemajuan Perusahaan.


“Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan Putra saya sebagai penerus Kepemimpinan. Saya rasa sebagian orang tidak mengenal Putra saya dan sebagiannya pasti sudah akrab dengannya. Putra saya tidak suka menonjolkan diri. Dia lebih suka bergaul dengan anak-anak jalanan, pedagang kecil dan teman-teman kita yang kurang beruntung. Dengan Isterinya, dia membangun rumah singgah bagi anak-anak terlantar dan membangun Sekolah khusus untuk anak-anak putus Sekolah.” Banu Hardian mulai menceritakan kisah Putranya.


Selama ini Beni Hardian tidak pernah diperkenalkan oleh Banu Hardian sebagai Putranya. Meskipun dia menyandang nama Hardian di belakang namanya. Namun orang-orang disini tidak berpikiran kalau Beni Hardian adalah Putra dari Banu Hardian, Pemilik dari Perusahaan Hardian Group. Karena di Daerah ini tidak mengenal marga keluarga, jadi mereka menganggap nama Hardian merupakan nama yang umum digunakan.


“Baiklah, pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan Putra saya satu-satunya. Dimana pada pundaknya saya mempercayakan tanggung jawab besar sebagai Direktur Utama Hardian Group.” Banu melanjutkan kalimatnya. Terlihat dia menghela nafas berat sebelum menyebut nama Putranya dan meminta untuk mendampinginya di panggung.


“Putra saya adalah Beni Hardian Adha, yang selama ini memegang tanggung jawab sebagai Manager Pemasaran.” Pada akhirnya Banu berhasil menyebut nama Putranya dan mempersilahkannya kembali menaiki panggung.


Beni tersenyum, Pria itu kembali melangkah dengan perasaan bahagia dan bangga sebagai Pewaris tunggal Perusahaan Hardian Group.


Sebagian mengenal Beni Hardian sebagai Manager Pemasaran dan tidak mengetahui bahwa dia adalah Putra dari Banu Hardian. Kini mengetahui itu tentu saja mereka terkejut. Mereka saling berbisik-bisik dengan berbagai macam tanggapan.


Beni sudah berdiri kembali di atas panggung. Dia kembali berbicara dengan penuh semangat dan berapi-rapi.


Saat dia berbicara panjang lebar, terlihat layar hidup dan memperlihatkan Beni Hardian Adha sedang disekap dan seseorang menyuntikkan sesuatu kepada Beni yang sedang disekap. Selanjutnya terdengar suara seseorang memerintahkan orang suruhan untuk melenyapkan Beni Hardian.


[Ivan, saya tidak mau tahu, bereskan Beni Hardian Adha. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal disana. Jangan sampai ada yang curiga bahwa Beni asli sudah lenyap]


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2