
Beni dan Ega masih asyik menikmati rembulan. Saat ini Beni telah mengurai pelukannya.
"Serius aku ingin memiliki banyak anak." Beni masih mengungkapkan keinginannya.
"Kak Beni, apa Kak Beni ngerasain sesuatu?" Tanya Ega terlihat panik.
"Apa?"
"Rasanya kok sempoyongan? goyang gitu? apa aku anemia ya?" Tanya Ega terlihat sudah pucat. Dia memegang tubuh Suaminya dengan erat.
"Astaghfirullah, gempa kayaknya." Ucap Beni merasakan hal yang sama.
"Hah?"
Tanpa pikir panjang Beni dan Ega berlari ke kamar Anisa memastikan anaknya itu tidak merasakannya.
"Sudah berhenti kayaknya Ga." Ucap Beni setelah beberapa detik tidak merasakan goncangan itu.
"Iya, kita turun saja takut ada susulannya." Ega benar-benar takut. Semenjak gempa yang melanda Daerah ini beberapa tahun yang lalu membuatnya sedikit sensitif. Getaran Truck yang masuk ke Gudang yang ada disekitar Perumahan tempat dia tinggal terkadang dia kira Gempa.
"Iya dah ayok, cari aman."
Beni dan Ega turun dari lantai atas, tidak lupa dia membopong Anisa. Dilihat Umi, Abi dan Para Pembantu sudah berkumpul di ruang tengah.
Beni merebahkan Anisa pada Sofa dan ikut bergabung bersama mereka.
"Kita istirahat disini saja, takutnya ada lagi nanti." Ucap Abi Banu, terlihat sekali aura trauma pada wajahnya.
Mereka semua menggangguk kemudian menyulap ruang keluarga sebagai tempat istirahat mereka malam ini.
"Dimana posisinya Kak Beni?" Tanya Ega penasaran.
"Belum ada informasinya." Jawab Beni singkat.
"Oh."
Ega meraih handphonenya lalu menulis kata gempa di Group.
Ega
"Gempa."
Juna
"Goyang?"
Beni
"Iya."
Juna
"Naik turun?"
Dipta
"Berapa?"
Ega
"Belum ada Dip, Bmkg masih kaget."
Rian
"Enggak berasa."
Evan
"Jelas enggak berasa, sumber goyangnya ada di rumah Beni. Hahahaha."
Nina
"Maksudnya apa Van? Sumbernya ada di rumah Beni? memangnya rumah Beni pusat Gempa?"
Evan
"Bukan gempa tapi goyang. habisnya urutannya pas banget itu jadi salah faham saya." 😀😃😃😍😍
Ega
"Astaghfirullah Van, kita lagi panik ini kok malah bercanda."
__ADS_1
Evan
"Sorry Ga, lasingan pertanyaan Abang Juna menjebak membuat otakku bereaksi ke arah yang onoh-onoh."
Nina
"Beneran gempa kok tadi."
Beni
"Goyangnya diperkirakan 4,2."
Evan
"Kecil, enggak berasa kirain sampai 9 itu baru hot." 😃😍
Nina
"Apaan sih? enggak mudeng saya nih?"
Evan
"Nin, tadi tak kira Beni sedang digoyang. Maklumlah dia lagi seneng-senengnya digoyang sekarang."
Nina
"Seriusan Van?"
Evan
"Serius lah kapan pernah bohongnya."
Nina
"Beni, saya mau kok jadi Penggoyang kamu. Goyangan saya di jamin hot membuat kamu merem melek tinggal kelihatan mata putihnya doang saking nikmatnya. kamu pasti ketagihan. Sawerannya cukup cinta kamu saja aku rela kok." 😍😊
Dipta.
"Hey Wanita jadi-jadian, dimana kamu simpan malu kamu?"
Nina.
"Di laci, jika bisa membuat Beni puas saya rela tinggalkan malu itu. Dimana Beni? dirumah kamu atau kita Cek in?"
Dipta.
Nina
"Tergila-gila dengan Beni."
Juna
"Pembicaraannya sudah salah jalur. Harap kembali ke jalur yang benar. Evan bereskan kekisruhan dalam rumah tangga orang."
Nina.
"Rumah Tangga siapa Jun? Apa rumah tangga saya bersama Beni sebentar lagi."
Dipta.
"Halu ya kamu Nin?"
Nina
"Iya, saya sedang halu. Rasanya tidak sabaran menggoyang Beni Hardian, itu pasti sangat menyenangkan."
Evan.
"Maaf atas kekisruhan ini, tadi saya hanya bercanda. Maksud dari Abang Juna goyang karena diakibatkan oleh gempa bukan hal yang lainnya. Tadi otak saya ngeresnya sedang on. Jadi saya mohon maaf tidak bermaksud apa-apa. Nin harap kondisikan jari kamu dan buang pikiran negatif kamu demi kebaikan kita bersama."
Nina.
"Saya tahu Kok Van tadi kamu hanya bercanda tapi saya tidak bercanda menawarkan diri sebagai Penggoyang untuk Beni. Mau goyang apa? tinggal sebut saja. Bagaimana Ben? apa kamu menolak saya lagi? itu sangatlah tidak mungkin menolak seorang Nina. Seorang Nina tidak layak untuk ditolak."
Dipta.
"Kenapa percaya diri sekali kamu Nin!"
Nina
"Iya harus percaya diri buktinya jika saya dan Ega berjalan berdua, tidak ada satupun melirik Ega dan pandangan para Lelaki terpusat pada saya. Ega seakan tidak dianggap keberadaannya, wajar saja jika dia ditolak oleh Laki-laki sedangkan saya tidak ada satupun yang sanggup menolak pesona Nina. Jika dibandingkan Saya sama Ega, amatlah sangat jauh. Kalian semua mengakui itu bahkan sering mengeluhkan penampilan Ega yang tak bisa Feminim, iya kan? ayo pada ngaku? Untuk Ega maaf bukan maksud saya merendahkanmu tapi ini kenyataan. Sahabat-sahabat kita yang cowok terkadang mengeluh dengan penampilan kamu yang seperti Emak-Emak berdaster. Mereka sakit mata melihat Gamis Longgar kamu dan kaos kaki kamu ditambah manset tangan yang menutupi lengan kamu. Apa kamu tidak kegerahan? ini keluhan dari sahabat-sahabat kita bukan aku lo!"
__ADS_1
Evan.
"Nina, apa maksud kamu? Apa kamu ingin merusak hubungan kita-kita dengan Ega?" 😡
Nina.
"Van, saya hanya berkata jujur biar Ega tahu dan mulai berpikiran untuk merubah penampilannya agar menarik dan feminim seperti diriku, bukan begitu kan?"
Dipta.
"Syaraf kamu ya?"
Nina.
"Jelas-jelas saya bukan Udin, saya hanya berkata jujur tidak masalah kan?. Aku heran sama Beni kenapa menolakku? tidak sepantasnya dia menolakku."
Juna.
"Beni tahu mana Berlian sungguhan dan mana remahan kaca yang menjelma jadi Berlian. Berlian tetaplah Berlian walaupun berbalut lumpur. remahan kaca tetaplah remahan kaca walaupun berbalut Sutera."
Nina.
"Abang Juna jelaskan pada Beni kalau Sahabat ceweknya bernama Nina ini Berlian asli no kaleng-kaleng. Sudah cantik dari lahir tidak perlu lagi ditempa seperti pecahan beling agar terlihat cantik."
Rian.
"Bubar-bubar, ane mau tidur. Ribut melulu kerjaan kalian."
Juna, Dipta dan Evan mendadak hilang dan memilih untuk meng off diri di group karena mereka merasa pembicaraan sudah mulai tidak sehat. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Nina. Kenapa dia membicarakan rahasia para Lelaki. Mereka tidak memungkiri jika penampilan Ega pernah menjadi bahan candaan mereka.
Ega dulu Gadis Tomboy sebelum memutuskan untuk berhijab dengan benar. Dia suka menggunakan Celana Jeans dengan padu padan Kaos longgar ataupun Kemeja longgar dengan jilbabnya. Gadis itu apa adanya, hanya bedak tipis terpasang pada wajahnya yang manis dan lip gloss pada bibirnya. Karena penampilannya itu menjadi bahan candaan mereka terutama Dipta yang ingin mengajak Ega ke Salon untuk mempermak wajah Ega yang tidak cantik itu.
"Kebayang dah jika Ega nikah sama Beni atau Juna. Ega yang manjat ke atas atap rumah untuk memperbaiki Genteng bocor terus Lakinya yang ke Salon. Tomboy banget dia, kemaren saja pernah ngajak Dipta balapan di Bypass." Waktu itu Rian memulai candaan dan dilanjutkan oleh sahabat yang lain. Pada waktu itu, pembicaraan antara para Lelaki hanya Nina saja yang tertinggal sedangkan Ega sudah duluan pulang seperti biasa Cinderella tidak boleh kemalaman pulangnya.
(Jadi inget dulu aku pernah dibecandain sama Teman-teman. Jika seandainya aku berjodoh dengan Abang Juna, aku yang memperbaiki genteng dan Abang Juna yang ke Salon, dia sangat menjaga penampilannya sedangkan aku cuek banget orangnya. hahahaha ).
Kembali ke Fiksi.
Dulu mereka pernah berguyon seperti itu bukan karena risih maupun tidak menyukai penampilan dari Sahabat mereka yang bernama Ega. Hanya saja waktu itu mereka ingin agar Ega tidak terlalu cuek dengan dirinya sendiri. Kenapa sekarang Nina malah mengungkit candaan mereka dulu untuk dijadikan Senjata menyerang mereka. Apa maksudnya?
Sementara itu di rumah keluarga Beni. Ega sedang menatap Beni dengan pandangan horor. Apa mungkin Suaminya pernah tidak menyukai dirinya yang cuek, buluk dan juga Tomboy. Suka mendaki bukit-bukit, menelusuri sungai untuk menemukan air terjun bergabung dengan Pecinta Alam yang sejatinya hanya cowok saja. Dia rela menikmati teriknya matahari asal bisa menaklukkan gunung.
"Sayang, jangan melihatku seperti itu. Waktu itu aku hanya diam tidak berkomentar apa-apa, suer." Beni buru-buru mengklarifikasi pernyataan Nina takutnya malam ini dia tidak mendapatkan kehangatan dari Isterinya itu.
"Tapi Kak Beni membenarkan candaan mereka kan?" Ega masih memasang wajah cemberutnya. Dia menyadari jika dirinya sering dibanding-bandingkan dengan Nina yang cantik dan feminim sedangkan dia tidak bisa seperti itu.
"Saat itu aku ikut saja guyonan mereka tapi aku tidak bermaksud mengoreksi penampilan kamu. Tidak ada niat sedikit pun membandingkan kamu dengan Nina apalagi berharap kamu seperti Nina."
Beni berusaha untuk menjelaskan agar Isterinya itu tidak memasang wajah cemberutnya. Wajah manisnya seakan hilang digantikan wajah kelabu.
"Aku memang tidak cantik Kak Beni tapi kenapa wajah jelekku menjadi bahan candaan kalian terus menginginkan aku seperti Nina yang cantik." Guman Ega merasa dirinya dikhianati oleh Sahabatnya dan diantara sahabatnya ada laki-laki yang kini menjadi Suaminya.
Ega menyadari jika memang dirinya tidak cantik dan layak ditolak oleh Laki-laki termasuk Ivan dan Hasan. Dia merasa terluka karena kerap kali dibanding-bandingkan dengan Nina dan menginginkan dirinya seperti Nina. Mana mungkin itu terjadi, dirinya ya dirinya sedangkan Nina ya Nina.
Ega memahami jika maksud dari Sahabatnya itu baik untuknya. Dia juga berterima kasih karena ternyata mereka sangat perhatian kepada dirinya hanya saja kenapa harus dibandingkan dengan Nina dan menginginkan Ega seperti Nina Sang Pesolek. Sedangkan dia tidak suka itu, dia memilih tampil sederhana apa adanya.
Beni berusaha untuk menjelaskan karena dirinya tidak mengambil bagian dari candaan para Lelaki saat itu hanya saja dia ada disana. Ega sekarang diserang oleh sifat keras kepalanya. Dia tidak menghiraukan penjelasan Suaminya dan memilih untuk mendiamkannya. Wanita itu memilih tidur bersama Anisa.
"Sayang, ayolah jangan merajuk. Aku bahagia memiliki kamu. Jika sebagian laki-laki memilih Gadis sexy dan modis tapi aku tetap memilih kamu karena aku tahu kamu tidak mau menjebloskan Suamimu ini ke Neraka kan? lagipula hanya aku yang tahu bahwa kamu itu sebenarnya cantik, sexy, molek dan indah. Hanya aku, Suamimu Ga. Aku tidak tahan ingin membelai kulit cantikmu yang halus itu." Beni lagi-lagi memohon agar Isterinya itu tidak menghiraukan celotehan Nina.
Ega tak bergeming, dia seakan terluka dengan candaan sahabat-sahabatnya apalagi tadi Nina seperti mengejeknya dibalik kata maaf itu. Kalimat yang ditulis oleh sahabatnya itu terselip hinaan yang bertamengkan maaf.
Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Jika Ega bersama Nina, tidak satupun laki-laki melihat dirinya. Hanya dipandang sekilas lalu terfokus dengan wajah cantik Nina. Namun Ega sangat bersyukur setidaknya dia tidak menambah dosa untuk para laki-laki karena memandang parasnya dan untuknya juga.
Beni masih saja meracau tapi Ega diam seribu bahasa tak menanggapinya. Bukan tak ingin menyahuti Suaminya tapi karena Wanita itu sudah tertidur disamping Putri kecilnya Anisa.
"Haneh kok malah tidur, malam ini aku belum merasakan bibir sexy kamu sayang."
Beni mengelus rambut panjang milik Isterinya. Setelah puas baru mencium kening dengan lembut penuh cinta. Beni beralih ke Anisa dan melakukan hal sama kepada Putri cantiknya itu.
Puas menikmati paras Isterinya yang tertidur lelap. Beni beranjak ke arah Sofa lalu merebahkan diri disana dengan rasa hampa. Beni memandang langit-langit seperti melihat riak-riak yang sedang bermunculan untuk menyerangnya.
Huft
Beni menarik nafas panjang hanya sekedar menenangkan pikirannya yang gelisah. Dia melihat keluarganya yang berkumpul dalam satu ruang. Melihat itu dia teringat beberapa tahun yang lalu, dimana kejadian yang sama dengan malam ini namun lebih dahsyat lagi. Tragedi Malam itu, mempertemukan dirinya dengan Anisa.
Bersambung.
Hai, sahabat Pembaca Cinta Itu Sahabat. Alhamdulillah Hpnya sudah bisa diperbaiki dan bisa UP lagi. Waktu saya nulis cerita ini, Kota tempat tinggal saya disambangi lagi sama Gempa. akhirnya saya masukkan ke cerita bab ini berhubung juga saya mau menceritakan tentang Anisa karena pernah janji untuk menceritakan siapa Anisa.
Happy reading, semoga suka.
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan Vote.
Terima kasih.